Secangkir Kopi Inspirasi

Catatan Inspiratif Prabu Revolusi

                                                                            Judul                           : Secangkir Kopi Inspirasi

cover secangkir kopi inspirasi

cover secangkir kopi inspirasi

Penulis                         : Prabu Revolusi

Penerbit                       :Kaifa-Mizan

Tahun Terbit                : Pertama, 2013

Jumlah Halaman          : 256 halaman

ISBN                           : 978-602-8994-94-1

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious,

Prabu Revolusi memang terkenal menjadi news anchor di sebuah stasiun televisi swasta. Gaya dan suaranya yang khas, sekaligus tampang yang banyak disukai penonton wanita sudah menjadi modalnya untuk dikenal masyarakat luas.

Lalu, bagaimana jika sang penyiar berita ketika menulis, apakah selancar ketika dia membaca sebuah berita? Tak dinyana ternyata tulisan penyiar muda ini pun renyah dan mengalir. Bahkan, tak hanya itu tulisan Prabu juga inspiratif.

Hal ini terbukti dalam bukunya yang berjudul Secangkir Kopi Inspirasi. Sebuah judul yang dia dapatkan ketika sedang santai ngopi sambil mencari inspirasi. Buku ini berisi kumpulan catatan Prabu tentang apa saja, dari cinta, keluarga, uang, hingga pekerjaan. Kesemuanya inspiratif dan membangun diri, jadi judul yang dia pilih tidak hanya judul hiasan namun memang sesuai dengan isi bukunya.

Secara sistematika buku ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama, berisi tentang cinta dan keluarga. Dalam gagasannya, setiap orang hendaknya bangun cinta bukan jatuh cinta. Karena menurut Prabu, orang jatuh cinta itu mudah sekali. Dalam jangka 10 menit orang akan mudah jatuh cinta, bahkan bisa lebih sedikit dari itu. Ketika itu hidup terasa indah, semua terasa dalam keadaan suka cita saja. Karena pada saat itu kita buta, tuli, dan bisu terhadap keburukan pasangan kita.

Namun, dalam pernikahan tidak hanya ada senang di dalamnya. Ada sedih, ada duka, juga ada jengkel dan berbagai kesalahpahaman lainnya. Karena hidup 24 jam per hari, 7 hari seminggu, semua belang akan tersingkap. Di sinilah perbedaan jatuh cinta yang ada pada saat saling menyukai, sedangkan bangun cinta diperlukan pada saat saling jengkel. Dalam keadaan tersebut cinta bukan hanya sebuah pelukan, namun juga iktikad. Untuk memahami konflik dan bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima kedua belah pihak (halaman 22).

Pada bagian kedua, Prabu membahas tentang uang, pekerjaan dan kreativitas. Pada artikelnya yang berjudul sama dengan judul bukunya, Secangkir Kopi Inspirasi Prabu berbicara tentang kopi. Dibalik banyaknya orang berbicara tentang sisi negatif kopi, Prabu menulis tentang sisi positif kopi.

Mengambil pendapat Sayyid Habib Umar bin Saqqaf dalam kitabnya Tafrihul Qulub wa Tafrihul Kurub, “Kopi memang hitam, tapi menyalakan semangat, bahkan memancarkan cahaya.” Prabu merasakan sendiri khasiat kopi dalam memudahkan pekerjaannya.

Selain agar tidak mengantuk, ternyata kebiasaan mengopi di kafe sebelum masuk kantor memberi Prabu inspirasi untuk membangun ide acara yang akan dibuatnya. Setelah beberapa waktu berkontemplasi bersama kopi, akhirnya jadilah sebuah acara yang dia rancang bernama 8 Eleven Show (halaman 133).

Di bagian ketiga buku ini Prabu membahas kesehatan dan kebahagiaan. Sehat akan ada jika kita bahagia. Bahagia itu bisa jadi kebalikan dari stres. Agar tidak stres, maka kita harus mengusahakan kebahagiaan.

Bahagia itu mudah didapat. Bahagia bisa didapat ketika kita berbagi. Hal itu dirasakan oleh Prabu ketika diundang oleh Suryo Brahmantyo untuk mengisi tentang public speaking di Akademi Bersama Jakarta. Sebuah acara yang pembicara yang diundang tidak dibayar dan peserta yang hadir tidak membayar, gratis. Acara yang murni untuk saling berbagi sesuai namanya, Akademi Berbagi. Melihat banyaknya dan antusiasme peserta, Prabu semakin semangat dalam membagi ilmu yang dia miliki.

Sampai saat ini Akademi Berbagi tidak hanya ada di Jakarta, tetapi menyebar ke berbagai daerah. Fotografi, menulis, enterpreuner dan lainnya juga dibahas dalam akademi ini. berbagi semakin menyebar karena akademi berbagi ini. Karena manfaatnya bagi banyak orang Akademi Berbagi mendapat banyak penghargaan di antaranya: The Most Inspiring Social Movement-Klik Hati Award dan juga The New Alternative-Editor’s Choice dari majalah Rolling Stone Indonesia.

Bagian terakhir Prabu membahas tentang impian dan gagasan. Orang bekerja sebaiknya sesuai dengan passion. Apa itu passion? Ketika seseorang bekerja berdasarkan dedikasi dan cinta, maka itu yang disebut dengan passion (halaman 239). Passion itu unik. Ketika kita bisa bekerja berdasarkan passion yang kita miliki, otomatis kita akan pada sebuah titik yang sangat optimal, aktual dan bisa jadi jauh lebih besar hasilnya dibandingkan dengan kita bekerja di bidang yang tidak cocok dengan passion kita. Sebagai contoh, seseorang yang bekerja sebagai salesman, namun passion-nya ternyata main gitar, sesungguhnya ia telah menghilangkan kesempatan untuk menjadi lebih besar dari Slash atau Dewa Bujana.

Begitulah, Prabu dalam merangkai kata pun penuh makna. Catatan inspiratif yang merevolusi diri pembaca. Sesuai namanya, Prabu mampu merevolusi diri pembaca. Buku ini cocok dibaca siapa saja, Anda yang sudah menikah ataupun belum, yang sudah atau belum bekerja. Dengan membaca buku ini Anda akan memiliki pandangan lain akan hidup, hidup itu bahagia.

Capture

dokumen pribadi pemuatan di harnas 30 maret 2014

#Resensi sebelum diedit harnas.

cover diambil dari sini

(27-Dimuat di harian nasional 30 Maret 2014)

 


Filed under: Bisnis, Budaya, Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Cinta, Harian Nasional, Indiva Readers Challenge (IRC) 2014, Inspirasi, Inspiratif, Motivasi, Non Fiksi, Parenting, Pernikahan, Resensi Buku Tagged: akademi berbagi, buku, buku 2013, cinta, gagasan, impian, indiva reading challenge (irc) 2014, inspiratif, keluarga, kisah inspiratif, kopi, menulis, mimpi, motivasi, nonfiksi, passion, penerbit kaifa, penerbit mizan, pernikahan, prabu revolusi, resensi buku, review 2014, sehat

Everlasting Love

 

Membaca Tentang Cinta Yang Abadi

penampakan buku everlasting love (doc.pribadi)

penampakan buku everlasting love (doc.pribadi)

Judul                            : Everlasting Love

Penulis                          : Gagas’s Writer

Editor                          : Patresia Kirnandita

Penerbit                       :Gagas Media

Tahun Terbit                : Pertama, 2013

Jumlah Halaman          : 232 halaman

ISBN                           :  978-979-780-680-4

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious.

            Seorang ibu diibaratkan batu karang untuk anaknya. Sumber kepercayaan diri si anak adalah dari rasa percaya diri ibunya. Karena anak biasanya akan mencaro afirmasi perilakunya dengan melihat ibunya. Jadi, kasihan anaknya, kan kalau kita jadi ibu yang lontang-lantung tanpa prinsip yang kuat? (Halaman 37)

menjadi-ibu-cerdas

1

            Ketika Lucy harus mengikuti saran dokter dengan harapan anaknya segera sembuh, namun terkadang nenek tidak tega melihat cucunya makan sekadarnya saja. Seakan tidak diurus dengan benar. Sehingga sesekali Sang Nenek meminta Lucy untuk memberi makanan yang diinginkan oleh Danya walaupun sebenarnya tidak boleh dimakan karena lagi masa diet.

            Lucy yang mengasuh anak dengan disiplin sedangkan nenek agak longgar.  Ini menjadi masalah bagi Lucy. Sehingga dia harus ngomong dengan baik-baik kepada Ibunya. Menyamakan persepsi bagaimana sebaiknya mengasuh Danya. Hal ini, banyak terjadi selain di keluarga Lucy. Hingga kadang karena sang kakek/ nenek sangat longgar kadang menjadi alternatif untuk menghindar dari kedisiplinan orang tua.

