Murjangkung





Judul : Murjangkung : Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu

Penulis : A.S Laksana

Penerbit : Gagas Media

Tahun Terbit : 2013


Setiap tukang cerita pastilah berniat memukau orang sejak pertama.

Murjangkung, raksasa berkulit bayi, yang datang membeli tanah enam ribu meter persegi di tepi timur sungai kota. Murjangkung mendirikan rumah gedong. Pangeran pemilik tanah menagih sewa pada Murjangkung yang dibalas dengan moncong meriam. Lalu, datanglah rombongan kedua yang mendirikan rumah gedong di tepi barat sungai, menyaingi rumah gedong Murjangkung. Pertempuran tidak dapat dielakkan keduanya. Murjangkung berhasil menang setelah sempat lari meninggalkan rumah gedong dan pasukannya lalu kembali dengan rombongan pemabuk dan budak-budak dari timur. Murjangkung mendirikan kota sendiri. Masalahnya kaskus belum ditemukan saat itu. Kotoran-kotoran manusia menumpuk mendatangkan penyakit buat penduduk kota, disentri, malaria. Sampai Murjangkung sendiri mengalaminya. Murjangkung mati sakit perut. Anaknya mendirikan patung untuk menghormati ayahnya di tanah lapang yang kemudia dikenal dengan nama lapangan banteng.

Sebut saja namanya Gloria. Sebelum Gloria lahir, kakek neneknya sangat mendambakan kehadiran cucu dari 3 anaknya. Anak pertama tidak menikah. Anak kedua menikah dengan pria yang agak berumur, sudah 7 tahun menikah belum dikaruniai anak. Kakek neneknya tidak hanya berdoa meminta kepada Tuhan, mereka mendatangi tempat-tempat keramat yang dipercaya manjur untuk mendapatkan keturunan. Kemana orang bilang akan diturut dua orang tua ini. Akhirnya calon cucu hadir juga namun yang mengandung adalah anak ketiga yang dipanggil cacing. Cacing belum menikah dan tidak mau memberitahu siapa ayah si cabang bayi. Hingga lahirlah gloria ke dunia. Gloria tidak lama menghirup udara dunia. Kakeknya menggorok lehernya karena ilham yang ia dapatkan. Bahkan ia pun belum sempat diberi nama. Saat kakek dan ibunya meninggal, mereka tidak bertemu di dunia lain.

Dua cerita di atas, Murjangkung dan Otobiografi Gloria adalah bagian dari dua puluh cerita AS Laksana. Masih ada cerpen Dongeng Cinta yang Dungu, Cerita absurd bagaimana jiwa bisa tertukar. Perempuan dari Masa Lalu. "Di masa lalu, kita adalah sepasang kekasih." Seto mengucapkan ke sembarang perempuan siapa tahu ada yang kena.  Seto Menulis Peri, Pelangi, dan Para Putri. Seorang lelaki, jika tidak menjadi raja di rumah sendiri, niscaya akan menjadi setan. Mayor yang sudah memiliki istri cantik tetap saja memberikan bunga ke perempuan lain. Teknik Mendapatkan Cinta Sejati. Katakan saja agama kalian berbeda, mungkin penolakan saat menyatakan cinta tidak akan terlalu menyakitkan. Dua Perempuan di Satu Rumah. Cerita anak, ayah dan ibu yang mati sekitar umur 30an tahun. Dan cerpen-cerpen lainnya sebagai berikut : Bagaimana Kami Selamat dari Kompeni dan Sebagainya ; Bukan Ciuman Pertama ; Tuhan, Pawang Hujan, dan Pertarungan yang Remis ; Kisah Batu Menangis ; Seorang Utusan Memotong Telinga Raja Jawa ; Lelaki Beristri Batu ; Efek Sayap Kupu-Kupu ; Ibu Tiri Bergigi Emas ; Seorang Lelaki Telungkup di Kuburan ; Malam Saweran ; Cerita untuk Anak-Anakmu ; Kuda ; Peristiwa Kedua, Seperti Komidi Putar.

Ini pertama kalinya saya membaca tulisan dari AS Laksana. Saya cukup terkesan dengan cerpen pertama, Murjangkung. Saya baru tahu kalau Murjangkung tersebut adalah Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Hindia Belanda yang terkenal dengan kekejamannya membantai penduduk asli pulau Banda. AS Laksana menceritakan saat terakhir Murjangkung dengan gayanya sendiri.


Kukila


Judul : Kukila

Penulis : M. Aan Mansyur

Penerbit : Gramedia Pustaka Umum 

Tahun Terbit : 2012 


Kumpulan cerpen ini dibuka dengan cerita Kukila, tentang cinta segitiga di hidupnya. Kukila berpisah dengan suaminya Rusdi. Sejak Rusdi pergi, anak-anaknya juga memulai kehidupan sendiri di kota lain. Tinggal lah Kukila yang sendirian di dalam kenangannya. Kukila menuliskan rahasia hidupnya pada anak pertamanya, Rora bahwa mereka bukan lah anak kandung Rusdi tetapi anak dari Pilang, kekasihnya. Kisah Kukila serupa dengan cerita orang tua yang diturunkan dari orang-orang tua sebelumnya. Kebetulan nama tokohnya pun sama, Kukila dan Pilang.

Dulu ada sepasang kekasih yang sering bertemu di dekat pohon besar, Kukila dan Pilang. Mereka terpaksa mengakhiri cinta mereka karena Kukila telah dijodohkan dengan anak pemangku adat, Tumbra. Kukila meminta Pilang untuk tetap menjadi kekasihnya. Kukila berjanji akan memandang Pilang setiap malam dari jendela rumahnya. Tidak hanya Kukila saja yang memandang Pilang. Tumbra, suami Kukila turut memandang ke arah Pilang. Pohon lah yang menjadi saksi bisu bahwa Tumbra mencintai Pilang juga. Hingga suatu hari mereka mengakui perasaan dan bunuh diri bersama-samanya.

Kukila pun sering muncul di cerita-cerita berikutnya. Kukila..Kukila..dan Kukila..

