Kilas Buku: Pippi si Kaus Panjang


Judul: Pippi si Kaus Panjang
Judul Asli: Pippi Långstrump
Pengarang: Astrid Lindgren
Penerjemah: Agus Setiadi
Genres: Classic, Children
Penerbit: Gramedia, 2005 (pertama kali terbit 1945)
Paperback, 168 halaman

Pippi adalah seorang anak kecil berusia sembilan tahun. Ibu kandungnya meninggal dunia setelah melahirkan dirinya. Sementara itu ayahnya yang bekerja sebagai kapten kapal meninggal ditelan ombak lautan. Tinggalah Pippi seorang diri terombang-ambing di kapal laut bersama para kelasi kapal yang juga anak buah ayahnya. Suatu hari Pippi kembali ke Swedia dan tinggal di rumah kecil peninggalan ayahnya. Ia tinggal bersama monyet kecil dan kuda peliharaannya.

Setiap anak kecil di kota tempat Pippi tinggal sangat mengagumi gadis cilik berambut merah itu. Sementara setiap orang dewasa dibuat kesal bukan main. Mereka menganggap apa yang Pippi lakukan sangatlah tidak sopan dan berbahaya khususnya bagi seorang anak kecil seperti dirinya.

Buku ini penuh imajinasi khas anak-anak. Astrid berhasil menerjemahkan apa yang diinginkan anak-anak tanpa kehadiran orang dewasa di sekitar mereka. Karena inilah, Pippi diciptakan dan dijadikan teman baru bagi anak-anak.

Sementara bagi orang dewasa, buku ini termasuk buku yang absurd. Orang dewasa yang sudah berpikir logis akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang anak seperti Pippi ada di kehidupan nyata. Tidak mungkin seorang anak kecil bisa mengurus dirinya sendiri dengan mudah tanpa bantuan orang dewasa. Hey ingat, ini hanya buku. Dan bagi seorang anak kecil, menjadi seperti Pippi adalah impian mereka!

Saya teringat akan diri saya sendiri ketika kecil. Waktu itu hal yang paling saya inginkan adalah tinggal di dalam rumah pohon seorang diri. Saya akan memasak sendiri, mengurus rumah pohon saya sendiri dan bermain-main sendiri. Saya tidak perlu bekerja karena pekerjaan harian saya adalah bermain. Lalu saya akan tidur dimanapun dan kapanpun sesuka hati saya, tanpa ada yang mengatur jadwal tidur. Yah, begitulah impian saya semasa kecil. Dan saya merasa Pippi menjadi bagian dari hidup saya, bagian dari imajinasi setiap anak!

Ulasan ini untuk:
TBBR Mbak Maria
Lucky No. 14 Mbak Astrid
CLRP Bzee

Kilas Buku: Love Aubrey


Judul: Love, Aubrey
Pengarang: Suzanne LaFleur
Penerjemah: Ary Nilandari
Genres: Children, Middle Grade, Realistic Fiction
Paperback, 256 halaman
Matahati, 2010 (terbit pertama kali 2009)

Aubrey baru saja kehilangan ayah dan adiknya dalam keadaan tragis yang membuat seluruh hidupnya jungkir-balik. Bersama ibunya, gadis itu berusaha menata hidupnya kembali. Namun, pada suatu hari, sang ibu pergi meninggalkannya, entah ke mana, tanpa pesan, tak ingat pada dirinya.

Gadis berusia sebelas tahun itu terpaksa mengurus diri dan menjalani hari-harinya sendirian, menunggu ibunya kembali. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah menulis surat untuk mengungkapkan perasaan, bahkan di saat tak ada seorang pun yang dapat membacanya.

Ini adalah kisah mengharukan tentang keluarga, persahabatan, kenangan, cinta, serta kekuatan untuk memaafkan. Pada akhirnya, semua pengalaman itu memaksa Aubrey membuat salah satu keputusan terbesar dalam hidupnya. (goodreads)
***
Awalnya saya pikir buku ini merupakan bundel dari surat-surat Aubrey. Ya, mungkin karena judulnya Love, Aubrey. Saya berasumsi begitu karena saya teringat akan buku Dear Enemy yang ceritanya merupakan sudut pandang dari isi banyak surat si tokoh utama (si penulis surat). Ternyata saya salah, dan Love, Aubrey merupakan satu hal yang berbeda. Surat-suratnya ditulis pada akhir setiap bab, dan tidak melulu ke satu orang (Jilly).

