Ken Arok: Cinta dan Takhta

Jejak Hidup Sang Revolusioner

cover ken arok cinta dan takhtaJudul                             : Ken Arok: Cinta dan Takhta

Penulis               : Zhaenal Fanani

Penerbit                        : Metamind (Penerbit Tiga Serangkai)

Tahun Terbit                 : Pertama, 2013

Jumlah Halaman            : 536 halaman

ISBN                           :  978-602-9251-19-7

Peresensi                      : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

Setiap kali mendengar nama Ken Arok, maka pasti selalu yang kita pikirkan adalah Ken Dedes, Mpu Gandring dan Tunggul Ametung. Selain itu, streotipe seorang Ken Arok di mata masyarakat bisa dibilang negatif. Pencuri, begundal, pembunuh Mpu Gandring dan mengambil kerisnya, membunuh Tunggul Ametung dan merebut istrinya, Ken Dedes. Begitulah apa yang kita dapat dalam pelajaran sejarah di sekolah.

Lain halnya dengan novel karya Zhaenal Fanani ini Ken Arok: Cinta dan Takhta ini. Sebagai orang kelahiran Malang dia ingin mengubah streotipe negatif yang sudah melekat di nama Ken Arok melalui novelnya tersebut.

Ken Arok lahir sebagai anak “haram” perselingkuhan antara Ken Ndok yang merupakan istri Maharesi Agung Sri Yogiswara Girinata dengan murid sang Maharesi Gajah Para. Penyebab hal ini adalah sang Maharesi hingga saat itu sang Maharesi belum menggauli istrinya. Sebagai perempuan normal Ken Ndok tentu ingin sekali sentuhan kasih sayang seorang lelaki. Namun ternyata Gajah Para tidak mau bertanggung jawab dan Ken Ndok pun merasa bersalah kepada Maharesi lalu dia kabur dari padepokan dan melahirkan Ken Arok.

Namun Ken Ndok tidak mau merawat Ken Arok, dia ingin anak itu dirawat oleh alam. Dia menaruh bayi Ken Arok di Setra (Kuburan) dan ditemukan oleh seorang pencuri yang lagi beraksi bernama Ki Lembong. Setelah melihat ada lambing cakra di tangan Arok kecil, dibawa pulanglah Arok kecil dengan keyakinan akan membawa keberuntungan untuknya. Ki Lembong memberi nama Arok kecil dengan nama Temon. Tidak salah keyakinan Ki Lembong ternyata Temon memberinya keberuntungan, Temon pun selalu ikut mencuri bersamanya. Hingga suatu saat Ki Lembong ingin Temon pergi untuk mencari sejarahnya sendiri yang benar.

Temon pergi, berjalan tanpa tujuan kemudian bertemu dengan Bango Samparan seorang penjudi. Temon diganti nama menjadi Ken Arok oleh Bango Samparan. Saat berjudi Bango Samparan selalu mengajak Ken Arok dan selalu menang. Terus begitu. Kemudian tak hanya menjudi saja kebiasaan lama Ken Arok mencuri pun semakin menjadi. Dia biasa menjudi dan mencuri bersama sahabatnya Tita, anak kepala dusun Seganggeng. Karena perbuatan tidak baik itu keduanya dibawa ke padepokan Mpu Palot untuk belajar sastra dan silat. Sayang mereka berdua tidak kerasan dan kabur untuk tetap menjudi dan mencuri.

Karena masyarakat resah karena aksi pencurian yang mereka berdua lakukan, akhirnya Kadiri memerintahkan Tunggul Ametung menjadi seorang Akuwu di Tumapel. Sejak itu Tumapel menjadi lebih sejahtera dan penjagaan ketat prajurit Tumapel yang menyebabkan perlahan yang meresahkan masyarakat hilang. Namun, bukan berarti Ken Arok dan Tita tidak mencuri lagi, bahkan mereka akan mencuri barang-barang di Pakuwon Tumapel.

Setelah melakukan aksi tersebut, mereka berpisah karena dikejar-kejar oleh prajurit Tumapel. Ken Arok sendiri ditolong oleh seorang yang misterius bernama Gendeng Panuntun. Ken Arok pun mengikutinya hingga Padepokan Dan Hyang Lohgawe. Ken Arok menetap di sana dan dididik oleh Dan Hyang Lohgawe.

Di tempat inilah yang menjadi titik balik Ken Arok yang dulunya seorang pencuri dan penjudi kini ingin berubah. Tumapel yang semakin sejahtera, namun mendapati keadaan yang pelik karena Kadiri memaksa Tumapel untuk menambah jumlah upeti. Hal ini juga memaksa Akuwu Tunggul Ametung pun memaksa meminta lebih kepada rakyat. Rakyat sejak dulu kurang suka dengan Tunggul Ametung karena kebiasaan buruknya, semakin benci karena upeti harus ditambah. Ditambah kebencian brahmana akibat masa lalu Tunggul Ametung yang membawa paksa Ken Dedes dari rumah Mpu Purwa.

Ken Arok kembali turun menjadi pencuri mengajak Tita, namun pencuri yang baik karena mencuri upeti yang akan dikirim ke Kadiri kemudian diberikan kepada rakyat lagi. Tumapel semakin kacau, ditambah semakin banyak konspirasi memperebutkan kuris Akuwu, baik dari luar Tumapel maupun dari dalam Tumapel sendiri. Hingga terjadi keributan yang mengakibatkan Tunggul Ametung dibunuh oleh para pembuat konspirasi dan hadirnya Ken Arok menjadi pahlawan yang dicintai oleh rakyat Tumapel.

Maka, keberadaan Ken Arok yang dari Zero to Hero, dari orang biasa menjadi seorang revolusioner adalah hal yang menarik dalam novel ini. Selain memang ada kisah cinta antara Ken Arok dan Ken Dedes, juga perempuan ketiga yang bernama Ken Umang.

Zhaenal Fanani menulis novel sejarah ini dengan baik dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna. Sebagai novel epik berlatar sejarah Jawa, namun tetap karena buku ini adalah novel tidak bisa menjadi pijakan sejarah yang pas. Tapi tentu perjuangan Zhaenal Fanani berdarah-darah mencari data dan waktu menulisnya yang lama pun harus pembaca apresiasi. Akhirnya, dalam buku ini masih ada yang misterius dan menjadi pertanyaan. Siapakah sebenarnya Gendeng Panuntun itu? Bagaimana keadaan Tumapel ketika Ken Arok menjadi Akuwu? Seperti kata Zhaenal, buku ini akan ada sekuelnya. Maka sebelum sekuelnya terbit alangkah baiknya Anda membaca novel ini lebih dulu. Sebuah novel yang layak dibaca oleh siapa saja, terutama orang Malang dan sekitarnya, agar mengetahui sejarah daerahnya sendiri.

Resensi Ken Arok di Tribun Jogja 16 Maret 2014

Resensi Ken Arok di Tribun Jogja 16 Maret 2014 (dok. pribadi)

gambar diambil dari sini

(25-Dimuat diTribun Jogja 16 Maret 2014)


Filed under: Fiksi, Indiva Readers Challenge (IRC) 2014, Lokalitas, Novel, Resensi Buku, Sejarah, Tribun Jogja Tagged: buku, buku 2013, cinta, fiksi, indiva reading challenge (irc) 2014, inspiratif, ken arok, ken dedes, konspirasi, mpu gandring, novel, review 2014, singosari, tiga serangkai, tumapel, zhaenal fanani