20449_1081807981528_1716199168_157407_1712705_n

2

            Menjadi ibu memang harus memiliki ilmunya. Memiliki ilmu saja kadang tiba-tiba dalam praktik menguap atau berbeda dengan realita. Seperti kisah tulisan Laila Achmad dalam  Learn a Lot from Reference, Learn Much More from Experience. Laila yang inginnya idealis, tanpa pengasuh anak, harus memberi ASI kepada hingga dua tahun kepada anaknya, namun pada kenyataannya idealismenya harus runtuh karena realita yang terjadi di kehidupannya. Akhirnya, Laila tidak hanya belajar pada buku referensi namun juga belajar banyak pada pengalaman.

           

              Salah satu tulisan dalam buku ini pun menyarankan para perempuan untuk mencari lelaki yang perhatian. Seperti kata teman Diastri penulis It Takes Two for Tango“Tuhan menciptakan suami untuk membuat istrinya tetap waras.” Diastri yang memiliki suami perhatian sangat bersyukur karena bisa bergantian mengurus anak bayinya.

url1

3

            Hal ini mirip apa yang dituliskan oleh Windry Ramadhina dalam Saya dan hanya Saya untuk Sehari. Yang rasanya belum benar-benar siap harus memiliki anak. Karena dia terbiasa bebas, ke mana-mana dengan teman-temannya pergi ke mall misalnya. Ketika memiliki anak, kebiasaannya itu tak bisa lagi dilakukan. Akhirnya, dia seringkali merasa depresi, tak hanya anaknya yang nangis namun juga dia. Untung saja suaminya respect, kemudian  memberinya kesempatan untuk keluar dengan temannya terserah selama sehari. Sedangkan yang mengurus anak diganti oleh sang suami.

           

            Selain yang saya sebutkan di atas ada juga pembahasan tentang anak kecil yang seringkali bertanya apapun yang dia pikirkan, seperti yang diceritakan oleh Ninit Yunita.

4

4

Bagaimana seorang ibu berjuang mengasuh anak dalam suka maupun duka, sangat tergambar jelas dalam 11 tulisan dalam buku Everlasting Love ini. Buku yang saya rasa ditulis dengan hati, dengan niatan untuk berbagi inspirasi agar pembaca baik yang sudah menikah atau belum akan mendapatkan pengetahuan tentang parenting. Buku rekomendasi bagi setiap calon suami dan calon istri. Sayang jika ilmu di dalam buku ini dilewatkan :)

NB: Ini pesan saya di tulisan ini untuk para perempuan, eh bukan ya ini dari pesan mba Dian Sastro :D

1518131_10152246279641015_2071764915_n

5

Sumber Gambar:
1. http://olalababies.files.wordpress.com/2013/02/menjadi-ibu-cerdas.jpg

2.http://1.bp.blogspot.com/-EtgWvl8BQ5A/ThBumfDtNRI/AAAAAAAAAFU/ZRJ0SOdEjmk/s1600/20449_1081807981528_1716199168_157407_1712705_n.jpg

3. http://kanglondo.files.wordpress.com/2013/02/suami-istri-pengantin.jpg

4. http://static.republika.co.id/uploads/images/detailnews/anak-bertanya-ilustrasi-_131211144130-429.jpg

5. https://fbcdn-sphotos-h-a.akamaihd.net/hphotos-ak-ash4/1518131_10152246279641015_2071764915_n.jpg

 

 

(26-21 Maret 2014)

           


Filed under: Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Cinta, Indiva Readers Challenge (IRC) 2014, Inspirasi, Inspiratif, kemuslimahan, Motivasi, Non Fiksi, Parenting Tagged: anak bertanya, ayah, buku, buku 2013, cinta, disiplin, gagas media, hamil, ibu, indiva reading challenge (irc) 2014, inspiratif, motivasi, nenek, nonfiksi, parenting, pengalaman, resensi buku, review 2014

Ibu Adalah Kesetian Yang Abadi

Ibu Adalah Kesetian Yang Abadi

            Berselang seminggu setelah pengumuman Arisan Buku Gagas Media yang salah satunya Booklicious yang mendapatkan, buku Everlasting Love sampai tangan saya. Baru ketika gathering Booklicious sekalian berburu buku di Islamic Book Fair Malang 2014 buku tersebut diberikan pada sebagian yang mengikuti arisan yang datang malam itu.

Sekitar seminggu setelah itu, hari senin malam tanggal 17 Maret 2014 baru Booklicious kembali kumpul untuk membahas buku yang Gagas Media beri tersebut. Bagi saya memegang pertama kali ketika buku itu datang merasakan perbedaan ketika sekilas melihat cover di website Gagas dengan memegang buku itu langsung. Waktu awal melihat cover saya hanya merasakan biasa saja, namun ketika memegang, mengamati kertas cover, ilustrasi cover, isi buku walau sekilas dan ada semacam pigura foto yang unik nan cantik sebagai pengganti pembatas halaman.

penampakan buku everlasting love (doc.pribadi)

penampakan buku everlasting love (doc.pribadi)

Setelah semua datang di Green Camp Us Cafe, baru diskusi akan buku Everlasting Love dimulai. Diskusi dimoderatori oleh Sandi, dan sebagai notulen adalah Lisvy. Diskusi dibuka oleh Ichal dan dia mengawali perkataannya dengan sebuah perkataan anonym yang mengatakan bahwa, “Setiap anak berhak lahir dari seorang Ibu yang cerdas.”

IMG_8960

Ichal (dok. pribadi)

Ichal membahas tulisan Ninit Yunita yang berjudul What Do You Think? (halaman 197-205). Ichal yang demen dengan bacaan filsafat tertarik dengan kata think yang ada dalam judul tersebut. Tulisan Ninit yang menceritakan anak-anaknya seringkali bertanya yang aneh-aneh, dengan maksud bertanya yang memang kadang tidak terpikirkan oleh orang dewasa.

Seperti percakapan Ninit dan Alde, anaknya.

“Ma, kenapa burung bisa terbang?”

“Karena punya sayap.”

Kemudian si Alde bertanya lagi.

“Ma, kenapa burung bisa terbang?”

“Menurut Alde kenapa burung bisa terbang?”

“Hmm… karena punya sayap?”

“Betul.” Ninit tersenyum dan melanjutkan menulisnya. Namun, si Alde bertanya lagi.

“Tapi penguin kan burung, Ma.”

“Tapi kenapa penguin nggak bisa terbang?”

Ninit dengan metodenya “what do you think” kembali  bertanya pada Alde, menyuruhnya memikirkan hal tersebut selama 5 menit. Sebenarnya Ninit juga tidak tahu, segera dia googling dan menemukan apa jawabannya.

Di lain waktu Ninit tidak memakai metodenya itu namun langsung menjawab pertanyaan sang anak, dikarenakan pertanyaannya adalah hafalan. Seperti, pertanyaan ini.

“Mama apa ibu kota Thailand?”

“Ibu kota Thailand adalah Bangkok.”

Menurut Ichal keinginan tahuan anak yang besar dan selalu mempertanyakan sesuatu itu mirip dengan apa yang disebut dengan filsafat. Ichal beranggapan bahwa orang dewasa sekarang sudah kehilangan rasa keingintahuan atau mempertanyakan sesuatu karena seringkali serba instan.  Hal ini sebenarnya miris, karena peradaban yang baik nggak akan lahir tanpa dimulai dengan berpikir.

Selain itu Ichal mengatakan seperti yang telah ada dia sebutkan di awal perkataannya, “Seorang anak berhak lahir dari seorang ibu yang cerdas.” Ya paling tidak banyak membaca, melihat kasus di atas jika seorang ibu tidak mengerti psikologi anak ya akan kesulitan dalam menghadapi sang anak. Dia berpesan agar teman-teman Booklicious yang laki agar mencari istri yang cerdas dan teman-teman Booklicious yang perempuan agar menjadi wanita yang cerdas.

Pesan Ichal tersebut disambut tawa.

Walau bisa dibilang paling pendek, tulisan Ninit ini yang paling Ichal sukai.

IMG_9002 - Copy

Ummul (dok.pribadi)

Kemudian dilanjutkan oleh Ummul yang menganggap bahwa buku ini menarik. Dari semua tulisan dalam buku ini menarik perhatiannya. Dia menyetujui perkataan Ichal bahwa seorang perempuan atau ibu haruslah cerdas. Agar mampu mendidik anaknya dengan baik.

