Harry Potter and The Order of Phoenix oleh JK Rowling




Judul: Harry Potter dan Orde Phoenix (Harry Potter and The Order of Phoenix, Harry Potter #5)
Penulis: J.K Rowling
Penerjemah: Listiana Srisanti
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama
Cetakan pertama, Januari 2004
Jumlah halaman: 1200 halaman
Genre: Fantasy, Children Literature, Sastra Eropa
ISBN: 979-220-652-3
Status: Punya. Beli di pameran buku


 
Tak diragukan lagi tahun kelima Harry Potter bersekolah di Hogwarts merupakan tahun yang sangat penting. Kini ia berusia lima belas tahun, dan sebagai remaja ia mengalami gejolak masa muda yang mengubah beberapa sifat dasarnya. Ia akan menjalani ujian OWL yang menegangkan, yang menentukan akan jadi apa dirinya setelah lulus. Ia sering sekali bertengkar dengan Cho, sehingga bukan tidak mungkin hubungan mereka putus. Dan ketika ia berkelahi dengan Draco Malfoy, peranannya sebagai Seeker tim Quidditch Gryffindor terancam. Semua ini membuat Harry begitu nelangsa, sehingga untuk pertama kalinya ia ingin sekali meninggalkan Hogwarts. Di tengah semua kegalauan itu, Lord Voldemort dengan kekuatan sihirnya yang luar biasa terus-menerus menghantui Harry. Tanpa henti Pangeran Kegelapan menyiksanya melalui bekas lukanya, dan akhirnya memaksa Harry bertarung mati-matian melawan para Pelahap Maut. Dan puncaknya adalah ia harus menyaksikan kematian seseorang yang amat dicintainya...


Halo, Kakak Ilman dan Adek Zidan...
Sungguh, ini super late posting... Harusnya ini dikerjakan tiga bulan lalu... Kok, Bunda senang sekali melakukan kebingungan dan penundaan, ya...
Bulan ini udah mestinya jatahnya Harry Potter #7. Tapi, ya, gitu, deh....

STOP MENGELUH! X))

Ketika Bunda nulis ini, Bunda lagi di rumah sakit, nemenin papa yang terbaring karena typhoid dan demam berdarah. Tahu Bunda ga bisa diem aja, kecuali ada hal-hal yang harus dikerjakan saat menjaga papa, seperti nyuapin, nganter ke kamar mandi, manggil perawat dan lain-lain, papa menyarankan bawa laptopnya buat Bunda browsing atau main game. Lalu, karena terdesak deadline, Bunda memutuskan buat bikin review X))

Harry Potter and The Order of Phoenix tuh suasananya udah mulai suram. Diawali dengan suasana liburan yang sama sekali nggak menyenangkan, karena nggak ada kabar sedikitpun dari teman-temannya, membuat Harry kesal. Kemudian mereka berdiam di Grimmauld Place, rumah keluarga Black, yang diwariskan kepada Sirius Black, wali Harry. Di sana anggota Orde berkumpul dan mengadakan rapat rahasia. Saking rahasianya, anak-anak nggak boleh mendengarkan. Fred dan George yang sukses bikin toko "mainan" sendiri, menciptakan Telinga Julur buat menguping yang malah nggak bisa dengar apa-apa karena nggak mempan oleh mantra perlindungan. Hihihi...

Kemudian, Kementerian Sihir mulai ikut campur di Hogwarts dengan menempatkan Dolores Umbridge menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Dengan adanya Dolores Umbridge, kehidupan anak-anak Hogwarts jadi terasa nggak aman. Dia mengeluarkan berbagai dekrit yang ditandatangani oleh Menteri Sihir. Ngeselin abis, deh. Dan kegiatan Harry dan teman-temannya pun diawasi. 

Dolores Umbridge. Ya gitu, mukanya kayak kodok? XD

Gara-gara cara mengajar Umbridge di luar kebutuhan, teman-teman Harry meminta Harry untuk mengajari mereka Ilmu Pertahanan terhadap Sihir Hitam. Kenapa? Soalnya, Harry dianggap sudah beberapa kali menang lawan Kau Tahu Siapa. Lalu dibentuklah Laskar Dumbledore. Mereka memakai Kamar Kebutuhan sebagai tempat latihan, karena kegiatan mereka diawasi. Dalam dekrit disebutkan, nggak boleh ada kelompok murid yang terdiri lebih dari 3 orang.

