REVIEW: 140 Karakter – Fira Basuki

Judul: 140 Karakter (Kumpulan Tweets @FiraBasuki dan Cerita Lain)

Penulis: Fira Basuki

Penerbit: Grasindo

Tahun Terbit: 2012 (Cetakan Pertama)

Harga: Rp. 49.000

Jumlah halaman: 234 hal.

ISBN: 978-979-081-767-8

*

Blurb:

Pada Mulanya adalah Tweets…

Banyak “kicauan” saya hilang begitu saja ditelan oleh linimasa Twitter. Terima kasih kepada para follower yang telah membujuk saya untuk segera menyatukan kicauan itu menjadi sebuah buku; menjadi sebuah karya utuh yang penuh makna dan semoga bermanfaat.

Menyampaikan isi hati dan pikiran melalui media Twitter memang harus pandai-pandai menata kata. Batasan 140 karakter yang diberikan Twitter kadang tidaklah cukup. Jadi, untuk bebas ‘berkicau’ tidak jarang saya menuliskannya secara bersambung menjadi beberapa bagian. Maka, ketika potongan-potongan ‘kicauan’ itu saya satukan lagi, saya utuhkan kembali kata-kata yang tadinya terpaksa termutilasi demi menggenapi batasan karakter, jadilah bahan baku untuk buku ini –menemani sejumlah cerpen dan tulisan-tulisan lepas yang pernah saya buat. Dan, sebagai pengikat makna jadilah buku ini saya beri judul 140 Karakter.

*

Review:

Gue memang koleksi buku-buku Fira Basuki, tapi awalnya kurang tertarik sama buku ini, karena ada titel ‘kumpulan tweets’. Entah kenapa, buat gue tweets yang dibukukan itu gengges banget dibacanya. Di dunia maya ada chripstory (bener gak sih tulisannya, gak tahu) dan blog, di sana bisa menyatukan kumpualn tweets. Karena buat gue, tweets itu ndak terlalu perlu untuk disatukan di buku dalam bentuk cetak. Kecuali sih kata-kata dalam tweetsnya dikembangkan menjadi satu tulisan agak panjang. IMO, sih.

Kemudian melihat buku ini waktu meeting bookclub di Senayan City, di antara tumpukan buku-buku di meja, di mana waktu itu @_raraa yang kemudian berbaik hati minjemin gue dengan syarat, “jangan dilelang di bookshop lo, ye?” :p Gue jadi penasaran baca karena setelah buka isinya, ternyata gak cuma kumpulan tweets, juga ada cerpen-cerpen dan beberapa tulisan lepas Mbak Fira. Yakali, sih, baca kumpulan tweets sampe 200an halaman, bisa butek mata :|

Kalo soal penulisan, gue rasa orang sekelas Mbak Fira Basuki yang berhasil bikin gue ngefans setengah mati ini *halah* nggak perlu diragukan, ya :D Cuma yang mau gue komen adalah, kalo boleh jujur, gue lebih suka cerpen dan cerita-cerita lepasnya ketimbang kumpulan tweetsnya. Walaupun notabene buku ini berjudul 140 Karakter yang mengisyaratkan bahwa isinya adalah kumpulan tweets.

Seperti biasa, dalam tulisan Fira Basuki memang selalu ada ‘isi’, tak peduli banyak atau sedikit. Seperti yang gue baca di halaman 61 ini..

Sudah, paling benar itu nama wayang, pikir Rani. Bagaimana kalau dari kisah Mahabharata atau Bharatayuda? Sudah pasti jangan nama-nama Kurawa. Apalagi Dursasana yang berwajah seram dan berniat memperkosa Drupadi. Jangan pula Drupadi kalau perempuan, karena menurut versi India Drupadi itu istri kelima Pandawa, jadi dia itu poliandri. Kalau versi Jawa memang istri Yudhistira, tapi konon diam-diam mencintai Arjuna. Lupakan.

