REVIEW Wonderstruck

Dunia memang penuh keajaiban. (hlm. 611)

Tidak mudah menjual sesuatu yang merupakan bagian dari keluarga. (hlm. 22)

Jangan takut seperti kura-kura. Coba julurkan lehermu. Nyatakan pendapatmu, jadilah anak yang berani. (hlm. 30)

Masih ingat kisah Hugo dalam buku keren badai; The Invention of Hugo Cabret yang masuk lima besar buku favorit versi saya sepanjang tahun 2013? Buat yang belum baca, ini reviewnya: http://luckty.wordpress.com/2013/11/29/review-the-invention-of-hugo-cabret/

Waktu tahu bakal ada buku barunya Brian Selznick yang berjudul Wonderstruck, saya langsung memasukkan buku ini dalam Wishful Wedenesday yang pertama di tahun 2014. Dan alam pun berkonspirasi mendengar permintaan saya, akhirnya kesampaian juga punya buku ini.

Saya pikir, gak boleh punya ekspetasi terlalu tinggi dan bakal membandingkan The Invention of Hugo Cabret yang amat memesona itu, takutnya kecewa bakal buku ini. Ternyata, saya salah. Buku ini juga dan bahkan lebih keren dibandingkan kisah Hugo itu… ƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃƪ(♥▿♥)ʃ

Di buku ini kita akan menemukan dua tokoh utama yang berlainan waktu dan nantinya akan berkaitan. Kisah Ben yang tuli dan mengalami kesedihan mendalam setelah ibunya meninggal dunia. Ibunya memiliki pekerjaan seperti saya, uhuk, sebagai pustakawin eh pustakawati di kota mereka tinggal. Semasa hidupnya, ibunya sering mengajak Ben untuk ke perpustakaan dan melihat koleksi buku-buku di sana terutama semua buku tentang langit malam. Ben terbiasa dikelilingi kalimat-kalimat dari buku, yang sebagian besar tidak dipahaminya.

Ibunya adalah petugas perpustakaan di kota itu. Ia ingin berada bersama ibunya di perpustakaan, yang semuanya aman, bernomor, dan diatur dengan sistem desimal Dewey. Ben berharap seluruh dunia diatur dengan sistem desimal Dewey. Dengan demikian, kau bisa menemukan apa pun yang kau cari, misalnya arti mimpimu atau ayahmu. (hlm. 443)

Ibumu tidak seperti orang lain yang pernah ditemuinya. Kata ayahmu, ia selalu mengira bahwa petugas perpustakaan adalah wanita tua bermantel, tetapI Elaine masih sangat muda dan cantik serta tidak terlalu peduli apa yang dikatakan orang terhadapnya. (hlm. 573)

Ibunya pernah berjanji jika di hari ulang tahunnya nanti akan mengajaknya ke museum seperti yang ada di buku itu. Sayangnya, sebelum semua itu kesampaian, ibunya mengalami kecelakaan dan meninggalkan Ben selama-lamanya.

Saya bisa merasakan rasa sedih akibat kehilangan orangtua, terutama ibu. Rasanya tidak bisa tergantikan oleh apapun di dunia ini beserta isinya. Setelah kehilangan orang yang kita sayangi itu, biasanya kita akan menelusuri kenangan-kenangan yang ditinggalkan. Sama seperti Ben, saya juga menemukan amat banyak kertas-kertas yang tersimpan dalam lemari mama. Bayangkan, mama masih menyimpan struk belanjaan waktu awal membuat rumah. Semua data terarsip rapi. Mulai dari yang penting seperti sertifikat rumah atau KTP dari masih gadis sampai surat-surat yang dikirimkan sepupu saat masih bujang ketika konsultasi tentang pacarnya (kini mereka sudah menikah dan punya lima anak). Oya, saya menemukan sebuah surat dari seorang anak muridnya, suratnya itu berisi tentang ucapan terima kasihnya selama ini begitu diperhatikan oleh mama, melebihi perhatian orangtuanya sendiri. Surat itu ditulis oleh seorang anak kelas enam SD. Mama juga punya kebiasaan menulis surat untuk ulang tahun anaknya. Surat terakhir yang beliau hadiahkan untuk saya adalah saat berumur dua puluh tahun:

