REVIEW Sell Your Soul

Kepedihan ini bagai laut menggelora diterpa badai, melontarlkanku dari satu dunia ke dunia lain, membenamkan ke dasarnya yang dingin dan gelap, tanpa belas kasihan, tidak memberiku udara untuk bernapas. Rasa sakit ini serupa sayatan belati, merobek dadaku dan menumpahkan darah merah, kental, amis. Mengalir deras, terus, dan terus, sehingga kematian adalah anugerah tak terkira. (hlm. 76)

Cerpen pembuka adalah SETERU yang ditulis oleh Bintang Berkisah. Tentang hubungan anak dengan ibu tirinya. Memang tidak mudah untuk menerima orang baru di kehidupan kita. Sangat berbeda seorang yang akan kita panggil ibu hanya karena status perkawinan dengan ayah kita dengan ibu yang melahirkan kita. Beda jauh. Tapi itu mungkin tidak bisa dibandingkan. Manusia kembar saja beda, apalagi orang yang benar-benar berbeda.

“Siapa yang peduli jika aku terisak lantaran mengingat ibuku? Aku merindukan kehangatan, pelukan, senyuman, dan kesabarannya, yang tertatah sempurna di jiwaku. Bahkan ketika sakit teramat parah, ia memilih menahannya demi mencipta senyum untukku. Ah, ibu takkan pernah tergantikan oleh siapa pun, apalagi perempuan itu.” (hlm. 2)

Di dunia ini siapa yang tidak pernah mengalami kegagalan? Keputusaasaan? Perasaan hancur, letih, kecewa? Hampir tidak ada. Karena itu buku antologi ini menyoroti perilaku manusia saat mengalami perasaan seperti itu. Ada orang-orang yang bisa berdiri kembali karena punya keteguhan hati, ada orang yang akhirnya menjadi pecundang, tidak pernah bisa menghadapi itu, bahkan menjual jiwa pada kekuatan lain

Cerpen-cerpen dalam buku antologi ini memiliki benang merah sosok Athena yang datang karena panggilan mereka lewat magic words. Athena akan memberikan sesuatu sebagai alat di pemanggil mewujudkan keinginan mereka. Adapun dibawa kemana baik-buruknya diserahkan pada masing-masing pemanggil.

Selain ada Athena yang muncul di setiap cerita, kita juga akan menemukan sebuah kalimat yang juga akan ditemui dalam setiap cerita; Aku tidak mau merasakan sakit seperti ini lagi. Aku akan melakukan apa saja. Apa saja! (semacam kalimat rapalan)

Buku antologi ini terdiri dari 15 cerita dengan gaya penulisan yang berbeda dan khas setiap penulis. Semua cerpen cenderung absurd, saya suka banget cerpen absurd-absurd seperti ini.

KEMATIAN BIDADARI MATA BIRU

Dengan langkah hati-hati, aku dekati Krisna yang terlihat terlelap dengan posisi duduk bersandar. Tanpa perasaan ngeri dan ragu, aku pun menggunting dua kali leher Krisna. Kepala Krisna pun putus… jatuh menggelinding di lantai. (hlm. 24)

KEEP SILENT!

Lalu terlihat ujung gergaji mesin menembus kotak kayu, semakin masuk dan hampir menyentuh kulitku. Insting mempertahankan diri membuatku refleks menendang tutup kotak kayu, Rey mati dengan gergaji mesin menembus jantungnya. (hlm. 33)

SIAPA PUN, TOLONG HENTIKAN AKU!

Lamat-lamat Deri bangun dari tidur berjalan sempoyongan menghampiri Pak Dimas, tangannya menggenggam cutter, perlahan memotong bagian lehernya. Darah berceceran, Deri terus memotong lehernya sendiri. Mulut Deri bergerak-gerak mengeluarkan suara memilukan. (hlm. 35)

Ceritanya semua menegangkan. Baca ini pas ngawas ujian TO. Karena pas baca ini gak nyadar megangin perut karena mules baca cerita-cerita yang bikin ngilu, malah dikira murid-murid unyu kalo saya lapar x)

Beberapa kalimat favorit:

  1. Cinta hanya perlu dimengerti oleh hati masing-masing. (hlm. 4)
  2. Hidup yang begitu singkat sangat sayang kamu gunakan untuk balas dendam. Hidup dalam dendam lebih mengerikan dari kematian. (hlm. 32)
  3. Niat baik akan membuahkan akibat yang baik pula. Karena, niat adalah gerbang batin menuju ke berbagai tempat yang bertebaran di kepalamu. (hlm. 21)
  4. Jangan takut miskin sebab kehidupan itu tidak pernah berhenti meskipun raga dan jiwa kamu terpisah. (hlm. 19)

Ini kali pertama baca buku terbitan Chibi Publisher, dan langsung suka. Sepertinya genre yang diambil anti manstream ya buku-bukunya, jadi penasaran juga pengen baca Marshmallow-nya Evi Sri Rezeki nih! ;)

Keterangan Buku:

Judul                     : Sell Your Soul

Penulis                 : Poppy D. Chusfani, Evi Sri Rezeki, Eva Sri Rahayu, dll.

