Solusi Islam Dalam Mengelola Lingkungan

Oke Zone Rabu, 17 April 2013

Solusi Islam Dalam Mengelola Lingkungan


Judul            : Greendeen; Inspirasi Islam dalam Menjaga dan Mengelola Alam 
Penulis          : Ibrahim Abdul-Matin 
Penerjemah   : Aisyah 
Penerbit        : Zaman, Jakarta 
Cetakan        : I, 2012 
Tebal            : 318 Halaman 
ISBN            : 978-979-024-319-4
Peresensi    : Ahmad Suhendra

Banyaknya bencana yang terjadi dibelahan dunia membuat semua orang prihatin. Mulai dari krisis air sampai pada pemanasan global. Semua itu cukup untuk membuktikan bahwa alam sedang mengalami kerusakan. Penyebabnya adalah tindakan manusia yang mengeksploitasi kekayaan alam secara berlebihan.

Padahal, Islam menegaskan bahwa semua manusia adalah penjaga bumi. Islam memberikan banyak inspirasi dalam pengelolaan sumber daya alam. Sejak 14 abad yang lalu, Islam sudah mengajarkan umat untuk peduli kepada alam. Karena Islam tidak hanya menaruh perhatian pada persoalan spiritual dan sosial, melainkan juga menginspirasi umat untuk peduli kepada alam.


Buku bertajuk Greendeen; Inspirasi Islam dalam Menjaga dan Mengelola Alam ini menjawab kegelisahan tersebut. Dengan menyuguhkan masalah dan solusi terkait isu-isu lingkungan yang diambil dari al-Qur’an dan Hadis. Yakni berupa prinsip yang didasarkan atas kesadaran menjalankan Islam seraya berkomitmen kepada lingkungan.

Buku setebal 318 halaman ini menyuguhkan kisah-kisah inspiratif, perjalanan hidup penulisnya, ajakan gaya hidup Islami dan pemikiran terkait kepeduliaan terhadap alam. Bahwa prinsip-prinsip pelestarian lingkungan itu ada dalam Islam. Oleh sebab itu, Ibrahim Abdul-Matin menawarkan konsep ‘Agama Hijau’ (greendeen) sebagai inspirasi mengelola alam.

Pria muslim berkulit hitam itu menguraikan kandungan ini sebanyak enam belas bab. Kemudian dikelompokkan dalam empat tema besar. Empat isu penting terkait lingkungan itu adalah energi, air, limbah dan makanan.

Penjelasan mengenai ‘Agama Hijau’ (greendeen) terdapat dalam halaman 21 – 34 bagian awal buku ini. ‘Agama Hijau’ (greendeen) adalah agama yang menuntut manusia untuk menerapkan Islam seraya menegaskan hubungan integral antara keimanan dan lingkungan (seluruh semesta).

Di dalamnya dijelaskan bahwa ‘Agama Hijau’ (greendeen) dibangun atas enam prinsip yang saling berkaitan. Prinsip pertama, memahami kesatuan Tuhan dan ciptaan-Nya (tauhid). Hidup dengan cara ‘Agama Hijau’ (greendeen) berarti memahami bahwa segala sesuatu berasal dari Allah.

Prinsip kedua, melihat tanda-tanda (ayat) Tuhan di seluruh semesta. Hidup mengikuti prinsip ‘Agama Hijau’ (greendeen) berarti melihat segala sesuatu di alam ini sebagai tanda (ayat) keagungan Sang Pencipta. Prinsip ketiga, menjadi penjaga (khalifah) bumi. Dengan prinsip ini berarti memahami bahwa manusia harus melakukan apa pun untuk menjaga, melindungi, dan mengelola semua karunia yang terkandung di dalam alam.

