Shocking Japan, Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan

Pelancong tidak selalu bepergian ke suatu tempat baru hanya karena ingin tahu keindahan dari tempat baru itu, tetapi seringkali juga karena mereka diburu rasa penasaran untuk mengetahui bagaimana kebudayaan mereka. Karena itulah buku – buku perjalanan seperti buku Junanto Herdiawan ini selalu menarik bagi saya.

Ada banyak pujian bagi jepang. Dan puja – puji itu juga sudah saya dapatkan dari membaca buku Ajip Rosidi; Orang dan BambuJepang. Pun di buku ini, pujian – pujian itu banyak bertebaran. Namun, bukan sesuatu yang memancing pujian yang saya harapkan dari buku ini, tapi sisi lainnya itu. Karenanya, meskipun sama – sama membahas tentang Jepang dan orang Jepang, buku Junanto ini beda dengan buku Ajip Rosidi.

Apa yang lain? Kalo bicara masalah betapa disiplinnya orang Jepang atau betapa teraturnya mereka, itu sudah basi. Namun saya baru tahu dari buku ini jika Jepang yang sedemikian modern ternyata masih juga menyimpan takhayul yang dari sisi modernitas sangat tidak rasional. Coba baca di Ada Arwah di Boneka Jepang. Saya tidak habis pikir bagaimana sebuah rasionalitas bisa bersandingan dengan omong kosong seperti itu!

Sisi lain berikutnya adalah tentang Tak Ada Cinta di Tokyo. Terus terang saya senang melihat dorama – dorama Jepang seperti Tokyo Love Story atau Just The Way We Are yang banyak cinta – cintaannya. Tapi kata Junanto, orang Tokyo itu tidak romantis sama sekali. Tidak pernah terdengar kata Aku Cinta Kamu atau kekasihku dari pasangan yang ada di Tokyo. Bahkan pasangan yang bergandengan tangan pun tidak ada! Di tempat umum, orang lebih asyik dengan telepon atau buku mereka daripada berbincang mesra dengan pasangannya. Haduh!!

Yang mengejutkan saya, menurut Junanto, orang Jepang itu sebenarnya mirip dengan orang Jawa. Apa kemiripannya? Orang Jepang tidak menyukai konflik. Jikapun mereka berbeda pandangan dengan orang lain, mereka akan menyatakannya dengan halus. Sama seperti orang Jawa yang lebih baik mengalah daripada harus bersinggungan dengan orang lain.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Salah satu dari keempat bagian itu adalah mengenai kuliner. Ingin tahu bagaimana orang Jepang kok tidak keracunan ketika memakan ikan buntal? Baca saja buku ini. Buku Junanto tentang Jepang ini ringan dan mudah dicerna. Tentu saja karena tulisan – tulisan yang ada di buku ini sebenarnya tulisan – tulisan yang pernah diunggah oleh Junanto di blog pribadinya. Kekagumannya akan Jepang membuatnya ingin membaginya dengan orang lain. Maka dia pun menuliskannya di blog. Dan untuk meraih pembaca yang lebih banyak, dicetaklah tulisan – tulisan itu menjadi sebuah buku. Buku yang benar – benar Shocking ini.

Oke sekarang waktunya untuk mengungkap siapa santaku. Santaku adalah Hanifah Mahdiyanti saya langsung tahu siapa dia karena dia membuat teka – teki yang begitu mudah ditebak. Katanya, dia punya blog yang ada gambar kucing hitamnya. Dan, ia tinggal di Jogja. Langsung aja kutembak orangnya, dorr!!    Big Machine Gun emoticon (Gun Emoticons)    Mati kau Han     menyerah Hahahaha.  Tepuk tangan buat saya!!Excited Girl emoticon (Happy Emoticons)


Terima kasih untuk mbak Oky dan mbak Mia juga mbak Han. Kapan - kapan boleh kutraktir bakso deh! 




Informasi Buku:
Buku 49
Judul: 
Shocking Japan, Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan
Penulis: Junanto Herdiawan
Penerbit: B First
Tebal: 161 Halaman
Cetakan: I, 2012

Dua Belas Pasang Mata



Membaca buku ini membuat saya shock pada awalnya. Bagaimana tidak? Dua Belas Pasang Mata diterbitkan pertama kali pada tahun 1952. Di saat yang sama, di negara kita, murid – murid sekolah harus duduk dengan tangan terlipat di meja, memperhatikan guru tanpa interupsi, dan penghormatan kepada guru tanpa kompromi. Jika tidak, maka hukuman verbal ataupun fisik yang menyakitkan pasti akan kita terima. Namun di buku karangan Sakae Tsuboi ini, murid – murid bahkan mengolok – olok gurunya (halaman 34 dan 36).

Miss Oishi adalah seorang guru yang menggantikan Miss Kobayashi yang berhenti mengajar karena akan menikah. Sejak pertama kedatangannya di kampung nelayan itu, ia sudah menjadi perbincangan penduduk desa. Miss Oishi naik sepeda untuk pergi ke sekolah. Sesuatu yang wajar mengingat jarak antara rumah ke sekolah adalah sejauh 8 kilometer. Namun, di saat itu, adalah tabu bagi wanita untuk mengendarai sepeda! Apalagi, Miss Oishi mengenakan pakaian model barat di saat semua orang masih menggunakan kimono.