Karena ibu adalah orang yang terdekat dengan semua manusia yang terlahir di dunia. Terdekat dimulai dengan adanya manusia di rahim ibu. Maka, buku Everlasting Love layak dibaca oleh siapa saja. Agar lebih mencintai sosok yang bernama ibu.

Sedangkan Sandi membahas tulisan Gita Romadhona yang berjudul Kamu, Cinta-dengan Kompisisi Paling Lengkap. Dia melihat Mba Gita yang seorang pejalan dan pendaki saja kadang masih mengkhawatirkan persalinan nanti, apalagi yang tidak biasa berjalan? Sandi, pun menyarankan agar teman-teman Booklicious yang perempuan agar sesekali naik gunung, untuk latihan sebelum punya anak he.

IMG_8966

Sandi (dok.pribadi)

Sandi juga mengatakan ada yang bilang bahwa sakit saat melahirkan itu lebih sakit dari sakit apapun di dunia ini. Jadi, betapa mulianya menjadi seorang ibu itu. Sandi pernah melihat ada seorang anak yang jatuh namun malah oleh orang tuanya dimarahi.

“Dasar anak goblok.”

Sang anak hanya menunduk terdiam.

Meskipun itu adalah bentuk kasih sayang karena tak ingin sang anak jatuh dan tidak ingin sang anak jatuh lagi, namun hal itu adalah pengungkapan yang salah. Hal ini tidak menyelesaikan masalah, namun menambah masalah sang anak menjadi takut dan itu akan berpengaruh terhadap psikologinya. Bisa hal itu akan menjadi perilaku anaknya juga dengan mudah marah dan membentak kepada temannya bahkan kepada yang lebih tua atau orang tuanya sendiri di kemudian hari. Menurut Sandi sang anak bukannya dimarahi namun, disayangi, dilembuti dan orang tua mengucapkan kalimat-kalimat penenang dan motivasi, semisal, “begitulah hidup, ada saat jatuh dan kemudian ada waktu untuk bangkit.”

Selanjutnya adalah kesempatan Ega untuk menyampaikan apa yang dia dapat dalam buku Everlasting Love. Meskipun Ega baru mengambil buku sehari sebelum kumpul, dia mampu membaca sampai selesai buku tersebut.

IMG_9002 - Copy

Ega (doc.pribadi)

Ega menganggap buku ini banyak menimbulkan kesan baginya. Dia terharu. Rasanya ingin berlari pulang bertemu dengan ibunya. Bukan sekadar bertemu seperti biasa dia pulang ke rumah, namun ada keinginan lebih dekat dengan orang yang bernama ibu.

Membaca tulisan demi tulisan dalam buku ini, Ega sampai berpikiran bagaimana ya nanti kalau saya hamil? Bagaimana ya nanti kalau saya punya anak? Berpikiran begitu, bukan karena takut hamil dan punya anak. Yaa, seperti rasa kekhawatiran saja. Karena dalam buku ini ketika menjadi seorang ibu banyak yang hal mengejutkan. Ada It Takes Two for Tango yang ditulis oleh Smita Diastri yang diambil kesimpulan oleh Ega agar para perempuan mencari lelaki yang pengertian. Seperti halnya Diastri yang menulis semacam jadwal mengurus anak dari jam sembilan malam sampai jam empat pagi dalam mengurus anak yang rewel. Dia tidak sendirian, dia gantian dengan suaminya. Ketika dia capek maka yang bertugas selanjutnya adalah suaminya. Begitulah, ada perkataan dari teman Diastri. “Tuhan menciptakan suami untuk membuat istrina tetap waras.”

Selain ada tulisan Laila Achmad dalam  Learn a Lot from Reference, Learn Much More from Experience. Diceritakan Laila adalah ibu yang idealis, ingin mengasuh anak sendiri tanpa baby sister, ingin dua tahun memberikan asi pada anaknya, intinya dia ingin melakukan apa saja yang dia dapatkan ketika membaca buku-buku parenting. Namun, ternyata kenyataannya adalah kehidupan nyata tidaklah selalu sama dengan apa yang ada dalam buku. Dengan pengalamanlah kemudian Laila lebih banyak belajar.

Selanjutnya adalah bagian Amin. Amin membahas tentang tulisan Windry Ramadhina yang berjudul Saya dan hanya Saya untuk Sehari. Dia mengawali dengan perkataan bahwa ada sahabat Nabi yang diam ketika dimarahi oleh istrinya. Hal itu dia lakukan karena dia merasa bahwa istrinya telah bekerja keras mendidik dan mengasuh anaknya, maka mungkin saja dia suntuk dan capek sehingga menjadi marah-marah kepada suaminya.Sangat jarang ya hal ini dipikirkan oleh para suami. Ini bukan bentuk suami takut istri namun suami yang menghargai seorang istri.

Amin (doc.pribadi)

Amin (doc.pribadi)

Tulisan Windry ini bercerita tentang Windry yang biasanya jalan-jalan dengan suaminya namun kemudian ketika punya anak tidak bisa melakukan hal itu lagi. Akhirnya suatu saat di mana dia merasakan sangat suntuk suaminya mengerti dan memberi kesempatan istrinya untuk ke luar rumah seharian dan sang anak biar suami yang mengurusi. Mirip yang dikatakan Ega memilih suami yang pengertian itu penting. Ya, bisa saling mengerti ya jangan sampai hanya suami yang mengerti sedangkan istri tidak.

Yuni (doc.pribadi)

Yuni (doc.pribadi)

Nah, lanjut Yuni yang membahas tulisan si Miund yang menurut dia unik dan kocak. Kisah Miund yang dilema antara akan berhenti bekerja atau fokus mengurus anak. Ingin berhenti namun juga butuh biaya tambahan dari suami. Ya, bisa jadi akan dialami oleh istri yang juga bekerja.

Sebenarnya setelah Yuni adalah saya. Namun loncat langsung ke yang terakhir saja. Lisvy.

Lisvy membahas tentang tulisan Smita Diastri ketika berlibur dengan suami dan anak kecilnya ke Singapore. Dalam perjalanan ada kesalahpahaman antara dia dan suami sehingga harus ada semacam perdebatan antara mereka berdua di depan sang anak. Nah, tanpa mereka sangka ternyata sang anak memperhatikan pertengkaran mereka berdua dan malah mengajak orang tuanya untuk tidak diam-diaman lagi.

Lisvy (doc.pribadi)

Lisvy (doc.pribadi)

Nah, suatu hal yang menunjukkan bahwa sang anak itu selalu memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Jangan sampai orang tua memberikan contoh yang tidak baik bagi anaknya. Beda dengan yang lain Lisvy, memberi rating untuk setiap tulisan dalam buku ini. Tidak ada yang mendapatkan bintang terbanyak yakni lima. Hanya empat bintang saja bagi tulisan yang berjudul Ketika Kau Terjatuh dan Terluka.

Sebagaimana tulisan saya di awal yang agak apatis terhadap isi buku ini ketika sekilas melihat cover dan sinopsis dalam web. Ternyata buku ini bagus sekali. Dengan penulis yang beberapa telah memiliki buku yang nggak asing ditelinga saya seperti Mba Windry Ramadhina, Mba Ninit Yunita, atau editor seperti mba Gita Romadhona dan Mba Alit Tisna Palupi.

Kumpulan tulisan dengan gaya khas masing-masing. Ada yang seakan ngomong langsung kepada anaknya, ada yang menulis dengan gaya surat, ada yang langsung bercerita kepada pembaca. Semua membincang tentang bagaimana penulis menjadi ibu. Semuanya cerita dalam buku ini menyentuh, menginspirasi dan memberi banyak pengetahuan tentang dunia anak dan parenting. Dari sebelas tulisan dalam buku ini yang saya suka gaya penulisannya adalah tulisan mba Gita. Renyah gitu seakan dia benar-benar berbicara dengan sang anak, Nyala Matahari. Akhirnya, setelah saya membaca buku ini, tersimpul dalam benak saya.

Jika mengingat seorang yang bernama ibu, maka yang teringat adalah kesungguhan, ketabahan, kesabaran, kasih sayang, cinta, dan kesetiaan yang abadi.

Buku yang merekam jejak cinta seorang ibu yang tak akan habis.

Sebelum saya akhiri tulisan ini terima kasih kepada teman-teman yang sudah membaca buku Arisan Buku Gagas dan menghadiri diskusinya. Ditunggu tulisan kalian ya :)

Terima kasih kepada yang sudah berkunjung ke blog saya semoga tulisan ini bermanfaat :)

Silakan saja Anda cicipi buku ini jika Anda penasaran.

Let’s eat the world! Temukan kelezatan dalam setiap lembarnya.

