Olenka

Judul:  Olenka
Penulis: Budi Darma
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakan: 9, 2009
Jumlah Halaman: 264
ISBN: 9789794072776

Bagi saya, kisah absurb tak mesti sulit untuk dinikmati. Kadang-kadang membaca kisah absurb malah membuat saya menerawang, apa sih maksud si penulis dengan tulisannya yang sedang saya baca ini? Olenka, merupakan salah satu kisah absurb. Dan memang berbeda dengan kisah absurb yang ditulis belakangan, kisah Olenka ini masih tidak terlalu absurb, sayangnya, saya seringkali tak sabar ketika membaca Olenka.

Dikisahkan dengan sudut pandang Fanton Drummond. Seorang sutradara pembuat iklan film pertelevisian, yang menemukan sosok Olenka, bersama tiga anak gembel, ketika sedang naik lift apartemen Tulip Tree. Budi Darma, sang penulis sendiri menjelaskan bahwa kisah awal tersebut dilandaskan dari pengalaman pribadi beliau, dengan setting yang sama.

Perkenalan Fanton dengan Olenka, berlanjut pada hubungan yang dekat, meski Olenka sudah memiliki suami, Wayne dan anak, Steven. Tetapi Wayne memang adalah suami yang payah. Kerjanya hanyalah menulis, sedangkan Olenka harus bekerja keras untuk membiayai kehidupan mereka. Sampai akhirnya Olenka lenyap dari kehidupan Fanton maupun Wayne. Saking ingin memperistri Olenka, Fanton harus berkelana sampai ke negara bagian lain, untuk mencari Olenka.

Absurdisitas Olenka, sudah tampak dari halaman awal. Meski cerita memiliki fokus yang lurus, kadang pikiran-pikiran Fanton melebar kemana-mana. Ditambah bahasa yang dipakai, kata-kata jawa sering dipakai seperti sampean, seolah-olah membuat pikiran saya bercabang ketika membacanya. Namun kelebihan buku ini adalah sifat sosialita yang diceritakan dalam buku ini serasa normal, tak berlebihan. Mungkin karena percampuran dengan berbagai pengalaman hidup sang penulis.

Terlepas dari absurdisme buku ini, kelugasan bahasa yang dipakai cukup menarik. Meski berapa kali menampilkan kisah-kisah dalam karya sastra dunia, kisah-kisah tersebut bisa menjelma dengan baik ke dalam karya Olenka. Selepas dari itu, Olenka sangat menarik dinikmati sebagai karya sastra, bukan sebagai bahan bacaan santai di tengah mencari bacaan yang membuat rileks.

Sitti Nurbaya

Judul: Sitti Nurbaya
Penulis: Marah Rusli
Penerbit: Balai Pustaka
Cetakann: 40, 2006
Jumlah Halaman: 334
ISBN: 9794071676

Sitti Nurbaya, siapa yang tidak tahu akan kisah karya Marah Rusli ini? Kisah tentang seorang gadis minang yang terpaksa dinikahkan dengan Datuk Meringgih karena ayahnya, baginda Sulaiman, bangsawan saudagar yang kaya jatuh bangkrut karena tindak tanduk culas dari Datuk Meringgih, dan tindakan balas dendam Samsulbahri, kekasih Sitti Nurbaya terhadap Datuk Meringgih.

Sebagai karya sastra klasik, patut diacungi apresiasi bahwa karya ini masih bertahan sampai sekarang, dan menjadi salah satu sastra yang mempengaruhi perkmbangan sastra Indonesia berikutnya.

Meski memang perbedaan gaya bahasa antara buku ini dengan buku sastra zaman sekarang yang njomplang sekali. Saya beberapa kali tercekat dengan penggunaan kata perceraian. Dalam buku ini, kata perceraian dimaksudkan pada perpisahan, yang tidak mesti terikat dalam ikatan pernikahan. Juga penulis yang lebih sering menuliskan petuah hidup, dalam karyanya. Berbagai kalimat panjang lebar justru kebanyakan berisi petuah hidup atau perenungan. Hal-hal tersebut yang membuat saya merasa kagok ketika membaca buku ini.