Desain cover      : Evi Sri Rezeki

Layout isi             : Sandy Muliatama

Editor                    : Eva Sri Rahayu

Penerbit              : Chibi Publisher

Terbit                    : 2012

Tebal                     : 128 hlm.

ISBN                      : 978-979-25-4859-4

Indonesian Romance Reading Challenge 2014 http://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Short Stories Reading Challenge 2014

http://luckty.wordpress.com/2014/01/18/short-stories-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

http://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

2014 TBBR Pile – A Reading Challenge

http://luckty.wordpress.com/2014/01/02/2014-tbbr-pile-a-reading-challenge/


REVIEW Malaikat Jatuh

“Selamat datang di Negeri Debu. Negeri tempat mahluk tak bertubuh dan tak berupa. Di sini kamu bersahabat dengan siapa saja. Hidup berdentam penuh gairah. Ada keriangan yang meluap-luap tanpa tepi. Lupakan segala yang ada di atasmu, turunlah kemari, dan jadilah bagian dari komunitas ini. Di sini waktu bukanlah sang penguasa. Begitu juga ruang. Kamu akan selamanya menjadi muda pada malam, siang, dan senja. Mari, jangan ragu. Selipkan kakimu. Dorong tubuhmu perlahan-lahan. Hati-hati kepalamu, Sayang. Jangan sampai terbentur.” (hlm. 66)

Negeri Debu ternyata sangat menyenangkan. Di sana penuh dengan mahluk-mahluk halus berwarna-warni. Mereka senang menenun debu menjadi deretan benang-benang halus berwarna keperakan yang jatuh memancarkan kilat cahaya. Debu-debu itu dijadikan alat untuk bermain-main, dijadikan alat untuk bermusik, dan dijadikan alat untuk berayun-ayun malas. Belum pernah Lucinda melihat debu seindah debu di Negeri Debu. Ibu selalu membenci debu. Di mana-mana debu selalu diberantas. Debu membuat alerginya kambuh, kata Ibu dulu. Debu juga akan membuat sinus Lucinda semakin parah dan akhirnya harus mengunjungi dokter. Dokter spesialis anak mahal. Ibu tidak sanggup membawa Lucinda berkonsultasi tentang kondisi medisnya ke dokter spesialis anak.

Memang Lucinda hanya bocah cilik yang ingusnya masih berlelehan di hidung akibat penyakit sinus yang dideritanya. Sinus yang seharusnya dijaga dan dirawat dengan baik oleh Ibu agar tidak kambuh. Sinus yang seharusnya ditangani oleh dokter spesialis anak yang kompeten, bukan oleh tabib tak jelas yang berpraktik di ujung gang kampung yang rumahnya tergenang air saat hujan. Sinus yang seharusnya dapat sembuh jika saja debu-debu di rumah reyot Ibu dapat diberantas.

Sejak usia enam tahun, Lucinda telah tahu sesuatu tentang ibunya. Tiap malam Ibu keluar rumah. Katanya mencari uang untuk makan dan sekolah Lucinda, walaupun sudah sebulan Lucinda tidak sekolah karena Ibu belum sanggup melunasi utang biaya seragam dan buku. Lucinda menunggu Ibu dengan sabar di ranjang reyot mereka. Tengah malam Ibu terkadang pulang. Jika Ibu pulang, Lucinda pura-pura tidur, mengkhayal ibu akan memeluknya dan membisikkan kata-kata penuh kejutan. Tapi boro-boro sentuhan sayang, Ibu hanya menggeser Lucinda ke samping, membopongnya turun dari ranjang. Lucinda diletakkan di bawah ranjang sementara Ibu memanjat ranjang miliki mereka berdua bersama seseorang lagi yang sosoknya selalu berbeda-beda tiap malam.

Membaca cerpen Negeri Debu ini mengingatkan beberapa cerpen yang pernah saya baca, sama-sama mengangkat tema antara ibu yang (terpaksa) menjadi perempuan malam dengan anak perempuan yang menjadi saksi mata kehidupan kotor ibunya.