Aksi Bukusiawan dan Bukusiawati di depan kamera :)  (doc.pribadi)

Aksi Bukusiawan dan Bukusiawati di depan kamera :)
(doc.pribadi)

Ohya ini Fans Page Booklicious, silakan suka :)

Dan ini Grup Facebook Booklicious, silakan gabung dan kalau di Malang bisa ikutan kumpul tiap minggu :)

Jika ingin membaca tentang buku ini yang ditulis oleh anak Booklicious yang lain. Klik yah!

1. Booklicious Kembali Menyantap Cinta Selamanya Ibu

2. Everlasting Love – Everlasting Book

3. Belajar Parenting pada Cinta Everlasting

4. Berbincang Perjuangan dan Tulus Cinta Ibu…

5.Everlasting Love for Neverending Stories

6. Cinta Tak Hingga Sepanjang Masa untuk Sang Buah Hati

 


Filed under: Booklicious, Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Cinta, Inspirasi, Inspiratif, Non Fiksi, Parenting Tagged: alit tisna palupi, anak, arisan buku gagas media, ayah, buku, buku 2013, cinta, gagas media, gita romadhona, hamil, ibu, inspiratif, keluarga, liputan diskusi, motivasi, ninit yunita, nonfiksi, parenting, perjuangan, windry ramadhina

Sejenak Hening

 

Terapi Kelereng Kebahagiaan

Judul                            : Sejenak Hening

Penulis                          : Adjie Silarus

Penerbit                       :Metagraf-Tiga Serangkai

Tahun Terbit                : Agustus, 2013

Jumlah Halaman          : 310 halaman

ISBN                           :  978-602-9212-85-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan Koordinator Klub Buku Booklicious.

            cover sejenak-heningSemakin hari kehidupan terasa semakin cepat dan menggerahkan saja. Semakin runyam kehidupan, banyak konflik di mana-mana. Semakin ramai kehidupan, semakin banyak kendaraan pemicu kemacetan. Banyak orang berpacu dengan waktu untuk bekerja, bersaing mencari penghasilan agar bisa mencapai bahagia  bersama keluarga. Banyak orang juga yang menganggur, banyak pula yang stres.

            Secara logika mereka yang stres, tidak punya pekerjaan, kena macet di jalan, akan menjadi tidak bahagia karena ketidaknyamanan. Pertanyaannya apakah yang bekerja sehari-hari itu akan pasti menjadi bahagia? Belum tentu. Banyak dari mereka yang pikirannya hanya bekerja, bekerja dan bekerja sehingga tidak mampu menikmati keajaiban hidup walau hanya sedetik. Sehingga tidak ada waktu untuk membahagiakan keluarga bahkan tidak ada waktu untuk membahagiakan diri sendiri walau hanya istirahat sejenak. Akibatnya,  bisa jadi akan stres dan tidak punya semangat lagi.

            Maka kehadiran buku Sejenak Hening karya Adji Silarus ini  dalam rangka mengajak pembaca untuk sejenak berhenti. Sejenak meninggalkan segala aktivitas, sejenak untuk untuk puasa gadget, sejenak  puasa televisi, sejenak puasa media sosial untuk menenangkan diri dan menikmati detik keajaiban hidup.

            Seharusnya, setiap detik kehidupan tidak boleh terlewati dengan kesan biasa saja. Seharusnya setiap detik diupayakan selalu ada kesan yang membahagiakan. Dalam bukunya Adjie memiliki konsep terapi kelereng. Sebuah terapi, bagaimana pembaca menggunakan waktu yang ada untuk kebahagiaan sendiri, keluarga dan lingkungan.

            Terapi ini Adjie tulis melalui sebuah cerita. Cerita tentang seorang tua bijak dan anak muda kantoran. Si tua bijak mengatakan dengan yakin bahwa anak muda kantoran ini sibuk dengan pekerjaannya, dan si tua juga yakin perusahaan tempat dia bekerja member dia gaji yang banyak. Namun, satu hal yang disayangkan oleh si tua adalah anak muda kantoran selalu menghabiskan 60 sampai 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, hanya untuk menonton pertunjukan tarian putrinya saja tidak sempat.

            Maka, si tua bijak menceritakan teori 1000 kelereng yang membantunya untuk mengatur dan menjaga prioritas apa yang seharusnya dia lakukan dalam hidup. Si tua suatu hari menghitung rata-rata manusia hidup sampai 75 tahun. Lalu dia kalikan 75 dengan 52 minggu dalam setahun. Hasilnya, 3900. Angka 3900 ini merupakan jumlah hari sabtu rata-rata yang dimiliki setiap orang dalam hidupnya.

            Si tua mengatakan bahwa hal tersebut baru terpikirkan ketika dia berumur 55 tahun, yang berarti dia sudah melewatkan 2860 hari sabtu. Angka  itu dia dapatkan dari hasil kali 55 tahun umurnya dikali 52 hari sabtu. Yang berarti bila umurnya hanya sampai 75 tahun, maka sisa hari sabtunya sekitar 1040 yang akan dia nikmati.

            Lalu dia pergi ke toko mainan, dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Sampai pada toko mainan yang ketiga, Si tua mendapatkan 1040 kelereng. Setelah sampai di rumah, kelereng itu ditaruhnya di meja kerjanya. Setiap sabtu, sejak saat itu si tua selalu mengambil satu kelereng kemudian membuangnya. Dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, dia memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupnya. Karena hal itulah dia mengawasi anak muda tersebut dan merasa sayang jika waktunya hanya habis untuk bekerja. Dia berharap bisa menolong anak muda itu membenahi dan meluruskan prioritas dalam hidupnya.

            Ada pesan si tua kepada anak muda sebelum dia keluar bersama keluarganya untuk mencari sarapan. “Pagi ini, kelereng telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya dan kubuang. Aku berpikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan dating, maka Tuhan telah memberiku sedikit waktu tambahan, waktu ekstra dengan orang-orang yang kusayangi.” Mendengar itu anak muda, tertegun sekaligus tersadar. Bahwa keluarga adalah lebih dari apapun, sehingga dia harus mengatur kembali prioritas hidupnya.

            Dengan cerita rekaan Adjie di atas tak pelak pembaca pun akan tersadar bahwa banyak waktu yang mungkin terbuang sia-sia karena salah prioritas. Maka, saya tak ragu untuk merekomendasikan buku inspiratif ini untuk Anda baca. Karena, buku ini penuh dengan renungan-renungan inspiratif sarat motivasi. Cocok menemani waktu luang Anda, agar semakin bahagia bersama orang tercinta. Selamat membaca!

gambar diambil dari sini

(24-Dimuat di Indoleader 4 Maret 2014)


Filed under: Catatan, Cinta, Indoleader.com, Inspirasi, Inspiratif, Motivasi, Non Fiksi, Resensi Buku Tagged: adjie silarus, buku, buku 2013, cinta, inspiratif, kisah inspiratif, metagraf, motivasi, nonfiksi, resensi buku

Top Words

Kisah Orang-Orang Yang Berani Bermimpi

Cover Top Words

Cover Top Words

Judul                            : Top Words

Penulis                          : Billy Boen

Penerbit                       : B-First (Bentang Pustaka)

Tahun Terbit                : Pertama, Juni 2013

Jumlah Halaman          : 194 halaman

ISBN                           :  978-602-8864-78-7

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pecinta Buku Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

Dalam adegan film Sang Pemimpi besutan Riri Riza ada percakapan Arai dengan Ikal, “Orang seperti kita ini takkan bisa hidup tanpa mimpi.” Benar sekali perkataan Ikal tersebut, dengan mimpi manusia akan memiliki tujuan hidup yang jelas. Sebaliknya tanpa mimpi, maka hidup orang akan menjadi tak jelas, seakan orang yang tak hidup.

Jika Anda pembaca buku Gagas Media dan Bukune. Bisa jadi Anda tidak tahu siapa orang di balik kesuksesan kedua penerbit tersebut. Dialah Hikmat Kurnia. Dia lulusan S-1 Jurusan Sejarah Universitas Padjajaran Bandung. Hikmat mengawali karirnya menjadi seorang editor di sebuah penerbit.

Setelah beberapa tahun, dari posisi editor Hikmat terus melonjak naik hingga menjadi derektur. Sebuah kerja keras yang inspiring. Namun, dia adalah seorang yang memiliki mimpi. Maka, kenyamanan yang dia peroleh ketika menjadi direktur harus dia lepas. Hikmat resign, berniat menjadi enterpreuner.

Hikmat membuat sebuah penerbit Agromedia Pustaka pada tahun 2001 dengan modal nekat. Bayangkan saja karyawan pertamanya hanya seorang office boy. Lalu untuk semua pengerjaan penerbitan dia lakukan sendiri. Seperti mencari naskah, mengedit naskah, mencari penulis, membawa naskah ke bagian reparasi, percetakan, hingga akhirnya dibawa ke toko buku.