Jika kalian adalah pembaca yang mellow, dan senang dengan cerita-cerita sedih, Love, Aubrey cocok untuk dijadikan bacaan kalian. Bagusnya, buku ini bukan cuma sekedar menceritakan kesedihan saja yang bisa jadi akan membuatnya menjadi bacaan yang menyedihkan. Buku ini juga merupakan sebuah buku tentang motivasi untuk move on, bergerak terus. Bangkit dari keterpurukan. Sebagai pembaca, kita akan diajak untuk melihat sisi dari orang yang terkena musibah, orang-orang sekitar yang berusaha menolong, dan orang-orang lain yang hanya bisa ingin tahu tanpa punya keinginan untuk menolong.

Saya senang dengan sosok Aubrey yang berusaha tegar. Tepat sekali penggambaran psikologis Aubrey yang tidak hanya dideskripsikan selalu menangis (karena bentuk kekecewaan dan kesedihan pasti adalah tangisan). Kesedihan dan terpuruknya Aubrey digambarkan dengan sikap pura-puranya ia untuk menjadi gadis yang teguh hati. Namun tanpa ia sadari, penekanan-penekanan itu membuat tubuhnya mencari pelepasan lain; yakni muntah. Selain tangisan, muntah juga bisa dijadikan pelepasan kesedihan dan depresi.

Pada akhirnya Aubrey mulai kuat dan menerima apa yang telah terjadi pada dirinya. Terima kasih kepada Gram, Bridget dan keluarganya, dan juga Amy untuk mendorong Aubrey kembali kuat dan ceria. Inti dari cerita Aubrey adalah bagaimana kita mengatasi diri kita untuk menerima apa yang terjadi dengan lapang, baik itu kabar gembira ataupun musibah.

Cerita Aubrey adalah cerita yang menarik untuk kita baca dan dijadikan bahan renungan. Terima kasih untuk beberapa teman blogger yang merekomendasikan cerini, ada Lulu, Siska dan Kak Mute. :)

Ulasan ini untuk:
TBBR Mbak Maria
Lucky No. 14 Mbak Astrid
New Author RC Ren
CLRP Bzee

Kilas Buku: Penyihir Mencari Istri


Judul: Penyihir Mencari Istri
Judul Asli: Which Witch
Pengarang: Eva Ibbotson
Penerjemah: Listiana Srisanti
Genres: Fantasy
Paperback, 256 halaman
Gramedia Pustaka Utama, 2002 (pertama kali terbit 1979)

"Aku menikah! Apa kau gila? Dengan siapa aku akan menikah?" Arriman bergumam merana. Tetapi tentu saja dia tahu. Semua tahu. Hanya ada satu jenis perempuan yang bisa dinikahi penyihir, yaitu penyihir perempuan.

Arriman si Angker, Penyihir Utara, perlu istri. Tetapi penyihir perempuan yang mana yang akan dipilih Arriman? Bermacam-macam penyihir perempuan---dari yang keriput berkumis, gemuk dan mendengus seperti babi, kejam, tukang bertengkar, sampai yang kakinya bersisik---ikut dalam kompetisi sihir yang diadakannya. Mabel Wrack, yang setengah-duyung, mengkhususkan diri pada sihir yang ada hubungannya dengan air dan ikan. Mother Bloodwort yang sudah tua menguasai semua mantra di buku (kecuali mantra mengubah-diri-jadi-muda-lagi), dan si kembar Shouter rela saling bunuh asal bisa menang!

Kasihan Belladonna, dia tak punya kesempatan. Betapapun kerasnya dia berusaha melakukan sihir hitam, mantranya hanya menghasilkan begonia merah jambu atau keping-keping salju indah, tak pernah ular berbisa ataupun kodok.

Namun Belladonna bertekad melakukan sesuatu yang mengerikan dalam kontes, dan dengan bantuan seorang anak yatim-piatu misterius dan seekor cacing bernama Rover, dia mungkin bisa menang.