Prinsip keempat, menghargai dan menunaikan kepercayaan (amanah) yang diberikan Tuhan kepada umat manusia untuk menjadi pelindung planet ini. Mengikuti prinsip ‘Agama Hijau’ (greendeen) berarti mengetahui bahwa manusia dipercaya oleh Tuhan untuk bertindak sebagai pelindung alam. Prinsip kelima, memperjuangkan keadilan (‘adl). Orang yang ingin hidup mengikuti prinsip ‘Agama Hijau’ (greendeen) harus memahami bahwa masyarakat yang tidak memiliki kekuatan politik dan ekonomi sering kali harus menanggung efek negatif pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Prinsip keenam, dan hidup selaras dengan alam (mizan). Segala sesuatu diciptakan dalam keseimbangan yang sempurna (mizan). Upaya menghormati keseimbangan itu dapat berupa memandang bumi sebagai masjid. Tatanan hukum dan aturan dalam Islam bertujuan untuk menjaga keseimbangan ini. Prinsip-prinsip itu adalah panduan yang menuntun untuk melestarikan lingkungan (alam) berdasarkan inspirasi ‘Agama Hijau’ (greendeen).

Dengan prinsip-prinsip ‘Agama Hijau’ (greendeen) di atas membuktikan bahwa Islam mengajarkan cinta yang mendalam kepada alam. Sebab, mencintai alam berarti mencintai diri kita dan mencintai Sang Pencipta. Hal itu membuktikan bahwa Islam bersesuaian antara jalan ruhani dan ilmiah. Enam prinsip itu juga dapat menjadi pondasi dalam mencegah krisis lingkungan yang berlandaskan asas agama Islam.

Dengan perspektif ‘Agama Hijau’ (greendeen) manusia akan memiliki kesadaran dan berpandangan bahwa bumi adalah masjid. Bumi adalah masjid merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa manusia merupakan bagian dari struktur penciptaan yang menakjubkan. Maka, semua yang ada di dalamnya suci. (hal. 19). Hal ini berdasarkan Hadis Nabi saw. yang berbunyi, “Di mana pun kamu berada saat waktu shalat tiba, kerjakanlah shalat. Sebab, bumi ini adalah masjid.”

Begitu juga dalam memandang dan memanfaatkan sumber daya air. Air adalah medium pemahaman, keimanan, dan kebijaksanaan. Air sekaligus menjadi sarana penting untuk mengamalkan Islam. Air memiliki peran yang sangat fundamental dalam Islam. Salah satu syarat sah shalat adalah kesucian fisik dengan air. (hal. 178).

Dengan hal itu, Ibrahim menekankan bahwa pemerintah seharusnya bertanggung jawab atas pengelolaan air. Di antara langkah penting untuk mengelola air dengan baik adalah memperbiki jalur distribusi air sehingga benar-benar terjamin kebersihannya. Karena akses terhadap air merupakan kunci kebahagiaan bagi setiap orang. (hal. 185).

Ibrahim mengemukakan beberapa contoh personal maupun komunitas dalam menerapkan ‘Agama Hijau’ (greendeen). Misalnya, dia mengemukakan bahwa ada sebuah kmunitas muslim yang hidup sepenuhnya tanpa jaringan listrik di Chiapas, Meksiko. Pengalaman menuntun mereka memegang prinsip-prinsip ‘Agama Hijau’ (greendeen) dengan cara mengekspresikan keimanan yang bersesuaian dengan cintanya kepada planet ini dan kepada Tuhan. (hal. 171).

Buku yang diterbitkan dan diterjemahkan oleh Penerbit Zaman ini menggambarkan pengalaman hidup Ibrahim dan muslim Amerika dalam mengamalkan ‘Agama Hijau’ (greendeen). Selain untuk warga Amerika, buku ini juga dapat memberikan inspirasi dan membuka horizon dalam mengelola alam di negara-negara berkembang dan atau mayoritas beragama Islam, seperti Indonesia.

Karena di dalamnya tidak hanya menawarkan solusi dan alternatif dalam menjaga dan pengelolaan lingkungan. Buku ini juga menyadarkan kita dari budaya konsumerisme. Uraiannya juga membuktikan bahwa Islam memiliki keberpihakan dalam mengupayakan ‘Agama Hijau’ (greendeen). Hal ini jelas tertera dalam al-Qur’an dan Hadis.