Laskar Dumbledore
Nggak cuma kehadiran Umbridge yang bikin ngelus dada karena kesal sama orang Kementerian, Percy Weasley juga bikin ulah! Dia udah jadi anak durhaka karena berpihak kepada Kementerian dan memilih pergi dari rumah, bahkan bersikap tidak kenal ayahnya! Grrr!

Dampak dari kematian Cedric Diggory membawa banyak perubahan buat Harry. Misalnya saja, dia dianggap gila, mengarang cerita bahwa Lord Voldemort sudah kembali. Iya, sih. Nggak ada saksinya selain Pelahap Maut, kan.. Hanya Dumbledore yang percaya. Jadilah, Rita Skeeter itu bikin berita yang mengisyaratkan ketidakwarasan Harry di Daily Prophet. Begitu juga Kementerian menganggap Harry nggak waras. Makanya, bikin berbagai macam aturan, karena Menteri Sihir nggak mau mengakui kembalinya Lord Voldemort.

Oya, di sini, Harry sempat jadian ama Cho Chang, pacar Cedric. Tapi terus putus, karena Cho cemburu sama Hermione. Hihihi...

Soal Fred dan George, mereka dimodali Harry untuk bikin toko lelucon mereka sendiri. Hadiah Turnamen Triwizard yang diterima Harry, diserahkan semua oleh Harry kepada si kembar Weasley, karena menurutnya, dia nggak layak dapat hadiah itu. Tadinya sih, si kembar ga mau nerima. 1000 galeon gitu. Tapi, karena Harry bilang, dia jadi pemodal, akhirnya mereka berdua mau dan tokonya laris manis...

Karena toko mereka laris manis, mereka pun memutuskan keluar dari Hogwarts setelah sebelumnya meninggalkan kenang-kenangan untuk Umbridge, yang saat itu menjadi Kepala Sekolah Hogwarts yang sukses mengudeta Dumbledore.

Di buku ini, Harry berkenalan Luna Lovegood, dari asrama Ravenclaw. Atas bantuannya, nama Harry menjadi bersih. Dia dan ayahnya termasuk orang nyentrik. Ayahnya adalah editor The Quibbler, yang memuat wawancara sesungguhnya dengan Harry yang berhasil membuat orang percaya bahwa Kau Tahu Siapa sudah kembali. Luna juga termasuk anggota Laskar Dumbledore.  

Luna Lovegood
Oya. Karena ada koneksi pikiran antara Harry dengan Kau Tahu Siapa, Dumbledore meminta Harry buat belajar Occlumency dengan Snape. Harry nggak serius menutup pikirannya dan ini membuat Snape geram. Ada kejadian yang membuat Bunda semakin bersimpati terhadap Snape, ketika Harry berhasil tahu masa lalu Snape. Ternyata Snape menjadi korban bullying ayah Harry semasa muda. Kesimpulan Bunda, sih, Snape benci banget ama Harry karena Harry mengingatkannya ama James Potter kali, ya... :D

Terus terang, sejak buku kelima ini, progres baca Bunda jadi semakin lambat. Bukan karena tebalnya, itu sih nggak masalah. Tapi karena suram banget. Belum lagi, ada kematian yang tiba-tiba, yang kayaknya nggak mungkin, tapi betul-betul terjadi. Pertama kali baca buku ini, 7 tahun lalu, Bunda nangis, karena ikut merasakan penyesalan yang dirasakan Harry. Ternyata setelah baca ulang, Bunda tetep mewek juga.

Gabungan antara gemas, geli, lucu, seram, geram, marah, sedih ada di sini. Campur aduk. Kalo lihat di Goodreads, ada yang cuma kasih bintang 2 dan komentarnya: "jelek banget!"
Nggak tahu kenapa senepsong itu kasih bintang 2. Mungkin karena suram, kali, ya... Hihi.. Tapi banyak yang kasih bintang 5 kek Bunda, kok... 

Kalo Bunda kasih bintang 5 bukan untuk kematian Sirius Black. Tapi untuk Laskar Dumbledore, untuk Fred dan George, untuk Snape, untuk Dolores Umbridge, untuk Percy, dan lain-lain. Untuk semua perasaan campur aduk yang ada di buku ini...