Dalam cerpen berjudul Nama itu, Fira Basuki menyelipkan sedikit cerita wayang di dalamnya, ketika mendeskripsikan betapa bingungnya tokoh utama mencari nama untuk calon bayinya yang akan lahir. Memang ini nggak terlalu kelihatan jelas sih, tapi buat pembaca kepo seperti gue, cerita seperti ini menyenangkan. Karena dengan diselipkannya cerita wayang kayak gini, gue yang dari awalnya nggak tahu menjadi tahu. Gue juga baru tahu Drupadi itu istri kelima Pandawa *kudet* :| Gue memang tahu selama ini dia tokoh wayang, tapi selain tokoh wayang, gue cuma tahu Drupadi itu tokoh dalam Once Upon a Love-nya Kak @adit_adit :| *melenceng jauh sekali*

Skip.

Atau seperti tulisan tentang penulis di halaman 187 ini..

Penulis Indonesia bisa hidup dari buku-bukunya, tidak perlu bekerja kantoran. Fokus menulis sebagai profesinya! Yes, we can!

Please pemerintah pajak penulis 15% itu tinggi. Royalti penulis pemula aja rata-rata cuma 10% dari penjualan bukunya.

Jangan patahkan semangat anak-anak kita ketika bercita-cita menjadi penulis. Yakinlah mereka bisa hidup. Masa depan harus bisa!

Asli, gue suka banget bagian ini :| ‘jangan patahkan semangat anak-anak kita ketika bercita-cita menjadi penulis’. Satu kalimat itu selalu menarik buat gue, karena memang nyatanya ada beberapa orangtua yang kurang sreg anaknya hobi menulis dan ingin menjadi penulis. Mungkin bagi mereka, penulis tidak bisa kaya raya seperti kerja di Bank atau dapat jaminan dana pensiun seperti PNS. Tapi sekali lagi, seperti kata Mbak Ika Natasha, “kalau berharap kaya raya, jangan jadi penulis.” eh bener gak gitu kalimatnya? Gue lupa-lupa inget, sih. Tapi itu inti yang gue tangkep dari tweetsnya. Intinya, menulis tidak menjanjikan kamu akan kaya raya, tapi yakinlah menulis pasti bisa menghidupimu dengan cukup :) Biasanya yang udah kejadian sih, gitu *zoom in zoom out latar foto @deelestari* *perpustakaan pribadinya bikin ngiler* :|

QUOTES! Waktunya quotes! Yang paling gue suka adalah 2 quotes ini.

1. Dilukis Jeihan (hal. 178 bagian bawah)

Saya terharu. Masih tidak habis  pikir, siapa saya, kenapa Jeihan mau melukis saya? Jeihan menatap saya dan menyemangati agar saya terus menulis, karena itulah dia mengenal saya. “Jangan takut menjadi besar, takutlah untuk tidak menjadi apa-apa.” tambahnya lagi.

2. Lonely Planet (hal. 220 bagian atas)

Kesepian. Betapa bumi yang penuh sesak manusia ini bisa saja menyisakan celah untuk ruang hampa: sepi. Ketika menulis ini saja, saya sedang berada di dalam pesawat terbang dari New York, dari liputan beberapa hari. Para penumpang tertidur, terdengar hela napas mereka sahut-menyahut. Saya, bangun sendiri, merasa sepi. << Been there!

Tapi diantara banyak tweets yang gue skip bacanya, memang ada juga beberapa tweets lucu yang nggak sengaja kebaca. Seperti ketika Mbak Fira bercerita soal Syaza –anak sulungnya. Seperti  di bab “Syaza dan Saya” di halaman 65-69. Penutupnya bikin gue merinding.

Pujaan hati, Syaza, sini mami peluk diantara api, angin, air, tanah, rembulan sepi. Janji. Sampai kapan pun bahagiamu yang mami cari.

Ah, emak-emak :) Selalu begitu :)

Next! Diantara semua cerpennya, yang paling gue suka adalah Cinta Cahaya di halaman 88, yang ternyata ditulis Mbak Fira untuk kampanye L’Oreal tahun 2010. Awalnya kurang greget sama cerita ini, tapi bagian pertengahan sampai ending, nothing to say. Nyes! :|

Sebagai penutup, kesimpulannya masih sama seperti di awal pembuka review ini. Gue selalu suka novel, cerpen dan tulisan lepas Mbak Fira, kecuali yang satu ini: kumpulan tweets dibukukan. Gue bukan tipe orang yang suka baca buku kumpulan tweets. Bahkan lebih nyaman membacanya di dunia maya saja. Dari sana tweets-tweets itu berasal, biarlah ia tetap ada di sana.

