Pria Bersetelan Coklat

Petualangan gadis petualang di tanah berlian



Judul buku: Pria Bersetelan Coklat
Pengarang: Agatha Christie
Halaman: 392
Penerbit: GPU


Pria Besetelan Coklat adalah buku ketiga Agatha Christie yang saya baca  setelah melihat rekomendasi judul pilihan dari 501 must-read books. Bertempat di benua Afrika kita diajak berpetualang menyusuri debu dan sengatan panas matahari yang membuat kulit kecoklatan. Disini petualangan gadis muda yang memiliki jiwa petualang di tanah yang kaya berlian menghibur pembaca dengan sentuhan misteri ala AC.

Premis buku ini adalah terdapat beberapa kejadian beruntun yang saling terkait. Mirip cerita aksi Hollywood aksi tersebut dibuat oleh sebuah organisasi rahasia yang bergerak untuk mengeruk uang. Sang pemimpin yang disebut sebagai "kolonel" dengan kelicikan dan kemampuan luar biasa menguasai dunia kriminal, diramalkan akan jatuh oleh seorang wanita. Di bagian dunia yang lain, seorang gadis muda yang cantik jelita bernama Anne Beddingfeld baru saja kehilangan ayahnya sang peneliti tersohor namun miskin harta. Dirinya secara kebetulan berdiri di dekat rel yang menjadi tempat kejadian perkara sebuah pembunuhan. Dasar anak muda yang cemerlang pikirannya, dia menjadi saksi di penyelidikan pendahuluan kasus pembunuhan oleh pria bersetelan cokelat. Kemampuannya sebagai seorang saintis yang diperoleh ketika menemani ayahnya menulis dan meneliti membuat banyak sekali rekaan apa yang sebenarnya terjadi di benak sang gadis. Berbekal informasi dari sepucuk kertas yang didapatnya ketika berada di stasiun, seluruh warisan sebesar 87 pound ditukar dengan tiket kelas 1 pelayaran ke Afrika Selatan dan dimulailah petualangan hebat yang jauh dari bayangan dirinya. Dengan modal nekat dan keberanian nona Beddingfeld tidak tahu perjalanan itu akan merubah takdir masa depannya.

Tambang rakyat
Buku ini dari awal sungguh menarik dan mengajak pembaca berlari kencang mengikuti alurnya. Kisah sang gadis muda yang menyentuh merupakan elemen kuat yang klop di hati pembaca. Kita diajak berempati dan terenyuh terhadap anak yatim piatu ini. Karakter-karakter di dalamnya juga menarik dan berperan memperkuat cerita yang ada. Misalkan Miss Blair seorang nyoya kaya yang kelak sangat dekat dan menjadi rekan penyelidikan nona Beddingfeld. Si nyonya sering menyebut Anne sebagai gadis gipsi, juga senang dengan petualangan berhadapan dengan pengalaman mendebarkan. Petualangan plus romansa menjadi bumbu yang komplet untuk memuaskan pembaca. Berbagai twist baru dijelaskan di bagian akhir buku ini, dan con character ala AC membuat keseruan membaca buku ini bertambah. Angkat topi untuk sang ratu misteri buat cerita yang menghibur dan akhir yang bahagia.

Pria Bersetelan Coklat layak buat dibaca para penggemar cerita petualangan kriminal dan khususnya Agatha Christie. Semoga terhibur lewat bacaan ini.

Semanis Es Krim




Judul : The Empress of Ice Cream

Penulis : Anthony Capella

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2013

Cinta bagai es. Merangkak menyelimutimu, merasuki tubuhmu diam-diam, menghancurkan pertahananmu, menemukan relung-relung paling dalam dagingmu. Tidak seperti panas atau sakit atau terbakar melainkan lebih seperti mati rasa di dala,seakan-akan jantungmu sendiri mengeras, mengubahmu menjadi batu. Cinta mencengkerammu, meremasmu dengan kekuatan yang sanggup memecah batu karang atau mengoyak lambung kapal. Cinta mampu mengangkat lempeng ubin yang berat, menghancurkan marmer, melayukan dedaunan di pohon.


Mademoiselle Louise de Keroualle diutus oleh Raja Perancis, Louis XIV untuk menghibur Raja Inggris, Charles II.  Adik perempuan Raja Charles, Madame Henrietta d'Angleterre, menikah dengan adik dari Raja Louis. Louise tadinya adalah dayang-dayang Madame di istana Versailles. Louise mempunyai daya tarik yang cukup memikat dan cukup pintar dikirim ke Inggris bersamaan dengan Carlo Demirco, sang confectioner Raja. 