Harry Potter and The Deathly Hallows [Re-read]

Actually I have finished this book weeks ago, but…..I already knew that this seventh book of Harry Potter would be the most difficult to review. Why? Because there are so many actions, so many important details, so many touching scenes, and so high tension, that you’d wonder where to begin with…. But, a review must be made anyhow, so, I’ll try to be moderately short. :)

Harry’s separation with the Dursleys is so abrupt, but nevertheless, Dudley’s last words is quite touching. And I think it acts as a consolidation between Harry and the Dursleys. No matter how rude they have been to him all those years, nevertheless, without them, Harry would not have survived from Voldemort. Again, Rowling highlights the importance of home and family to protect you from the world’s evil; and before you come of age, do not leave that protection for your own good.

The trio’s journey to find the Horcruxes is very interesting. It seems to have prepared them to deal with much more dangerous situations later on. I admire their strong friendship; these hard times have tested and purified it. The journey is sometimes rather distressing, when they are in bad mood and don’t know what to do for days (I skipped here and there on this stint), but Rowling could maintain the balance with little news here or new knowledge there, which I think makes the whole story becomes more natural.

Snape’s memory Harry has the privilege to enter via the Pensieve is very intriguing. One thing in it keeps me wondering; it is the scene of Lily Potter saying goodbye to Petunia right before the Hogwarts Express is about to depart. How on earth can Petunia—a muggle—enter the platform 9 ¾ ? Is it another flaw? In the seventh book? Anyway, I can, once again, understand Petunia’s feeling at that time. The separation hurt her so much, that makes her grown as a bitter person. For Lily, it is a new revelation, and being with people of her own kind makes her happy. But for Petunia? It’s as if she had lost someone by death. Happiness for someone could mean sorrow for another.

In this last book, the true characters of (in particular) Harry and Ron is more emphasized, with all of their struggles beneath what they appear to be all those years. In fact, they are more dependent to each other than they think. Harry needs Ron’s reasonable judgment, while Ron needs Harry’s lead; but pride often appears between them. Fortunately, they have Hermione as the counter-balance, as well as the brain (I often think that they need Hermione like we need Google; what can we do without it? LOL!).

From all the characters, I feel sorry to Albus Severus, the second son of Harry and Ginny. I think, bearing three great names: Albus, Severus and Potter must be quite a burden for anyone. Can you imagine if your parents named you like... Alexandre Pompey Caesar; wouldn't it be uncomfortable for you, knowing their reputation, that as if you are forced to do great things too? I think, even in naming his children, Harry still could not resist to do great things. I prefer Ron and Hermione's names choices: Rose and Hugo, making it simple, so the kids have chances to grow up normally with their friends.

And last but not least, I was reminded again of the grand theme which Rowling spare for Harry Potter series. After I read all the seven, I began to understand that Harry Potter was not meant to be a pure fantasy novel. First, it is about how people build their characters through experiences and free choices, like J.K. Rowling says: “It matters not what someone is born, but what they grow to be.” It’s not what they are born that is important, but what they do in life, that determines their future being.

Second, and the greatest value Rowling writes about, is LOVE; she wants to remind us of the power of love; to never stop believing it; and that love CAN destroy all kinds of evil—no matter how strong they are. And with that, Rowling actually talks about God, which is the Divine Love. In the world where evil take control, we seem to be weak, and it seems absurd that we are supposed to fight them who are much stronger. But don’t forget that Love is the most powerful agent in the universe, because “Where Love is, God is”; and as God is the Creator of the universe, who can beat Him? So, let us be brave like Harry, stand up against evil, fight like Hogwarts!