Kukila terdiri dari enam belas cerita pendek. Sebagian besar tema cerpen menceritakan tentang cinta. Cinta pertama, cinta yang dipaksa, cinta yang dijodohkan, cinta seorang anak ke ibunya atau sebaliknya, dan cinta pada kekasih orang lain. Tipe yang terakhir lah yang banyak mendominasi kumpulan cerpen Kukila. Perselingkuhan adalah kata tabu untuk sebuah hubungan. Namun perselingkuhan tidak sekadar soal berahi. Jika masing-masing pihak mengetahui bahkan mengijinkan, bagaimana ? Dalam cerpen Kukila misalnya, pasangan suami istri Kukila dan Rusdi diharuskan memiliki keturunan oleh keluarga masing-masing. Keduanya sama-sama anak tunggal. Kelanjutan garis keluarga bergantung pada mereka berdua. Yang keluarga tidak tahu Rusdi mempunyai kelemahan. Rusdi akhirnya menyerahkan Kukila pada Pilang sampai mereka mempunyai 3 anak. Sama seperti dalam cerita Tiba-tiba Aku Florentino Ariza.


Di beberapa cerpen yang lain saya tidak bisa membedakan apakah itu karangan atau memang cerita hidup dari penulis sendiri. Ada kisah ayah yang meninggalkan keluarganya saat tokoh aku berumur 9 tahun. Namanya sama dengan nama penulis membuat saya bertanya-tanya apakah ini pengalaman personal. Saya tidak masalah dengan gaya berceritanya Aan Mansyur. Suka malah. Namun dominasi tema perselingkuhan membuat kumcer Kukila tidak variatif.

REVIEW The Shape of Love

“Kamu harus mulai belajar mencintai dirimu sendiri. Bayangkan, kalau kamu tidak bisa mencintai dirimu apa adanya, bagaimana kamu mengharapkan semuanya juga mencintai dirimu? (hlm. 75)”

“Daripada dipendam? Nanti jamuran, Neng! Makanya, jadi orang jangan pemalu banget napa sih? (hlm. 93)”

“Lo nggak bisa memaksakan perasaan orang lain. Jangan nyiksa diri lo sendiri.” (hlm. 125)
“Lo harus punya alasan dong kalo mau cemberut. Kalau nggak ada, senyum aja. Apa sih susahnya?” (hlm. 155)365 HariKok ada ya cowok ganteng seperti dia hobinya cuma baca komik? Bukankah seharusnya ia tebar pesona kepada setiap cewek yang sudah tak sabar ingin berkenalan? Lihat saja, banyak sekali cewek yang mengintip ke dalam kelas karena ingin melihat cowok baru yang ganteng itu. (hlm. 2)

Keriting VS Lurus

Berbeda dari Dita, senyum selalu mengembang di bibir Mita. Ia sedang asyik berceloteh riang dengan salah satu temannya, Rara. Tawa mereka terburai saking lucunya cerita yang diungkapkan oleh Rara. Mendengar itu, Dita semakin cemberut. (hlm. 13)

My Sweet Seventeen

Ketika aku membuka kado dari mama, aku terpaku. Sebuah baju pesta yang sangat cantik. Aku tahu baju itu adalah baju yang dijahit oleh mama setiap tengah malam. Aku begitu terharu sampai tidak bisa membendung lagi air mataku. Aku memeluk mama dengan erat. (hlm. 36)

Rahasia Kamar Masa Lalu

Aku tidak bisa menghilangkan sosok itu dari pikiranku. Setengah mati aku ketakutan dan bulu kudukku merinding. Karena itu, malam ini aku tidur dengan lampu menyala. Rasanya baru menjelang pagi aku bisa tertidur. Itu pun juga dengan memegang senter dan memeluk guling erat-erat. Ketika aku membuka mata, di hari yang aku pikir sudah siang, aku kembali melihatnya. (hlm. 45)

Rambut Panjang Nanda

Emilia, sahabatnya yang cantik kini dengan kepala plontos. Tidak ada sehelaipun rambut di kepalanya. Wajahnya pun tidak secerah biasanya. Lingkaran hitam terlihat nyata di matanya. (hlm. 57)

Sayap Pink Lola

Lola adalah peri berumur 16 tahun. Ia mendapatkan surat yang dikirim melalui burung merpati berwarna putih. Bukannya senang, lola malah kesal dan meremas surat yang berwana pink itu. Seharian itu, wajah Lola selalu cemberut. (hlm. 64)

Surat Cinta dari Malaikat

Semua berawal dari sebulan yang lalu. Aku menerima surat itu sudah teronggok di mejaku. Sebuah surat yang isinya sangat manis, namun terkesan gombal. Aku menertawakannya, tetapi tak membuatku berhenti memperhatikan sekelilingku. (hlm. 80)

Ternyata Cinta

Ada beberapa murid yang rupanya terlambat untuk masuk sehingga terkunci di luar gerbang sekolah. Tiba-tiba jantungku berhenti berdetak. Salah satunya adalah Kak Devin. (hlm. 91)

Ibuku bernama Rosi

Mereka cukup terkejut melihat ibuku. Mungkin mereka tidak menyangka, apalagi melihat penampilan ibuku yang terlalu sederhana untuk mempunyai seorang anak yang bersekolah di sekolah bergengsi seperti ini. (hlm. 102)

XXL Extra Extra Large

Kakinya seperti diganduli medan magnet yang menarik Bobo hingga mengikutinya. Bobo berusaha berjalan dan menjaga jarak. Sosok yang selalu mengisi mimpinya siang dan malam sekarang sedang tersenyum dan terlihat sedang asyik berbincang. (hlm. 113)

Cup Cake Cinta Chantal

Chantal memilih ngumpet di perpustakaan sehingga tidak ada orang yang bisa menemukannya. Begitu juga ketika pelajaran berakhir, ia memilih cepat pulang dan mengurung diri di kamar. Ia menatap cupcakes buatannya dengan sebal. Ia sendiri sudah tidak bernafsu untuk memakannya. (hlm. 136)

