Mata yang Enak Dipandang

gambar dari goodread
Kumpulan 15 cerpen yang terserak di sejumlah media antara tahun 1983-1997
Terbit pertama kali oleh Gramedia tahun 2013
Desain sampul: eMTe
216 hlm; 20 cm

Saat Dion menawarkan buntelan di grup BBI, bertepatan saya membuka FB, sehingga dengan cepat saya dapat memilih buku ini. Jaminan nama pengarangnya membuat saya tak ragu, apalagi covernya yang kuning terang sangat tertangkap mata. Dan tentu saja judulnya yang biasa, berbentuk kalimat utuh, tak berima, dan menurut saya kurang puitis. Tetapi pada dasarnya Ahmad Tohari memang tidak pernah (setahu saya) menulis dengan kata-kata puitis, meliuk-liuk, sebelum sampai pada maksudnya. Ahmad Tohari itu apa adanya, dan karena itulah saya menyukai karya-karyanya.

Kisah pertama yang diberi judul (1) Mata yang Enak Dipandang seketika membuat hati saya tersinggung. Sungguh. Bayangkan saja bagaimana melalui tokoh Marta yang buta, Ahmad Tohari mempermalukan saya, mempermalukan mata saya yang berharga ini sebagai mata yang tak enak dipandang, karena beberapa kali saat naik kereta api merasa lebih nyaman dan berpihak pada peraturan yang melarang para pedagang, pengamen, apalagi pengemis "seperti Marta" berlalu-lalang di lorong kereta. Mata yang tak peduli, karena berada di kereta yang nyaman dan bersih, pada sosok-sosok Marta, yang menyipit saat melihat mereka.

(2) Bila Jebris Ada di Rumah Kami bercerita tentang Jebris, pelacur, yang tinggal di lahan yang sama dengan Ratib, seorang ustadz kampung. Sama seperti Sar, istri Ratib, saya juga deg-degan untuk mengetahui bagaimana pendapat dan sikap Ratib dengan keberadaan Jebris. Cara Ratib memandang persoalan ini menjadi pelajaran buat kita.

Cerpen keempat membuat saya terpaksa mengeluarkan satu kata yang kami tabukan di rumah, yaitu "Gillaaaaaa!" Berkisah tentang orang-orang yang datang ke rumah kita dengan maksud meminta sumbangan, entah untuk yayasan penderita cacat atau menjual barang-barang yang "ngaku"nya hasil buatan para difable. Mereka memang "mungkin" penipu. Tetapi (3) Penipu yang Keempat, penipu yang jelas lebih pandai itu ternyata adalah saya, bisa juga kamu, atau dia! Ahmad Tohari benar-benar membuat saya terperangah sekali lagi karena "kecaman"nya yang dengan semena-mena menelanjangi saya. Gila!

Pada kisah (4) Daruan, pembaca akan tahu  kisah seorang penulis yang puluhan karyanya tak juga tembus penerbit. Hingga suatu hari, atas kebaikan sahabatnya, Muji, Daruan akhirnya dapat melihat karyanya dalam bentuk buku. Penulis mana yang tak sumringah saat melihat karyanya akhirnya dibaca orang. Dan tentu saja seiring dengan itu, harapan akan masa depan yang cerah, tak lagi nebeng hidup pada istri akan segera terjadi. Itu mimpi dan harapan Daruan, dan tentu saja Daruan-Daruan yang lain. Saya dapat merasakan euforia Daruan saat menerima bukunya, serupa menimang bayi yang telah dikandungnya berbulan-bulan sengan susah payah, tak jarang harus begadang, lupa mandi, lupa makan, dan akhirnya lahir. Namun semua euforia itu pupus seketika. Harga diri Daruan yang hancur membuat saya harus selalu ingat untuk bernapas. Bukan saja karena bukunya tidak dijual di toko buku bergengsi, tetapi  juga ternyata masih utuh di tangan pedagang asongan, menjadi efek paling menyakitkan dari sebuah perjuangan panjang seorang Daruan (penulis).

Lagi-lagi Ahmad Tohari bercerita tentang kekalahan seorang laki-laki (suami). Dalam (5) Warung Penajem, Kartawi, petani dengan secuil lahan, itu mendapat imbas dari obsesi istrinya untuk menjadi orang kaya. Di cerpen ini, saya serasa ikut menjadi pelanggan Jum dan bergosip tentangnya, saking dekatnya tokoh cerita itu dalam kehidupan sehari-hari.