3/5 bintang untuk Fira Basuki dan 140 Karakter.


REVIEW: Astral Astria – Fira Basuki

Judul: Astral Astria

Penulis: Fira Basuki

Penerbit: Grasindo

Tahun Terbit: 2007 (Cetakan Pertama)

Harga: Rp. 27.000 (harga beli tahun 2013, harga asli kurang tahu)

Jumlah halaman: 332 hal.

ISBN (13): 9789797598709

ISBN (10): 979-759-870-5

*

Blurb:

Di dalamnya, tubuh  perempuan bergaun putih panjang itu masih bersimpuh di lantai dingin. Posisi bersujud. Rambut gimbalnya memanjang dan menutupi seluruh tubuhnya. Bowo duduk dengan posisi sila di belakang raga yang terkulai tadi. Direntangkannya kedua tangan. Gumpalan-gumpalan putih memasuki raga tadi.

Kedua tubuh tadi seperti terselubungi lingkaran energi hitam. Warna-warni dunia sempat singgah di sekelilingnya. Jagat maya mengitari dunia. Perempuan itu bertubuh dingin seperti dialiri listrik. Ia tersentak-sentak. Pelan-pelan perempuan tadi, Astria, membuka mata. Waktunya tiba. Kembali. Empat puluh hari. Perjalanan lama yang seperti sedetik hitungan cahaya.

*

Review:

Bisa  jadi ini buku Fira Basuki yang termasuk keren setelah trilogi Jendela-Pintu-Atapnya. Buku terbitan 2007, tapi begitu telat gue nemuin di tahun 2013. Nemuinnya juga nggak sengaja karena baca review di Goodreads waktu searching buku-buku karangan penulisnya. Karena tertarik, akhirnya gue berusaha nyari dwilogi ini lengkap, sebelum membacanya :) ) Walaupun denger-denger bisikan orang katanya Paris Pandora nggak sebagus Astral Astria.

Tapi Astral Astria ini memang tipe novel yang lumayan ‘berat’ dan membingungkan awalnya, walaupun seterusnya kelamaan gue bisa mengerti ke mana alur cerita membawa *halah*

Astral Astria berpusat pada seorang gadis indigo berambut gimbal bernama Astria yang diangkat oleh kedua orangtuanya dari tanah Dieng. Kuncoro dan Nunik –pasangan arkeolog dari kota besar yang nggak bisa punya anak mengambil Astria karena kedua orangtua kandung anak itu meninggal bersama penduduk satu desa sewaktu ada bencana. Anak itu selamat dan meronta saat akan diamankan.

Setelah besar, Astria berguru pada Bowo (baca trilogi Jendela-Pintu-Atap mengenai kisah Bowo), seorang Kyai yang kemudian menuntunnya untuk melakukan perjalanan Astral. Banyak yang kemudian dilihat Astria di dunia antara, banyak hal tentang teman-teman dan orang sekitarnya yang tidak dia ketahui.

Tentang Indah Skali, si penulis novel cinta yang kemudian mati karena cinta.

Tentang Kasih, si penyanyi yang tewas sebagai korban perebutan cinta.

Tentang Marni, si penjaja cinta.

Tentang Sekar Suci, si penulis gila.

Tentang si tambun Fabio, teman Indah Skali –yang sudah beristri namun tetap selingkuh dengan Sekar Suci.

Tentang Karmin dan istrinya Nyiah –si penggila harta.

Tentang Permadi –lelaki antara yang pasrah dijodohkan, walau sebenarnya mencintai Astria.

Tentang Rizky, pria sholeh yang akhirnya menjadi labuhan Astria.

Tentang Beno, politisi yang bahkan lebih hancur ketika diguncang cinta sendiri dibanding diguncang lawan politik.

Tentang Cindy Chen, anak orang kaya korban keegoisan orangtua.

Tentang Bayu –pembuat film yang gila harta dan juga Kiara –kekasih gelapnya yang suka main dukun.

Tentang Zuni, sahabat baik Kasih yang ternyata kemudian menyantetnya karena bersaing karier.

Tentang Bagus, suami Kasih yang amat baik hati.

Tentang Kunti –adik angkat Astria, anak Ki Samudro –seorang yang dituakan dan ahli mendalang.