Kangen Mie Ami

Tidak ada perubahan meski dia sudah lama tidak tinggal di rumah ini. Bukan karena punya rumah lagi, atau ngekos, tetapi kabur karena tidak akur dengan papa dan sering bertengkar. Aku tidak menyalahkan papa yang memang kecewa dengan anak cowok satu-satunya ini. (hlm. 140)

Senyum Kirana

Dimas menggelengkan kepala, berusaha mengusir sosok Donna dari pikirannya. Meski sudah dua tahun putus darinya, rasanya mantannya itu masih meneror pikirannya. Padahal yang mrmutuskan juga bukan Dimas, melainkan Donna. (hlm. 150)

Kisah cinta dari berbagai sudut. Hampir seluruh cerpen mengambil masa putih abu-abu. Selalu ada pesan moral yang terselip di setiap cerpen. Masa-masa remaja memang masa pencarian jati diri. Pas baca ini jadi kepikiran, kayaknya seru juga ya nulis cerita bersetting murid-murid unyu. Nanti mau berguru nulis ama Mbak Christina deh biar bisa bikin tulisan yang ciamik! :D

Merupakan kumpulan cerpen yang ditulis oleh Mbak Christina Juzwar yang prodyuktif menulis. Beberapa buku yang sudah ditulisnya adalah Bukan Cupid (201), Autumn Once More (2013), Billy-Fin or Not (2006), Love Lies (2010), It Takes Two to Love (2012), Seoul, I Miss You (2012), dan Lovely Proposal (2013)

Keterangan Buku:

Judul Buku                          : The Shape of Love

Penulis                                 : Christina Juzwar

Editor                                    : Meidyna

Setting                                  : Irwan FM

Desain cover                      : Sarah Zerlinda W.

Korektor                              : Andong

Penerbit                              : Sheila imprint C.V. Andi Offset

Terbit                                    : 2013

Tebal                                     : 162 hlm.

ISBN                                      : 978-979-29-4164-7

REVIEW Sell Your Soul

Kepedihan ini bagai laut menggelora diterpa badai, melontarlkanku dari satu dunia ke dunia lain, membenamkan ke dasarnya yang dingin dan gelap, tanpa belas kasihan, tidak memberiku udara untuk bernapas. Rasa sakit ini serupa sayatan belati, merobek dadaku dan menumpahkan darah merah, kental, amis. Mengalir deras, terus, dan terus, sehingga kematian adalah anugerah tak terkira. (hlm. 76)

Cerpen pembuka adalah SETERU yang ditulis oleh Bintang Berkisah. Tentang hubungan anak dengan ibu tirinya. Memang tidak mudah untuk menerima orang baru di kehidupan kita. Sangat berbeda seorang yang akan kita panggil ibu hanya karena status perkawinan dengan ayah kita dengan ibu yang melahirkan kita. Beda jauh. Tapi itu mungkin tidak bisa dibandingkan. Manusia kembar saja beda, apalagi orang yang benar-benar berbeda.

“Siapa yang peduli jika aku terisak lantaran mengingat ibuku? Aku merindukan kehangatan, pelukan, senyuman, dan kesabarannya, yang tertatah sempurna di jiwaku. Bahkan ketika sakit teramat parah, ia memilih menahannya demi mencipta senyum untukku. Ah, ibu takkan pernah tergantikan oleh siapa pun, apalagi perempuan itu.” (hlm. 2)

Di dunia ini siapa yang tidak pernah mengalami kegagalan? Keputusaasaan? Perasaan hancur, letih, kecewa? Hampir tidak ada. Karena itu buku antologi ini menyoroti perilaku manusia saat mengalami perasaan seperti itu. Ada orang-orang yang bisa berdiri kembali karena punya keteguhan hati, ada orang yang akhirnya menjadi pecundang, tidak pernah bisa menghadapi itu, bahkan menjual jiwa pada kekuatan lain

Cerpen-cerpen dalam buku antologi ini memiliki benang merah sosok Athena yang datang karena panggilan mereka lewat magic words. Athena akan memberikan sesuatu sebagai alat di pemanggil mewujudkan keinginan mereka. Adapun dibawa kemana baik-buruknya diserahkan pada masing-masing pemanggil.

Selain ada Athena yang muncul di setiap cerita, kita juga akan menemukan sebuah kalimat yang juga akan ditemui dalam setiap cerita; Aku tidak mau merasakan sakit seperti ini lagi. Aku akan melakukan apa saja. Apa saja! (semacam kalimat rapalan)

Buku antologi ini terdiri dari 15 cerita dengan gaya penulisan yang berbeda dan khas setiap penulis. Semua cerpen cenderung absurd, saya suka banget cerpen absurd-absurd seperti ini.

KEMATIAN BIDADARI MATA BIRU

Dengan langkah hati-hati, aku dekati Krisna yang terlihat terlelap dengan posisi duduk bersandar. Tanpa perasaan ngeri dan ragu, aku pun menggunting dua kali leher Krisna. Kepala Krisna pun putus… jatuh menggelinding di lantai. (hlm. 24)

KEEP SILENT!

Lalu terlihat ujung gergaji mesin menembus kotak kayu, semakin masuk dan hampir menyentuh kulitku. Insting mempertahankan diri membuatku refleks menendang tutup kotak kayu, Rey mati dengan gergaji mesin menembus jantungnya. (hlm. 33)

SIAPA PUN, TOLONG HENTIKAN AKU!