Saya langsung teringat cerpen Pelajarang Mengarang (dimuat di harian Kompas, 5 Januari 1992. Terpilih sebagai Cerpen Pilihan Kompas 1993) yang ditulis Seno Gumira Ajidarma. Dikisahkan tentang Sandra yang sedang bingung tentang apa yang harus ditulisnya untuk mengerjakan tugas pelajaran mengarang tentang sosok ibu. Simak penggalan kalimat ini: Wanita itu barangkali mengira, karena masih tidur maka Sandra tak akan pernah mendengar suara lenguhnya yang panjang maupun yang pendek di atas ranjang. Wanita itu juga tak mengira bahwa Sandra masih terbangun ketika dirinya terkapar tanpa daya dan lelaki yang memeluknya sudah mendengkur keras sekali. Wanita itu tak mendengar lagi ketika dikolong ranjang Sandra berbisik tertahan-tahan “Mama, mama …” dan pipinya basah oleh air mata.

Kemudian Agus Noor ‘melanjutkan’ dan menuangkan tulisannya dalam Pemetik Air Mata di kumpulan cerpen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia. Tertulis dalam kalimat ini: Dulu, saat ia seusia Bita, Sandra selalu berpura-pura tertidur ketika ada laki-laki keluar-masuk rumahnya. Apakah Bita kini juga pura-pura tak mendengar suara mobil itu pergi?

Satu lagi, dalam kumpulan cerpen Mata Air Airmata Kumari yang ditulis Yudhi Herwibowo ada cerpen Dua Mata Perak mengisahkan pergolakan batin antara sosok ‘Aku’ sebagai ibu dengan anak sematang wayangnya, Aritha. Kedua mata perak itu seakan menusukku, melihat ketelanjanganku. Bahkan aku merasa mata itu juga menembus pintu kamarku, melihat laki-laki yang sedang bertelanjang menantiku di pembaringan (hal.131).

Sebenarnya ada lagi cerpen yang mengangkat tema serupa. Kalo nggak salah di kumcer Antologi Cinta yang diterbitkan oleh Klub Buku. Sayangnya buku tersebut sedang dipinjam, jadi saya tidak bisa mengeceknya. Seingat saya ada cerpen yang juga mengulas hubungan ibu yang berprofesi sebagai ‘perempuan malam’ dan anak perempuannya.

Kumpulan cerpen Malaikat Jatuh ini adalah tulisan pertama Clara Ng yang saya baca. Dulu belinya atas rekomendasi bapak-bapak yang merupakan salah satu pedagang yang buka lapak menjual buku-buku di Palasari. Semenjak itu, saya jatuh hati dengan gaya kepenulisan Clara Ng dan mulai berburu buku-bukunya.

Cinta ibu kepada anak dan cinta anak kepada ibu, inilah bahan dasar kumpulan cerpen Malaikat Jatuh. Karena cinta semacam ini akan menjadi biasa-biasa saja manakala tidak ada dramatisasinya, maka dramatisasi menjadi penting dalam kumpulan cerpen ini.

Dramatisasi menjadi menyenangkan, manakala cinta ibu kepada anak dan cinta anak kepada ibu tidak menyenangkan. Maka, hubungan antara ibu dan anak benar-benar tidak menyenangkan, karena hubungan yang seharusnya wajar diganjal oleh serangkaian kematian yang tidak wajar. Bahwa manusia akhirnya mati, ya, tentu saja, tapi kalau kematian ini sekadar kematian, dramatisasi yang menyebabkan kumpulan cerpen ini menyenangkan menjadi tidak menyenangkan, karena, toh akhirnya manusia akan mati pula.

Keterangan Buku:        

Judul                    : Malaikat Jatuh

Penulis                 : Clara Ng

Editor                    : Hetih Rusli

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : Agustus 2088

Tebal                     : 176 hlm.

ISBN                      : 978-979-22-3935-5

Clara Ng Reading Challenge 2014

http://luckty.wordpress.com/2014/01/01/clara-ng-reading-challenge-2014/

Indonesian Romance Reading Challenge 2014 http://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Short Stories Reading Challenge 2014

http://luckty.wordpress.com/2014/01/18/short-stories-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

http://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

2014 TBBR Pile – A Reading Challenge

http://luckty.wordpress.com/2014/01/02/2014-tbbr-pile-a-reading-challenge/


REVIEW Delapan Sisi

Belajar tak hanya tentang apa yang bisa kamu rasa, bisa kamu lakukan, tapi juga apa yang bisa kamu jaga. (hlm. 102)

Praktik aborsi ilegal tidak hanya dilakukan dengan jalan medis, banyak juga tenaga non-medis yang melakukan praktek ini. Dukun beranak, misalnya. Mereka bahkan tidak menggunakan perlatan medis. Ada juga yang hanya dengan melakukan pijatan di sekitar rahim. Jalan lain bahkan hanya menggunakan obat yang dipercaya bisa menggugurkan kandungan. Semudah itu.