Dan Djati Suryo Wibowo –yang dulunya jadi anak kuliahan bimbang diantara dua perempuan (di novel Pintu), kini sudah jadi Kyai Bowo.

Ada Nunik dan Kuncoro –orangtua angkat Astria, berasal dari kalangan arkeolog, yang kemudian menghilangkan jejaknya dari Dieng selama bertahun-tahun.

Dan Astria Sima –si perempuan antara berambut gimbal. Menjelajah dunia selama tujuh hari, melihat banyak hal, banyak rupa, segalanya.

Iya, memang novel ini kebanyakan tokoh. Gue juga awalnya bingung dari perloncatan kisah yang satu ke kisah yang lain. Tapi di antara banyak kisah, gue paling suka kisah Astria ketika bersama Permadi. Astria mati-matian menolak dia, tapi ternyata nggak bisa hidup tanpa dia. Permadi yang awalnya deketin Astria tapi malah mundur sendiri karena terpaksa mau dijodohkan sama orangtuanya –walaupun akhirnya menyesal sampai ke buku Paris Pandora *eeeaaaaa* :p

Overall, novel ini cukup bagus menurut gue. Ada banyak info tentang budaya Jawa, Fira Basuki selalu begitu, mampu memberi ilmu dalam fiksi :) ) Juga ada potongan bait Asmaradhana atau apalah namanya –gue nggak ngerti, tapi cukup suka bacanya.

Jadi, 4 bintang untuk Astral Astria, isinya yang bagus dan covernya yang keren.


#SceneOnThree (2) – Paris Pandora

Jadi bagaimana cara berpartisipasi dalam Scene on Three :

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

*

Judul Buku: Paris Pandora (buku 2 dari dwilogi Astral Astria)

Penulis: Fira Basuki

Penerbit: Grasindo

Masih dari dwilogi Astral Astria seperti postingan tempo hari, ini buku keduanya. Dan lagi-lagi di buku Fira Basuki ada banyak penggalan-penggalan scene yang menarik untuk dibaca. Sepertinya gue akan lebih sering mengulas buku Fira Basuki untuk #SceneOnThree ini :p

Hal. 31-32

Ini dia yang kutunggu. Mini van kami berhenti juga di Notre Dame, katedral yang terkenal. Berada di pinggir Sungai Seine. Konon dulunya bangsa Romania mendirikan kuil pemujaan untuk dewa Jupiter. Bertahun-tahun kemudian menjadi Cathedral St. Etienne, didirikan oleh Childebert di tahun 528. Sampai akhirnya Maurice de Sully, bishop Paris mendirikan katedral yang didedikasikan untuk Bunda Maria. Konstruksi yang menjadi katedral kini dimulai tahun 1183 dan selesai 180 tahun kemudian!

Aku berjalan menikmati setiap lorong dan langit-langit yang penuh detail, pahatan, ukiran, dan patung. Aku berjalan terus hingga menaiki tangga batu. Dari atas, semua tampak jelas.

Lalu… hal yang paling tidak pernah aku pikirkan muncul.

“Psssst. Hi… hi…”

Aku menengok. HAH? Aku menggosok-gosok mataku. Ini mimpi bukan ya? Aku berusaha menutup mata ketigaku.

“Pssst, iya. Aku hidup. Nyata.”

TUNGGU! Ini imajinasiku aja kan? Ini mimpi kan? Patung itu bergerak. Dan BERBULU! Ya, dia HIDUP!

*

Alasan suka scene ini: Well, jadi diceritakan bahwa patungnya bisa bicara :| tapi yang menarik buat gue bukan itu. Gue tahu ini sekedar fiksi, tapi memang sepertinya patung itu ada dan memang nyata. Yang menarik buat gue adalah settingnya. Paris Pandora berlatarkan kota Paris dengan katedral-katedralnya yang legendaris. Penulisnya juga menyisipkan hal-hal ghaib seperti biasa (mengingat memang dwilogi Astral Astria bercerita tentang seorang anak yang istimewa, dipercaya sebagai titisan Ratu Sima, ratu yang disebut-sebut sebagai Ratunya Tanah Jawa –selain Ratu Kidul).