Hikmat mau memulai semua dari nol dan dia bekerja keras sendiri karena dia memiliki mimpi. Menurut Hikmat memiliki impian itu penting. Namun, mempunyai impian saja tidak cukup. Impian itu harus diusahakan semaksimal mungkin agar terwujud. Caranya dengan focus dan milikilah perencanaan yang detail, selain tentunya komitmen yang kuat hingga impian tersebut tercapai (halaman 80).

Di awal-awal penerbitnya berdiri Hikmat membidik penulisan buku pertanian yang masih sedikit dilirik oleh penerbit lainnya. Namun, ada dua penerbit yang cukup bisa menjadi saingan. Akhirnya Hikmat melakukan riset kecil-kecilan. Hasil risetnya menunjukkan, penerbit pertama lamban dalam menerbitkan buku pertanian. Sedangkan, penerbit kedua sudah sangat tua dan seperti tidak bergairah lagi menerbitkan buku.

Dari ini Hikmah melakukan aksinya. Agar cepat menerbitkan buku pertanian dan tanpa menunggu petaninya sendiri yang menulis, Hikmat mencoba menulis sendiri. Hikmat memadukan dunia kerja jurnalistik ke dalam penerbitan buku. Dia mencari narasumber lalu diwawancara. Nah,  hasil dari wawancara itu yang kemudian dijadikan buku. Hikmat menang cepat menerbitkan buku pertanian dari kompetitornya.

Seiring berkembangnya penerbit yang dia miliki. Hikmat melirik bidang lain dalam penerbitan. Hingga sekarang Hikmat telah memiliki 17 perusahaan penerbitan termasuk Gagas Media dan Bukune, dengan 12 cabang di seluruh Indonesia, 5 distributor, 1 event organizer dan 700 orang karyawan (halaman 79).

Kalau Anda sering online, Anda pasti tahu Kaskus. Namun, seperti kisah sebelumnya bisa jadi Anda pun tidak tahu siapa orang dibalik terkenalnya Kaskus. Dialah Andrew Darwis. Ketika lulus SMA tahun 1998, Andrew yang memang sudah memiliki minat ke arah web design mencari sekolah yang tepat dengan apa yang dia minati.

Karena waktu itu di Indonesia masih belum ada yang bagus, Andrew memutuskan melanjutkan sekolah di Art Institute of Seattle, Jurusan Multimedia and Web Design. Ketika di Seattle dia melihat banyak orang Indonesia yang kangen Indonesia. Karena itu dia dan dua temannya membuat portal berita tentang keadaan Indonesia.

Setiap hari Andrew dan kedua temannya mengisi portal berita tersebut. Dia mengambil berita dari CNN dan lainnya kemudian diterjemahkan dan dimuat di portal berita yang dibuat. Namun, lama-kelamaan kedua temannya merasa ini hanya sia-sia juga melelahkan mereka mengundurkan diri dan sejak itu hanya Andrew yang mengurus portal tersebut.

Andrew pun mengubah konsep news portal menjadi semacam komunitas, forum board; di mana orang-orang bisa saling berinteraksi, post artikel dan sebagainya. Andrew pun membeli sebuah software yang bisa membantunya mengelola web. Software ini bisa menghitung secara otomatis orang yang berkunjung, mengatur posting, reply, dan lainnya.

Awalnya hanya teman-teman dekat Andrew saja yang mengunjung Kaskus. Yang rame saat itu forum game-nya. Waktu itu lagi ramenya “counter strike”. Setelah menjadi online community Andrew lebih ringan kerjanya. Hanya manage server dan forumnya saja.

Pada tahun 2007 Andrew memutuskan mengundurkan diri sebagai programmer di Lyrics.com. Dia ingin full time mengurusi Kaskus, karena dia melihat Kaskus memiliki masa depan yang cemerlang. Pada tahun 2008, Andrew yang juga lulusan Master of Computer Science di Seattle University ini diajak pulang ke Indonesia oleh sepupunya, Ken.

Ken menganggap masa depan Kaskus di Indonesia akan semakin baik. Setelah memikirkan matang-matang melihat 90% pengunjung Kaskus memang tinggal di Indonesia. Akhirnya Andrew pun memutuskan akan memindahkan server Kaskus dari Seattle ke Indonesia (halaman 6).

Namun, keputusan apapun pasti ada resikonya. Pada minggu yang sama kepindahan server ke Indonesia, undang-undang pornografi telah disahkan oleh pemerintah. Waktu di Seattle hanya ada online child pornoghrapy, jadi tidak heran ada forum yang cenderung vulgar di Kaskus. Andrew bingung, akhirnya dia menghapus forum itu. Ternyata, setelah forum itu dihapus, Kaskus malah tambah rame.

Ujian tidak hanya sampai disitu, hacker juga membuat Kaskus hilang semua data di dalamnya. Akhirnya Andrew harus mengisi sedikit-sedikit, bahkan para Kaskusers pun mau meng-update lagi postingan lama mereka. Setelah itu melihat masalah yang ada di Kaskus selama ini, akhirnya Andrew merasa perlu adanya rebranding. Dengan relasi yang ada, Andrew meminta para artis untuk memakai kaos Kaskus. Ini sebuah cara agar image Kaskus lebih bersih, dari inilah pandangan masyarakat terhadap Kaskus pun berubah (halaman 8-9). Sehingga bisa kita lihat sampai sekarang Kaskus menjadi numero uno di Indonesia.

Buku Billy Boen yang menjadi seri dari buku best seller Young On Top ini masih setia dengan warna kuning. Billy menulis pertemuannya dengan orang-orang inspiratif dalam buku ini ketika acara on-air Young On Top di radio KIS FM 95.1. Secara sistimatika ada 21 kisah tokoh sukses di dalamnya. Selain kisah di atas ada juga kisah-kisah inspiratif lainnya seperti Prayugo Gunawan yang mau berlelah berkarir dari bawah hingga menjadi seorang Presiden Director PT Amerta Indah Otsuka (Pocari Sweat & Soyjoy). Ada juga kisah Staf Khusus Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. Firmanzah yang akan menginspirasi pembaca.

Mengutip perkataan Direktur Utama PT Net Mediatama Indonesia Wishnutama dalam endorsement-nya dalam buku ini, “Buku ini sangat inspiratif dan sangat baik sekali bagi kita semua untuk menjadi sukses, bukan hanya dalam karier, melainkan juga dalam menjalani kehidupan.”

gambar diambil dari sini

(20-Dimuat di Indoleader.com 16 Februari 2014)


Filed under: Biografi, Bisnis, Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Cinta, Indoleader.com, Inspirasi, Inspiratif, Motivasi, Non Fiksi, Resensi Buku Tagged: bentang, bentang pustaka, billy boen, buku, buku 2013, inspiratif, nonfiksi, pemuda sukses, resensi buku

Jangan Paksa Aku Menyerah

Perjuangan Melawan Kanker Payudara

cover Jangan-Paksa-Aku-Menyerah

cover jangan paksa aku menyerah

Judul                            : Jangan Paksa Aku Menyerah

Penulis                          : Ida Cholisa

Penerbit                       : Metagraf (Penerbit Tiga Serangkai)

Tahun Terbit                : Pertama, Januari 2013

Jumlah Halaman          : 148 halaman

ISBN                           :  978-602-9212-69-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

Kanker sampai saat ini menjadi penyakit yang banyak memakan korban. Terutama kanker payudara yang menjadi momok menakutkan bagi banyak perempuan. Sehingga menyebabkan sebagian mereka menjadi pesimis dalam hidup setelah tahu bahwa mereka terjangkit penyakit kanker.

Kisah seorang guru bernama Ida Cholisa menjadi salah satu di antara perempuan yang terkena kanker tetapi masih bisa bangkit dan akhirnya terbebas dari penyakit tersebut. Ida terlahir di Jawa Tengah dari 8 orang bersaudara. Bapaknya adalah seorang guru. Karena keterbatasan finansial keluarga Ida menjadi ulet dan kreatif, dengan menjual yang menghasilkan.

Setelah menikah Ida tetap memiliki bisnis sampingan. Apalagi setelah suaminya sakit jantung, dia menjual obat-obatan herbal. Pelanggannya begitu banyak, sehingga waktu itu dia banyak belajar arti kehidupan dan perjuangan dari setiap penyakit yang diderita pelanggan obat herbal jualannya (halaman 5).

Jiwa enterpreunernya ternyata menurun pada anaknya, walau masih sekolah anaknya minta berjualan permen cokelat yang dijual ibunya. Ida tak bisa menolak, dia memberikan kesempatan pada anaknya untuk mengasah enterpreuner sejak dini. Selain memiliki suami yang baik, dua anaknya yang lucu sangat membahagiakan hidupnya.