Namun demikian, dengan cepat ia dapat merebut hati murid – muridnya. Selain membawa hal baru dalam hal berpenampilan, ia juga membawa sesuatu yang baru dalam berperilaku. Ia selalu mengucapkan selamat pagi atau sampai jumpa kepada orang – orang yang ditemuinya di jalanan. Sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh guru sebelumnya. Ia bahkan menuliskan nama panggilan tiap – tiap muridnya di buku absen. Suatu bentuk perhatian yang membuat orang merasa dihargai.

Akan tetapi, meskipun anak – anak sudah bisa menerimanya, tidak demikian dengan orang tuanya. Sosoknya yang berbeda mengundang kebencian. Bahkan hal sepele yang ia lakukan, sudah cukup membuatnya dicaci – maki (halaman 49). Meskipun ia mengeluhkan hal ini kepada ibunya, di hadapan murid – muridnya tak sekalipun ia menampakkan kesedihan hingga akhirnya ia mengalami kecelakaan yang membuatnya berpisah dengan mereka.

Tsuboi tidak hanya menawarkan kisah seorang guru yang memiliki cinta yang besar pada pendidikan dan kemanusiaan tapi juga menunjukkan bahwa perang, apapun alasannya, hanya akan menghancurkan cinta kasih. Sayangnya, pengarang kurang mengeksplorasi perasaan tiap – tiap tokoh. Jika saja Tsuboi melakukannya, menurut saya buku ini akan menjadi lebih menarik.

Kekurangan selanjutnya dari buku ini adalah darimana buku ini diterjemahkan. Akan lebih baik jika buku yang diterbitkan oleh Gramedia ini diterjemahkan dari edisi aslinya yang berbahasa Jepang. Namun alih – alih demikian, penerbit malah menerjemahkannya dari terjemahan bahasa Inggris oleh Akira Miura. Karenanya, Lost in Translation mungkin banyak terjadi. Terakhir, saya tidak menyukai sampulnya! Di situs Gramedia, buku ini memiliki sampul putih. Namun di sampul buku ini ditambahi dengan kerlap – kerlip yang malah membuatnya terkesan murahan.


Namun, terlepas dari kekurangan – kekurangan itu, buku ini menurut saya wajib dibaca oleh para pendidik yang setiap hari terus bergulat dengan anak didiknya. Buku ini, saya kira, akan membuat para pendidik tidak akan lupa bahwa mereka juga harus berubah di tengah jaman yang terus berubah.




Informasi Buku:
Buku 48
Judul: Dua Belas Pasang Mata
Penulis: Sakae Tsuboi
Penerbit: Gramedia
Tebal: 244 Halaman
Cetakan: I, 2013

Botchan


“Jelas sekali selulusnya dari sekolah, anak – anak ini akan menjadi sejenis orang yang meminjam uang namun tidak mau melunasi utangnya. Mereka datang ke sekolah, berbohong, melakukan kecurangan, dan mengendap – endap di balik kegelapan, melakukan muslihat pada orang, lalu ketika lulus, mereka akan berjalan penuh kebanggaan, terjebak dalam pemikiran keliru bahwa mereka telah memperoleh pendidikan.”



Botchan karya Natsume Soseki ini mengajari saya bahwa anak yang dibiarkan tumbuh alami, akan menjadi orang dewasa yang berjiwa mulia. Botchan kecil adalah seorang biang kerok, biang keributan hingga ayah dan ibunya pun pesimis dengan masa depannya. Banyak orang tua ataupun guru, bahkan sampai saat ini, yang beranggapan bahwa anak yang pintar dan memiliki masa depan cerah adalah anak – anak yang penurut, rajin dan tidak neko – neko.

Jika diniliai dengan standar itu, masa depan Botchan memang suram. Maka tidak heran banyak yang memandangnya sebelah mata. Namun tidak dengan Kiyo, pembantu rumah tangga keluarga Botchan. Ia mempercayai Botchan. Ia selalu memuji Botchan walaupun ia melakukan kenakalan.

Pujian yang terus menerus dan tulus ini akhirnya mengendap dalam pikiran Botchan sehingga menjadi karakter. Botchan dewasa menjadi orang yang lugas dan benci dengan kepura – puraan.

Masa kecil Botchan yang menjadi dasar dari karakternya yang lugas hanya mendapatkan porsi satu bab. Sedangkan kesepuluh bab sisanya menceritakan tentang Botchan yang sudah menjadi guru matematika di sekolah menengah. Takdir membawa Botchan yang lugas ke sekolah menengah yang penuh berisi dengan orang – orang yang culas dan bermuka dua.

Di sekolah inilah kelugasan Botchan yang sudah mendarah daging bertubrukan dengan keculasan. Soseki menulis cerita ini dengan sangat ringkas. Namun yang ringkas ini pun sudah cukup memberikan pelajaran kepada kita bahwa masa anak – anak sangat menentukan masa depan. Anak – anak yang dibesarkan dengan cinta kasih tanpa syarat, yang tumbuh dengan kepercayaan dari orang – orang sekelilingnya akan menjadi pribadi yang baik.

Berjuta contoh untuk membuktikan hal ini.