Itu kalau Madame Olympia, enchantress yang memakai kalung untaian gigi manusia, tidak lebih dulu berhasil mendapatkan Arriman. (goodreads)
***
Ini adalah salah satu buku favorit saya yang ditulis oleh penulis favorit, Eva Ibbotson. Sebenarnya ending cerita sudah ketahuan dari sinopsisnya, namun yang namanya cerita fantasi apalagi cerita tsb ditulis dengan cukup menyenangkan, tentu saja akan tetap menarik dibaca.

Ceritanya aneh. Aneh karena Arriman, yang mengaku sebagai penguasa sihir hitam, justru mual melihat wajah-wajah calon istrinya yang memang berwajah sangat cocok dengan status mereka yang juga penyihir hitam. Penyihir hitam yang aneh ya si Arriman itu. Atau mungkin tante Eva sengaja menulis begitu, supaya menyisipkan nilai moral bahwa ternyata masih ada sedikit 'keputihan' (baca: kebaikan) dalam hati orang-orang hitam (baca: jahat). Ya who knows kan? :D

Buku ini pas dibaca anak-anak berusia remaja. Tentunya lebih cocok lagi bagi mereka yang memang senang dengan cerita fantasi komedi. Tante Eva memang jagonya membuat cerita aneh begini. :)

Ulasan ini untuk:
TBBR Mbak Maria
Lucky No. 14 Mbak Astrid
CLRP Bzee

Lizzie ZipMouth by Jacqueline Wilson

Pernah ngambek saat masih kecil? Atau malah menghadapi anak yang ngambek? Ngambek adalah salah satu bentuk protes yang dilancarkan seorang anak [bahkan orang dewasa] karena keinginannya tidak terpenuhi, atau situasi tidak seperti yang diharapkannya. Protes ngambek itupun dilakukan Lizzie ketika Ibunya memutuskan untuk menikah lagi. Lizzie benci ayah tiri karena pengalaman masa silamnya yang tidak […]

Kilas Buku: Double Act

Judul Double Act
Pengarang: Jacqueline Wilson
Penerjemah: Poppy D. Chusfani
Genre: Family; Realistic Fiction
Penerbit: Gramedia, 2009 (pertama kali terbit 1995)
Tebal: 204 halaman
Award: Nestlé Smarties Book Prize for 9 – 11 Years (1995)

Ruby dan Garnet adalah kembar identik berusia sepuluh tahun. Mereka melakukan apa-apa bersama-sama--pakaian sama, mengganggu guru dan teman bersama, kabur ke London untuk ikut audisi bersama--apalagi setelah ibu mereka meninggal tiga tahun yang lalu. Tapi bisakah mereka bersama terus, ketika kehidupan berkembang dan berubah?

Semua yang mereka lakukan dan rasakan, mereka tulis dalam buku ini. Bergantian mereka menulisnya. Ada tulisan Ruby, yang bandel, nekat, dan percaya diri. Ada tulisan kembarannya, Garnet, yang lembut, pengalah, penolong, tapi tidak percaya diri. (goodreads)
***
Ini termasuk buku paling lama yang saya baca. Susah? Bukan? Bosan? Emm.. bisa jadi. Dan sebenarnya lebih kepada kurang motivasi untuk membaca buku ini. Entah ya berkali-kali saya baca buku ini mulai dari awal. Mungkin ya kurang minat.

Namun ternyata ceritanya tidak terlalu buruk juga. Hehe. Saya lebih senang kepada Garnet yang lebih kalem daripada Ruby. Ruby yang agak kasar dan selalu mencari perhatian. Garnet memang agak menyebalkan juga, namun dia lebih lembut dan sedikit bijak. Sementara ibu tirinya, yah syukurlah, ia mau menjadi ibu yang cukup baik. Dan syukurnya lagi ia bukan jenis ibu baru yang berusaha mencari perhatian anak-anak dari suami barunya dengan lebay.

