REVIEW Ken dan Kaskus

Sukses adalah bila kita bisa mencapai kebahagiaan atas hasil yang kita raih.

Orang banyak mungkin berpikir, ah, asal ada modal gede menjalankan bisnis apa pun mudah. Itu adalah persepsi keliru. Modal adalah modal. Tapi bisnis apa pun memerlukan multitalenta yang pas dengan jenis bisnis yang kita jalankan. Kaskus itu unik bagi Ken. Saat nekat memodali situs itu, pengetahuan Ken bahkan nol besar tentang bisnis online di Indonesia. Jadi, Ken dan Kaskus sebetulnya sama-sama mengembangkan dan saling mengajari. Talenta Ken berkembang mengikuti pengalaman jatuh bangun mendorong Kaskus untuk maju. Dan di saat perjuangan itu berjalan, yang diperlukan bukan uang belaka. Ada strategi, kejelian, kesabaran, kecerdikan, kemauan untuk belajar. Dari situlah ilmu bertambah.

Siapa sih yang nggak mengenal Kaskus dengan beberapa tagline-nya, seperti; Mimin, pertamax, agan dan sebagainya? Adalah Ken Dean Lawadinata sebagai salah satu pemilik Kaskus. Di usianya yang terbilang muda, 27 tahun, Ken mampu melebarkan sayap membangun Kaskus bersama Andrew. Menggiring ratusan ribu orang untuk meluncur ke forum Kaskus. Omaygad, Ken ini seumuran saya, prestasi dalam hidup yang saya capai nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan kisah Ken dan Kaskus yang fenomenal ini.

Kaskus adalah sebuah komunitas yang tumbuh sangat pesat. Trafikmeningkat tajam hampir setiap hari. Tapi bukan berarti Kaskus tidak pernah mengalami cobaan. Tahun 2006, Kaskus mendapat serangan virus Brontok. Itulah kenapa Kaskus kemudian mengganti domain dari .com menjadi .us.

Yang paling dahsyat, fanatisme member Kaskus betul-betul amazing! Dari pengunjung yang hanya 3orang ketika Andrew membuat Kaskus pertama kali di tahun 1999, situs ini kemudian menjadi komunitas raksasa dengan kreatifitas dan sense of  belonging yang sangat powerful. Para Kaskuser telah menciptakan budaya berkomunikasi yang khas.

Adegan paling lucu adalah ketika Ken menyamar menjadi Johannes, bagian iklan sekaligus menjadi Johanna, bagian pembayaran saat Kaskus belum memiliki karyawan seperti sekarang ini. Ada juga taktik ala Andrew, setiap pagi masukke lab komputer dan menyalakan semua komputer. Semua PC di-klik satu per satu, masuk ke Kaskus. Saat itu Value-Click hanya membayar sekalik klik banner Kasku yang muncul dari satu PC. Jadi semakin banyak PC yang mengklik, semakin bertambah 25 sen mereka. Dalam sebulan rata-rata mendapatkan 50 dolar. Sementara biaya server bulanan saat itu 7 bulan.

Kita semua melewati fase ‘menuju jalan sukses’ melalui pola yang nyaris sama, yaitu SD, SMP, SMA, kuliah, kerja. Sebagian orang bisa melewati pola yang berbeda karena kondisi. Misalnya, lulusan SMP atau bahkan SD karena dipicu oleh kondisi hidup sulit terpaksa berdagang lalu berhasil menjadi pengusaha besar. Lulusan SMA, karena ulet dan tak segan belajar pada orang lain bisa mencetak sukses pekerjaan melebihi orang-orang yang kuliah hingga S3. Tapi jelas, banyak orang yang sukses setelah melewati pendidikan sempurna. Garis sukses orang memang berbeda-beda.

Mengapa harus dibentuk persepsi bahwa mereka yang masuk ke IPA adalah hanya orang-orang pintar, dan oleh karena itu mereka jadi punya gengsi. Dan orang-orang yang masuk ke IPS adalah mereka yang bernilai pas-pasan sehingga jurusan itu tak memiliki kebanggaan apa-apa. Menurut saya memilih IPA dan IPS bukanlah dipandang dari gengsi dannggak gengsi, tapi dari kebutuhan siswa. (hlm. 94)

 

Suka banget dengan kalimat di atas. Saya juga berpikiran begitu. Jadi teringat pas sekolah ketika memasuki masa penjurusan, sampai beberapa kali dipanggil wali kelas gegara IPS adalah jurusan yang saya pilih. Lha, memangnya yang bisa sukses cuma masuk IPA aja?!? (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌ (‘⌣’┐) (┌’⌣’)┌