Informasi Buku:
Buku 47
Judul: Botchan
Penulis: Natsume Soseki
Penerbit: Gramedia
Tebal: 217 Halaman
Cetakan: I, Februari 2009


How Starbucks Saved My Life



Ini buku baru! Baru saya baca tepatnya. Buku yang sudah lama beredar di toko buku ini sempat saya timbang – timbang untuk saya beli dulu, tapi urung karena saya lebih memilih buku lainnya. Dan minggu kemarin, ketika saya main ke rumah salah seorang keponakan, saya menemukan buku ini di rak bukunya, saya baca beberapa halaman dan tertarik.

Buku yang ditulis oleh Michael Gates Gill ini berkisah tentang dirinya sendiri. Michael (Mike) adalah seorang lulusan Universitas Yale, dari keluarga yang mapan dan bekerja di bidang periklanan yang membuat dirinya dan keluarganya hidup berkecukupan.

Namun angin berbalik. Mike dipecat dari perusahaan dimana ia bekerja dengan alasan ia sudah terlampau tua untuk sebuah pekerjaan kreatif. Kondisi yang berat ini membuatnya goyah. Ia berselingkuh dan memiliki anak dari selingkuhannya itu. Mike pun bercerai dengan istrinya. Dan, cobaan ini belum berakhir, dokter memvonisnya menderita tumor otak!

Saya tidak bisa membayangkan jika apa yang terjadi pada Mike juga terjadi pada saya saat ini. Betapa berat beban yang harus ditanggung. Menjalani kehidupan miskin tentu sangat berat. Tapi akan sepuluh kali lebih berat jika anda harus hidup miskin ketika beberapa saat lalu anda hidup bergelimang harta! Apalagi jika masih ditambah dengan kehilangan keluarga dan penyakit yang mematikan!

Tapi Tuhan punya rencana. Ketika Mike minum kopi di kedai Starbucks, seorang wanita, Crystal, menawarinya pekerjaan sebagai karyawan di Starbucks. Awalnya berat bagi Mike untuk bekerja sebagai karyawan di kedai kopi, tentu karena masa lalunya yang kaya. Tapi, tawaran Crystal yang akan memberinya asuransi kesehatan  membuat Mike menerimanya. 

Michael Gates Gill bersama Tiffany Edwards yang dalam buku ini disamarkan dengan nama Crystal Thompson

Betapa Tuhan telah merancangnya dengan indah, dengan sangat detil! Michael Gates Gill yang hidup berkecukupan adalah orang yang angkuh. Dan Tuhan ingin menghilangkan kesombongannya itu dan agar kisah hidupnya menjadi pelajaran bagi orang lain. Maka Tuhan membuatnya dipecat dari pekerjaannya. Menjauhkannya dari keluarganya dan memberinya penyakit. Coba kalau ia tidak terkena tumor otak, bisa jadi Mike menolak tawaran Crystal. Dan jika ia tidak bekerja di Starbucks, ia tidak akan mendapatkan nilai – nilai mulia yang terkandung dalam sebuah pekerjaan.

Buku ini memang sebuah nasihat bagi siapapun bahwa semua manusia itu sama, bahwa semua pekerjaan itu mulia dan bahwa lingkungan kerja terbaik adalah lingkungan kerja yang memanusiakan manusia. Bukan menganggap manusia sebagai mesin uang yang jika sudah usang bolehlah ia dibuang!

Namun, meskipun berisi nasihat, anda tidak akan merasa digurui oleh si penulis. Bagi saya, buku ini juga merupakan buku panduan manajemen yang baik tanpa harus menjadi buku manual yang membosankan. Panduan manajemen bisnis moderen, di tangan Michael Gates Gill, diubah menjadi karya naratif yang kaya.

Kekurangan dari buku ini ada pada sampulnya. Sampul buku terjemahan ini tidak memberikan pesan apa – apa jika dibandingkan dengan sampul buku aslinya. Kemudian, menurut saya, buku ini akan mejadi lebih kaya jika dibubuhi dengan foto – foto. Ingin sekali saya tahu seperti apakah Crystal itu, sebesar apakah Kester, atau senyentrik apakah Charlie itu. 
Sampul Asli
Namun itu bukan esensi. Buku yang layak dibaca siapapun dan kapanpun juga ini membuat saya tertarik untuk membelinya, bukan hanya meminjamnya. Dengan demikian, ia bisa saya baca di lain waktu atau bisa saya wariskan untuk anak – anak saya.




Informasi Buku:
Buku 46
Judul: How Starbucks Saved My Life
Penulis: Michael Gates Gill
Penerbit: Penerbit Literati
Tebal: 386 Halaman
Cetakan: ke 2, Tahun 2012

Riddle dari SS ku

Tahun ini aku ikut lagi Secret Santa dari BBI.