Carlo ahli membuat hidangan es. Waktu itu suguhan pencuci mulut dari es hanya dinikmati oleh Raja. Carlo pernah melamar Louise namun ditolak mentah-mentah. Orang tua Lousie mengirim anaknya ke istana dengan harapan bisa menikah dengan bangsawan. Carlo mempunyai kedudukan yang cukup baik di istana sebagai satu-satunya ahli pembuat es.

Tujuan Raja Louis mengirimkan Louise untuk membuat Raja Charles berada di pihak Perancis dalam perang melawan Belanda. Perempuan adalah salah satu kelemahan Charles. Kedatangan Louise menarik perhatian semua kalangan istana. Di bawah tatapan yang melecehkan, orang-orang berpendapat Louise adalah gundik baru raja yang sengaja dikirimkan Perancis. Karena Louise adalah orang yang paling dekat dengan adiknya di Versailes, Raja Charles berbagi kenangan dan kesedihan dengannya. Sebuah sayap khusus sudah disiapkan di istana Charles II untuk Loise. Penyerahan total Louise tidak semudah yang dibayangkan. Louise mengulur waktu hingga membuat Raja Charles II tidak sabar.

Kabar ratu yang sedang sakit membuat Louise berandai-andai bisa menikahi Raja Charles II. Sebuah impian yang tidak mungkin. Ketika rencana berjalan lambat, Raja Louis mengirimkan ancaman pada Louise, ia bisa kembali ke Perancis dan diasingkan di biara.  

Selain pembaca disuguhkan proses membuat es yang rumit dari komposisi-komposisi yang tidak lazim, Novel ini juga menceritakan tingkah laku Raja dan bangsawan yang berfoya-foya di dalam istana. Wanita di dalam istana berlomba-lomba menarik perhatian Raja. Intrik dan politik istana sangat mempengaruhi kehidupan kaum bangsawan. 


Posted in Uncategorized

Cicero: The Life and Times of Rome’s Greatest Politician

An eloquent man, my child, an eloquent man, and a patriot”, was Augustus Caesar’s remark to his grandson, on Marcus Tullius Cicero. And after I have finished this book, I couldn’t but agree with him. Cicero is not just a great—or the greatest—orator in the universe, but he is also a true statesman. Cicero is not as famous as Julius Caesar or Pompey the Great, but what he did, he has done for the sake of his beloved Republic, for the country; while Caesar and Pompey did their greatness merely for satisfying their own ambition. Thanks to Anthony Everitt through this biography, we can learn much about Cicero; both his contribution to Rome and his personal life.

Everitt has interestingly started this biography by relating the famous Ides of March—the brutal murder of Julius Caesar. After Caesar died, Brutus—the conspirator leader—shouted Cicero’s name and congratulated him for the Republic’s freedom form tyranny. Caesar’s murder became, later on, a culmination point for Cicero to return to Rome’s political arena after his first fall. Soon after this opening chapter, Everitt began by describing how Rome was already in crisis when Cicero was born; and what had caused it. This is the first simple analysis I have read about how the biggest empire in the world was on the verge of ruin.

Its fault governance systems must be the one to blame; these are several examples of its ineffectiveness:
  • Republic of Rome was a state without institution; they had neither police force, nor public persecution office. These services were run by the current elected senators, which enabled them to lead the services to their own advantages. In short, they had no independent institution that could issue fair judgment for the state.
  • The Senate, who should be the advisory committee for the Consuls, was a lifetime membership (permanent); while the Consuls (the officeholders) were not. So, the Senate was in fact the ruling instrument of the Republic.
  • The complex bureaucracy was another obstacle, especially in the widespread use of veto (Consuls and Praetors could veto their colleagues or their junior’s proposals), and in too many checks and balances of a proposal. In order to restrain one’s power, Rome has created this complex bureaucracy. However, it also led to equal and individual political competition, where one could use his power to overthrow the other. In the end, they used it not for Rome’s but their own sake.

  
So, when Cicero was born in a countryside near Arpinum on January 3, 106 BC, the Roman Republic was already in the start of crisis. He was an intelligent child right from the beginning, and as a youngster preferred to lead intellectual than physical (military) achievements. Cicero persistently sought literary pursuits until his end of life, and he soon found that he has been born a distinguished orator. Cicero was very good in character’s assassination; his humours were often sharp and witty. Cicero was appointed Consul at 63 BC, and during his office he thwarted a conspiracy by Catilina, not with military force, but with the force of words. He was called “Father of His Country” for this, and it was his biggest achievement.