Pekerjaan kurator sangat penting karena kuratorlah yang memutuskan benda apa yang dimasukkan ke museum. Kemudian, kurator harus memutuskan bagaimana persisnya benda-benda itu akan dipajang. Dalam hal ini, siapa pun yang mengoleksi benda-benda di rumahnya sendiri adalah seorang kurator. Hanya dengan menentukan bagaimana memajang benda-benda milikmu, memutuskan foto apa yang akan di pajang dimana, dan bagaimana urutan buku-bukumu, membuatmu berada di kategori yang sama dengan seorang kurator museum. (hlm. 103)

Ben bertanya-tanya apakah dirinya adalah kurator. Ia tidak pernah memikirkan mengapa ia mengoleksi benda-benda. Ia hanya selalu senang melakukannya. Hingga suatu hari, Ben menemukan amplop karton polos dalam laci di meja samping tempat tidur dan meja rias ibunya. Ia menemukan sebuah buku kecil berwarna biru, sampulnya lembut dan berkerut karena sudah lama. Di depan, judulnya distempel dengan huruf berwarna hitam; WONDERSTRUCK. Dan, petualangan Ben yang mengejutkan pun dimulai…

Jika kisah Ben bersetting di Gunflint Lake, Minnesota tahun 1977 akan berbeda dengan kisah Rose yang full ilustrasi bersetting di Hoboken, New Jersey tahun 1927. Rose juga memiliki masalah dalam pendengaran, ibunya yang merupakan salah satu artis terkenal bernama Lilian Mayhew seakan tidak menginginkannya. Nantinya kita akan menemukan hubungan antara kisah Ben dan Rose yang dapat dikatakan beda generasi. Kita dibuat penasaran dengan kisah mereka.

Rose digambarkan selalu murung dan mengalami kesedihan;

Penulisnya melakukan riset yang lumayan panjang, bisa kita lihat di BAB Ucapan Terima Kasih. Dia menceritakan proses pembuatan buku ini. Salah satunya adalah bertemu Anne Prinsen yang merupakan pustakawati di kota Gunflint Lake, Grand Marais. Dia menceritakan banyak hal tentang kehidupan di daerah itu dan berkeliling kota, mengajak penulis untuk ke perpustakaannya dan banyak tempat lain yang nantinya akan diketahui oleh tokoh-tokoh dalam buku ini. Melalui Anne, penulis berjumpa dengan seniman lokal dan ilustrator buku anak-anak, Betsy Bowen, yang banyak membantunya untuk menceritakan kenangannya tentang Grand Marais.

Buku yang luar biasa ini menyimpan makna dan selipan informasi yang amat banyak bagi pembacanya. Bagi pecinta yang berhubungan dengan buku, museum, perpustakaan dan film sangat wajib baca buku yang super luar biasa keren ini.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Wonderstruck

Penulis                                 : Brian Selznick

Penerjemah                       : Marcalais Fransisca

Penyunting                         : Dhewiberta

Penata aksara                    : Ifah Nurjany & Nurani

Penata aksara                    : Iyan Wb.

Perancang sampul           : Brian Selznick

Ilustrasi isi                           : Brian Selznick

Penerbit                              : Mizan Fantasi

Terbit                                    : November 2013

Tebal                                     : 643 hlm.

 

Beberapa bocoran ilustrasi keren yang detail dalam buku ini:

Young Adult Reading Challenge 2014

http://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/


Wonderstruck

Judul: Wonderstruck
Judul Asli: Wonderstruck
Pengarang: Brian Selznick
Penerbit: Bentang Pustaka (2013)
ISBN: 978-979-43-3685-4
Jumlah Halaman: 648 halaman
Penerbitan Perdana: 2011
Literary Awards: Schneider Family Book Award for Middle School Book (2012), Buckeye Children's Book Award for 3-5 (2012)


Wonderstruck.

 won·der·struck
 ˈwəndərˌstrək/
 adjective
  1.  1.
    (of a person) experiencing a sudden feeling of awed delight or wonder.      