Namun, kebahagiaan itu seakan terenggut ketika tiba-tiba Ida harus menjadi wanita yang dijangkiti kanker. Setelah mendapati benjolan di dada kanannya, setelah diperiksa berindikasi kanker payudara. Kaget bukan main Ida, penyakit yang tak pernah terbayangkan kini harus ada dalam dirinya. (halaman 40-41)

Dokter menyarankan Ida untuk Bone Scan, namun Ida masih takut untuk operasi dan kemoterapi. Bayangan harus merasakan sakit kemoterapi dan botak tak ingin membayangi dirinya. Namun, suaminya meminta dia untuk mencoba demi kesembuhan. Maka berusahalah dia dan suami mengajukan asuransi pengobatan. Selain itu mereka juga mencari pengobatan alternative tanpa operasi dan kemoterapi.

Dari iklan di televisi akhirnya Ida dan suami mendapatkan sebuah alamat rumah pengobatan alternatif. Setelah diperiksa menurut terapis pengobatan alternatif ternyata hasilnya beda dengan hasill diagnose dokter. Menurut terapis, Ida hanya terkena tumor. Karena orang terkena kanker biasanya kurus, sedangkan Ida waktu itu segar bugar. (halaman 51)

Mereka bingung, namun ada yang lebih mengagetkan ramuan yang ditawarkan terapis harganya mahal sekali, sembilan juta lima ratus ribu rupiah. Namun, karena takut operasi dan kemoterapi, Ida lebih memilih pengobatan alternatif.  Demi sebuah kesembuhan yang diimpikan, Ida sampai menggadaikan koin emas yang dia tabung (halaman 65).

Setelah Ida mencoba untuk melakukan pengobatan alternatif, namun belum ada hasil apa-apa. Dengan keteguhan hati ingin kesembuhan, Ida mencoba memberanikan diri untuk kembali ke dokter. Dia berharap, semoga dengan pengobatan dokter, dia bisa sembuh.

Ida memberanikan melakukan kemoterapi pertama. Sampai kemoterapi keempat, Ida melakukan operasi. Setlah operasi. Ternyata ujian belum meninggalkan  Ida, malah bertambah. Ibu Ida meninggal dunia (halaman 127). Kemoterapi terus berlanjut hingga ketujuh. Namun, sebelum itu anaknya harus sakit tipus.

Hingga akhirnya, ada waktunya Ida sembuh> Waktu yang indah setelah perjuangan bangkit dari penyakit yang sangat menakutkan dan berbagai ujian kehidupan yang mengitari hidupnya. Tak pelak, kisah dalam buku setebal 148 halaman ini, akan memberikan inspirasi bagi siapapun, terutama bagi penderita kanker juga. Bahwasanya, perjuangan, usaha dan doa harus tetap ada dalam sebuah kehidupan. Walau waktu hidup seperti mau habis. Buku yang sangat inspiratif. Selamat membaca!

resenji jangan paksa aku menyerah

dok pribadi

gambar diambil dari sini

Dimuat di Jateng Pos
(11-Dimuat di Jateng Pos 12 Januari 2014)


Filed under: Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Cinta, Inspirasi, Inspiratif, Jateng Pos, Motivasi, Non Fiksi, Otobiografi, Resensi Buku Tagged: buku, buku 2103, hidup, ida cholisa, inspiratif, islam, kanker payudara, kesehatan, kesembuhan, kisah inspiratif, kisah nyata, metagraf, motivasi, muhasabah cinta, nonfiksi, otobiografi, perjuangan, resensi buku, sehat, syukur, tiga serangkai

Mensyukuri Hidup Agar Bahagia

cover sejenak-hening

cover sejenak-hening

Judul                            : Sejenak Hening

Penulis                          : Adjie Silarus

Penerbit                       : Metagraf-Tiga Serangkai

Tahun Terbit                : Agustus, 2013

Jumlah Halaman          : 310 halaman

ISBN                           :  978-602-9212-85-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

If you let go a little, you will have a little peace. If you let go lot, you will have a lot peace.” Begitu kata Ajahn Chah. Eckhart Tolle juga mengatakan kita menciptakan dan mempertahankan masalah karena masalah tersebut memberi identitas siapa diri kita sebenarnya. Sehingga, seringkali tanpa sadar kita menikmati masalah yang kita alami, meskipun masalah itu di luar kemampuan kita.

Apakah ada yang salah dengan masalah yang menghampiri kita? Jika membaca perkataan Eckhart Tolle, menurut dia masalah memiliki nilai positif yakni agar kita tahu siapa identitas kita sebenarnya. Bahkan, dia mempertahankan masalah tersebut sesuai perkataannya.

Sebenarnya, perkataan itu tidak salah. Karena, sejatinya hidup ini adalah gudang masalah. Di mana-mana kita akan menemukan masalah. Masalah akan selalu mengiringi hidup manusia. Mustahil ada manusia yang hidup tanpa masalah. Karenanya, di dunia ini semakin banyak jasa-jasa untuk menghindarkan manusia dari masalah. Seperti motto Pegadaian, mengatasi masalah tanpa masalah.

Namun kebanyakan kita malah stres dengan adanya masalah. Sehingga menyebabkan kita lesu, tanpa semangat meneruskan hidup bahkan sakit. Maka, menurut Adjie Silarus dalam bukunya Sejenak Hening, walau masalah itu membuat kita marah, sedih, dan lain sebagainya yang bersifat negatif itu. Kita bisa mengambil kekuatan dari kelemahan tersebut, jika kita bisa mengolah rasa tersebut (halaman 233).

Jika tidak bisa mengolah rasa tersebut, maka akibatnya akan menjadi stress dan itu bahaya sekali jika sampai menjadi stress berat. Karena dalam sesi tanya jawab di buku ini yang dijawab oleh Deborah Dewi (CIA Handwriting Analyst) mengatakan bahwa stres menjadi pemicu utama orang menjadi terjangkiti kanker. Informasi ini Deborah dapat langsung dari para penderita kanker ketika mengunjungi dan berbicara dengan mereka (halaman 270).

Jadi bagaimana agar masalah kehidupan tidak menjadi bukan masalah dalam diri kita? Dalam buku ini Adjie juga member konsep teori untuk itu, yakni dengan cara ‘terima dan kasih’. Konsep ini menjadi kebalikan konsep yang banyak orang tentang banyak memberi. Seharusnya,  selain kita belajar member sebaiknya kita pun belajar kebalikannya yakni belajar menerima. Kenapa?

Karena, ketika kita ingin belajar memberi biasanya masih ada ganjalan yang menggagalkan niat untuk memberi. Karena itu, sebelum membiasakan memberi, belajar menerima akan membantu kita untuk memberi. (halaman 142)

sejenak hening di jateng pos 22 des 13

dok pribadi

Namun, menerima pun bukan sekedar menerima. Menerima yang paling dasar adalah menerima diri sendiri, apa adanya diri kita. Sebagai ilustrasi, ada seorang yang berpenghasilan Rp1 juta dalam sebulan mau sedekah, sedangkan yang berpenghasilan Rp10 juta tidak mau sedekah.

Mengapa bisa terjadi seperti itu? Menurut Adjie, hal itu bisa terjadi karena yang berpenghasilan 1 juta sudah menerima dirinya apa adanya bahwa pendapatan tiap bulannya Rp1 juta. Sedangkan yang berpenghasilan Rp10 juta belum menerima dirinya bahwa pendapatan tiap bulannya Rp10 juta. Kekayaan yang berlimpah belum tentu menjadi faktor orang bisa menerima dirinya sendiri apa adanya.

Maka dari itu Adjie memberikan kebiasaan agar menjadi penerima. Pertama, membiasakan diri  berterima kasih. Berterima kasih atas segala hal, kecil maupun besar. Misal saja, biasa mengucapkan terima kasih kepada tukang parkir yang menjaga sepeda motor atau mobil kita.

Kedua, mengingat dan kalau perlu menuliskan anugerah-anugerah yang kita peroleh dalam hidup. Tentu banyak sekali anugerah yang kita dapatkan dalam hidup ini, sekecil apapun itu. Salah satunya, masih bisa bernapas hingga detik ini. Namun seringkali kita masih memprotes hal-hal yang terjadi karena tidak sesuai dengan keinginan. Mari diingat anugerah yang ada!

Terakhir, terbuka. Maksudnya, jujur akan situasi atau kondisi yang kita alami. Kalau memang baru sedih, ya kita harus mengakui bahwa kita baru sedih. Untuk mengatasi perasaan sedih diawali dengan menerima dengan jujur bahwa kita baru sedih. Memang dibutuhkan keberanian.