Dan sore ini, buku dari SS ku datang. Ya, baru sampai tiba sore ini. Mengapa baru sore ini? Padahal si SS anak Jogja. Dekat saja dari sini. Ternyata... baca sendiri mengapa di suratnya ini:


Nah, begitu katanya. Maaf ya telah merepotkan. Tapi.... bukunya bener - bener buku yang aku inginkan sejak luaaamaaa. Ini dia:


Shocking Japan, bener - bener membuatku shock sore ini. Buku ini sudah jarang beredar di toko buku Man!! Kalo mikir itu, aku bener - bener kasihan ama SS ku. Maaf dinda, telah merepotkanmu sedemikian rupa. Lalu masih dibonusi satu buku lagi sama si SS. Coba, kurang baik apa SS ku ini, sudah repot nyari buku setengah langka, masih kasih bonus pula... Sekali lagi aku ucapkan:

Matur Nuwun Diajeng, Gusti Alloh sing mbales

Bonusnya adalah buku 1Q84 jilid tiga dari Murakami, terbitan KPG. Tinggal nyari jilid satu dan duanya, maka 1Q84 ku akan lengkap edisi bahasa Inggris dan terjemahannya sekaligus. 

Arigato, Thank you!!

Btw, aku sudah tahu siapa kamu diajeng. Jadi, tunggu aja tanggal mainnya. 
Terima kasih telah berdarah - darah dalam mencari buku impianku ini.
KALEPATANIPUN...MATUR NUWUN. 

David and Goliath, Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa



Sebagaimana yang sudah – sudah, Malcolm Gladwellkembali menulis buku dengan tema yang “Wah!”. Saya selalu menemukan paradoks pada buku – buku Gladwell. Di Tipping Point, anda akan menemukan anak – anak muda yang tanpa sengaja mempopulerkan kembali produk sepatu yang hampir ditinggalkan konsumen. Di Blink, anda akan menemukan Warren Harding Error; presiden Amerika yang paling dielu – elukan ternyata menjadi presiden pertama Amerika yang paling singkat menjabat. Di Outliers, anda akan terpana dengan seorang yang memiliki IQ 195! (Einstein “hanya” ber-IQ 150), tapi hidup sebagai petani!!. Dan paradoks itu semakin intens kemunculannya di What the Dog Saw. Bagi saya, paradoks yang ditulis oleh Gladwell adalah sesuatu yang membuat saya bergumam “Wah, wah, wah” sambil menggeleng – gelengkan kepala dan membuat saya selalu menunggu buku – buku dia selanjutnya.


Di bukunya yang terbaru ini, Gladwell menggunakan kisah yang terkenal di tiga agama besar dunia; Yahudi, Kristen dan Islam (kisah tentang David dan Goliath) untuk menunjukkan bahwa dalam kelemahan terdapat kekuatan dan sebaliknya, di dalam kekuatan seringkali terdapat sebuah kelemahan.


Ini seolah menjadi hukum alam yang akan terus terjadi sepanjang masa dan akan terjadi pada siapa saja. Gladwell mengumpulkan kisah – kisah senada David dan Goliath ini (dalam berbagai macam konteks), memilih yang paling bagus menurut dia dan menyusunnya dalam buku ini. Mari saya cuplikkan diantaranya.


Kisah pertama adalah kisah yang paling ringan menurut saya. Tentang Vivek Ranadive yang seumur – umur tidak pernah main bola basket tapi kemudian memutuskan untuk menjadi pelatih tim bola basket putrinya. Putri Ranadive dan teman – temannya tidak memiliki postur pemain bola basket. Mereka anak – anak ahli komputer yang biasa berkutat dengan buku bukan dengan bola basket. Pemain – pemain bertubuh kecil dikombinasikan dengan pelatih yang tidak tahu apa – apa mengenai bola basket. Klop sudah. Di atas kertas tim seperti ini pasti akan kalah jika melawan tim yang lebih terlatih yang memiliki pelatih dengan jam terbang yang sama tingginya. Namun tim Ranadive menang! Dan bukan menang yang kebetulan.


Jika dihubungkan dengan kisah David dan Goliath, tim Ranadive adalah David dan tim lawan diibaratkan Goliath. Jika dilihat dari postur tubuh, pengalaman perang dan peralatan yang dibawa, David kalah telak. Goliath tinggi besar, sedang David kecil. Goliath adalah seorang prajurit perang sedang David adalah seorang gembala. Dalam keadaan demikian, David dipastikan kalah jika berduel dalam jarak dekat. Namun, ia tidak memilih itu. Ia memilih melemparkan batu dari jarak jauh ke arah Goliath yang kemudian menewaskannya. Tim binaan Ranadive akan kalah jika mereka bermain dengan pola permainan yang biasa dilakukan oleh tim basket profesional. Karena itu mereka bermain secara tidak lazim menurut pola permainan bola basket di Amerika. Itulah yang memenangkan mereka.


Kisah berikutnya adalah tentang Caroline Sacks (nama samaran) perempuan cerdas di awal kuliahnya. Dia mendaftar di dua universitas. Brown University dan University of Maryland. Dia diterima dan memilih Brown University karena universitas ini lebih bagus daripada University of Maryland. Kita tentu sependapat dengan Sacks. Kuliah di universitas top tidak hanya menambah gengsi tapi juga menjanjikan pekerjaan yang lebih baik. Tapi Brown University adalah Goliath. Kehebatannya mengaburkan kelemahan. Di bab Caroline Sacks ini Gladwell menyajikan data – data yang mencengangkan. Data – data yang memporak – porandakan paradigma berpikir kita. Ternyata lebih baik menjadi ikan besar di kolam kecil daripada menjadi ikan kecil di kolam besar (halaman 72).