Cerita yang paling saya suka dari si kembar adalah ketika mereka ikut serta tes untuk memdapatkan beasiswa dari sekolah berasrama yang top. Ruby terlalu meremehkan, sementara Garnet terlalu tidak percaya diri. Karena tes ini tidak seperti tes pencarian bakat yang mengandalkan kelihaian komunikasi, maka Garnet pun unggul. Ya, walau Garnet tampak lebih gugup dan gagap, namun ia lebih pintar untuk urusan akademik tertulis. Gaya menulisnya bagus yang membuatnya mendapat poin lebih untuk essainya daripada miliki Ruby. Akhirnya Garnetlah yang mendapatkan beasiswa itu, bukan Ruby. Ruby yang selama ini selalu superior pun langsung kecewa hingga tidak ingin bicara pada Garnet. Hmm... anak-anak! :D

Cerita ini -saya rasa- cocok untuk anak-anak middle grade.
Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 5 oleh Bzee dan Read-a-long with Jacqueline Wilson oleh Hobby Buku.

Kilas Buku: Rebecca of Sunnybrook Farm

Judul: Rebecca of Sunnybrook Farm
Pengarang: Kate Douglas Wiggin
Penerjemah: Hani Iskadarwati
Genres: Classic, Realistic Fiction, Children, Middle-Grade
Penerbit: Orange Books, 2011 (pertama kali terbit 1903)
Tebal: 310 halaman

Keadaan memaksa Rebecca meninggalkan Sunnybrook Farm, tempatnya dibesarkan bersama keenam putra-putri keluarga Randall yang lain. Ia mengerahkan keberanian untuk tinggal dengan keluarga Sawyer, bukan saja karena yang diminta pergi ke Riverboro adalah Hannah, sang kakak, tetapi juga ketidaksukaan keluarga Sawyer kepada almarhum ayahnya.

Rebecca harus beradaptasi dengan cara didik kedua bibinya yang keras, sekaligus harus membuat seluruh keluarga bangga akan prestasi dan perilakunya sehari-hari. Bagaimana Rebecca mengatasi rindu rumah? Apakah ia dapat bertahan di Riverboro dan menerapkan cara didik kedua bibinya? Dan siapakah Mr. Aladdin yang telah "mencuri" hati Rebecca?

Kisah perjuangan seorang gadis cilik dalam terpaan persoalan hidup yang mengundang kontemplasi, rasa haru, dan tawa riang. Mengingatkan kita pada kisah Anne of Green Gables, A Little Princess, atau Pollyanna, meski sebenarnya Rebecca of Sunnybrook Farm terbit lebih dulu dari ketiga novel tersebut (goodreads).
***
Benar-benar mirip Anne! Kalau dengan Pollyanna bagaimana? Hmm, saya tidak tahu karena saya belum membaca bukunya, ditimbuuun terus yaa hahaha. Saya senang dengan karakter Rebecca, jauh lebih senang kepadanya daripada si rambut merah, Anne. Rebecca yang berambut hitam, bermata gelap dan berkulit agak gelap rasanya khas sekali dengan sifatnya yang senang bergaul dan cerdas. Well, saya sebenarnya penasaran apakah Rebecca menjadi salah satu inspirasi bagi lahirnya Anne dan Pollyanna? Tapi penasaran tinggal penasaran yah. Maaf pembaca saya lagi malas mencari tahu jawaban saya sendiri, jadi jika kalian memang penasaran dengan pertanyaan yang saya ajukan, please help yourself. :D

Rebecca yang tampak nakal, ternyata jauh lebih dewasa dan pengertian daripada saudarinya yang selalu dibanggakan. Ia tampak berpikiran maju sehingga seorang laki-laki dermawan yang jauh lebih tua darinya merasa cocok dan menyukainya. Yeah, mungkin itu karena sifat Rebecca tadi.

Saya mungkin menyenangi karakter Rebecca. Saya juga mungkin menyenangi karakter Tuan Aladin. Namun saya tidak suka dengan gaya penulisan dan pendeskripsian novel-novel klasik yang bertele-tele. Ah! Ini saja saya membaca versi abridged-nya lho dan saya sudah agak bosam sehingga merasa harus membaca cepat beberapa hal yang menurut saya membosankan. Apalagi jika saya membaca versi unabridged-nya ya. 0-o!

Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 5 oleh Bzee dan New Author dan What's in a Name RC oleh Ren.