(6) Paman Doblo Merobek Layang-Layang, padahal dia adalah ikon seorang pahlawan di desanya. Jika mereka mengalami kesulitan maka Paman Doblo akan segera turun tangan dengan senyum yang selalu menghias wajahnya. Sayangnya, kalimat "Untung ada Paman Doblo", itu kini harus ditelan dengan susah dan sedih, semenjak Paman Doblo diangkat sebagai satpam di kilang minyak yang baru dibangun.

Ada sebuah kisah tentang seorang yang telah membunuh 99 orang. Dia pun bertobat dan mencari seseorang yang dapat menunjukkan jalan tobatnya. Namun, orang ke-100 ini tidak seperti yang dia harapkan sehingga dibunuhlah orang ini, dan genaplah dia membunuh 100 orang. Dengan penuh kesedihan, orang ini berjalan untuk menemukan seseorang yang dapat menuntunnya pada sebuah pertobatan. Sayangnya, sebelum dia sampai (bertemu) dengan orang alim tersebut, dia meninggal. Saat itulah malaikat rahmat dan malaikat azab berebut. (7) Kang Saripin Ingin Dikebiri, memiliki pesan yang sama. Lelaki paling konyol dan nekat yang mencari jalan keluar atas nafsunya yang tak dapat ditundukkan. Pesannya adalah "jangan sok menjadi panitia penghitung amal!"

Kisah selanjutnya adalah kisah tentang Kasim yang berusaha menyeberang jalan raya untuk menuju secuil sawahnya yang menunggu dipanen. Namun, arus mudik yang padat membuat Kasim harus menahan kesabaran. Berjam-jam dia menunggu kesempatan dari para pemudik yang hendak bersilaturahim dan bermaaf-maafan, untuk menyeberang. Bayangan akan burung pipit yang rakus menuai duluan, membuat Kasim berani melangkah dengan gagah menyeberang jalan raya. Untuk cerpen ini, sayang endingnya kurang menyentak. Mungkin karena terlalu berat muatan kritiknya, sehingga ketika (8) Akhirnya Kasim Menyeberang Jalan jadi terasa kurang menyentuh.

Pada (9) Sayur Bleketupuk, saya merasa mendapat pesan penting dari Ahmad Tohari melalui prasangka Parsih pada suaminya, Kang Dalbun. Janji Kang Dalbun untuk mengajak anak istrinya naik jaran undar, menjadi awal malapetaka di rumah mereka. Tragis.

Setelah kisah tragis tersebab ketidaksabaran dan prasangka Parsih, pada (10) Rusmi Ingin Pulang, sayangnya terasa datar. Ketakutan Kang Hamim akan kepulangan Rusmi, anaknya, yang menurut desas-desus menjadi pelacur di kota, membuatnya harus memastikan pada Pak RT bahwa anaknya diterima di kampung ini. Dan setelah itu memang tak terjadi apa-apa, selain kedatangan Rusmi yang disusul oleh lelaki baik dan tampak kaya.

(11) Dawir, Turah, dan Totol, tiga nama yang "aneh", juga kisah mereka bertiga yang tak kalah mengherankannya. Tiga sosok manusia yang saling mengikatkan diri di antara kardus-kardus bekas dan tempat sampah. Saya hanya bisa mendesah berat mengikuti kisah tiga tokoh ini.

Sementara Dawir, Turah, dan Totol yang tak tahu besok mau makan apa, sebaliknya Kang Narya memiliki (2) Harta Gantungan, berupa kerbau, yang akan digunakan sebagai imbalan untuk mengurus jenazahnya kelak. Trenyuh, yang saya rasakan saat membaca cerpen ini.

" ... yang gagah, yang cantik, yang mulus, yang bopeng, sama saja. Di mataku mereka akan segera berubah menjadi tengkorak dan tulang-tulang yang berjalan kian kemari ...." Itulah yang dilihat oleh mata Sardupi. Dia bahkan pernah dihajar oleh Pak Braja, hansip pasar, karena tertawa terbahak-bahak saat diajak bicara hansip itu. Masalahnya Sardupi tidak bisa menahan tawanya karena (13) Pemandangan Perut yang dilihatnya. Mata Sardupi, mata yang dapat melihat perut orang-orang berdasarkan tabiat mereka. Sebuah cerpen religius, dengan gaya supranatural.

Cerpen yang juga sama-sama religius, menampilkan hubungan transedental antara Markatab yang mendapat ucapan (14) Salam dari Para Penyangga Langit.