Judul yang sangat sesuai untuk novel ini, karena memang itulah perasaan yang aku dapati saat membacanya. Tiba-tiba terserang rasa senang yang bukan kepalang, hingga tak terasa 600-an halaman buku ini diselesaikan dalam beberapa jam saja. Bukan karena tiba-tiba aku punya talenta superhero ala Flash atau kemampuan baca super cepatnya Dr. Reid, tapi memang novel ini separuhnya berbentuk tulisan (yang font-nya cukup lebar sehingga mudah dinikmati mata lelahku -- kayaknya ukuran kacamata sudah perlu di tes ulang ini #malahcurhat), dan separuhnya lagi diberikan dalam bentuk ilustrasi ala wordless novel.



Bagi yang sudah pernah menikmati novel The Invention of Hugo Cabret (review-ku sila lihat di sini) karya pengarang yang sama pasti tahu apa yang kumaksud, persis seperti itu. Bedanya jika di Hugo, tulisan dan ilustrasi silih berganti saling melengkapi menceritakan hal berkelanjutan, di Wonderstruck ini tulisan dan ilustrasi benar-benar menceritakan hal-hal yang berbeda. Tulisan itu milik pov-nya Ben, sedangkan ilustrasi adalah milik pov-nya Rose. Mereka berdua berganti-gantian bercerita, seakan-akan menggunakan media yang bisa mereka pakai dalam kekurangan mereka. Ben yang baru saja kehilangan pendengarannya hanya dapat berkomunikasi dengan tulisan, sedangkan Rose terasing dalam ketuliannya menggunakan gambar dan bentuk menggantikan suara.

Selain keunikan cara bertuturnya, jalinan cerita yang diberikan novel ini juga sangat menarik. Ben adalah seorang bocah yang baru saja ditinggal mati ibunya dan ingin mencari ayah kandungnya. Rose adalah gadis cilik yang mati-matian merindukan sang ibu, kabur dari rumah untuk menemui ibunya yang ternyata adalah artis silent movie terkenal. Keduanya terdampar di kota New York, dan kemudian menemukan dunia baru penuh keajaiban di Museum of Natural History. Pada saat akhirnya Ben dan Rose bertemu, aku baru sadar maksudnya, padahal dari pertama kronologis tahun-tahunnya sudah menarik perhatianku. Aku sungguh menyukai adegan yang penuh keharuan saat pertama kali Ben masuk dalam ilustrasi cerita Rose. KEREN! Wonderstruck!

Ada dua hal lain dalam cerita yang juga sangat kusukai. Pertama adalah bagaimana sebuah buku (dan sebuah pembatas halaman dan sebuah toko buku) dapat mempertemukan dua orang yang hampir tidak pernah bertemu sebelumnya. Sebuah buku yang membawa sejarah cukup panjang, yang tiap kali berpindah tangan, disertai pula dengan segudang cinta dan pengharapan. Luv it! Wonderstruck!

Wunderkammer
Source: static.twoday.net
Hal yang kedua, aku suka sekali dengan penggambaran dan sejarah Wunderkammer/Cabinet of Wonders/ Lemari Keajaiban yang dibahas dalam buku ini. Sebuah konsep yang berkembang lebih dari seabad sebelum menjadi cikal bakal konsep museum modern ini, pertama kali kubaca dalam novel The Alchemist and The Angel (review-ku di sini) dan telah membuatku sangat tertarik. Sebuah lemari dengan koleksi unik yang membawa keajaiban tak habis-habis.

Dalam novel ini, Lemari Keajaiban selain menjadi tema buku yang telah kusebutkan di atas, dan ia juga menjadi sumber inspirasi bagi Rose dan Ben. Sekali lagi aku terkena Wonderstruck!



* * *

Dalam ucapan terima kasihnya di akhir buku, Brian Selznick menuliskan sesuatu yang tak pernah sungguh-sungguh terpikir olehku selama ini.
"Aku tertarik, khususnya pada bagian tentang sinema dan teknologi baru suara, yang diperkenalkan pada film-film pada 1927. Sebelum ini, baik populasi normal maupun penderita tuli dapat menikmati film bersama-sama. Film bersuara, untuk pertama kalinya, mengecualikan penderita tuli."