Kilas Buku: Shiloh, Persahabatan Sejati (Shiloh #1)

Judul: Shiloh
Pengarang: Phylis Reynolds Naylor
Genres:  Realistic Fiction, Animal. Children, Middle Grade
Penerbit: Kaifa, 2003 (pertama kali terbit 1991)
Tebal: 176 halaman
Awards: Newbery Medal (1992), Texas Bluebonnet Award (1994), Rebecca Caudill Young Reader's Book Award (1994), Grand Canyon Reader Award for Intermediate Book (1994), Nene Award (1994) Massachusetts Children's Book Award (1994), Flicker Tale Children's Book Award (1994), Sequoyah Book Award (1994), Dorothy Canfield Fisher Children's Book Award (1993), Pacific Northwest Library Association Young Reader's Choice Award for Youth (1994), Charlie May Simon Children's Book Award (1993), Children's Choice Book Award (1994), New Mexico Land of Enchantment Award (1994), American Bookseller Pick of the Lists, IRA-CBC Young Adult Choice, IRA-CBC Teacher's Choice, American Library Association (ALA) Notable Book for Children's Book

"Malam ini ia akan kubiarkan, tapi jika ia keluyuran lagi, aku akan memukulinya habis-habisan. Kujamin itu!"

Bagaimana perasaanmu mendengar seseorang berkata demikian mengenai sesuatu yang kamu cintai? Marty nyaris tak kuasa menahan tangis saat Judd Travers mengucapkan kata-kata jahat tersebut mengenai anjing kecil yang dia temui siang itu. Anjing manis dan lucu yang mengikutinya sesiangan, yang berlari menghampiri saat Marty bersiul, yang benar-benar telah merebut hati Marty. Anjing yang telah ia beri nama Shiloh, yang ternyata kepunyaan Judd Travers, tetangga yang tak segan-segan menyiksa binatang demi kegemaran berburu. Anjing yang ingin ia miliki, tapi tak mungkin karena keadaan keluarganya yang pas-pasan.

Suatu hari, Shiloh hilang! Setelah itu, berbagai peristiwa bergulir secara tak terduga. Kemana Shiloh? Bagaimana nasib anjing itu? Bisakah Marty menyelamatkan sahabat barunya? (goodreads)
***
Saya selalu takjub dengan cerita yang berhubungan dengan binantang. Ketika membacanya, perasaan saya seolah tersentuh dengan kata yang tak bisa digapai nalar. Ada aliran listrik yang mengirimkan sinyal kepada hati untuk mengsekresi perasaan kasih sayang yang saya miliki dalam bentuk ekspresi yang melembut dan bahkan air mata.

Shiloh adalah salah anjing yang sensitif dan sedikit berbeda dengan anjing kebanyakan. Karena itulah ia merasa harus memilih majikan yang berhati lembut pula; Marty. Adegan yang paling saya sukai adalah ketika Marty dengan susah payah merawat Shiloh yang dilakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Disini terlihat begitu menyentuh. Di sisi lain, saya juga tidak menyukai Marty ketika ia harus berbohong berkali-kali hanya untuk Shiloh. Hmm, memang bagai memakan buah simalakama.

Buku ini memberi pesan kepada kita agar saling berbuat baik kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan. Manusia, hewan dan tumbuhan memiliki perasaan dan semangat untuk hidup. Ingatlah, hidup dengan menebar kebaikan dan kasih sayang akan membuahkan kebaikan pula dalam diri kita. Kebaikan yang bahkan nilainya lebih besar lagi.

Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 5.

Kilas Buku: Sapphire Battersea (Hetty Feather #2)


Sapphire Battersea (Hetty Feather #2)
Pengarang: Jacqueline Wilson
Paperback, 461 halaman
Gramedia Pustaka Utama, 2012

Sinopsis (dari goodreads):
Nama baru, kehidupan baru Hetty Feather.

Buka dan temukan keajaiban kisah-kisahnya.

Kisah tentang keluarga, persahabatan, cinta pertama, dan semangat juang...

Bersiaplah terpesona!