Berbeda dengan keempat belas cerpen di atas yang terdiri dari 9-10 halaman, di (15) Bulan Kuning Sudah Tenggelam, kita akan disuguhi sebuah novelet yang mengisahkan tentang Ayuning Rahadikusumah, anak angkat seorang bupati terhormat, yang harus menentukan pilihan antara ayah angkat yang telah melimpahinya dengan kasih sayang tak terkira atau Koswara, suami tercintanya. Kisah yang sangat menyentuh bagi kita yang memiliki orang tua yang kukuh tinggal di rumah mereka, sendirian, sementara kita berada nun di sana. Membawa serta mereka tak bisa, sementara kita pun punya sejuta satu alasan jika harus tinggal di rumah orang tua. Sebuah masalah pelik, karena dalam sebuah hadits disebutkan, dengan konteks bebas yang intinya "sungguh terlalu mereka yang tidak masuk surga sedang orang tuanya masih ada di sisi mereka". Sungguh sebuah dilema.

Lima belas cerpen yang saya beri 5 bintang ini tak salah menjadi pilihan saya di antara buku lain yang ditawarkan. Terima kasih telah memilih saya menjadi pemilik Mata yang Enak Dipandang.

Senyum Karyamin


Senyum Karyamin

by. Ahmad Tohari
Paperback, 88 pages
Published by Gramedia Pustaka Utama


Senyum Karyamin ini adalah buku pertama dari dua buku yang kudapatkan dari event BBI Secret Santa.

Untuk seseorang yang sudah mengirimkan buku ini kepadaku, thank you so much. Aku adalah penggemar karya-karya Ahmad Tohari. Dan rasanya sangat menyenangkan sekali ketika tahu klo Santa mengirimkan buku ini.

Aku gak tahu, apa pertimbangan Santa ketika memilihkan buku ini.. mungkinkah karena santa sudah mencari tahu buku-buku apa yang menjadi favorite ku? Ataukah Santa tahu kalau buku ini memang bagus lantas menginginkan aku juga membacanya? Atau mungkin tidak ada alasan apapun dan hanya insting yang menuntun Santa memilih buku ini? Apapun sebabnya, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih banyak.. jikalau Santa memilih buku ini berdasarkan insting, aku yakin mungkin ada koneksi tak terlihat antara hati santa dan hatiku.. #ceileeh :))



Buku Senyum Karyamin ini merupakan buku antologi. Berisi kumpulan-kumpulan cerita pendek Ahmad Tohari yang dikumpulkan oleh Maman S. Mahayana. Buku ini berisi 13 cerita pendek, yaitu

1. Senyum Karyamin
2. Jasa-jasa buat Sanwirya
3. Si Inem Beranak Bayi
4. Surabanglus
5. Tinggal Matanya Berkedip-kedip
6. Ah, Jakarta
7. Blokeng
8. Syukuran Sutabawor
9. Rumah yang Terang
10. Kenthus
11. Orang-orang Seberang Kali
12. Wangon Jatilawang
13. Pengemis dan Shalawat Badar

Buku ini masih sama seperti buku Ahmad Tohari lainnya, berisikan sebuah karya dengan gaya bahasa yang lugas, jernih dan juga sederhana, di samping itu kuatnya ironi dan metafora.

Ahmad Tohari tak pernah mengambil tema-tema yang rumit dalam karyanya. Selalu dan selalu bersetting pedesaan yang indah dan kehidupan masyarakatnya. Di dalamnya Ia tuangkan sentilan-sentilan terhadap hal-hal yang dianggap biasa oleh masyarakat.

Soal lingkungan hidup yang jarang dijamah oleh pengarang Indonesia justru menjadi salah satu daya pikat karya-karyanya. Diceritakan dengan detail namun tak terasa membosankan karena diksinya yang indah. Dunia pedesaan yang kumuh, lugu, telanjang, bodoh dan alami ternyata masih tetap menjanjikan kedamaian yang tulus dan tanpa pamrih di tangan Ahmad Tohari. Inilah salah satu daya pikat dari karya-karyanya.

Dan kekuatan latar itu terasa sangat pas karena yang tampil sebagai tokoh sentralnya adalah warga desa dari kalangan wong cilik. Ia seolah-olah mewakili teriakan rakyat kecil atau masyarakat yang miskin dan bodoh.