Jika bertanya dari kacamata medis –atau bahkan moral, mungkin tindakan aborsi yang dilakukan seorang (calon) ibu bisa dikatakan salah. Tetapi, bukankah janin dalam kandungan itu pun belum punya pilihan? Bukankah ketika berada dalam rahim ibu, ibulah yang menentukan hidupnya? Tidakkah ibu mempunyai hak yang sama untuk menentukan hidup calon bayinya? Ah, tetapi ibu juga bukan Tuhan yang memiliki kewenangan terhadap sesuatu yang bernyawa.

Membaca kepingan-kepingan cerita dalam buku ini mengingatkan saya pada sebuah kasus di kehidupan nyata. Konon, dulu dia daerah saya tinggal ada seorang bidan yang juga melakukan praktek illegal seperti yang dilakukan dr. Urip a.k.a. Sugeng Wicaksono ini. Pintar dan sudah bergelimang harta masih saja melakukan perbuatan yang merenggut nyawa. Sekarang bidan tersebut sudah pindah dan entah bagaimana nasibnya.

Delapan sisi mengemas aborsi dari delapan sisi tokoh, delapan sisi konflik, delapan sisi cerita dan dengan delapan sisi penulis yang berbeda latar belakang.

Banyak kalimat favorit:

  1. “Anak-anak, sih, siap jadi apa saja. Jadi presiden, jadi pilot, jadi dokter. Orangtua mereka saja yang belum siap.” (hlm. 68)
  2. “Anak pendiem memang banyak kejutannya.” (hlm. 43)
  3. Jadi dokter, membantu banyak orang. Ya, memang klise, sih. Tapi, bukankah memang begitu tugas dokter?” (hlm. 98)
  4. “Terkadang menjadi pengajar tidak selalu berhasil menjadi pendidik, tetapi sebaliknyaa, ketika seseorang sudah berhasil menjadi pendidik, maka ia pun sukses menjadi pengajar.” (hlm. 98)
  5. Seseorang hanya akan menjadi pengajar ketika ia sekadar menyampaikan ilmu yang ia punya. Ketika seorang mendidik berarti ia juga memberikan pengajaran moral kepada orang yang dididik. Mendidik itu seperti ibu.

Sejujurnya, saat membaca cerpen yang pertama agak bingung. Ini jalan ceritanya mau kemana. Gantung banget. Belum menemukan apa yang bakal menjadi benang merah dalam omnibook ini. Setelah membaca cerpen kedua dan ketiga, baru ngeh. Jika kita membacanya tidak berurutan setiap cerpen, tidak masalah. Setiap cerpen berdiri sendiri. Diantara delapan cerita, paling suka dengan tulisan Tris – Reisna Kurnia.

Habis baca omnibook ini jadi mikir; betapa hidup selalu dihadapkan pada sebuah pilihan yang harus dilewati. Kita tidak pernah tahu dengan pilihan kita yang sekarang akan berpengaruh terhadap satu, dua atau banyak pihak. Karena manusia bukan sebuah pulau yang hadir sendiri, pilihanmu bukan milikmu saja.

Sebelumnya, saya sudah membaca omnibook terbitan PlotPoint Publishing; Blue Romanceyang bikin melelah dan Siwon Six yang menceritakan enam ‘kembaran’ Siwon. Agak kecewa dengan cover Siwon Six, saya kembali suka dengan cover omnibook terbitan PlotPoint Publishing kali ini. Seorang perempuan dengan posisi seperti janin di dalam rahim, jempol buat Diela Maharanie. Oya, semoga di omnibook selanjutnya bisa menemukan ilustrasi isi seunyu di Blue Romance. Padahal ini bisa dijadikan ciri khas buku-buku PlotPoint Publishing loh. Bookmark unyu menambah poin plus buku ini.