Meski demikian, banyak nilai positif dalam buku ini. Kita bisa mendapat pemikiran, bahwa kerapkali  nilai adat saja tak cukup baik dalam kehidupan. Juga kisah yang dipaparkan, cukup menarik, dan bisa dibaca berbagai kalangan umur.

Sebuah kisah yang melegenda, dan patut untuk diwariskan ke kalangan pembaca Indonesia.

ANDANG TERUNA REVIEW

Title: Andang Teruna |  Author: Soetomo Djauhar Arifin | Edition language: Indonesian | Publisher: Balai Pustaka | Edition: 3rd edition, 2000 | Firs Published: 1934 | Page: 218 pages | Status: Pinjem dari perpus | My rating: 3 of 5 stars *** Sebuah cerita tentang kisah cinta seorang pemuda bernama Gunadi. Gunadi adalah anak pribumi. Ayahnya sudah […]

Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma

Judul: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Penulis: Idrus
Penerbit: Balai Pustaka
Jumlah Halaman: 176
Cetakan: 27, 2010
ISBN: 9789794072189

Sebagai salah satu karya sastrawan besar, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, memberikan alternatif bacaan sastra di antara tebaran sastra modern yang mewarnai dunia pustaka di Indonesia.  Terbagi menjadi 3 bagian cerita: Zaman Jepang; Coret-coret di Bawah Tanah; dan Sesudah 17 Agustus 1945, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma merupakan kumpulan cerita pendek, berjumlah 11 cerita pendek, dan satu naskah drama.

Bisa dibilang, kisah-kisah yang diangkat Idrus adalah kisah yang sudah bisa dikategorikan sebagai karya sastra absurb, meski pesan-pesan yang disampaikan oleh Idrus masih bisa teraba-raba. Dan membaca Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, kita dapat membaca latar belakang keadaan Indonesia menjelang dan sesudah kemerdekaan, diceritakan dengan kalimat-kalimat panjang, namun tetap berisi dari setiap kalimatnya.

Favorit saya dalam buku ini adalah kisah Ave Maria. Sebuah cerita yang sedikit mengenaskan tapi kadangkala terasa segar dibaca. Karya lainnya mengangkat ironi di masa perang, sebuah kenangan yang perlu dibaca oleh generasi sekarang sebagai pelajaran. 

Sebagai kekayaan sastra Indonesia, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma patut diapresiasi, bahwa karya ini pun menjadi landsan generasi sastra sekarang untuk berkarya.

Kilas Buku: Olenka



Olenka
Oleh. Budi Darma
264 halaman
Balai Pustaka, 2009 , Cet. 9
Award: SEA Write Award
 

Olenka, novel ini tentu saja memiliki fokus utama terhadap wanita yang bernama Olenka. Tentang pekerjaannya dan kehidupan pribadinya. Digambarkan oleh seorang pria bernama Fanton Drummond, Olenka menjadi tokoh yang agak misterius, tahu kapan ia dibutuhkan dan tahu kapan ia dibuntuti.

Err.. banyak kata-kata dalam otak saya yang tidak mampu saya ungkapkan dalam ulasan kali ini. Terlalu banyak keunikan bahasa dan cerita yang ditawarkan pak Budi Darma. Apa sajakah itu?

1. Dialog Tokoh

Olenka, Fanton dan Wayne dan juga karakter lain dalam buku ini adalah murni orang bule (Amerika). Sudah terpatri secara tak langsung dalam benak kita jikalau para tokoh bule menggunakan dialog berbahasa asing, pun jika menggunakan kata-kata bahasa Indonesia, maka dialog yang mereka punya akan tertulis secara EYD. Lihat buku-buku terjemahan.