Lamat-lamat Deri bangun dari tidur berjalan sempoyongan menghampiri Pak Dimas, tangannya menggenggam cutter, perlahan memotong bagian lehernya. Darah berceceran, Deri terus memotong lehernya sendiri. Mulut Deri bergerak-gerak mengeluarkan suara memilukan. (hlm. 35)

Ceritanya semua menegangkan. Baca ini pas ngawas ujian TO. Karena pas baca ini gak nyadar megangin perut karena mules baca cerita-cerita yang bikin ngilu, malah dikira murid-murid unyu kalo saya lapar x)

Beberapa kalimat favorit:

  1. Cinta hanya perlu dimengerti oleh hati masing-masing. (hlm. 4)
  2. Hidup yang begitu singkat sangat sayang kamu gunakan untuk balas dendam. Hidup dalam dendam lebih mengerikan dari kematian. (hlm. 32)
  3. Niat baik akan membuahkan akibat yang baik pula. Karena, niat adalah gerbang batin menuju ke berbagai tempat yang bertebaran di kepalamu. (hlm. 21)
  4. Jangan takut miskin sebab kehidupan itu tidak pernah berhenti meskipun raga dan jiwa kamu terpisah. (hlm. 19)

Ini kali pertama baca buku terbitan Chibi Publisher, dan langsung suka. Sepertinya genre yang diambil anti manstream ya buku-bukunya, jadi penasaran juga pengen baca Marshmallow-nya Evi Sri Rezeki nih! ;)

Keterangan Buku:

Judul                     : Sell Your Soul

Penulis                 : Poppy D. Chusfani, Evi Sri Rezeki, Eva Sri Rahayu, dll.

Desain cover      : Evi Sri Rezeki

Layout isi             : Sandy Muliatama

Editor                    : Eva Sri Rahayu

Penerbit              : Chibi Publisher

Terbit                    : 2012

Tebal                     : 128 hlm.

ISBN                      : 978-979-25-4859-4

Indonesian Romance Reading Challenge 2014 http://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Short Stories Reading Challenge 2014

http://luckty.wordpress.com/2014/01/18/short-stories-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

http://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

2014 TBBR Pile – A Reading Challenge

http://luckty.wordpress.com/2014/01/02/2014-tbbr-pile-a-reading-challenge/


REVIEW: (Kumpulan Cerita) Penjual Kenangan – Widyawati Oktavia

Judul: Penjual Kenangan (ketika harap mencari tepi)
Penulis: Widyawati Oktavia
Penerbit: Bukune
Tahun Terbit: Januari 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 40.000
Jumlah halaman: 214 hal.
ISBN (13): 978-602-220-089-5
ISBN: 602-220-089-x

*

Blurb:

Hidup terlalu singkat,

kata seorang kekasih menggugat cintanya yang pergi.

Bagaimana jika tak ada lagi cinta esok lusa?

Bagaimana jika jauh ternyata tak berapa lama jaraknya?

Kekasih itu menggugat.

Ia menangis.

Kenangan; satu-satunya yang paling berharga,

dimungkiri oleh cintanya.

Hidup terlalu singkat, katanya lagi.

Sambil mengemasi sisa-sisa harap dan bersiap pergi.

“Semoga ada persimpangan di depan sana.

Agar aku bisa menjual kenangan dan rindu yang menyisa,”

lirih hatinya, perih.

*

Review:

Awalnya buku ini sama sekali nggak masuk wishlist, tapi kemudian kebetulan melihatnya di toko buku dan langsung jatuh cinta pada covernya yang menawan itu. Dengan diskon 10%, akhinya Penjual Kenangan gue bawa pulang. Cerita berikutnya, gue pernah menyangka ini sebuah novel, sesuai dengan keterangan yang tertera di cover belakang bukunya. Tapi ketika dibaca, ternyata kumpulan cerita –ya, nggak tepat juga kalau langsung dituduh sebagai kumpulan cerpen, walau memang mayoritas isinya cerpen, namun ada beberapa cerita yang cukup panjang. Jadi gue akan menyebutnya ‘kumpulan cerita’ saja.

1. First impression

Ketika pertama kali lihat Penjual Kenangan, covernya yang berperan 80% membujuk gue mengambil buku ini dari rak toko buku. Makanya, gue sempat memendam buku ini berbulan-bulan tanpa dibaca karena memang awalnya dibeli bukan untuk dibaca –cuma buat dipandangi jendela unyu-nya itu :p #kelakuan

Tapi ketika gue mulai kehabisan bacaan dan awal bulan belum datang (belum waktunya belanja lagi), gue memutuskan baca buku ini. Sebenarnya, cerita pertama yang amat sangat menarik dan berhasil menggiring gue ke cerita-cerita berikutnya. Walau hingga ending, nggak gue temukan cerita yang benar-benar sebagus cerita pertama.

2. How did you experience the book?

Agak berat penulisannya. Bahasanya mendayu-dayu –kombinasi melow, galau, walau kadang ada manisnya. Dan isi ceritanya tidak bisa disebut ringan. Ada banyak unsur dongeng yang dipadu sedemikian rupa, juga ada unsur culture, dan sebagainya. Tapi sejauh yang gue rasa, gue nggak begitu kesulitan mencernanya. Justru gue merasa, bacaan seperti inilah yang sedang gue butuhkan sekarang.

3. Main Idea/Theme

Tema besar buku ini cuma satu kata: kenangan. Mungkin karena itu juga cerpen Penjual Kenangan judulnya dipakai sekaligus menjadi judul buku. Ada banyak kenangan yang disajikan penulis dalam 11 kisah.