Benar juga ya. Secanggih apapun tata suara Dolby Surround di bioskop modern sekarang, jika penontonnya tuna rungu ya tidak berguna. Masih untung jika film yang ditonton itu ternyata film berbahasa asing, hingga dilengkapi dengan subtitle, jadi jalan cerita dan percakapannya masih dapat diikuti. Lha kalo nontonnya film berbahasa Indonesia?
*apa musti ada penterjemah bahasa isyarat di sudut kiri bawah layar, kayak pas berita TVRI jaman jadul :)) *

Ini kali kedua aku melihat bagaimana perubahan industri film yang berkembang dari silent movie ke film dengan tata suara ternyata membawa perubahan sosial yang sangat besar pada masyarakat di jaman itu. Yang pertama dalam film The Artist yang mengisahkan bintang film tampan yang makin tersingkir semenjak datangnya "talking movies". Dan yang kedua, tentu saja kisah Rose di novel ini. Dan selama membaca melihat ilustrasi-ilustrasi cerita Rose, nuansa yang sama seperti film The Artist itu juga mendatangiku. Hitam Putih. Silent graphic. Sepi. Terasing.

Untunglah kisah Ben dan Rose ini bukan kisah tentang keterasingan dan kesendirian. Ini adalah kisah tentang menemukan sahabat dan keluarga yang menerimamu apa adanya. Bahwa kita seharusnya bisa bahagia meskipun apapun kekurangan yang kita miliki. Dan itu, aku setuju sekali. Wonderstruck!


* * *

Edisi bahasa indonesia buku ini terbitan Mizan Fantasi/Bentang Pustaka sama seperti novel Hugo sebelumnya, sehingga plus minusnya juga sama. Kualitas kertas dan cetakannya bagus, untuk halaman-halaman ilustrasi, hitamnya kelam dan shading dan arsiran abu-abunya cukup jelas. Tapi karena ukuran ilustrasinya dua kali bidang buku, maka sebagian gambar terpotong penjilidan di punggung buku, dan beberapa ilustrasi tidak benar-benar pas sambungan halaman kiri dan kanannya. Oh iya, ada beberapa terjemahan yang tidak konsisten di beberapa penggunaannya. Misalnya di hal 409, kutipan Dante diterjemahkan "Siapapun yang masuk ke sini tak punya harapan untuk selamat" namun kemudian di hal 463 kutipan yang sama dituliskan tetap dalam bahasa Inggris font italic "Abandon all hope ye who enter here!". Itu saja, sedangkan terjemahannya sendiri tetap enak untuk dibaca.



https://www.goodreads.com/review/show/775979681
http://readbetweenpages.blogspot.com/2013/01/the-invention-of-hugo-cabret.html
http://readbetweenpages.blogspot.com/2013/01/the-alchemist-and-angel.html

Wonderstruck



Wonderstruck

Macalais Fransisca (Terj.)
Mizan Fantasi – Cet. I, December 2013
646 Hal.

Karena suka banget sama The Invention of Hugo Cabret, maka ketika melihat terjemahan buku ini ada di toko buku, tanpa berpikir panjang lebar, gue pun langsung membelinya.

Dan bener aja… gue kembali ‘terpukau’ dengan cerita dan ilustrasinya yang keren. ditambah dengan detail-detail tentang museum, perpustakaan, bahasa isyarat, tentang perbintangan.  Belum lagi detail tentang pakaian dan suasanan di dalam dua kurun waktu yang berbeda.

Padahal, antara narasi dan ilustrasi, di dua bagian pertama mungkin bakal bikin bingung karena gak nyambung, tapi dua-duanya menceritakan kisah tersendiri, yang pada akhirnya akan memecahkan rahasia di bagian ketiga.

Intinya, berkisah tentang dua anak di dalam dua periode yang berbeda – Ben, di tahun 1977, tinggal di Gunflint Lake, Minnesota dan Rose di tahun 1927, ada di kota Hoboken, New Jersey. Keduanya sama-sama bermasalah dengan pendengaran.