Lalu bagaimana dengan dialog para tokoh bule dalam Olenka ini? Para pembaca akan disuguhkan dialog bahasa Indonesia campur Suroboyoan (duh, ini bener gak sih istilahnya haha). Semisal begini:

Maka menghardiklah Albirkin, "Perempuan buduk, kamu mau membunuh saya, ya?" Setelah meludah, Olenka menjawab, "Membunuh sampean, polisi gendeng? Tentu saja tidak. Bukannya saya takut masuk penjara, tetapi saya merasa sayang untuk membuang peluru kalau tidak menimbulkan kepuasan. Saya hanya ingin menakut-nakuti kuda sampean. Kalau saya ingin membunuh sampean, lebih baik saya memasang jebakan di antara dua batu karang besar disana itu. Itu lihat, di sebelah sana. Setelah sampean, terebak, barulah saya melubangi gundul sampean. Bukankan setiap perbuatan harus mendatangkan kepuasan? .." ~ Darma, Olenka, h. 15

Bagaimana? Unik kan?

2. Bukan Hanya Soal Olenka

Yup, buku ini tidak hanya berbicara melulu soal Olenka, namun juga berbagai analisa cerpen, puisi, novel, aliran sastra, dan sejarah. Seperti misal, sebentar buku ini membahas soal Puritan yang ada dalam cerpen berjudul Young Goodman Brown, karya Nathaniel Hawthorne (Penulis novel klasik dan cerpen terkemuka asal Amerika). Lalu sebentar kemudian melalui para tokohnya Budi membicarakan lukisan-lukisan. So, novel ini bukan cuma bercerita kisah percintaan-perselingkuhan seperti novel-novel biasanya.

3. Kliping Foto dan Koran

Novel ini kadang terlihat seperti hasil penelitian dan makalah. Mengapa? Sebab penulisnya menyertakan berbagai kliping berita dan foto yang menjadi inspirasinya dalam menulis Olenka. Dalam kliping tersebut disematkan juga catatan kaki sebagai tambahan informasi.

Kesimpulan saya, Olenka adalah novel yang layak baca, sangat layak baca untuk para penikmat sastra Indonesia.

-------
Mengenai Pengarang (Tulisan dan gambar diambil dari goodreads.com)

Budi Darma lahir di Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937. Semasa kecil dan remaja ia berpindah-pindah ke berbagai kota di Jawa, mengikuti ayahnya yang bekerja di jawatan pos. Lulus dari SMA di Semarang pada 1957, ia memasuki Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada.

Lulus dari UGM, ia bekerja sebagai dosen pada Jurusan Bahasa Inggris—kini Universitas Negeri Surabaya—sampai kini. Di universitas ini ia pernah memangku jabatan Ketua Jurusan Inggris, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan Rektor. Sekarang ia adalah guru besar dalam sastra Inggris di sana. Ia juga mengajar di sejumlah universitas luar negeri.

Budi Darma mulai dikenal luas di kalangan sastra sejak ia menerbitkan sejumlah cerita pendek absurd di majalah sastra Horison pada 1970-an. Jauh kemudian hari sekian banyak cerita pendek ini terbit sebagai Kritikus Adinan (2002).

Budi Darma memperoleh gelar Master of Arts dari English Department, Indiana University, Amerika Serikat pada 1975. Dari universitas yang sama ia meraih Doctor of Philosophy dengan disertasi berjudul “Character and Moral Judgment in Jane Austen’s Novel” pada 1980. Di kota inilah ia menggarap dan merampungkan delapan cerita pendek dalam Orang-orang Bloomington (terbit 1980) dan novel Olenka (terbit 1983, sebelumnya memenangkan hadiah pertama sayembara penulisan novel Dewan Kesenian Jakarta 1980).

Ia juga tampil sebagai pengulas sastra. Kumpulan esainya adalah Solilokui (1983), Sejumlah Esai Sastra (1984), dan Harmonium (1995). Setelah Olenka, ia menerbitkan novel-novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Belakangan, Budi Darma juga menyiarkan cerita di surat kabar, misalnya Kompas; pada 1999 dan 2001 karyanya menjadi cerita pendek terbaik di harian itu.

Dalam sebuah wawancara di jurnal Prosa (2003), lelaki yang selalu tampak santun, rapi, dan lembut-tutur-kata ini sekali lagi mengakui, “...saya menulis tanpa saya rencanakan, dan juga tanpa draft. Andaikata menulis dapat disamakan dengan bertempur, saya hanya mengikuti mood, tanpa menggariskan strategi, tanpa pula merinci taktik. Di belakang mood, sementara itu, ada obsesi.”


Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma



Kalaupun memungkinkan, ingin sekali rasanya saya bisa mengoleksi buku – buku yang pernah saya baca waktu saya berusia SD. Buku sangat berharga di kala itu. Karena di kotaku tidak ada toko buku. Maka perpustakaan sekolah saja yang menjadi tujuan untuk membaca. Di perpustakaan itu saya membaca mulai Petualangan Tom Sawyer sampai Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Namun buku yang benar – benar membekas di ingatan saya dan berharap sekali untuk dapat mengoleksinya di saat ini adalah buku karya Idrus ini.

Dan sepertinya kami berjodoh. Ketika berjalan – jalan di satu – satunya toko buku yang ada di kotaku, aku menemukan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma ini. Buku yang dicetak tahun 2008 ini berbeda dengan buku yang sama yang saya baca ketika SD. Bukunya lebih tipis karena ukuran font-nya diperkecil.

Saya membawanya pulang dan bersandar untuk membacanya. Ketika kisah pertama saya baca, saya seakan masuk ke dalam pintu ke mana saja yang menghubungkan saat ini dengan masa ketika saya masih kecil.

Ave Maria, kisah pertama.  Sebuah keluarga yang sering duduk – duduk di beranda, tiba – tiba kedatangan seorang tamu yang nampak linglung. Anehnya, orang yang linglung ini tak berkata apa – apa dan hanya meminjam majalah saja. Begitu setiap hari. Dia datang dan pergi meminjam majalah dan mengembalikan yang telah selesai dibacanya. Tapi seluruh keluarga heran, sebab setiap kali ia datang, setiap kali pula ia terlihat lebih baik. Dan akhirnya di hari terakhir ia bercerita tentang hidupnya dan pamit untuk mengabdi pada negara. Kisah Zulbahri, si orang linglung itu, membuat saya begitu trenyuh.

Buku ini berisi dua belas cerita pendek yang dikelompokkan dalam tiga bagian: Zaman Jepang, Corat – Coret di Bawah Tanah, dan Sesudah 17 Agustus 1945. Buku yang terbit pertama kali di tahun 1948 ini memang mengambil latar ketika zaman pendudukan Jepang dan sampai Indonesia merdeka. Kesukaan saya akan sesuatu yang berbau kuno membuat saya terpaku ketika membaca buku ini. Namun, sebenarnya yang membuat saya lebih mencintai buku ini adalah gaya bertutur yang dipakai Idrus, sang pengarang. Saya tidak tahu apakah gaya ini memang asli punya Idrus, atau sudah ada gaya serupa sebelumnya. Yang jelas, meskipun Idrus sering bersitegang dengan Chairil Anwar di seputaran karya sastra, hal itu tidak mengurangi minat saya untuk tetap mengidolakan Idrus sebagai pengarang paling bagus dari zaman itu.

Ketika saya sudah mulai keranjingan membaca sedangkan bahan bacaan di sekitar saya begitu terbatasnya, saya membaca cerita – cerita yang termuat di buku pelajaran Bahasa Indonesia milik kakak saya yang duduk di SMP kala itu. Di bukunya saya menemukan Kisah Sebuah Celana Pendek dan Jalan Lain ke Roma. Cerita yang belakangan saya tahu ternyata merupakan satu cerita dari kumpulan cerita karya Idrus di Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.

Kisah tentang pemuda yang hanya memiliki satu celana pendek saja yang dipakainya berulang kali dan juga tentang pemuda yang kelewat jujur di dua kisah ini, dan juga kisah Zulbahri di Ave Maria merupakan harta masa kecil saya yang kini tersimpan di perpustakaan pribadi saya yang bukunya tidak seberapa.

Informasi Buku:
Buku 44
Judul: Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Penulis: Idrus
Penerbit: BalaiPustaka
Tebal: 171 Halaman
Cetakan: ke 24, Tahun 2008