What I admire from Cicero—and made him distinguished from other famous Roman statesmen—is that he always works sincerely and consistently for the Republic. He is neither greedy nor ambitious; and his only weakness is his exaggerated boastfulness. But, I am ready to defend him by arguing that, born without traces of great ancestors, Cicero did not have any marks of family’s glory which was very important at that time. So, it makes sense that he pointed out his achievement over and over again, because it was a family pride. Moreover, Cicero reached the highest office (Consul) and became one of the most respectable Roman statesmen without money or aristocracy background. His success came merely from his own merit; his literary background and his oratory skill were on one side, while his integrity and his consistent loyalty to the Republic were on the other.

Because of his persistency in advocating Rome, he made quite a lot of opponents. The first sign of the Republic’s collapse was the rise of Julius Caesar—perhaps the most ambitious man in Rome. He has formed the first triumvirate: Caesar-Pompey-Crassus. Cicero has also been invited to join this power sharing, but he—loyal as he was to the Republic—reluctantly rejected. Later on he was banished from Rome, thanks to Clodius, and to the triumvirate who had let it pass. Cicero was desperate; during the exile he had a setback, and even suffered from mental breakdown. It is ironic that a man from outside Rome should have loved the city more than anyone else.

Cicero was finally recalled to Rome; and the city welcomed him almost like a Triumph. It was only a sign that Cicero was distinguished as an individual. He did not belong to any office, but as a personal, Cicero still had great influence. So when the established Rome was in the threat of being ruled by a dictator (either Pompey or Caesar), the Senate needed Cicero for his independence of mind. In the end, we all know what the outcome was. Nevertheless, Cicero has put his efforts to prevent it; later on he even betrayed his own principle in order to compromise with the enemy, although with a huge burden in his heart. But the Republic was finally collapsed. If only there were more conservative men in the Senate, Cicero must have had a bigger chance to succeed. But unfortunately, most of them have been slaughtered in the era of Sulla and Marius’ reign. Or if there were still some of them (like Brutus and Cassius), they were working without no method, no plan, and no thought.

It’s so pity that Cicero must fight alone for the existence of the Republic, because his enemies only thought about their own interests. Although Cicero did not succeed in maintaining the Republic, for me Cicero is still Roman’s hero; one of its best leader. Cicero was good in administration, and so, was able to govern well. He was a great philosopher too, and the early Catholic Church even regarded him as a virtuous pagan. His thoughts about Republic were later used by

Thanks to Anthony Everitt who has brought Cicero to us. This biography is quite an easy reading, and you would feel like reading a Roman historical tale instead of a biography. Moreover, I like how Everitt put a thorough analysis of Roman’s fault lines, in order to get a better understanding of the collapse of one of greatest empire in the universe.