Nggak pernah berhenti gue takjub dengan buku karangan Fira Basuki, meski kadang memang bahasanya agak berat dan butuh kecerdasan ekstra untuk mencerna kalimat demi kalimatnya *pukpukepalasendiri* :| Tiap gue membaca karangan pimred Cosmopolitan ini, gue selalu berpikir, hebat banget dia bisa riset sejauh itu. Mungkin memang karena pekerjaannya yang menuntut untuk ke luar negeri. Tapi itu risetnya niat :p bisa sampai tahu bangunan-bangunan legendaris di Paris, tahun pendiriannya. Walaupun memang di google mungkin juga banyak, tapi tetap –itu sebuah riset yang kece, apalagi mengingat dia memadukannya dengan unsur-unsur budaya Jawa segala *yang selalu ada dan nggak pernah ketinggalan* :)


#SceneOnThree (1) – Astral Astria

Jadi kemarin online FB dan di grup ada yang mosting meme baru, pas gue baca keterangannya, kayaknya asik juga buat diikutin :p selengkapnya ada di sini

Tentang scene tertentu dalam novel yang menarik menurut kita, dan sepertinya terlalu panjang jika dimasukkan ke review. Gue sendiri sering memasukkan scene-scene yang gue suka ke dalam review buku (sebelum tahu bahwa ada meme beginian) :|

Jadi inilah syarat-syaratnya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

*

Dan inilah Scene On Three pertama gue :)

Judul Buku: Astral Astria (buku 1 dari dwilogi Astral Astria)

Penulis: Fira Basuki

Penerbit: Grasindo

Ada banyak scene dalam buku ini yang terbaca unik dan sebenarnya gue suka. Selalu suka novel semacam ini, yang tetap menyelipkan budaya atau hal-hal berguna di dalamnya, tak peduli sehancur atau seglamour apapun kehidupan si tokoh. Dan Fira Basuki selalu mampu menuliskan ini. Di trilogi Jendela, Pintu, Atapnya-pun banyak selipan deskripsi tentang budaya Jawa, meskipun Bowo si tokoh utama diceritakan kuliah di luar negeri.

Diantara semua scene itu, inilah beberapa yang sudah gue pilah-pilih lagi :D

1. Hal. 48-49

Tapi, Kasih tentu tidak memikirkan masalah perutnya lagi. Ia tentu memikirkan karier menyanyinya, atau Beno –kekasihnya –bukan? Hidup ini cukup rumit, mengapa harus merumitkan diri?

Buku memang bukan menjadi prioritas kebanyakan orang di Indonesia ini. Selain masalah perut, memang adalah masalah pilihan yang sudah terbentuk. Lihat saja saat akhir pekan di Jakarta, misalnya. Anak-anak, remaja, dan keluarga akan pergi ke mal, bukan ke perpustakaan. Kenapa mesti ke perpustakaan? Bukankah cuma kaum kutu buku yang di sana? Mana gedungnya kuno tak bersahabat? Lagi pula jalan-jalan di perpustakaan mau mengerjakan apa? Melihat-lihat buku dan kemudian akan membawanya pulang?

Marni dan Kasih, temanku, di negeri maju seperti Singpura dan Amerika misalnya, perpustakaan tidak kalah menarik dengan mal. Selain gedungnya kini berwarna-warni, juga disediakan panggung pertunjukan plus ruang menonton film dan mendengarkan musik. Bisa bersantai dan melakukan apa saja. Ada sofa-sofa empuk untuk membaca buku atau sudut-sudut sepi untuk berciuman. Bisa mendengarkan musik terkini atau menonton orang membaca puisi, misalnya. Tidak heran pada akhir pekan, perpustakaan di negeri itu justru berdesakan orang.

*

Alasan suka sama bagian ini: karena memang gue selalu suka kalo ada yang ngebahas bedanya budaya pergaulan negeri kita sama orang luar negeri. Belakangan baca di twitter, katanya sebagian besar remaja di Amerika punya kartu perpustakaan, karena mereka menganggap buku itu penting. Sedangkan anak muda di Indonesia banyakan punya kartu member tempat karokean daripada kartu perpustakaan (?) nah, ini memprihatinkan :) ) Padahal buku menyenangkan dan menambah ilmu, ya. Tapi mungkin memang anak muda kita yang kebanyakan gak hobi membaca :(

2. Hal. 51

Ia mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengembuskannya ke wajah pria yang lewat.

“Sekar Suci gila!”