4. Review Singkat Cerpen

  • Carano: mengisahkan seorang gadis Minang yang datang dari keluarga taat adat istiadat, namun ia dan beberapa saudaranya menjalin hubungan dengan orang-orang yang terbiasa hidup modern di kota besar. Barangkali cerita ini diberi judul Carano (syarat meminang dalam adat pernikahan di Minangkabau. Berisi sirih, lengkap dengan kapur, gambir, pinang, serta tembakau) karena hal inilah yang menjadi inti cerita. Berawal dari kekesalan si gadis karena keluarga kakak iparnya menjatuhkan carano yang disusun Amak (sebutan Ibu bagi orang Minang) dengan susah payah tepat di hari akad nikah kakak perempuannya. Terlebih karena keluarga besannya merasa sudah lama hidup di kota besar hingga tidak terlalu mengindahkan adat. Ia merasa mereka menganggap keluarganya kampungan dan bersedih karenanya. Namun ternyata kesedihannya tak sampai di sana. Amak ingin sekali menyerahkan carano untuk keluarga calon suami si gadis kelak. Namun ketika ia bertemu lagi dengan lelakinya, yang didapatnya hanya rasa kecewa. Ia –atau mungkin mereka, baru saja menghancurkan impian Amak memberikan carano bagi calon menantu putri bungsunya. (Rate: 5/5)
  • Dalam Harap Bintang Pagi: tentang dua orang yang tengah dalam perjalanan pulang, salah satunya berkisah tentang dongeng peri bernama Rayina dan seorang petualang. Bagaimana kisah Rayina yang jatuh cinta, kisah petualang yang pergi jauh namun menyesal, lalu tidak menemukan Rayina ketika ia kembali. Kisah yang akhirnya dijadikan abu oleh si pendengar karena sesungguhnya ia sangat meyakini ucapan si pencerita –itu-hanya-dongeng. (Rate: 2/5)
  • Percakapan Nomor-Nomor: Tentang seorang penjudi bernama Mas Tarpin yang hari-harinya dihabiskan untuk mengadu nomer togel. Ia tidak pernah bekerja, walau masih punya harapan membelikan istrinya kalung emas dan sepeda serta baju untuk anak-anaknya –suatu hari.  Namun ketika sebuah mimpi mendatanginya, Mas Tarpin terbangun dengan kekagetan luar biasa –menyadari bahwa selama ini telah banyak uang yang dihabiskannya untuk nomor-nomor tadi. (Rate: 2/5)
  • Kunang-kunang: Ini termasuk salah satu cerpen yang gue suka selain Carano tadi. Kunang-kunang bercerita tentang seorang anak yang senang bermain dengan kunang-kunang setiap malam di teras rumah. Si anak hanya mengenal kunang-kunang dan Ibu sepanjang hidupnya. Hingga suatu hari ketika cukup umur, si anak mulai mempertanyakan perihal Bapak yang tak pernah nampak batang hidungnya. Setelah banyak kejadian, ia akhirnya sadar –di masa lalu, Ibu telah jatuh hati pada jelmaan kunang-kunang. Bapak adalah jelmaan kunang-kunang. Diketahuinya dengan jelas setelah ibu bercerita tentang kisah cinta kunang-kunang yang menyedihkan. (Rate: 4/5)
  • Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela: Ini juga kisah ibu dan anak. Si anak lelaki hanya mengenal Ibu dan dongeng Nawang Wulan bersama Jaka Tarub. Dongeng dari Ibu endingnya berbeda sendiri dengan dongeng Nawang Wulan lainnya; satu hal yang tidak pernah bisa dimengerti si anak, hingga ia beranjak dewasa. Sang Ibu berkata bahwa mereka tidak akan mati, jadi mereka tidak perlu takut, karena mereka adalah keturunan dewa. Si anak meyakini hal itu selama bertahun-tahun, namun berhenti ketika mendapati perempuan yang dicintainya meninggal. Hal ini membuatnya menutup hati dan enggan jatuh cinta lagi. Pahamnya akan kematian kembali berubah seperti sediakala, ketika didapatinya Ibu baik-baik saja padahal mengalami kecelakaan di tangga rumah. Hingga suatu hari, si anak menyadari bahwa yang ditakuti Ibu sebenarnya bukanlah kematian. Maka, ia memutuskan mencari sang ayah –Jaka Tarub yang telah mencuri selendang Ibu di masa lalu. (Rate: 4/5)
  • Penjual Kenangan: Inilah cerpen yang judulnya sekaligus dijadikan judul buku :D Setelah dibaca-baca, endingnya ternyata bagus. Walau awalnya nggak begitu mengerti. Alkisah tentang seorang lelaki yang melihat seorang gadis terus duduk menunggu. Menunggu ada yang lewat dan membeli sisa kenangan dalam keranjangnya. Suatu hari ia menghampiri, gadis itu yakin si lelaki adalah orang yang ditakdirkan membeli kenangannya –menukar seluruh sisa kenangan dalam keranjang dengan sebuah harapan. Lelaki itu mengakui bahwa ia memang penasaran, namun tidak mampu memberi harapan apa-apa. Ada gadis lain yang tengah menunggunya tiap sore, semenjak enam bulan yang lalu. (Rate: 5/5)
  • Tengara Langit: Tengara Langit berkisah tentang Roso –seorang bocah lelaki yang tinggal di perkampungan bersama kakek neneknya, Mbah Kandar dan Mbok Kartiwi. Ayah Roso meninggal di tengah lautan ketika melaut, sedang Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkan. Roso cerdas dan banyak bertanya ini itu, hingga Mbah dan Mbok begitu khawatir, bagaimana nasib anak malang itu ketika mereka tiada. (Rate: 3/5)
  • Menjelma Hujan: Tentang dua orang sahabat –Seruni dan Kemala. Seruni terus merajuk mengenai perasaannya tentang mantan pacar yang akan menikah. Kemala yang sibuk dengan pekerjaan, menanggapinya dengan acuh. Sikap acuh yang disangka Seruni baik-baik saja, tanpa tahu bahwa di masa lalu, Kemala tak pernah kehilangan ketika mantannya menikah. Ia tidak kehilangan, namun dirinyalah yang menghilang –hanyut ke laut bersama hujan sore. (Rate: 4/5)
  • Nelangsa: Seorang anak mengutuk ayahnya karena memberinya nama Nelangsa, membuatnya kerap diejek teman-teman sebaya. Hanya Ibu yang selama ini menyayanginya, hingga suatu hari Nelangsa menemukan Ibunya meninggal dicekik Ayah. Orang-orang menganggap Ibu mati bunuh diri dan Nelangsa dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ayahnya sendiri. Nelangsa sibuk bercengkrama dengan teman-teman barunya; cecak, laba-laba, kecoak. Nelangsa tahu, ayahnya bahkan berencana membunuh Nenek. Hingga suatu hari Nenek tak pernah datang lagi menjenguknya dan ia berjanji, kelak, ia akan membuat Ayah mati juga –seperti ketika Ayah membunuh Ibu dan Nenek. (Rate: 2/5)
  • Tembang Cahaya: Ini juga masih tentang kunang-kunang, walau sedikit bahas tentang layangan. Seorang gadis yang akhirnya jatuh cinta, pada seorang lelaki yang jatuh cinta pada cahaya. (Rate: 2/5)
  • Bawa Musim Kembali, Nak: Seorang ibu yang melepaskan ketiga anaknya pergi merantau, kemudian menunggu mereka setiap hari dengan kerinduan yang menumpuk. Sampai suatu hari, anak gadisnya kembali dan bercerita tentang cintanya. Kisah cinta yang ternyata sama getirnya dengan kisah si Ibu di masa lalu. Membuatnya mempertanyakan sesuatu, “celoteh burung murai, terdengar getir ataukah riang, Nak?” (Rate: 5/5)