Ada Karyamin dengan senyum kelaparannya yang dipaksa menyumbang untuk orang-orang yang kelaparan nun jauh di sana. Hal ini seakan-akan menyentil perilaku masyarakat yang lebih peduli kondisi orang-orang yg menderita tapi jauh dari jangkauan daripada tetangganya sendiri. Atau ada Minem yang diusianya yang sangat muda namun harus menikah dan melahirkan bayi. Hal ini juga masih terjadi di kalangan masyarakat Indonesia terutama di pedesaan yang menganggap anak wanita adalah "komoditi dagangan". Semakin cepat mereka kawin, semakin banggalah kedua orang tuanya karena artinya anaknya laku, walaupun laki-laki yang menikahi anaknya mungkin sama melaratnya atau sama bodohnya dengan mereka. Pokoknya yang penting laku! Dan masih banyak lagi nilai-nilai moral Yang bisa kita peroleh dari karya-karyanya.

Buku-buku Ahmad Tohari selalu bisa membuatku kembali menyentuh bumi setelah diterbangkan oleh khayalan cerita fantasi atau kisah romansa yang menyentuh hati..

Rate : 4/5

Submitted for :








[Review] Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad Tohari

Judul : Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 978-979-22-0196-3
Jumlah Halaman : 406

Sinopsis :

Novel ini merupakan gabungan dari 3 buku: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus di Dini Hari dan Jantera Bianglala, yang menceritakan kehidupan Srintil, seorang warga Dukuh Paruk. 

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya dukuh itu merasakah kehilangan jati diri.

Read more »

Books "RONGGENG DUKUH PARUK"

Judul Asli : RONGGENG DUKUH PARUK
Copyright © by Ahmad Tohari
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Cover by Mendiola Design | photos by Eriek Juragan
Cetakan VII : November 2011 ; 408 hlm
Rate : 3,5 of 5

Dukuh Paruk yang terdiri dari 23 rumah merupakan kawasan pemukiman yang kecil dan tersendiri, jauh dari kawasan pemukiman lainnya. Para penghuninya merupakan keturunan dari Ki Secamenggala – moyang yang pernah menanamkan ‘namanya’ dalam sejarah sebagai pelarian bromocorah yang sengaja mencari tempat terpencil untuk menyepi dan menghabiskan sisa hidupnya. Sisa keturunan yang masih ada, bertahan hidup dengan tetap memegang adat istiadat serta aturan peninggalan leluhur mereka, termasuk tetap menyembah pemakaman Ki Secamenggala dan mempercayai ramalan bahwa suatu saat, Dukuh Paruk akan kembali meraih kejayaan seperti masa lalu melalui titisan roh indang pada calon ronggeng.
“Di pedukuhan itu ada kepercayaan kuat, seorang ronggeng sejati bukan hasil pengajaran. Bagaimanapun diajari, seorang perawan tak bisa menjadi ronggeng kecuali roh indang telah merasuk tubuhnya. Indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan.” [ p. 13 ]

Read more »

Orang-orang Proyek oleh Ahmad Tohari

Orang-orang proyek

Saya sebenarnya bukan pembaca karya sastra indonesia yang bersemangat, cuma pernah baca sedikit sekali novel sastra. Eh, sebenarnya saya engga bisa membedakan mana yang karya sastra mana yang bukan sih, bisa ngomong novel ini karya sastra juga hanya berdasar dari label di barcode novelnya saja. Tapi secara umum bagi saya yang disebut karya sastra adalah karya yang ditulis dengan bahasa yang baku dan serius, membahas permasalahan yang aktual ataupun pemikiran kontemplatif mendalam, becanda pun dengan gaya yang sebisa mungkin intelek gitulah, CMIIW.

Saya tertarik untuk membeli buku berjudul Orang-orang Proyek ini berdasar sinopsis dari belakang buku yang menyatakan bahwa novel ini bercerita tentang insinyur yang membangun jembatan di sebuah desa beserta dengan konflik-konfliknya. Latar belakang pendidikan saya adalah arsitektur jadi ada semacam ketertarikan bawah sadar untuk memiliki novel ini. Sama seperti kalau anak teknik bertemu dengan anak teknik lain di jalan yang mengenakan jaket angkatan, badan bau belum mandi, mata panda kebanyakan lembur, otomatis merasa saudara sepenanggungan *air hugs*. Eh tapi jaman sekarang engga sebegitunya sih, anak teknik udah kece-kece, rapi, necis, wangi dan pandai bergaul, yang masi dekil, kesian deh yu.