Sapphire Battersea : Pelayan serabutan (dulu dikenal sebagai Hetty Feather)
Ida : Sang ibu tersayang
Jem : sang pujaan hati masa kecil
Mrs. Briskett : Koki berhati besar
Bertie : Pelayan tukang daging
Madame Berenice : Cenayang misterius
Freda Fantastis : Si perempuan raksasa
Emerald : Si putri duyung menakjubkan
Review:

Kini Hetty Feather mengganti namanya diam-diam dengan Sapphire Battersea, nama yang diberikan ibu kandungnya. Semakin besar ia semakin memberontak. Ia juga semakin meyakinkan dirinya bahwa ia tidak akan pernah ditakdirkan sebagai pelayan bagi siapapun. ya, BAGI SIAPAPUN.

Saya suka dengan pemikiran-pemikiran Jacqueline Wilson dalam buku ini. Melalui Hetty alias Sapphire ia bersuara bahwa mengapa ada sekelompok anak yang diharuskan menjadi pelayan seumur hidupnya. Mengapa orang-orang kaya bisa bertindak semaunya seperti membenarkan dirinya sendiri mencuri karya orang lain, misalnya. Untuk kasus ini terjadi pada Hetty ketika majikannya yang penulis mencuri idenya untuk menulis buku terbaru. Manusia mana yang tidak sakit hati karyanya diplagiat? Meski ia hanya seorang anak kecil yang menulis buku harian biasa-biasa saja.

Hetty kecil adalah salah satu penggerak emansipasi wanita dalam novel ini. Cukup mencerahkan. Dan menurut saya buku ini pantas dibaca oleh segala umur khususnya anak-anak usia remaja dan mereka yang mengaku para pemerhati anak.

Artikel ini diikutsertakan pada FYE #5 yang diadakan oleh Bzee, Read-A-Long Jacqueline Wilson oleh mbak Maria dan Whats in a Name oleh Ren. :)

Hansel and Gretel

Hansel dan Gretel by Jacob Grimm My rating: 4 of 5 stars Tahukah Anda kalau salah satu saudara tiri Cinderella, atau yang berdasarkan kisah aslinya bernama Ashcenputtel, sengaja memotong ibu jarinya supaya bisa muat ke dalam sepatu emas (bukan sepatu kaca) milik Ashcenputtel karena ia ingin bersanding dengan pangeran? Tahukah Anda kalau pangeran yang memanjat dinding Rapunzel untuk

Kilas Buku: Hetty Feather (Hetty Feather #1)


Hetty Feather
Pengarang: Jacqueline Wilson
Penerjemah: Deci Natalia
Paperback, 464 halaman
Gramedia Pustaka Utama, 2012

Hetty Feather adalah gadis yang tinggal di Panti asuhan Foundling Hospital. Sehari-hari ia harus melakukan kegiatan yang sama lagi dan lagi; mengasuh bayi-bayi yang baru diserahkan ke panti asuhan, menisik pakaian, hingga menyiapkan makanan dan menyajikannya. Mereka melakukan hal seperti itu karena memang dipersiapkan untuk menjadi pelayan seumur hidup mereka. Tidak ada satu keluarga pun yang bisa mengadopsi, tidak satu pun.

Sebelum tinggal di panti asuhan, Hetty kecil diasuh terlebih dahulu oleh keluarga asuh yang baik dan penyayang. Disinilah ia bertemu dengan Jem, kakak asuhnya yang kemudian menjadi cinta masa kecilnya. Dan kenangan-kenangan di rumah asuh selalu terbayang di pikirannya bahkan hingga ia tumbuh besar.

Seperti karakter yang dibuat Jacqueline Wilson biasanya, Hetty juga digambarkan sebagai anak yang pemberontak sekaligus cerdas. Ketika membaca buku ini saya seperti melihat gabungan karakter Anna of Greengables dan Matilda. Hetty si kecil yang berambut merah dan selalu membara.

Pembaca akan disuguhkan setting zaman Ratu Victoria, namun lucunya saya tidak merasa benar-benar memasuki zaman seperti itu. Mungkin karena tingkah Hetty yang ajaib atau karena penulisnya adalah Jacqueline Wilson yang hidup di masa kini (?)

Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca anak-anak usia 11 tahun dan para pecinta buku anak. Seperti biasa juga Mrs. Wilson menyajikan cerita dengan apik dan suka bikin pembaca geleng-geleng kepala.

Arttikel ini saya sertakan pada FYE #5 oleh Bzee, Read-A-Long Jacqueline Wilson oleh Mbak Maria, dan What's in a Name oleh Ren.