Gladwell adalah seorang jurnalis di The New Yorker. Maka tidak heran jika semua buku – bukunya dipenuhi dengan fakta – fakta dan ditulis dengan gaya jurnalis. Gaya jurnalis semacam ini mengingatkan saya akan buku – buku Daniel Goleman. Namun, meski begitu, buku – buku Gladwell bukan buku yang garing dan membosankan. Paradoks yang bertebaran di tiap halamannya selalu membuat saya ternganga – nganga.


Seringkali Gladwell melompat – lompat dari kisah tokoh yang menjadi judul bab ke kisah lainnya yang mendukung. Ini seperti mengumpulkan kepingan – kepingan yang berbeda – beda lalu menyusunnya menjadi gambar utuh yang menarik. Dari fakta – fakta yang tumpang tindih itu, seringkali pembaca diminta untuk menarik benang merahnya sendiri.


Karena suatu fakta atau data sering dimunculkan kembali di halaman lain sebagai pendukung, seringkali saya harus membuka kembali halaman dimana data atau fakta itu pertama kali muncul, karena sudah lupa. Ini adalah gaya Gladwell. Di David and Goliath ini, pembahasan mengenai kurva U terbalik banyak diulang. Dan beberapa kali saya harus membuka kembali halaman yang berisi pembahasan kurva U terbalik itu.


Terakhir, Malcolm Gladwell kembali berhasil menyajikan paradoks indah di David and Goliath ini. Dari berbagai fakta dan data yang mencengangkan di buku ini, dari potongan – potongan yang berserak, saya bisa membentuk sebuah “gambar” versi saya dari buku ini. Bahwa kekuatan apapun selalu menyimpan kelemahan di dalam dirinya. Namun diperlukan kecerdasan dan pengalaman untuk menemukan dimana titik kelemahannya. Buku Gladwell yang terakhir ini bisa menjadi langkah pertama untuk mendapatkan pengalaman itu.






Informasi Buku:
Buku 45
Judul: David and Goliath, Ketika si Lemah Menang Melawan Raksasa
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerbit: Gramedia
Tebal: 301 Halaman
Cetakan: ke 1, Tahun 2013

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma



Kalaupun memungkinkan, ingin sekali rasanya saya bisa mengoleksi buku – buku yang pernah saya baca waktu saya berusia SD. Buku sangat berharga di kala itu. Karena di kotaku tidak ada toko buku. Maka perpustakaan sekolah saja yang menjadi tujuan untuk membaca. Di perpustakaan itu saya membaca mulai Petualangan Tom Sawyer sampai Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Namun buku yang benar – benar membekas di ingatan saya dan berharap sekali untuk dapat mengoleksinya di saat ini adalah buku karya Idrus ini.

Dan sepertinya kami berjodoh. Ketika berjalan – jalan di satu – satunya toko buku yang ada di kotaku, aku menemukan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma ini. Buku yang dicetak tahun 2008 ini berbeda dengan buku yang sama yang saya baca ketika SD. Bukunya lebih tipis karena ukuran font-nya diperkecil.

Saya membawanya pulang dan bersandar untuk membacanya. Ketika kisah pertama saya baca, saya seakan masuk ke dalam pintu ke mana saja yang menghubungkan saat ini dengan masa ketika saya masih kecil.

Ave Maria, kisah pertama.  Sebuah keluarga yang sering duduk – duduk di beranda, tiba – tiba kedatangan seorang tamu yang nampak linglung. Anehnya, orang yang linglung ini tak berkata apa – apa dan hanya meminjam majalah saja. Begitu setiap hari. Dia datang dan pergi meminjam majalah dan mengembalikan yang telah selesai dibacanya. Tapi seluruh keluarga heran, sebab setiap kali ia datang, setiap kali pula ia terlihat lebih baik. Dan akhirnya di hari terakhir ia bercerita tentang hidupnya dan pamit untuk mengabdi pada negara. Kisah Zulbahri, si orang linglung itu, membuat saya begitu trenyuh.

Buku ini berisi dua belas cerita pendek yang dikelompokkan dalam tiga bagian: Zaman Jepang, Corat – Coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Buku yang terbit pertama kali di tahun 1948 ini memang mengambil latar ketika zaman pendudukan Jepang dan sampai Indonesia merdeka. Kesukaan saya akan sesuatu yang berbau kuno membuat saya terpaku ketika membaca buku ini. Namun, sebenarnya yang membuat saya lebih mencintai buku ini adalah gaya bertutur yang dipakai Idrus, sang pengarang. Saya tidak tahu apakah gaya ini memang asli punya Idrus, atau sudah ada gaya serupa sebelumnya. Yang jelas, meskipun Idrus sering bersitegang dengan Chairil Anwar di seputaran karya sastra, hal itu tidak mengurangi minat saya untuk tetap mengidolakan Idrus sebagai pengarang paling bagus dari zaman itu.

Ketika saya sudah mulai keranjingan membaca sedangkan bahan bacaan di sekitar saya begitu terbatasnya, saya membaca cerita – cerita yang termuat di buku pelajaran Bahasa Indonesia milik kakak saya yang duduk di SMP kala itu. Di bukunya saya menemukan Kisah Sebuah Celana Pendek dan Jalan Lain ke Roma. Cerita yang belakangan saya tahu ternyata merupakan satu cerita dari kumpulan cerita karya Idrus di Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Kisah tentang pemuda yang hanya memiliki satu celana pendek saja yang dipakainya berulang kali dan juga tentang pemuda yang kelewat jujur di dua kisah ini, dan juga kisah Zulbahri di Ave Maria merupakan harta masa kecil saya yang kini tersimpan di perpustakaan pribadi saya yang bukunya tidak seberapa.