Omnibook ini ditulis oleh Akademi Bercerita (AkTa) PlotPoint angkatan pertama. Masih muda-muda. Kedepannya, berharap Adityarakhman, Astri Avista, MB Winata, Norman Erikson Pasaribu, Prily V, Ridha A Rizki, RF Respaty, dan Riesna Kurnia masing-masing menelurkan novel solo ;)

Keterangan Buku:

Judul                            : Delapan Sisi

Penulis                          : Adityarakhman, Astri Avista, MB Winata, Norman Erikson Pasaribu, Prily V, RidhaA Rizki, RF Respaty, Riesna Kurnia

Penyunting                    : Arief Ash Shiddiq

Pemeriksa aksara         : Septi Wa,Rika Amelina

Ilustrasi sampul            : Diela Maharanie

Penata aksara               : Theresa Greacella, Teguh Pandirian

Ilustrasi naskah            : Matahari Indonesia

Desain                          : Teguh Pandirian

Penerbit                        : PlotPoint Publishing

Terbit                           : 2013

Tebal                            : 173 hlm.

ISBN                           : 978-602-9481-44-0

NB:

Agak terganggu dengan typo yang lumayan banyak dengan tidak adanya spasi di kalimat ini;

  1. ..sertamertamemelukRini. Iasulitmenyembunyikan (hlm. 5)
  2. Iasegeramembangunkankeduaputrinya, …. (hlm. 22)

Dapet tanda tangan salah satu penulisnya:


Blue Romance

Judul: Blue Romance
Penulis: Sheva Thalia
Penyunting: Donna Widjajanto
Perancang sampul: Diani Apsari
Pemeriksa aksara: Primanilla Serny
Penerbit: PlotPoint
Jumlah halaman: 224
Cetakan pertama: September 2012
Harga: Rp. 32.300
*Beli di bukabuku.com*



Ada tujuh kisah mewarnai coffee shop Blue Romance yang diceritakan dalam omnibook yang tidak terlalu tebal ini. Ketujuhnya bukan bercerita tentang cinta yang menye-menye. Ada harapan, kerinduan, kejutan, dan berbagai komponen rasa lainnya menguar bersama aroma kopi yang tersaji di coffee shop ini. Untuk lebih jelasnya, saya akan memberi sedikit bocoran dari empat kisah favorit saya. ;)

1. Rainy Saturday, rasa affogato.
Kisah dari seorang wanita yang memiliki ritual sarapan di hari Sabtu berupa sepiring wafel dengan es krim cookies and cream dan affogato beres krim cookies and cream di meja nomor dua belas Blue Romance. Dia suka semuanya berjalan seperti biasa, tanpa kejutan. Hingga pada Sabtu pagi, saat dia sedang menjalani rutinitas biasanya, hujan turun. Ini membuat indoor Blue Romance semakin penuh dengan banyaknya orang yang dari kafe outdoor pindah ke dalam. Lalu datanglah seorang lelaki mengambil kursi di depannya untuk dipindah ke space yang kosong. Sayangnya space tersebut sudah ditempati orang terlebih dahulu. Dengan spontan wanita itu menawari si laki-laki untuk duduk bersamanya. Sebuah kejutan, yang sejak sesuatu terjadi dalam hidupnya, berubah menjadi hal yang ia benci.
Read more »

Just So Stories

Judul: Just So Stories - Sekadar Cerita
Penulis: Rudyard Kipling
Penerjemah: Maggie Tiojakin
Ilustrasi dan desain cover: Staven Andersen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah halaman: 160
Cetakan ke-1: Desember 2011
Harga: Rp. 25.000
*Beli di Shopping Center Yogyakarta*


Tahukah kamu, kenapa paus tidak bisa memakan manusia? Lalu, bagaimana unta bisa berpunuk seperti yang kita kenal saat ini? Apa pula yang menyebabkan kulit badak penuh lipatan? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu bisa ditemukan dalam kumpulan cerpen ini. Pembaca akan disajikan dua belas cerita pendek yang imajinatif. Dari kedua belas cerita, ada dua cerita favorit saya yang berjudul Surat Bergambar dan Bagaimana Alfabet Dirumuskan.

Surat Bergambar bercerita tentang Taffy yang merupakan anak kesayangan orang tuanya. Suatu hari, Taffy ikut ayahnya, Tegumai, untuk menombak ikan di Sungai Wagai. Mata tombak Tegumai patah dan dia tidak membawa tombak yang lain. Karena mereka tidak bisa menulis, Taffy memutuskan untuk mengirim surat bergambar kepada ibunya dengan bantuan orang asing yang kebetulan melewati mereka. Orang asing itu kemudian mengirimkan surat itu kepada Teshumai, ibu Taffy. Sayangnya, gambar Taffy umm... kurang bagus, sehingga siapa pun yang membacanya kemungkinan akan salah paham, begitu pula ibu Taffy. Apa yang selanjutnya terjadi pada mereka?
Read more »