Angkringan Warta on Saturday

INTEGRASI ISLAM DAN EKOLOGI MANUSIA



INTEGRASI ISLAM DAN EKOLOGI MANUSIA

Judul    :  Islam & Ekologi Manusia: Paradigma Baru, Komitmen dan Integritas Manusia dalam Ekosistemnya, Refleksi Jawaban atas Tantangan Pemanasan Global (Dimensi Intelektual, Emosional dan Spiritual)
Penulis      :  Drs. Sofyan Anwar Mufid, M.S
Penerbit    :  NUANSA, Bandung
Editor       :  Adib Musta’in el-Hasan
Cetakan    :  I, April 2010
Tebal        :  138 Halaman
ISBN        :  978-602-8394-10-09

Hukum alam yang sudah berjalan mulai tidak seimbang akibat tindakan manusia. Tindakan berupa eksploitatif terhadap alam dan menggangu ekosistemnya akan menyebabkan alam menyesuaikan diri dengan caranya, atau kita menyebutnya bencana alam.
Adanya bencana di berbagai daerah disinyalir terdapat kesalahan mendasar yang terjadi atas hubungan manusia dengan alam. Interaksi manusia dengan alam perlu dirubah menjadi saling menguntungkan bagi manusia dan alam.
Ilmu yang mempelajari interaksi timbal balik antara makhluk hidup dan tak hidup dengan linkungannya disebut ekologi. Kata ecology ini pertama kali dikenalkan oleh biolog Jerman yang bernama Ernst Haeckel pada tahun 1866.
Ekologi memiliki ruang lingkup kajian sangat luas, sehingga dapat digandengkan dengan berbagai macam studi keilmuan atau multidisipliner.Salah satu bidang yang dijadikan objek ekologi adalah manusia, kemudian terlahirlah ekologi manusia.
Sofyan A. Mufid menawarkan pembahasan integrasi ekologi manusia dengan nilai-nilai spiritual Islam sebagaimana yang telah ditawarkan Sayyed Husein Nasr.
Sayyed Husein Nasr dan beberapa tokoh Beberapa tokoh lainnya yaitu Martin Palmer, David E. Cooper dan Joy a. Palmer, sepakat bahwa nilai-nilai spiritualitas terhadap alam menjadi sebuah kebutuhan nyata dalam upaya memelihara dan menyelamatkan bumi (F.M. Mangunjaya, 2007).
Buku ini mencoba menguraikan integrasi ajaran agama (ulum al-din) dengan ilmu ekologi (ulum al-dunya) dalam dimensi kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.
Paradigma itulah yang coba ditawarkan untuk menjawab permasalahan krisis ekologis. Paradigma seperti itu mungkin tidak akan ditemukan dalam buku-buku ekologi manusia pada umumnya.
Di dalam kajian ekologi, kita mengenal beberapa teori tentang hubungan manusia dengan alam, diantaranya, yaitu antroposentris, ekosentris dan biosentris. Pada tokoh yang lain ada yang menggabungkan ekosentris dan biosentris (bio-ekosentris), dan ketiga adalah ekofeminis.
Antroposentris merupakan teori yang muncul pertama, dan sudah lama melekat dalam pola pikir masyarakat. Teori ini menjelaskan manusia menjadi pusat dari alam, yakni alam hanya dijadikan sebagai objek bagi manusia.
Sedangkan teori kedua dan ketiga merupakan teori yang lahir belakangan. Para pakar lingkungan menawarkan teori ini sebagai kritik atas teori pertama. Teori ini juga dijadikan sebagai salah satu solusi untuk memulihkan krisis lingkungan yang terjadi di belahan dunia.
Kendati demikian, bagi Sofyan A. Mufid, dalam islam memang menjadikan manusia sebagai pusat dari alam, yakni menjadi khalifah (pemimpin). Antroposentris yang dimaksudkan dalam islam adalah manusia menjadi rahmat bagi alam.
Artinya, walaupun dalam teks-teks keagamaan menyatakan bahwa bumi dan segala isinya diperuntukkan bagi manusia, tetapi manusia tidak diperkenankan untuk berbuat merusak alam dan mengeksploitasi dengan serakah.
*) Peresensi adalah Ahmad Suhendra, penikmat buku.