Informasi Buku:
Buku 44
Judul: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Penulis: Idrus
Penerbit: BalaiPustaka
Tebal: 171 Halaman
Cetakan: ke 24, Tahun 2008

Aku Ingin Jadi Peluru, Para Jendral Marah – Marah



Menurut saya ada dua orang Indonesia yang sangat berhasil menyuarakan ketimpangan sosial di sekitar kita. Satu, Iwan Fals. Dan yang kedua, Wiji Thukul. Lirik – lirik Iwan Fals memang “nakal”. Tapi kalimat – kalimat yang ditulis Wiji, meskipun – menurut saya kebanyakan tidak indah – sangat berani dan membangkitkan keberanian.

Mei lalu, Majalah Tempo menerbitkan edisi khusus Wiji Thukul dengan bonus buku kumpulan puisi Wiji selama dalam pelarian. Buku tipis bonus Tempo ini berisi tiga bagian. Pertama, Puisi dalam pelarian, lalu puisi berbahasa Jawa dan puisi lepas.

Bagian pertama dibuka dengan Para Jendral Marah – Marah yang mengisahkan awal pelarian Thukul, lalu diikuti dengan puisi – puisi lain yang ditulis Wiji di waktu bersembunyi. Dari puisi – puisi ketika ia bersembunyi itu kita akan ikut merasakan penderitaan Wiji, orang merdeka yang tidak merdeka. Namun yang paling membuat trenyuh  adalah puisi yang ditulis untuk anak perempuannya: Fitri Nganthi Wani: Wani,/bapakmu harus pergi/kalau teman – temanmu tanya/kenapa bapakmu dicari – cari polisi/jawab saja:/”karena bapakku orang berani”. Saya tidak bisa membayangkan betapa perih kerinduan Wiji kepada anak gadisnya. Anak yang digadang – gadang dan didoakan agar memiliki keberanian melalui nama yang diberikannya (Fitri Nganthi Wani berarti Fitri Membawa Keberanian). Namun penderitaan orang berani adalah penderitaan yang dipilih. Bukan penderitaan karena nasib. Oleh karenanya, Wiji pun tidak menuangkan penderitaannya itu dalam kalimat yang cengeng. Tapi dengan kalimat yang menghibur sang anak sekaligus menginspirasinya: jawab saja:/”karena bapakku orang berani”

Namun Wiji yang family man tidak hanya tercermin di puisi Wani, Bapakmu Harus Pergi saja. Di buku Aku Ingin Jadi Peluru, ada sebuah puisi yang ditujukan untuk istrinya, Sipon. Cuplikan dari puisi Baju Loak Sobek Pundaknya itu adalah: baju itu kulipat bojoku/di bawah bantal/ tak ada setrika bojoku/tak ada setrika/agar tak lusuh/agar tak lusuh/karena baju ini untukmu bojoku. Wiji yang bersembunyi dari satu tempat ke tempat lain itu pun masih sempat – sempatnya membelikan baju loak untuk istrinya.

Mungkin karena memuat lebih banyak puisi, buku Aku ingin Jadi Peluru ini lebih terasa gaharnya daripada Para Jendral Marah – Marah. Di buku ini pula termuat puisi Wiji yang sangat terkenal; Peringatan. Puisi yang sering dibaca ketika ada demonstrasi. Walaupun kalimat terakhir dari puisi ini – maka hanya ada satu kata: lawan! – bukan asli milik Wiji tapi pengaruh dari puisi temannya di teater jagat yang bernama Pardi.

Di buku ini pun banyak kalimat yang sangat menginspirasi. Berikut diantaranya: jika kita menghamba kepada ketakutan/kita memperpanjang barisan perbudakan (Ucapkan Kata - Katamu),  tapi dunia tak bergerak/setelah surat kabar itu dilipat. (Mendongkel Orang – Orang Pintar), harga diri memang tak bisa dibeli/tetapi jika kita gampang percaya dan tidak curiga/berhati-hatilah saudaraku (Kidung di Kala Sedih).

Penderitaan dan kerja keras serta perenungan sepertinya membuat Wiji menjadi manusia yang lebih bijaksana. Saya bisa katakan begini setelah membaca puisinya yang berjudul Sukmaku Merdeka. Waktu yang diisi keluh akan berisi keluh/waktu yang berkeringat karena kerja akan melahirkan/serdadu – serdadu kebijaksanaan/biar perang meletus kapan saja/itu bukan apa-apa/masalah nomor satu adalah hari ini/jangan mati sebelum dimampus takdir. Di puisi ini terlihat betapa Wiji tidak lagi mengutuki nasibnya. Ia tidak berkeluh kesah dengan kondisi hidupnya yang kekurangan: aku tak menyumpahi rahim ibuku lagi. Dan ia pun bangkit berjuang demi hidupnya: aku mengucap selamat pagi kepada hidup yang jelata/merdeka.