5. Quotes

Satu hal yang kami tahu, kami di sini semua adalah anak dari orangtua. Meskipun tak belajar sampai ke negeri Cina, kami tahu telah dilahirkan dan dibesarkan orangtua. Kami cukup belajar pada batang pisang di belakang rumah. Kami cukup belajar pada anak ayam di belakang rumah. Kami juga tahu makna mohon doa restu. Tapi, kilatan kamera digital kalian terlalu bersahut-sahutan. Saat kalian katakan tentang cara dan kebiasaan kalian sendiri, entah kami harus marah atau sedih.Carano, hal. 18

Rasanya, ia ingin rasa sakit itu dipindahkan saja ke dalam hatinya agar anak perempuannya tak lagi merasakan sakit. Lepaskanlah dia…, ucap sang Ibu. Kau sedang dilamun ombak, Nak. Harus kau perkuat kapal layarmu. Kata orang, nakhoda selalu yakin esok akan ada matahari, Nak, karena itu mereka tak pernah hilang harapan di lautan yang tak bertepi sekalipun. Dan, ada doa yang selalu menyertai mereka, dari jauh, dari rumah yang mereka tinggalkan… Ah, Nak, bersabarlah… Suatu hari, kau akan menemukan kebahagiaan lebih dari semua ini, percayalah, Nak.Carano, hal. 37

Aku telah lama tidak lagi mencintai hujan, Seruni. Aku telah lama membiarkan hujan jatuh begitu saja dan membiarkannya kembali lagi ke laut.Menjelma Hujan, hal. 156

Cahaya tidak pernah jatuh cinta pada kunang-kunang. Pada matahari. Pada bintang. Bulan. Juga pada lampu-lampu jalan.Tembang Cahaya, hal. 194

Kalah atau menang, Nak, kembalilah. Dan ceritakan padaku; bukan kekalahan atau kemenanganmu. Namun, ceritakanlah kepadaku, sudahkah kau tahu dengan siapa kau mengadu nasibmu. Sudah tahukah kau siapa Dia?Bawa Musim Kembali, Nak, hal. 201

6. Kesimpulan

Finally, 4/5 bintang untuk Penjual Kenangan, gambar jendela meneduhkan di cover, dan Widya Oktavia. Jujur ini lebih baik dari ekspektasi gue sebelum membacanya :) Walau yang paling ngena itu cuma Carano, tapi cerpen lain juga nggak kalah seru untuk dibaca.

Oh, iya, mungkin lain kali Bukune harus jeli membedakan tulisan di barcode belakangnya. Kumpulan Cerita aka Kumpulan Cerpen tidak sama dengan Novel : ))

Demikianlah.


REVIEW: (Kumpulan Cerita) Penjual Kenangan – Widyawati Oktavia

Judul: Penjual Kenangan (ketika harap mencari tepi)
Penulis: Widyawati Oktavia
Penerbit: Bukune
Tahun Terbit: Januari 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 40.000
Jumlah halaman: 214 hal.
ISBN (13): 978-602-220-089-5
ISBN: 602-220-089-x

*

Blurb:

Hidup terlalu singkat,

kata seorang kekasih menggugat cintanya yang pergi.

Bagaimana jika tak ada lagi cinta esok lusa?

Bagaimana jika jauh ternyata tak berapa lama jaraknya?

Kekasih itu menggugat.

Ia menangis.

Kenangan; satu-satunya yang paling berharga,

dimungkiri oleh cintanya.

Hidup terlalu singkat, katanya lagi.

Sambil mengemasi sisa-sisa harap dan bersiap pergi.

“Semoga ada persimpangan di depan sana.

Agar aku bisa menjual kenangan dan rindu yang menyisa,”

lirih hatinya, perih.

*

Review:

Awalnya buku ini sama sekali nggak masuk wishlist, tapi kemudian kebetulan melihatnya di toko buku dan langsung jatuh cinta pada covernya yang menawan itu. Dengan diskon 10%, akhinya Penjual Kenangan gue bawa pulang. Cerita berikutnya, gue pernah menyangka ini sebuah novel, sesuai dengan keterangan yang tertera di cover belakang bukunya. Tapi ketika dibaca, ternyata kumpulan cerita –ya, nggak tepat juga kalau langsung dituduh sebagai kumpulan cerpen, walau memang mayoritas isinya cerpen, namun ada beberapa cerita yang cukup panjang. Jadi gue akan menyebutnya ‘kumpulan cerita’ saja.

1. First impression

Ketika pertama kali lihat Penjual Kenangan, covernya yang berperan 80% membujuk gue mengambil buku ini dari rak toko buku. Makanya, gue sempat memendam buku ini berbulan-bulan tanpa dibaca karena memang awalnya dibeli bukan untuk dibaca –cuma buat dipandangi jendela unyu-nya itu :p #kelakuan

Tapi ketika gue mulai kehabisan bacaan dan awal bulan belum datang (belum waktunya belanja lagi), gue memutuskan baca buku ini. Sebenarnya, cerita pertama yang amat sangat menarik dan berhasil menggiring gue ke cerita-cerita berikutnya. Walau hingga ending, nggak gue temukan cerita yang benar-benar sebagus cerita pertama.

2. How did you experience the book?

Agak berat penulisannya. Bahasanya mendayu-dayu –kombinasi melow, galau, walau kadang ada manisnya. Dan isi ceritanya tidak bisa disebut ringan. Ada banyak unsur dongeng yang dipadu sedemikian rupa, juga ada unsur culture, dan sebagainya. Tapi sejauh yang gue rasa, gue nggak begitu kesulitan mencernanya. Justru gue merasa, bacaan seperti inilah yang sedang gue butuhkan sekarang.