Akhirnya, Sebenarnya inti dari berterima kasih adalah mau bersyukur akan apa yang dimiliki pada detik ini. Mari benahi diri dengan rasa syukur.  Tak pelak, saya merekomendasikan buku 310 halaman yang sangat inspiratif ini. Buku Adjie ini tidak sekedar berisi kumpulan renungan-renungan kosong. Namun, memberi arti dan motivasi  bagi diri, untuk menghadapi hidup lebih optimis dan bahagia. Selamat membaca!

(75-Resensi Buku 2013-Jateng Pos 22 Desember 2013)


Filed under: Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Cinta, Inspirasi, Inspiratif, Jateng Pos, Motivasi, Non Fiksi, Resensi Buku Tagged: adjie silarus, bahagia, buku, cinta, inspiratif, kisah inspiratif, metagraf, mimpi, motivasi, nonfiksi, syukur, tiga serangkai

Belajar Kreatif Dari Orang-Orang Top Inspiratif

Top Words di Tribun Jogja 6 Oktober 2013

Top Words-Tribun Jogja

Judul                            : Top Words

Penulis                          : Billy Boen

Penerbit                       : B-First (Bentang Pustaka)

Tahun Terbit                : Pertama, Juni 2013

Jumlah Halaman          : 194 halaman

ISBN                           :  978-602-8864-78-7

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Banyak orang mengatakan hidup adalah pilihan, menjadi apapun manusia bebas memilih. Kendati demikian, manusia pasti memilih menjadi sukses. Tidak ada manusia yang memilih tidak sukses. Namun, tidak semua orang yang memilih menjadi sukses berani untuk menjadi sukses.

Berani mencoba lebih baik walau salah, ketimbang tidak melakukan apa-apa, kata tersebut cocok menjadi gambaran dari seorang Prayugo Gunawan. Prayugo merupakan lulusan jurusan Industrial Engineering, Institut Teknologi Nasional di Malang.

Setelah lulus dia mendapatkan tawaran kerja di sebuah pabrik di Bekasi. Dengan semangat muda, dia rela berangkat sendirian naik bus untuk wawancara pekerjaan tersebut. Setelah diterima dia baru tahu kalau gajinya kecil. Banyak orang yang menganggap dia bekerja di tempat yang salah, bahkan ayahnya menyuruh dia tidak mengambil pekerjaan tersebut. Tetapi Prayugo tidak mau, dengan alasan dia ingin mencoba dirinya sendiri, seberapa kuat dia hidup dalam keadaan sengsara.

Aneh, tapi itulah sebuah pilihan, life is about making choices. Karena Prayugo sudah memilih, maka jika pilihannya salah dia akan menerima dan belajar dari kesalahan tersebut agar tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali sekaligus menjadi lebih baik. Menurut Prayugo melakukan kesalahan itu tidak apa-apa, itu sesuatu yang wajar. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Melakukan kesalahan bukan akhir dari semua; it’s not the end of the world (halaman 146).

Banyak orang takut untuk mengambil keputusan, Prayugo memberikan cara paling mudah agar yakin dalam mengambil keputusan. Yakni dengan cara membayangkan risiko yang mungkin diterima nantinya. Jika siap menanggung risiko yang dibayangkan, maka putuskan. Jangan takut, karena ketakutan akan membuat kita nggak bisa menjalani hidup dengan maksimal (halaman 152).

Prayugo menyarankan agar membiasakan kritik dalam sebuah perusahaan. Jika Anda seorang pemimpin tidak mau dikritik, maka itu akan membahayakan karena akan selalu merasa benar sendiri. Nah, siapa sangka karena keberanian Prayugo tersebut, menjadikannya sebagai Presiden Director PT Amerta Indah Otsuka (Pocari Sweat & Soyjoy).

Kisah Prayugo ini dirangkum oleh Billy Boen dalam bukunya yang masih setia dengan warna kuning, Top Words. Buku ini adalah kumpulan kisah orang-orang sukses di Indonesia yang pernah Billy undang ke acara on airnya di KIS FM 95.1, Young On Top Live. Buku ini memuat 21 kisah nyata kesuksesan anak negeri.

(59-Resensi Buku 2013-Tribun Jogja  6 Oktober 2013)


Filed under: Biografi, Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Inspirasi, Inspiratif, Motivasi, Non Fiksi, Resensi Buku, Tribun Jogja Tagged: b first, bentang, billy boen, inspiratif, kisah inspiratif, mimpi, motivasi, nonfiksi, youn on top

Cara Tepat Menemukan Jodoh Dunia Akhirat

Judul                            : Jodoh Dunia Akhirat

Penulis                          : Ikhsanun Kamil dan Foezi Citra Cuaca

Penerbit                       : Mizania

Tahun Terbit                : Pertama, Juni 2013

Jumlah Halaman          : 288 halaman

ISBN                           :  978-602-9255-62-1

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Jurnalistik Club Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Di dunia ini ada tiga hal yang diyakini masih misteri, rezeki, jodoh dan hari kematian. Tidak ada satupun di dunia ini yang mengetahui, bahwa hari ini rezeki saya seratus ribu rupiah, saya berjodoh dengan wanita yang bernama ini dan saya mati pada hari, tanggal, bulan, dan jam segini. Semua itu hanya diketahui yang menciptkan manusia.

Bicara soal jodoh, semua manusia yang normal ingin mendapatkan jodoh. Lebih dari itu, tidak sekedar ada jodoh, namun juga berharap jodoh yang baik, cantik, kaya juga salihah. Namun, hal tersebut tidak bisa dibilang mudah. Apalagi jika mencarinya dengan cara pacaran. Menurut dua penulis buku ini Canun dan Fu, jelas nanti tidak akan mendapatkannya.

Pacaran yang dewasa ini dijadikan alternatif ‘para pencari jodoh’, sebenarnya tidak menjamin pelakunya akan mendapatkan jodoh. Apalagi jodoh yang baik, sulit. Karenanya ada perkataan, “Dengan pacaran seseorang tidak akan mendapatkan istri yang baik, mendapatkan pacar yang baik mungkin.”

Coba saja perhatikan sekitar, ada yang sudah pacaran bertahun-tahun setelah berumah tangga pun nggak sampai setahun. Fakta di lapangan membuktikan, Dari 2.000.000 pernikahan yang terjadi pada tahun 2012, sebanyak 258.184 pasangan memilih untuk bercerai menurut Dirjen Bimas Islam Kemenag RI (halaman 32).

Tak pelak, dua penulis ini mengatakan bahwa cara mencari jodoh dengan pacaran adalah cara sesat. Nah, dalam buku ini penulis memberikan cara yang benar bagaimana cara mendapatkan jodoh yang tepat, tidak hanya sebagai jodoh di dunia tapi juga di akhirat.

Cara pertama adalah cleansing. Sesuai artinya yakni pembersihan. Nah, apa yang harus dilakukan pembersihan? Diri kita. Dalam kata lain, kita melakukan penyucian diri. Menurut penulis, ada beberapa hal yang menghambat seseorang untuk mendapatkan jodohnya, dan insya Allah dengan penyucian diri hambatan tersebut akan hilang.

Beberapa diantaranya adalah kesalahan-kesalahan kepada orang tua. Tidak hanya, sikap yang kurang baik terhadap keduanya, namun keganjalan terhadap mereka yang pernah ada di hati harus dihilangkan kemudian meminta maaf. Selain itu kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan kepada orang lain. Orang yang pernah mendzolimi termasuk sikap balas dendam kita kepada orang lain, termasuk orang yang pernah kita cintai yang ternyata mengkhianati tiba-tiba.

Selain kedua hal tersebut, ada hambatan yang menyulitkan seseorang untuk mendapatkan jodoh, yakni dirinya sendiri. Pembersihan diri, juga harus terhadap diri sendiri, agar bisa berdamai dengan diri terhadap apa yang pernah terjadi di masa lalu. Agar nantinya bisa lebih membuka diri.

Cara kedua adalah upgrading dengan maksud melakukan pembenahan diri. Penulis menyebutkan bahwa upaya memperbaiki diri termasuk upaya memperbaiki jodoh. Karena, cermin jodoh seseorang adalah dirinya sendiri. Sebagaimana dalam Al-Qur’an, surat An-Nur ayat 26. Yang harus diupgrade adalah keilmuan termasuk ilmu menikah dan parenting, kemampuan mencari nafkah, dan juga menyiapkan hati untuk mengarungi bahtera pernikahan yang tidak hanya terdapat keindahan, namun juga ada ombak dan cadas bebatuan (halaman 185).