Standar saya untuk karya sastra yang baik adalah jika karya itu membuat saya terpengaruh secara psikologis saat atau setelah membacanya. Saat saya membaca puisi Wiji tentang kemiskinan, saya merasa seolah masuk kedalam kemiskinan itu. Saat saya membaca puisinya yang penuh amarah, saya juga menjadi marah. Begitu pun saat Wiji menghidangkan keberanian dalam puisinya. Keberanian saya pun bangkit. Lugasnya, puisi Wiji di buku ini memiliki “nyawa”. Dan “nyawa” ini muncul karena, menurut saya, Wiji adalah seorang penyair yang jujur dengan karya – karyanya.

Meski begitu, ada satu hal yang tidak saya sukai dari puisi Wiji Thukul. Itu adalah seringnya ia mengulang frase yang mengandung ya. Contohnya di puisi Jam Dua Malam Dingin Sampai ke Tulang: air naik/ ya air naik. Gaya berpuisi yang semacam ini sering diulang di puisi – puisi yang lain.

Sayang, Wiji kini tak jelas dimana. Jika ia masih ada, saya ingin sekali mengatakan kepadanya agar menghentikan gaya berpuisi yang seperti itu.



Informasi Buku:
Buku 43
Judul: Aku Ingin Jadi Peluru
Penulis: Wiji Thukul
Penerbit:  Indonesiatera, April 2004
Tebal:  223 halaman
Cetakan:  II
Judul: Para Jendral Marah - Marah, Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian
Penulis: Wiji Thukul
Bonus Majalah Tempo Edisi Khusus

Upgrade Android 4.0 (Ice Cream Sandwich) ke Android 4.1.2 (Jelly Bean)

Ini bukan review!

Untuk pertama kalinya saya menulis postingan yang tidak ada kaitannya dengan buku. Sengaja saya lakukan sebagai ungkapan kegembiraan saya karena telah berhasil meng-upgrade Android Ice Cream Sandwich (ICS) saya ke Android Jelly Bean. Saya menuliskan ini dengan semangat berbagi dan berharap mudah – mudahan ada manfaatnya bagi anda yang ingin meningkatkan Android OS anda ke sistem operasi yang paling mutakhir saat ini.

Upgrade ini berlaku untuk HP Samsung. Saya menggunakan Samsung Galaxy Chat yang OS bawaannya adalah Android ICS. Saya tidak tahu apakah upgrade ini juga berlaku pada HP Samsung tipe lainnya. Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba.

Untuk upgrade ke Jelly Bean, Samsung menawarkan dua cara. Yang pertama adalah melalui Kies dan yang kedua melalui FOTA (Firmware over the Air). Jika anda ingin meng-upgrade langsung melalui HP anda, anda bisa memilih melalui FOTA. Tapi menurut saya, langkah terbaik adalah melalui Kies.

Saya pun meng-upgrade Android saya melalui Kies. Dan berikut langkah – langkahnya:

Pertama, jika anda belum menginstal Kies, silakan anda download Kies di sini.

Kedua, instal Kies di komputer anda dan setelah selesai, jalankan.

Ketiga, sambungkan HP anda ke komputer dengan menggunakan kabel USB


Keempat, setelah HP anda terdeteksi Kies, kliklah nama HP anda yang telah terdeteksi itu.


Kelima, kalau upgrade software tersedia untuk HP samsung anda, akan muncul tampilan yang memberitahukan kepada anda bahwa ada firmware yang tersedia untuk Android yang anda pakai.


Keenam, kliklah tombol Firmware Upgrade



Ketujuh, proses download dimulai. Jangan lepaskan kabel USB HP anda selama proses download berlangsung. Lama proses download tergantung koneksi internet anda tentunya.


Kedelapan, setelah proses download selesai, proses selanjutnya adalah proses upgrade. Di langkah ini jangan sekali – kali melepas kabel USB HP anda.


Kesembilan, jika proses telah selesai, akan muncul pemberitahuan yang memerintahkan anda agar me-restart HP anda, mencabut kabel USB HP anda dan menyambungkannya kembali dengan komputer. Kliklah tombol OK. Lalu lakukan seperti yang telah diperintahkan.



Kesepuluh, Kies akan kembali mendeteksi HP anda. Kliklah Basic Information dan anda akan menemukan tulisan This is the Latest Firmware disana.


Jika tampilan seperti di atas yang terlihat di Kies anda, Selamat! Android anda kini telah ter-upgrade ­ke Jelly Bean


Catatan:
  1. Back Up semua data di HP anda dengan menggunakan Kies, sebelum melakukan proses upgrade.
  2. Jika anda melakukan langkah – langkah di atas dengan benar, Insya Alloh Android ICS anda akan ter-upgrade ke Jelly Bean, namun jika proses di atas gagal, saya tidak bertanggung jawab atas akibat apapun yang terjadi pada perangkat seluler anda!
  3. Screenshot di atas diambil dari tutorial Kies yang bisa anda tonton di sini.


Kafka on the Shore

Buku ini sangat njlimet. Tapi kenjlimetannya itulah yang membuatnya menarik. Sebenarnya ide ceritanya cukup sederhana menurut saya. Hanya tentang seorang anak remaja yang minggat dari rumah dan selama minggat itulah ia mendapatkan banyak pelajaran hidup yang membuatnya lebih dewasa dalam menghadapi kehidupan. Tapi Murakami merangkai kesederhanaan cerita itu menjadi sedemikian rumit.