A very thorough and entertaining work of history, four stars for Cicero!

~~~~~~~~~

I read Random House paperback edition

This book is counted as:





Song of Will by Jason Abdul

♥ (2,5 stars)
Judul: Song of Will
Penulis: Jason Abdul
Genre: romance, drama, YA
Penerbit: Moka Media
Halaman: 258 halaman
Sinopsis:


"Akan kuberitahu siapa yang kusukai."

William, harus melawan kesedihan setelah kepergian sahabatnya ke Swiss.
Laura, berpikir kecantikannya bisa memberi segala yang tak bisa diberikan keluarganya yang hidup sederhana.
Evan, berjuang melupakan masa lalu yang kelam saat hidup di jalanan.
Nana, belajar mengambil keputusan sulit untuk menyatukan kembali keluarganya yang berantakan.

Empat remaja yang berusaha memahami diri sendiri serta arti mencintai keluarga. 
Keempat-empatnya punya topeng yang ingin mereka lepaskan. 
Keempat-empatnya punya rahasia yang ingin mereka bagi. 

Sebab semua orang punya masa lalu. Dan mimpi.

My Review:

Pertama-tama, saya mau bilang terima kasih banyak pada Mbak Dyah Rinni yang telah memberi kepercayaan pada saya untuk membaca dan mereview buku ini. Jujur aja, udah lama juga saya penasaran pengen baca meski masih ada ragu buat membelinya di toko buku. Tapi akhirnya, berkat Mbak Dyah rasa penasaran itu terbayar! Hehe....
Baca selengkapnya »

Pandemonium by Lauren Oliver

Pandemonium

Penulis: Lauren Oliver
Penerbit: HarperCollins
Tahun terbit: 2012
Tebal: 359 halaman
Seri: Delirium #2
Genre: Fiksi Ilmiah - Dystopia - Romance
Stew score: Almost - Yummy!
Target: Young - Adult (15 tahun ke atas!)

Kalimat pertama Pandemonium
Alex and I lying together on a blanket in the backyard of 37 Brooks.

Sececap Pandemonium

Lena yang baru adalah Lena yang tak lagi takut akan cinta.

Lena yang baru adalah Lena yang sanggup bertahan hidup dari kerasnya kehidupan.

Lena yang baru adalah Lena Morgan Jones, yang mampu berpura-pura, menyusup dalam sistem pemerintahan yang anti-cinta: menganggap cinta itu penyakit (bernama Deliria) dan mesti disembuhkan, menjadi mata-mata.
Baca selengkapnya »

Book Review : Septimus Heap: Book 1 Magyk (2005)


Septimus Heap: Book 1
Magyk (2005)

by Angie Sage (Author)
Original Language: English
Publisher: Bloomsbury
Country: England
Publication Date: March 2005
ISBN: 9780060577315
Page Count: 596
Awards 
SCBA 2006 (January 2007: Salford City Council Book Award)

Blurb
The seventh son of the Seventh son, aptly named Septimus Heap, is stolen the night he is born by a midwife who pronounces him dead. That same night, the baby's father, Silas Heap, comes across a bundle in the snow containing a new-born girl with violet eyes. The Heaps take this helpless newborn into their home, name her Jenna, and raise her as their own. But who is this mysterious baby girl, and what really happened to their beloved son Septimus? The first book in this enthralling new series by Angie Sage leads readers on a fantastic journey filled with quirky characters and magykal charms, potions, and spells. Magyk is an original story of lost and rediscovered identities, rich with humor and heart.
Evil necromancer DomDaniel is plotting his comeback. Having 'executed' the most daring ruthless part of his plan, one obstacle remains. But this obstacle, although small, is proving to be a challenge, and DomDaniel is not fond of challenges he hasn't created personally. They tend not to live for long ... unless, that is, they happen to be a member of the Heap family...

Review
This book is about a girl named Jenna. She was found as a small child in the forest by the Heaps, who on the same night as she was found, the one day old Septimus heap went missing. Once the Heaps realize that Jenna is the lost daughter of the dead queen, they hide in a swamp from Domdaniel, the antagonist in this story, who is trying to kill Jenna.

Magyk touches on many of the "ideas" that have been attached to magic throughout the ages. It uses the seventh son of a seventh son, dark magic and light magic, transformation, and many other aspects. The story is intriguing as a twist is thrown into the story from the very beginning but you are left to guess what is true but not given the truth until the end. It is the first in a series and although I got bogged down by the way it was written I enjoyed the story that was being told.