Bagian Ben diceritakan dalam bentuk narasi, tentang seorang anak yang mencari jejak ayah kandungnya lewat sebuah buku berjudul ‘Wonderstruck’ yang ia temukan di kamar mendiang ibunya.

Sedangkan bagian Rose, diceritakan dalam bentuk ilustrasi. Di sini nih yang menurut gue sangat keren, karena tanpa kata-kata, keseluruhan ilustrasi mampu bercerita tentang apa yang dialami oleh Rose. Mimik wajah Rose yang digambarkan begitu jelas, plus detail-detail lain, yang kembali membuat gue seolah lagi nonton film.

Semua bagian bisa membuat gue ikut merasakan rasa sedih dan kesepian Ben karena kehilangan seorang ibu. Tapi menurut gue, Ben adalah anak yang berani, dengan kekurangan yang dideritanya tak menyurutkan semangatnya. Sementara, Rose juga meninggalkan kesan sebagai anak yang sedih karena ditolak ibunya, anak yang ‘terkurung’ karena menurut orang tuanya, amat berbahaya bagi Rose untuk ‘berkeliaran’ di luar rumah.

Dalam menulis cerita ini, Brian Selznick terinpirasi oleh cerita From the Mixed up Files of Mrs. Basil E. Frankweiler, karya E.L. Koningsburg.

Ah ya sudahlah, gue gak perlu berkomentar apa-apa lagi deh, pokoknya baca dan nikmati aja buku ini.

Satu hal yang sedikit mengganggu di dalam buku ini, adalah kalimat dalam lembaran kertas yang terpotong di tengah halaman, terkadang pas kita baca jadi rada aneh karena ‘sambungan’ yang gak lurus.

Penghargaan yang diterima untuk buku ini adalah:


Submitted for:


The Invention of Hugo Cabret by Brian Selznick

Judul: The Invention of Hugo Cabret
Penulis & Ilustrator: Brian Selznick
Penerbit: Mizan Fantasi
Tahun Terbit: 2012 (Januari, Cetakan I)
Tebal: 543 hlm
ISBN: 978-979-433-681-6
Rating: 4/5

Berlatar Paris tahun 1931, The Invention of Hugo Cabret berkisah tentang Hugo Cabret, seorang anak lelaki yang sehari-hari bekerja merawat jam-jam di stasiun kereta api kota Paris agar tetap bekerja dengan baik. Sebenarnya pekerjaan tersebut adalah pekerjaan pamannya,  tapi sejak sang paman menghilang, Hugo-lah yang menggantikan pamannya. Oleh karena suatu hal, Hugo melakukan pekerjaannya secara diam-diam agar tidak diketahui orang lain, terutama oleh petugas keamanan stasiun.

Hugo & Automaton
Di sarang rahasianya, Hugo rupanya sedang memperbaiki sebuah automaton peninggalan ayahnya. Automaton mirip dengan mainan patung putar atau kotak musik yang dapat bergerak-gerak. Bentuknya menyerupai miniatur manusia yang sedang menulis. Konon, bila automaton tersebut dapat diperbaiki, maka ia akan menulis sesuatu di atas kertas. Hugo dan ayahnya penasaran atas apa yang akan ditulis oleh mesin itu. Sang ayah yang ahli memperbaiki jam memutuskan untuk memperbaiki mesin yang tadinya terabaikan di sebuah museum tersebut. Sayangnya, sebelum berhasil memperbaiki automaton, ayah Hugo meninggal dalam sebuah peristiwa kebakaran.  Hugo yang menemukan automaton di bekas bangunan yang terbakar memutuskan untuk mengambil benda itu dan berusaha memperbaikinya, berbekal buku catatan milik sang ayah, serta kemampuan memperbaiki mesin yang juga didapat dari sang ayah. Jelas sekali bahwa automaton tersebut telah menjadi benda yang sangat penting baginya. Selain itu, ia ingin sekali mengetahui pesan yang apa akan ditulis oleh automaton.