Five stars for The Deathly Hallows.

~~~~~~~~~

*I read Bloomsbury hardback edition for:*

*This book is counted as:*


7th book for Hotter Potter



Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita

Judul: Kisah-kisah Beedle Si Juru Cerita
Judul Asli: The Tales of Beedle the Bard
Penulis: J.K. Rowling
Penerjemah: Nina Andiana & Listiana Srisanti
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman: 144
Cetakan: II, Mei 2009
ISBN: 9789792244212

J.K. Rowling memang ahli dalam menulis kisah fantasi. Selain karya utamanya Harry Potter, buku ini merupakan salah satu karya berharga JK Rowling. Meski The Tales of Beedle the Bard merupakan kisah yang terkait dengan Harry Potter, kisah-kisah yang dimuatnya beda sama sekali dengan Harry Potter meski bergenre sama, fantasy.

Ada 5 cerita yang dimuat di sini, Sang Penyihir dan Kuali Lompat, Air Mancur Mujur Melimpah, Penyihir Berhati Berbulu, Babbity Rabbity dan Tunggul Terbahak, dan Kisah Tiga Saudara. Bagi pembaca series Harry Potter mungkin mengenal kisah terakhir, Kisah Tiga Saudara, kisah yang mempengaruhi kisah Harry Potter di bagian terakhir. Tapi lupakanlah Harry Potter. Ini adalah kisah-kisah dongeng yang diceritakan oleh Beedle, tokoh khayalan di dunia sihir Rowling, seorang juru cerita.

Membaca buku ini tak butuh waktu lama. Dengan kekuatan kesederhanaan kata yang dituliskan, meski singkat isi bukunya sangat dalam dan menyentuh. Cerita-cerita ala Beedle, serasa kisah yang didongengkan di setiap malam oleh ibu kita. Tak perlu malu, dengan umur kita yang sudah dewasa ketika membaca buku ini karena buku ini untuk semua umur.


Apa yang diajarkan Rowling dalam buku ini? Kearifan, kejujuran, pengorbanan, dan tak rakus dengan tujuan yang ingin dicapai. Seperti ketika membaca kisah Harry Potter, saya terpikat juga akan buku ini. Berbeda dengan Harry Potter yang dengan kompleksitasnya tetapi indah dan membuat penasaran untuk membalik halaman demi halaman, buku ini lebih sederhana bahasanya. Tak ada mantra-mantra dengan bahasanya yang unik itu. Yang ada cuma dongeng berbahasa sederhana. Itu saja, tapi pesan yang dimuat, ditulis dengan cara petuah dari Profesor Dumbledore sangat mengena.


Meski saya tidak bisa bilang semua kisah dalam buku ini bagus, tapi kesannya saya bisa tangkap. Sebuah buku yang cakep, sesuai dengan kepiawaian Rowling.

souce foto
JK Rowling lahir di Yate, Gloucestershire Utara, Inggris, 31 Juli 1965. Sarjana Exeter University ini mengalami kegagalan dengan pernikahan pertamanya, seorang wartawan Portugis. Sekembalinya dari Portugis, ia awalnya hidup dalam kemiskinan. Untuk menulis Harry Potter saja dilakukan di kafe dimana ia hanya memesan makanan dan minuman dengan harga yang murah. Namun buku pertamanya, yang terilhami ketika JK Rowling sedang menaiki kereta api di Inggris, Harry Potter and Philosoper Stone menjadi buku yang laris manis, dan  semenjak itu JK Rowling menjadi salah satu penulis terkaya di dunia.

Selamat ulang tahun J.K. Rowling. Salah satu hal menakjubkan yang Anda lakukan adalah membuat orang lebih banyak membaca. Membaca, membaca, dan membaca. Berkat Anda, dunia buku menjadi lebih baik lagi. Terima kasih. Sukses selalu. 

HARRY POTTER AND THE DEATHLY HALLOWS REVIEW

Title: Harry Potter and The Deathly Hallows — Harry Potter dan Relikui Kematian | Author: J. K. Rowling | Edition language: Indonesian | Publisher: Gramedia Pustaka Utama | Edition: 1st Edition, Jakarta, Januari 2008 | Pages:999 pages | Status: Owned book | My rating: 5 of 5 stars *** Harry hampir 17 tahun. Mantra perlindungan […]

Review: Harry Potter and the Deathly Hallows

Tujuh. Kaum penyihir di dalam buku Harry Potter menganggapnya sebagai angka yang mengandung kekuatan magis. Beberapa orang di dunia nyata menganggapnya sebagai angka keberuntungan. Beberapa fans Harry Potter bahkan mengatakan bahwa ketujuh buku Harry Potter adalah tujuh Horcrux yang dibuat seorang J.K. Rowling untuk menyimpan bagian-bagian jiwanya, sehingga beliau bisa hidup selamanya. Terlepas dari setuju […]