Kisah dibuka dengan Kafka Tamura yang berbincang dengan dirinya sendiri. Berbincang dengan diri sendiri. Sudah biasa dilakukan oleh siapa saja. Namun Murakami membuatnya rumit dengan seolah – olah Kafka berbincang dengan orang lain. Orang yang dalam cerita dilabeli Bocah Bernama Gagak. Saya berkesimpulan bahwa Bocah Bernama Gagak itu sebenarnya adalah si Kafka sendiri setelah saya membaca halaman 402. Di sana Murakami menulis bahwa Kafka dalam bahasa Ceko berarti Gagak!.

Dalam perbincangan dengan dirinya sendiri itu Kafka memutuskan untuk minggat dari rumah tepat setelah ia berusia 15 tahun. Dan minggatlah ia di bab pertama. Saya mengira bahwa kisah minggatnya Kafka akan dilanjutkan di bab berikutnya. Namun tidak. Murakami menggelontorkan kerumitan berikutnya di bab kedua. Di bab yang masih dini ini Murakami berkisah dengan gaya jurnalis. Setting mundur ke tahun 1946 ketika seorang guru Taman Kanak Kanak mengajak siswa – siswanya berwisata ke hutan untuk mencari jamur. Tanpa diketahui sebab musababnya anak – anak TK ini pingsan berbarengan. Dan kembali sadar setelah beberapa saat. Kecuali satu anak yang tetap pingsan. Demi menjaga ketentraman masyarakat pemberitaan tentang anak yang tetap pingsan ini dihentikan. Pembaca kembali bertanya – tanya tentang kelanjutan kisah anak yang pingsan itu. Namun di bab 6 halaman 57 teka – teki mengenai anak yang dihilangkan pemberitaannya itu terjawab. Murakami tidak lagi mengisahkan tentang anak TK di jaman perang. Di bab enam anak yang tetap pingsan itu telah menjadi kakek – kakek yang bisa berbicara dengan kucing, Nakata.

Apa hubungan antara Kafka dengan Nakata? Murakami menceritakan kisah Kafka dan Nakata secara berselang – seling. Di dalam kisah Kafka dan Nakata itulah tokoh – tokoh lainnya dimunculkan. Yang pertama muncul adalah Sakura, gadis yang menolong Kafka dalam pelariannya. Secara tidak langsung, Murakami bertanya kepada pembacanya, apakah Sakura ini kakak Kafka? Murakami tidak membocorkan jawaban dari teka – teki ini. Yang berikutnya adalah Oshima. Penolong Kafka yang berikutnya. Untuk tokoh yang ini pun Murakami melontarkan teka – tekinya. Apakah Oshima perempuan ataukah laki – laki? Yang berikutnya adalah Hoshino. Hoshino ini muncul di kisah Nakata dan menjadi asisten Nakata sampai akhir kisah. Menurut saya, tidak ada teka – teki untuk tokoh yang ini.

Tokoh berikutnya adalah Koichi Tamura, ayah Kafka. Di awal kemunculannya, Koichi ini dilabeli Johnnie Walker. Lagi – lagi Murakami membiarkan pembaca bertanya – tanya siapa Johnnie Walker ini sampai mereka membaca bab 21. Tokoh yang berikutnya adalah Miss Saeki. Murakami melalui Kafka mencoba meyakinkan pembaca bahwa Miss Saeki ini adalah ibu Kafka. Namun Murakami juga menawarkan kebingungan baru dengan membeberkan bahwa Miss Saeki ini adalah seorang gadis yang frustrasi karena kekasih hatinya harus mati ketika masih mahasiswa. Bagaimana perempuan lajang yang frustrasi karena kehilangan kekasihnya ini menjadi ibu Kafka? Murakami memberikan clue, karena Saeki pernah menulis buku tentang petir dan ayah Kafka pernah tersambar petir (???).

Buku ini dibumbui dengan keajaiban – keajaiban; ikan dan lintah yang jatuh dari langit, seks yang samar – samar (saya baru sadar bahwa buku ini tidak memuat tanda “Dewasa” di sampulnya) dan keanehan – keanehan. Di banyak tempat Murakami, seperti yang sudah saya katakan, melontarkan begitu banyak teka – teki dan menjawab teka – teki itu di tempat lain. Teka – teki ini sukses membuat saya penasaran untuk melanjutkan membaca halaman demi halaman. Akan tetapi, di beberapa tempat juga Murakami memaksa pembaca untuk merenungkan makna di balik kisah yang ia ceritakan. “Kunci untuk memahami Kafka on the Shore (judulbuku ini dalam bahasa Inggris) adalah dengan membacanya berulang kali.” Demikian kata Murakami.

Tapi, jikalaupun anda tetap bertanya – tanya setelah membacanya berulang kali, anda harus tahu bahwa sebenarnya, kehidupan itu sendiri merupakan sebuah misteri.


Informasi Buku:
Buku 42
Judul: Dunia Kafka
Penulis: Haruki Murakami
Penerbit:  Pustaka Alvabet, Juni 2011
Tebal:  597 halaman
Cetakan:  I