Okay, kembali ke topik. Pertama kali bersentuhan dengan Ahmad Tohari melalui film “Sang Penari” yang merupakan adaptasi dari bukunya Ronggeng Dukuh Paruk. Bukunya cukup ngetop karena sempat dilarang terbit pada masa orde baru karena memang didalam novel banyak menyinggung mengenai PKI walau hanya sebagai background cerita. Saya cukup terkesan dengan filmnya, bagus, asumsinya novelnya pun bagus juga. Jadi ya sebenarnya saya belum pernah sama sekali membaca karya Ahmad Tohari dalam bentuk novel, ini novelnya yang pertama bagi saya, awwh *malu*. 

Novel ini bercerita tentang Kabul, seorang insinyur idealis mantan aktivis kampus yang memimpin sebuah proyek pembangunan jembatan di sebuah desa. Konflik utama terjadi antara Kabul yang idealis dengan sistem proyek yang korup. Sedari awal hingga akhir novel ada satu hal yang bagi saya terasa begitu kuat, yaitu keberpihakan. Keberpihakan Ahmad Tohari pada wong cilik. Keberpihakannya bukan hanya dalam tataran konsep saja, tapi termasuk bahasa penulisan novel ini yang banyak mengambil istilah-istilah bahasa daerah pula. Ahmad Tohari sepertinya memang ingin menempatkan feodalisme dan budaya korupsi sebagai musuh yang harus dilawan. Dan contoh paling nyata terjadinya kedua hal tersebut adalah pada proyek-proyek pemerintah, dimana Ahmad Tohari memotretnya dengan begitu gamblang. Segala macam intrik dan solusi pragmatis dari pelaku-pelaku proyek dalam novel ini benar-benar terjadi dalam kenyataan sehari-hari, bukan hanya pada masa orde baru, bahkan hingga kini. Sayangnya keberpihakan Ahmad Tohari ini digambarkan secara vulgar, sedikit marah, uneg-unegnya tergelontor keluar tak terkontrol, muntah. Mungkin memang begitu apa yang dia rasakan melihat korupsi yang begitu sistemik, dan engga tahu harus kemana lagi harus menyalurkan energi negatifnya. Yah, tapi bagi pembaca rasanya seperti nonton salah satu episode “Mbangun Desa” di TVRI dimana Pak Bina menjelaskan segala macam konflik, menjelaskan siapa yang baik siapa yang buruk. Misi yang mulia, sayangnya terlalu klise.

Sementara dibalik konflik utama tersebut ada sedikit bumbu romans dengan Wati, dan favorit saya adalah Pak Tarya, seorang pemancing yang banyak memberikan pernyataan-pernyataan kontemplatif, entah menanggapi curhat Kabul ataupun mengenai memancing (berdasar wiki, ternyata memang hobi Ahmad Tohari adalah memancing, gak heran tokoh Pak Tarya si pemancing yang hanya muncul selintas menjadi begitu signifikan dan menjadi favorit saya). Hubungan antara Kabul dan ibu-nya pun menarik, walau hanya digambarkan sedikit. Yang paling saya nikmati adalah deskripsi-deskripsi mendetail dari peristiwa yang terjadi dalam novel, sehingga serasa kita melihatnya dalam slow motion, seakan kita bisa menghirup debu proyek, merasakan panas yang menyengat di kulit, melihat pergerakan burung yang gelisah. Dalam pendapat saya, ini yang membedakan penulisan-penulisan penulis yang sudah berumur dengan penulis muda. Penulis-penulis cenderung rumit pada konsep, ide, pemikiran, pada hal-hal yang diolah dikepala. Sementara penulis lama seperti Ahmad Tohari ini, banyak berkontemplasi, menikmati alam, merasakannya dengan tubuh, bukan hanya dengan pemikiran.

2,5/5


#6 Sang Penari



Buku ini adalah bacaan waktu SMA dulu, saat itu buku ini masih merupakan tiga buku yang terpisah yaitu: Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala. Ahmad Tohari, sang pengarang, merupakan nama yang masih asing bagiku namun Srintil dan Rasus yang hidup di Desa Paruk merupakan kisah yang tidak mudah dilupakan. 