A lot of people compare this book with Harry Potter books don't they? I think it's kinda different than Harry Potter, besides the Magical theme.It's very different from Harry Potter. Historical instead of Modern. Traditional instead of Inventive. I love Harry Potter, but Septimus Heap is wonderful in it's own right. It doesn't need comparisons.

Angie Sage is such a great writer! Her humor shines throughout these magical adventures, which are among my favorite children's books!

Even though this book is written for young adults, I still really enjoyed it (also, I just really like reading young adult fantasy fiction - it is so fun and easy - no thinking necessary!) The story was a predictable, but it is written for a younger audience. That being said, I still would love to read the rest of the series.
 Any harry potter fans will enjoy it . looking foward for the next book.

Final rating : 4,5/5 stars

One Day

True love may be too much boring and trifling to talk about, or even to make a fuss of. But it is an undeniable fact that true love never ceases to arouse people’s curiosity and therefore keeps its unwavering position as the idol of the book industry. And, as much as it has been merely, […]

Tiga Manula Jalan-Jalan Ke Pantura by Benny Rachmadi

Sub Judul : -
Penulis : Benny Rachmadi
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia, November 2012
Halaman : 104
Format : paperback
Status : pinjam punya ponakan
Genre : Graphic Novel, Humor
ISBN : 9789799105073

Periode Baca : 08/02/2014 - 08/02/2014

Cerita para manula yang gokil dan konyol ini emang bikin kesengsem :)))

Kali ini para manula, Sanip, Waluyo, Liem , pergi ke desa Waluyo, Tingal karena Waluyo mendadak kangen pada kampung halamannya. Karena faktor usia yang sudah renta, Waluyo tak mampu mengingat letak kampungnya. Hanya namanya saja yang ia ingat. Maka pergi lah mereka bertiga dengan mengendarai mobil Liem mencari desa Tingal dengan menyusuri jalur Pantai Utara Jawa (Pantura). Dan dimulailah kisah mereka di sepanjang jalur terkenal itu.

Setiap teman atau kejadian yang lazim ditemui di Pantura mereka singgahi. Mulai dari SPBU yang memecahkan rekor MURI hingga mampir di Lawang Sewu yang kabarnya angker itu. Di tempat-tempat itulah keisengan mereka dimulai. Waluyo yang heboh minum air sebanyak-banyaknya agar bisa menggunakan sekaligus menghitung jumlah toilet di SPBU yang memecahkan rekor itu. Atau tingkah Sanip dan Waluyo yang heboh berfoto-foto di patung-patung polisi yang banyak bertebaran di pelosok pulau Jawa.

Potret masyarakat dan tingkah polah oknum petugas pun masuk dalam kisah perjalanan para manula ini. Ada tentang jalur Pantura yang tak pernah kunjung selesai perbaikannya yang ujung-ujungnya menjadi tempat masyarakat meminta uang sumbangan untuk (katanya) perbaikan jalan. Munculnya pasar kaget sehingga membuat macet yang selalu menjadi langganan pengguna jalur Pantura. Atau oknum petugas yang meminta uang "preman" di setiap posko timbang yang harus dilewati truk-truk bermuatan super berat di jalur Pantura. Uang tutup mulut ini diartikan sebagai tindakan tahu sama tahu jika beban sebuah truk melebihi kapasitas yang ditentukan. Hal seperti ini juga biasa kok dijumpai di Jalur Lintas Sumatera.

Ada juga tentang masyarakat yang menipu jumlah lauk yang diambilnya saat berada di warung nasi Jamblang. Mengambil sepuluh macam jebis lauk tapi mengatakan pada sang penjual hanya mengambil dua atau tiga jenis saja. Suatu indikasi mahalnya kejujuran di negeri kita.

Bagi saya, cerita para tiga manula ini adalah potret keseharian masyarakat Indonesia, tak hanya di jalur pantura tapi juga hampir di seluruh Indonesia. Tak perlu kita mencemooh, memaki atau menghujat hal-hal negatif tersebut. Toh yang seperti itu juga tidak menyelesaikan masalah. Yang perlu kita lakukan adalah tidak berbuat seperti apa yang mereka lakukan. Berperilaku jujur atau menaati peraturan misalnya.

Cerita para manula ini memang keren. Dikemas ringan namun sarat informasi unik yang berguna. Saya jadi penasaran pada kisah para manula ini di Selatan Jawa.








@ Batam
08022014

[Pengumuman] Klub Buku Sel-Sel Kelabu




Kabar gembira untuk semua pencinta buku Agatha Christie, dan juga para calon penggemar yang tertarik untuk mengenal karya-karya sang Ratu Misteri. Sel-Sel Kelabu telah resmi meluncurkan Klub Buku Sel-Sel Kelabu di Goodreads!!

Klub buku ini dibentuk dalam rangka mempererat hubungan fans Agatha Christie, baik yang sudah lama maupun yang masih baru, dan diharapkan dapat menjadi wadah untuk mewujudkan berbagai event online serta offline antar para anggotanya.