Demi memperbaiki automaton, Hugo mencuri di sebuah toko mainan yang dijaga oleh seorang kakek yang galak. Bagian mesin dari mainan yang dicurinya sangat ia butuhkan untuk memperbaiki automaton. Sayangnya Hugo ketahuan. Pak tua penjaga toko mainan merebut buku catatan milik ayah Hugo dari bocah itu. Ini bencana, sebab tanpa buku catatan tersebut, Hugo tak akan pernah bisa memperbaiki automaton. Lebih buruk lagi, buku catatan itu kemudian dibakar oleh si kakek. Dalam keputusasaannya, Isabelle, anak baptis dari kakek penjaga toko mainan yang usianya tak jauh beda dengan Hugo, memutuskan untuk membantu Hugo. Ada kemungkinan bahwa buku catatan milik ayah Hugo sebenarnya masih utuh.

Hugo dan Isabelle kemudian terlibat petualangan yang tak terduga. Hugo sendiri tak menyangka bahwa automaton peninggalan sang ayah ternyata menyimpan sesuatu yang lebih besar dari harapannya.

Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama menceritakan tentang usaha Hugo untuk memperbaiki automaton, sedangkan bagian kedua menceritakan petualangan Hugo dan Isabelle untuk mencari tahu tentang masa lalu ayah baptis Isabelle (si kakek penjaga toko mainan) dan apa kaitan si kakek dengan automaton peninggalan ayah Hugo. Ternyata, si kakek memegang peranan amat penting dalam cerita ini. :)

Buku ini berisi teks dan ilustrasi. Meski tebalnya ngalah-ngalahin bantal (543 halaman, cyin!), ternyata buku ini bisa selesai dibaca dalam waktu singkat, karena ternyata ilustrasi dalam buku ini sangat banyak, bahkan lebih banyak dari teksnya sendiri. Ilustrasi dalam buku ini sungguh memanjakan mata, detail-detailnya pun mengagumkan. Teks dan ilustrasi dalam buku disajikan bergantian, selang-seling, membentuk rangkaian cerita yang utuh dan menarik. Sangat unik!


Saya harus mengakui bahwa penulis sekaligus ilustrator buku ini sangat brilian. Saya tak dapat meletakkan buku ini begitu mulai membacanya. Awalnya alur ceritanya memang terasa datar, namun semakin lama semakin menarik. Biasanya saya akan berlama-lama memperhatikan setiap detail ilustrasi dalam buku ini, namun ada bagian yang membuat saya begitu cepat membalik halaman buku sambil menahan napas saking serunya, sampai-sampai jantung saya jadi berdebar-debar. Bagian yang manakah itu? Tentu tak akan saya ceritakan di sini, kamu harus membacanya sendiri. Bagi pembaca yang memiliki ketertarikan khusus terhadap dunia perfilman, buku ini wajib dibaca bahkan dikoleksi, sebab di dalamnya terdapat informasi-informasi penting tentang sejarah dunia perfilman. Dan yang tak kalah pentingnya, salah satu tokoh dalam cerita ini ternyata ada di dunia nyata. Menarik, bukan?

Sekadar info tambahan, buku ini telah diadaptasi ke layar lebar pada tahun 2011 dengan judul Hugo (3D), dibintangi oleh Asa Butterfield sebagai Hugo dan Chloë Grace Moretz sebagai Isabelle. Saya sendiri belum menonton versi filmnya, sehingga cukup penasaran bagaimana para filmmaker memvisualisasikan buku ini ke dalam bentuk film. Saya rasa mungkin tidak sulit, karena membaca buku ini sensasinya sama seperti menonton film hitam putih. *eaaak sotoy mode on*

Sebagai penutup reviu singkat ini, saya akan mengutip salah satu quote menarik dari buku ini:

"Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu."


Sumber gambar: Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3, Sumber 4

The Invention Of Hugo Cabret

Dilihat dengan mata biasa (pakai mata batin juga boleh) bukunya terlihat gede dan tebal. Sedikit merepotkan untuk dibawa sebagai teman perjalanan, karena akan memerlukan tempat yang lebih luas di dalam tas. Meski begitu, kondisi ini akan memberikan fungsi yang lain dari sebuah buku selain sebagai bahan bacaan; bisa buat nimpuk. Tapi saya suka buku gede […]