Buku ini diawali dengan deskripsi kehidupan Dukuh Paruk yang terpencil, terbelakang dan miskin; sebuah desa yang terlupakan namun tetap bertahan karena kebanyakan penghuninya tidak neko-neko, nrimo ing pandum, atau hidup tanpa ambisi kalau menurut kacamata abad 21. Seluruh warga hidup tentram  tanpa konflik yang rumit, satu-satunya impian mereka adalah roh indang ronggeng kembali bersedia merasuki salah satu anak atau cucu perempuan mereka, sehingga warga dukuh yang mengaku sebagai keturunan Ki Secamenggala ini dapat berkibar lagi namanya sebagai dusun ronggeng.


Ketika melihat cucunya, Srintil yang belum genap 10 tahun, menari layaknya seorang ronggeng profesional di depan teman bermainnya (salah satunya adalah Rasus), Ki Sakarya gembira bukan kepalang. Untuk memastikannya ia berkonsultasi dengan Ki dan Nyai Kertareja yang merupakan dukun ronggeng, ia yakin kedua orang itu akan segera mengenali bakat alami Srintil, alhasil ketiga sesepuh desa itupun sepaham, Srintil memang telah dihinggapi roh indang ronggeng. Sebagai seorang gadis belia, dirias, diberi pakaian bagus, dimanjakan banyak orang, dipuji sana sini, ditonton belasan orang adalah nirwana di dunia. Namun semua berubah ketika ia harus menjalani acara bukak-klambu untuk menasbihkan dirinya sebagai ronggeng sejati, hidup Srintil bukan lagi menjadi miliknya sendiri namun milik setiap lelaki yang menginginkannya. Cukup dengan bayaran 1 kerbau, Srintil mencicipi neraka di dalam nirwana.

Menyadari Srintil bukan lagi miliknya pribadi, Rasus yang mengklaim sebagai sahabat Srintil sejak kecil, pergi dari dukuh. Nasib membawanya bertemu kumpulan tentara dan beberapa tahun kemudian ia pun menjadi salah satu dari mereka. Ketika neneknya tiada Rasus terpaksa pulang ke kampung halamannya. Melihat Rasus pulang berseragam tentara, warga dukuh bangga nian, salah satu keturunan mereka akhirnya menjadi seseorang yang terhormat. Para tetua pun mengharapkan ia untuk menetap dan memimpin dukuh itu agar dapat keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan mereka. Lain halnya dengan Srintil, ia hanya melihat bahwa kepulangan Rasus merupakan kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka namun cinta Srintil tidak diindahkan Rasus. Ia pergi tanpa pamit walau jujur sakit hati dirasanya ketika menghadapi kenyataan bahwa Srintil masih menjadi ronggeng, permintaan untuk memajukan kampungnya pun tak dipikirkan lagi.


Kepergian Rasus membuat Srintil marah, ia pun berontak terhadap kedua gurunya, ia hanya mau menari, dan tidak ingin melayani lelaki manapun dengan bayaran semahal apapun. Ia pun giat menerima tawaran menari dimana-mana sehingga aksi Ronggeng Dukuh Paruk merupakan hiburan wajib di berbagai hajatan penting. Ketenaran Srintil beserta kelompok ronggengnya tidak membuat mereka menjadi lebih pintar, keluguan menggiring mereka menjadi alat propaganda salah satu partai politik. Segera setelah tragedi September 1965 terjadi, kelompok ronggeng pun dituduh terlibat dan beberapa personelnya ditahan termasuk Srintil. Bagaimanakah Srintil akan dapat meneruskan hidupnya setelah menjadi tahanan politik? Apakah Rasus masih mau peduli terhadap dirinya dan dukuh mereka?

Keindahan novel ini ada pada kelihaian Ahmad Tohari melukiskan hal-hal kecil mengenai kehidupan dan alam Dukuh Paruk sehingga membuat dusun biasa dan kebanyakan ini menjadi  istimewa. Dalam novel ini pun kita dibawa untuk memahami dunia ronggeng dengan lebih manusiawi. Alur ceritanya cepat dan ditanggung tidak membosankan. Penggambaran karakternya kuat sehingga tak sulit untuk mudah terbawa dalam kesedihan ataupun dilema yang dialami tokoh-tokohnya, seperti saat Srintil menjadi amat terpuruk ketika untuk kesekian kalinya dipermainkan oleh lelaki atau dilema yang dihadapai Rasus ketika diharuskan memilih antara karir ketentaraannya atau cintanya pada Srintil. Novel ini (jika dapat saya rangkum) merupakan sebuah kisah mengenai keluguan (atau kebodohan?) yang fatal di jaman yang carut marut. Bravo ahmad Tohari!