Tahun 2015 menandakan 125th Anniversary dari Agatha Christie, salah satu momen penting bagi penggemarnya di seluruh dunia. Berbagai event seru di dalam maupun di luar negeri sudah dirancang untuk memperingati hari istimewa tersebut. Klub Buku Sel-Sel Kelabu pun tidak ketinggalan, akan banyak event dan rencana yang akan melibatkan para anggotanya, termasuk rencana kopdar akbar dan klub buku reguler di beberapa kota.

Setiap bulannya, para anggota Klub Buku Sel-Sel Kelabu akan membaca bersama satu judul buku Agatha Christie. Dan baca bersama ini diawali di bulan Mei 2014, dengan pilihan buku Misteri di Styles. Buku yang tepat untuk berkenalan dengan Hercule Poirot, salah satu tokoh detektif terkenal ciptaan Agatha Christie.

Apakah kamu belum pernah membaca buku ini sama sekali, atau justru sudah sering membacanya berulang kali, kami berharap kegiatan baca bareng ini akan tetap menyenangkan. Mari berbagi opini, membahas isu-isu yang kamu anggap menarik dari buku ini, dan segala hal tentang Misteri di Styles serta Agatha Christie. Kami tunggu partisipasimu J

Kesulitan mendapatkan Mistery di Styles di toko-toko buku? Bisa dibeli juga lewat toko online BukaBuku

Silakan klik link ini (https://www.goodreads.com/group/show/132417-klub-buku-sel-sel-kelabu) untuk join dengan Klub Buku Sel-Sel Kelabu, atau email ke: selselkelabu@gmail.com untuk mendapat invitation dari kami.

Sampai bertemu di Klub Buku Sel-Sel Kelabu!

Dua Saudara


Judul : Dua Saudara

Penulis : Jhumpa Lahiri

Penerbit : BukuKatta

Tahun Terbit : 2014


Dua saudara, Subhash dan Udayan, tumbuh bersama sedari kecil di Tollygunge. Jarak umur mereka tidak terpaut jauh dan postur badannya kurang lebih sama sehingga kadang mereka kerap bertukar baju. Mereka berdua berhasil diterima di perguruan tinggi. Udayan ke Presdirency untuk kuliah Fisika dan Subhash kuliah ilmu kimia di Jadavpur.

Setelah lulus kuliah, Udayan mendapatkan pekerjaan di sekolah teknik dan tidak tertarik untuk melanjutkan sekolahnya. Subhash ingin belajar ke luar negeri. Ia melamar di program PhD di Amerika Serikat. Subhash mengajak Udayan untuk sama-sama ke luar negeri. Pintu ke kehidupan yang lebih baik akan mereka dapatkan tapi Udayan menolak. Jika kamu pergi, kamu tidak akan kembali. Udayan melarang Subhash pergi tapi tekad Subhash sudah kukuh.

Udayan tertarik dengan pergerakan kaum merah yang berasal dari China. Dalam surat-surat yang diterima Subhas, dua saudara ini membicarakan perkembangan India. Udayan yakin bahwa India menuju perubahan yang ia dan gerakannya yakini. Kata-kata dar Mao Tse Tung disebarkan ke desa-desa. Selain itu, Udayan memberitahu Subhas dirinya telah menikah dengan gadis pilihannya, Gauri. Pernikahan di India sebagian besar karena perjodohan. Udayan telah melangkahi wewenang orang tuanya. Kekecewaan orang tua mereka diungkapkan dalam surat.

"Kami harap bila saatnya tiba, kamu akan mempercayakan kepada kami untuk menentukan masa depanmu, memilihkan istri untukmu yang menjadi hadiah pada pernikahanmu. Kami harap kamu tak akan mengabaikan harapan kami, seperti adikmu lakukan."

Sebuah telegram dari orang tuanya mengabarkan Udayan terbunuh. Subhash langsung pulang ke Tollygunge. Ia mendapati adiknya telah ditembak polisi. Gauri, adik iparnya, tidak begitu diacuhkan oleh orang tua Subhash. Keberadaannya tidak dianggap. Tidak ada pilihan bagi Gauri selain hidup dengan mertuanya. Ia lari dari rumah untuk menikah dengan Udayan. Subhash bersimpati karena bagaimanapun Gauri sedang mengandung anak adiknya. Satu-satunya cara yang menurut Subhash dapat menolong Gauri adalah menikahinya.


Jhumpa Lahiri memenangkan penghargaan Putlizer tahun 2000 untuk karyanya Interpreter of Maladies. Dua saudara adalah terjemahan dari cerpen Brotherly Love yang dimuat di The New Yorker, 10 Juni 2013. Ketika saya ingin memasukkan rating di goodreads, ternyata review-review Dua Saudara masuk ke The Lowland yang terbit 20 September 2013. Setelah saya baca sinopsis dari The Lowland memang ceritanya tentang dua saudara, Subhash dan Udayan. Hmmm. Bingung kan mau ngerating di Goodreads nya ? Menurut saya entitas nya tidak sama jadi saya tidak memberikan rating di Goodreads. Walaupun begitu, Dua Saudara menarik minat saya untuk membaca The Lowland yang tentu lebih lengkap menceritakan kisah hidup Subhash dan Udayan.