3. Main Idea/Theme

Tema besar buku ini cuma satu kata: kenangan. Mungkin karena itu juga cerpen Penjual Kenangan judulnya dipakai sekaligus menjadi judul buku. Ada banyak kenangan yang disajikan penulis dalam 11 kisah.

4. Review Singkat Cerpen

  • Carano: mengisahkan seorang gadis Minang yang datang dari keluarga taat adat istiadat, namun ia dan beberapa saudaranya menjalin hubungan dengan orang-orang yang terbiasa hidup modern di kota besar. Barangkali cerita ini diberi judul Carano (syarat meminang dalam adat pernikahan di Minangkabau. Berisi sirih, lengkap dengan kapur, gambir, pinang, serta tembakau) karena hal inilah yang menjadi inti cerita. Berawal dari kekesalan si gadis karena keluarga kakak iparnya menjatuhkan carano yang disusun Amak (sebutan Ibu bagi orang Minang) dengan susah payah tepat di hari akad nikah kakak perempuannya. Terlebih karena keluarga besannya merasa sudah lama hidup di kota besar hingga tidak terlalu mengindahkan adat. Ia merasa mereka menganggap keluarganya kampungan dan bersedih karenanya. Namun ternyata kesedihannya tak sampai di sana. Amak ingin sekali menyerahkan carano untuk keluarga calon suami si gadis kelak. Namun ketika ia bertemu lagi dengan lelakinya, yang didapatnya hanya rasa kecewa. Ia –atau mungkin mereka, baru saja menghancurkan impian Amak memberikan carano bagi calon menantu putri bungsunya. (Rate: 5/5)
  • Dalam Harap Bintang Pagi: tentang dua orang yang tengah dalam perjalanan pulang, salah satunya berkisah tentang dongeng peri bernama Rayina dan seorang petualang. Bagaimana kisah Rayina yang jatuh cinta, kisah petualang yang pergi jauh namun menyesal, lalu tidak menemukan Rayina ketika ia kembali. Kisah yang akhirnya dijadikan abu oleh si pendengar karena sesungguhnya ia sangat meyakini ucapan si pencerita –itu-hanya-dongeng. (Rate: 2/5)
  • Percakapan Nomor-Nomor: Tentang seorang penjudi bernama Mas Tarpin yang hari-harinya dihabiskan untuk mengadu nomer togel. Ia tidak pernah bekerja, walau masih punya harapan membelikan istrinya kalung emas dan sepeda serta baju untuk anak-anaknya –suatu hari.  Namun ketika sebuah mimpi mendatanginya, Mas Tarpin terbangun dengan kekagetan luar biasa –menyadari bahwa selama ini telah banyak uang yang dihabiskannya untuk nomor-nomor tadi. (Rate: 2/5)
  • Kunang-kunang: Ini termasuk salah satu cerpen yang gue suka selain Carano tadi. Kunang-kunang bercerita tentang seorang anak yang senang bermain dengan kunang-kunang setiap malam di teras rumah. Si anak hanya mengenal kunang-kunang dan Ibu sepanjang hidupnya. Hingga suatu hari ketika cukup umur, si anak mulai mempertanyakan perihal Bapak yang tak pernah nampak batang hidungnya. Setelah banyak kejadian, ia akhirnya sadar –di masa lalu, Ibu telah jatuh hati pada jelmaan kunang-kunang. Bapak adalah jelmaan kunang-kunang. Diketahuinya dengan jelas setelah ibu bercerita tentang kisah cinta kunang-kunang yang menyedihkan. (Rate: 4/5)
  • Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela: Ini juga kisah ibu dan anak. Si anak lelaki hanya mengenal Ibu dan dongeng Nawang Wulan bersama Jaka Tarub. Dongeng dari Ibu endingnya berbeda sendiri dengan dongeng Nawang Wulan lainnya; satu hal yang tidak pernah bisa dimengerti si anak, hingga ia beranjak dewasa. Sang Ibu berkata bahwa mereka tidak akan mati, jadi mereka tidak perlu takut, karena mereka adalah keturunan dewa. Si anak meyakini hal itu selama bertahun-tahun, namun berhenti ketika mendapati perempuan yang dicintainya meninggal. Hal ini membuatnya menutup hati dan enggan jatuh cinta lagi. Pahamnya akan kematian kembali berubah seperti sediakala, ketika didapatinya Ibu baik-baik saja padahal mengalami kecelakaan di tangga rumah. Hingga suatu hari, si anak menyadari bahwa yang ditakuti Ibu sebenarnya bukanlah kematian. Maka, ia memutuskan mencari sang ayah –Jaka Tarub yang telah mencuri selendang Ibu di masa lalu. (Rate: 4/5)
  • Penjual Kenangan: Inilah cerpen yang judulnya sekaligus dijadikan judul buku :D Setelah dibaca-baca, endingnya ternyata bagus. Walau awalnya nggak begitu mengerti. Alkisah tentang seorang lelaki yang melihat seorang gadis terus duduk menunggu. Menunggu ada yang lewat dan membeli sisa kenangan dalam keranjangnya. Suatu hari ia menghampiri, gadis itu yakin si lelaki adalah orang yang ditakdirkan membeli kenangannya –menukar seluruh sisa kenangan dalam keranjang dengan sebuah harapan. Lelaki itu mengakui bahwa ia memang penasaran, namun tidak mampu memberi harapan apa-apa. Ada gadis lain yang tengah menunggunya tiap sore, semenjak enam bulan yang lalu. (Rate: 5/5)
  • Tengara Langit: Tengara Langit berkisah tentang Roso –seorang bocah lelaki yang tinggal di perkampungan bersama kakek neneknya, Mbah Kandar dan Mbok Kartiwi. Ayah Roso meninggal di tengah lautan ketika melaut, sedang Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkan. Roso cerdas dan banyak bertanya ini itu, hingga Mbah dan Mbok begitu khawatir, bagaimana nasib anak malang itu ketika mereka tiada. (Rate: 3/5)
  • Menjelma Hujan: Tentang dua orang sahabat –Seruni dan Kemala. Seruni terus merajuk mengenai perasaannya tentang mantan pacar yang akan menikah. Kemala yang sibuk dengan pekerjaan, menanggapinya dengan acuh. Sikap acuh yang disangka Seruni baik-baik saja, tanpa tahu bahwa di masa lalu, Kemala tak pernah kehilangan ketika mantannya menikah. Ia tidak kehilangan, namun dirinyalah yang menghilang –hanyut ke laut bersama hujan sore. (Rate: 4/5)
  • Nelangsa: Seorang anak mengutuk ayahnya karena memberinya nama Nelangsa, membuatnya kerap diejek teman-teman sebaya. Hanya Ibu yang selama ini menyayanginya, hingga suatu hari Nelangsa menemukan Ibunya meninggal dicekik Ayah. Orang-orang menganggap Ibu mati bunuh diri dan Nelangsa dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ayahnya sendiri. Nelangsa sibuk bercengkrama dengan teman-teman barunya; cecak, laba-laba, kecoak. Nelangsa tahu, ayahnya bahkan berencana membunuh Nenek. Hingga suatu hari Nenek tak pernah datang lagi menjenguknya dan ia berjanji, kelak, ia akan membuat Ayah mati juga –seperti ketika Ayah membunuh Ibu dan Nenek. (Rate: 2/5)
  • Tembang Cahaya: Ini juga masih tentang kunang-kunang, walau sedikit bahas tentang layangan. Seorang gadis yang akhirnya jatuh cinta, pada seorang lelaki yang jatuh cinta pada cahaya. (Rate: 2/5)
  • Bawa Musim Kembali, Nak: Seorang ibu yang melepaskan ketiga anaknya pergi merantau, kemudian menunggu mereka setiap hari dengan kerinduan yang menumpuk. Sampai suatu hari, anak gadisnya kembali dan bercerita tentang cintanya. Kisah cinta yang ternyata sama getirnya dengan kisah si Ibu di masa lalu. Membuatnya mempertanyakan sesuatu, “celoteh burung murai, terdengar getir ataukah riang, Nak?” (Rate: 5/5)