Cara terakhir, adalah selecting. Memilih jodoh tidaklah sembarangan, bukan dengan cara memudahkan apabila ada yang mau maka langsung diiyakan. Namun harus dengan berbagai pertimbangan. Pertimbangan utamanya adalah melihat bagaimana agamanya. Setelah itu, hadirkan Allah dalam proses tersebut dengan media shalat istikhoroh.

Insya Allah, dengan cara yang penulis berikan dalam buku Jodoh Dunia Akhirat ini memberikan kebaikan bagi Anda yang selama ini kesulitan menemukan jodoh. Terutama teori dalam buku ini bukan sekedar teori belaka, karena penulis sudah memperaktikkannya dan bisa menghasilkan buku ini dengan duet. Tentunya, yang sudah menikah pun boleh membaca buku ini, sebagai penambah ilmu. Karena sejatinya, menambah ilmu dan upgrade skill dan hati itu selamanya, sampai tua. Agar kelak bisa mencapai surga bersama-sama.

(58-Resensi Buku 2013-Malang Post  29 September 2013)

IMG_0001

dimuat di malang post (doc pribadi)

IMG_0002

dimuat di malang post (doc pribadi)


Filed under: Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Cinta, Inspirasi, Inspiratif, Keislaman, Malang Post, Motivasi, Non Fiksi, Pernikahan, Resensi Buku Tagged: buku, canun, cinta, fu, jodoh, jodoh dunia akhirat, mizania, motivasi, nonfiksi, pernikahan, romantis

Sewindu Mozaik Cinta Sang Juru Dongeng

Judul                            : Sewindu (Cinta Itu Tentang Waktu)

Penulis                          : Tasaro GK

Penerbit                       : Metagraf (Tiga Serangkai)

Tahun Terbit                : Pertama, Maret 2013

Jumlah Halaman          : 382 halaman

ISBN                          :  978-602-9212-78-5

 

Bagi penikmat buku fiksi karya anak bangsa, pasti mengenal salah satu penulis multigenre Tasaro GK. Penulis yang mengawali karir menulisnya sebagai wartawan, dan kemudian mengakhiri keseharian jurnalisme dengan fokus menulis fiksi. Dari tulisan fiksinya yang best seller seperti Galaksi Kinanti dan Muhammad (Lelaki Penggenggam Hujan) dia dikenal.

Walau selama ini terkenal sebagai penulis karya fiksi, ternyata Tasaro termasuk penulis serba bisa, buku terbarunya yang berjudul Sewindu buktinya. Kali ini Tasaro menulis nonfiksi-otobiografi. Sesuai dengan judulnya, buku ini adalah buku yang dia tulis menceritakan delapan tahun perjalanan hidupnya.

Buku ini terdiri dari dua bab, bab pertama bercerita tentang pernikahan Tasaro dengan istrinya. Awalnya, Tasaro dan Alit Tuti (istrinya) masih menginap di pondok mertua di Cirebon. Ketika itu Tasaro bekerja menjadi wartawan di Radar Bandung (Jawa Pos Grup). Setiap jumat malam Tasaro pulang ke Cirebon datang sabtu pagi dan menghabiskan waktu untuk istirahat karena capek luar biasa.

Bagaimana pun indahnya pondok mertua, bagi pasutri muda hal itu tak nyaman. Begitu halnya dengan Tasaro dan istri. Apalagi jarak antara Cirebon dan Bandung cukup melelahkan jika setiap minggu harus pulang pergi. Akhirnya, Tasaro mencari-cari info tentang rumah yang masih dekat dengan tempat kerjanya dan dengan harga yang tidak terlalu mahal. Setelah menemukan yang cocok, Tasaro pun mengambil ikhtiar. Dia mengikuti  lomba menulis novel yang diadakan oleh FLP (Forum Lingkar Pena), yang total hadiah juara pertamanya bisa untuk membayar rumah yang akan dia beli.

Tak dinyana, apa yang Tasaro harapkan sekaligus sulit bagi dia yang baru saja memulai menulis fiksi memenangkan lomba novel yang diikuti tersebut. Akhirnya, rumah di bukit Gunung Geulis berhasil dia beli. Di rumah mungil itu dia memulai kisah cinta yang unik, lucu, sedih bercampur aduk bersama istri.

Seperti biasanya rumah baru, rumah yang dibeli Tasaro kosong melompong. Barang-barang yang dimiliki di Cirebon juga sedikit walau dibawa semua dan itu masih kurang lengkap. Nah, ketika tidak ada kain gorden untuk menutup jendela kaca, inisiatif unik pasutri ini mengambil kain berbagai warna untuk dijadikan gorden, alhasil jadilah tiga jendela dengan gorden warna-warni (halaman 23).

Sebagaimana pasutri muda lainnya, pasti ada saja hal kecil yang memicu gesekan emosi antara keduanya. Suatu ketika Tasaro dan Alit  baru saja datang dari menjenguk ibunya di Cirebon. Setelah sampai di rumah dan capek perjalanan, Tasaro pun ingin segera istirahat dahulu, sedangkan Alit adalah orang yang tidak suka dengan ketidakberesan rumah mungil mereka. Lantai kotor, piring dan pecah belah banyak yang kotor, dia tidak bisa hanya diam dan segera membereskan hal tersebut waktu itu juga.

“Ya udah, biar saya yang ngepel, akang tidur saja,” itu kata Alit. Karena salah memahami perkataan tersebut akhirnya Tasaro pun merasa tidak bisa tinggal diam, dia mengambil ember diisi air dan disiramlah air tersebut ke lantai. Sesudah itu dia gosok-gosok. Padahal Alit sudah meminta biar dia saja yang mengerjakan, namun Tasaro tidak mendengarkan. Alit jengkel dalam diam.

Setelah selesai Tasaro kembali ke kamar dan membaca buku, namun karena istrinya tidak datang-datang juga. Akhirnya Tasaro menghampiri istrinya yang masih ada di dapur dan sedang mengepel lantai yang tadi sudah dia pel. Rusuh sudah hati Tasaro, merasa apa yang dilakukan tadi tidak ada gunanya. Sejak saat itu mereka masih diam. Hingga Tasaro berusaha memulai karena istrinya yang pendiam tidak mungkin memulai, dan berkatalah istrinya bahwa apa yang dipel tadi sama saja. Karena lantai depan dipel, lantai belakang malah kotor. Inilah butuhnya saling memahami psikologi antara laki-laki dan perempuan, agar hubungan pasutri yang kusut bisa lurus lagi.

Bab kedua buku ini berisi tentang keluarga, orang tua juga perjalanan karya Tasaro selama delapan tahun tersebut. Seperti meninggalnya dua wanita perkasa dalam hidup Tasaro. Umminya dan Mimih, ibu dari Alit. Kepergian keduanya banyak menyisakan kenangan sekaligus sebagai pengingat bahwa dia harus menjadi imam yang baik bagi istri dan anaknya (halaman 192).

Juga lisah perjalanannya dalam berkarya, dari novel Muhammad yang bermula dengan semangat yang menggebu akan kerinduannya pada makhluk paling terpuji tersebut, Nibiru novel fantasi bersetting Indonesia yang dibaca mulai anak kecil hingga dewasa, juga perjalanannya membuat Kampoeng Boekoe, sebagai upaya meningkatkan budaya literasi di bumi Indonesia.

Bagi pembaca buku-buku karya Tasaro mungkin tahu, jika ditelisik bab pertama buku ini dulunya adalah buku dengan tema pernikahan karya Tasaro: Ini Wajah Cintaku Honey. Setelah delapan tahun, ditambah dengan naskah bab kedua buku tersebut terbit kembali dengan judul Sewindu. Bagaimana Tasaro memaknai pernikahannya, buku ini layak dibaca oleh pasutri dan maupun yang masih lajang. Bagaimana Tasaro memaknai perjalanan menulisnya, maka yang ingin menjadi penulis layak menjadikan buku ini menjadi buku inspirasi untuk terus menekuni dunia literasi. Mozaik cinta Tasaro benar-benar menginspirasi! [Muhammad Rasyid Ridho, Ketua Journalistic Club Ikom UMM dan anggota  Forum Lingkar Pena Malang Raya. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UMM.]cover Sewindu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(57-Resensi Buku 2013-Annidaonline 30 September 2013) http://annida-online.com/artikel-8366-sewindu-mozaik-cinta-sang-juru-dongeng.html


Filed under: Annida Online, Biografi, Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Cinta, Inspirasi, Inspiratif, Kepenulisan, Motivasi, Non Fiksi, Otobiografi, Pendidikan, Pernikahan, Resensi Buku Tagged: buku, cinta, kisah inspiratif, menulis, metagraf, mimpi, motivasi, pernikahan, tasaro, tiga serangkai