Banyak kalimat motivasi dalam buku ini:

  1. Jalan menuju sukses adalah tantangan yang penuh dengan alternatif, kejutan, dan kreativitas.
  2. Manusia bisa membuat perubahan-perubahan karena hidup menawarkan banyak kesempatan dan tantangan.
  3. Orang susah nggak akan terus menerus jadi orang susah jika bekerja keras.
  4. Hidup adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan.
  5. Kaya bukan berarti hidup jadi gampang. Sebab sewaktu-waktu manusia bisa jatuh karena penyebab yang nggak terduga.
  6. Jadilah fleksibel untuk menangkap peluang. Tapi fleksibel yang bertanggungjawab.
  7. Hidup memiliki banyak kemungkinan. Nggak ada yang menjamin segala sesuatu yang tampak telah mantap akan berjalan persis seperti prediksi kita.
  8. Bersiaplah menghadapi resiko terburuk, dan pikirkan solusinya. Daripada berandai-andai untuk yang serba baik dan nggak siap menghadapi kenyataan sebaliknya.
  9. Fleksibilitas dan intuisi kita akan memberi sinyal tentang apa yang harus kita perbuat.
  10. Apa yang nggak kita duga bisa terjadi. Semua itu terjadi karena ada kemauan membuka jalan, keberanian untuk menantang sesuatu, dan mengambil risiko untuk suatu impian yang benar-benar kita yakini.
  11. Setiap waktu yang berjalan akan membawa nilai-nilai baru, pelajaran baru, dan kemungkinan-kemungkinan baru.

Dibandingan kisah Ken, saya justru lebih tertarik dengan kisah Andrew yang cenderung lebih mandiri. Ia hanya menerima subsidi kuliah selama dua tahun masa kuliah. Setelah itu, ketika ia telah menjalankan Kaskus walau penghasilannya belum seberapa, ia mantapkan diri untuk mandiri. Benar-benar mandiri. Nggak dikirimi uang lagi dari Indonesia. Memenuhi kebutuhannya sendiri, menghadapi berbagai persoalan hidup di Seattle, juga sendiri.

Kita nggak selalu memiliki semua kemampuan yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha. Adakalanya orang bisa berjalan sendirian, tapi nggak jarang ada orang yang perlu tangan orang lain untuk menopang usahanya. Dengan berpatner dengan pihak lain, pasti ada sisi-sisi lemah kita yang terisi. Apa yang kita nggak bisa, bisa dilakukan oleh mereka. Seperti itulah hikmah yang dapat kita ambil dari pengalaman Ken dan Andrew dalam menjalankan Kaskus.

Setiap keputusan pasti mendatangkan resiko. Apalagi partnership atau kerja bareng dengan pihak lain dalam bisnis. Trust  harus ada. Kepercayaan harus penuh, karena kalau nggak, kerjasama itu hanya akan menghasilkan kecurigaan-kecurigaan yang berujung pada pertikaian. Saat kita memutuskan berpatner, bangunlah rasa percaya.

Cakupan perasaan sukses itu luas dan bentuknya beragam. Jadi, nggak usah terjebak untuk terbentuk menjadi figur sukses seperti yang digambarkan orang. Tanya saja pada diri sendiri, apa yang sebetulnya ingin dilakukan dan lakukan yang terbaik.

Ada banyak pelajaran hidup yang bisa kita petik dari pengalaman Ken dan Andres saat membangun Kaskus. Dan yang paling salut dari mereka berdua adalah kepedulian akan Indonesia yang bisa dilihat saat ketika mereka menimba ilmu di Seatle kembali ke tanah air dan membangun masa depan di Indonesia. Jadi, ini bukan sekedar bisnis semata. Bisa menjadi contoh bagi para pelajar Indonesia yang sedang menimba ilmu di negeri seberang. Jangan lupakan negeri sendiri yang membutuhkan para pemudanya untuk membangun negeri ini.

Keterangan Buku:

Judul                            : Ken dan Kaskus

Penulis                          : Alberthiene Endah

Fotografer sampul         : Dimas Jenie

Desain cover                : Reggita Sudirnoputri

Desain isi                      : J. Henk Winiarty dan Anja Purbajaya

Penerbit                        : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                           : 2013

Tebal                            : 301 hlm.

ISBN                           : 978-979-22-9288-6