“Pa kabar cowok? Sudah lama nggak ketemu? Kangen gue nggak?”

Sekar Suci mengedipkan sebelah matanya, memamerkan bulu mata lentik dan senyum bibir merekah. Si pria memberikan ciuman “terbang” dengan lambaian tangan, Sekar Suci membalas dengan mengangkat gelas birnya.

Dia pasti bergurau. Gayanya bak selebriti daripada seorang penulis. Apalagi sepertinya setiap orang, terutama pria, mengenalnya, mencium pipinya, dan berhai-hai dengannya. Tentu ia tidak membutuhkan aku di forum diskusi buku besok.

“Hiraukan orang-orang ini, Indah, mereka gila semua. Kelihatannya kamu orang yang baik. Aku tidak pernah melihatmu di mana-mana, dari nongkrong di TIM sampai klub malam.”

Aku tersenyum. Aku ini karyawan, Sekar Suci. Mana mungkin aku memiliki waktu luang? Sebagai wartawan, walaupun majalah, aku memburu berita. Ke sana, ke situ, mewawancarai orang. Di luar itu aku lelah, lebih baik aku pulang untuk beristirahat, membaca buku, atau mengetik novel.

3. Hal. 52 (masih ada hubungannya dengan poin nomer 2)

Sekar Suci mengangkat kakinya bak di warung kopi. Lalu ketika Sandra –si nyonya rumah, istri Fabio –memberinya Jack Daniels, ia menegaknya seperti air putih. Lupa darah tubuhnya sudah dibasahi bir Bintang. Tak lama seorang pria tua berjenggot dan berkumis putih datang. Sekar Suci memeluk, mencium pipi kanan kiri pria gaek itu dan mempersilahkan duduk. Lalu, dengan enteng Sekar Suci duduk di atas pangkuan pria itu. Begitu saja. Aku tercekat, apa iya gaya pengarang seperti itu? Kenapa aku mesti jadi pengarang? Jadi Penulis? Aku tidak mau seperti mereka. Sekar Suci benar, aku mau jadi orang baik saja. Sebaiknya aku pulang saja.

*

Alasan suka sama bagian ini: suka karena kontroversial mungkin, ya :) ) poin nomer 2 dan 3 berhubungan, menceritakan Sekar Suci –seorang yang katanya penulis, tapi gayanya seperti sosialita ibukota. Minum-minum, cipika-cipiki dengan banyak lelaki, bahkan duduk di pangkuan seorang pria gaek (yang dalam buku ini, kemudian diketahui sebagai seorang sastrawan senior).

Jujur, part ini mengingatkan gue pada sepenggal adegan film Mereka Bilang, Saya Monyet! yang diadaptasi dari buku Djenar Maesa Ayu. Di sana, dalam sebuah club malam, beberapa orang mengomentari tokoh utama bernama Adjeng yang juga seorang penulis. Mereka menganggap Adjeng bisa eksis dan cerpennya dimuat di koran karena ada hubungan spesial dengan mentornya.

Sepenggal percakapan yang masih gue inget adalah ketika seorang cowok yang duduk bertiga dengan kawan-kawannya melirik ke arah Adjeng yang menghampiri sang mentor. Si cowok berkomentar sinis, “karya siapa dulu? Karya dia, atau mentornya? Jaman sekarang KKN nggak cuma ada di pemerintahan doang. Kalau bisa nyari mentor yang bagus, mau ditidurin, gue juga bisa jadi penulis.” Lalu mereka semua melirik lagi ke arah Adjeng yang sedang bercumbu ria dengan sang mentor. Si lelaki sinis tersenyum lagi, “see?”

Lalu, apakah benar adanya gaya hidup pengarang yang seperti itu? Gue juga nggak tahu. Sebagai penulis amatiran, gue nggak tahu gimana bentuknya gaya hidup penulis kelas atas :p tapi yang gue tahu, pergaulan gue dengan teman-teman lain sesama penulis nggak separah itu. Minimal, kami nongkrong mentoknya di tempat karokean, nyanyi-nyanyi. Bukannya di club malam dengan minum-minum.

Sisanya, jika ada penulis lain yang seperti kisah di atas, ya, mungkin memang sebagian dari realitanya :) Ada banyak hal dalam kehidupan yang kadang tidak disangka-sangka #halagh #bahasaopoikuMput