5. Quotes

Satu hal yang kami tahu, kami di sini semua adalah anak dari orangtua. Meskipun tak belajar sampai ke negeri Cina, kami tahu telah dilahirkan dan dibesarkan orangtua. Kami cukup belajar pada batang pisang di belakang rumah. Kami cukup belajar pada anak ayam di belakang rumah. Kami juga tahu makna mohon doa restu. Tapi, kilatan kamera digital kalian terlalu bersahut-sahutan. Saat kalian katakan tentang cara dan kebiasaan kalian sendiri, entah kami harus marah atau sedih.Carano, hal. 18

Rasanya, ia ingin rasa sakit itu dipindahkan saja ke dalam hatinya agar anak perempuannya tak lagi merasakan sakit. Lepaskanlah dia…, ucap sang Ibu. Kau sedang dilamun ombak, Nak. Harus kau perkuat kapal layarmu. Kata orang, nakhoda selalu yakin esok akan ada matahari, Nak, karena itu mereka tak pernah hilang harapan di lautan yang tak bertepi sekalipun. Dan, ada doa yang selalu menyertai mereka, dari jauh, dari rumah yang mereka tinggalkan… Ah, Nak, bersabarlah… Suatu hari, kau akan menemukan kebahagiaan lebih dari semua ini, percayalah, Nak.Carano, hal. 37

Aku telah lama tidak lagi mencintai hujan, Seruni. Aku telah lama membiarkan hujan jatuh begitu saja dan membiarkannya kembali lagi ke laut.Menjelma Hujan, hal. 156

Cahaya tidak pernah jatuh cinta pada kunang-kunang. Pada matahari. Pada bintang. Bulan. Juga pada lampu-lampu jalan.Tembang Cahaya, hal. 194

Kalah atau menang, Nak, kembalilah. Dan ceritakan padaku; bukan kekalahan atau kemenanganmu. Namun, ceritakanlah kepadaku, sudahkah kau tahu dengan siapa kau mengadu nasibmu. Sudah tahukah kau siapa Dia?Bawa Musim Kembali, Nak, hal. 201

6. Kesimpulan

Finally, 4/5 bintang untuk Penjual Kenangan, gambar jendela meneduhkan di cover, dan Widya Oktavia. Jujur ini lebih baik dari ekspektasi gue sebelum membacanya :) Walau yang paling ngena itu cuma Carano, tapi cerpen lain juga nggak kalah seru untuk dibaca.

Oh, iya, mungkin lain kali Bukune harus jeli membedakan tulisan di barcode belakangnya. Kumpulan Cerita aka Kumpulan Cerpen tidak sama dengan Novel : ))

Demikianlah.


REVIEW: Sepanjang Musim – Karina Ayu Pradita, dkk

Judul: Sepanjang Musim (Kumpulan Cerpen)
Penulis: Aveus Har, Karina Ayu Pradita, Gari Rakai Sambu, Asya Azalea, Ovita Sari, Bagas  Prasetyadi
Penerbit: Media Pressindo
Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 28.000
Jumlah halaman: 184 hal.
ISBN (13): 978-979-911-325-2
ISBN (10): 979-911-325-3

*

Blurb:

Kamu dan aku terjalin dalam rangkaian musim. Menumbuh dalam satu rasa yang disebut cinta. Berbahagia dalam dimensi yang kita pahami sendiri.

Tapi, rupa-rupanya musim selalu bergulir.

Ada kalanya tandus menyelimuti setiap ujaranmu. Ada kalanya gerimis berjatuhan pada sepasang mataku. Ada kalanya kamu perlu meliburkan curahan sayangmu meski musim liburan masih jauh. Ada kalanya aku lebih tergiur pada aroma setumpuk durian daripada aroma tubuhmu. Ada kalanya… kita tak sejalan, kemudian memelihara kesakitan.

Tapi, tak perlu terjebak dalam ruang khawatir.

Memang begitulah siklusnya. Kita bahagia, sakit, lalu bahagia lagi. Begitulah caramu dan caraku, mungkin juga cara miliaran manusia lainnya untuk menemani musim. Sepanjang musim…

Sebut saja ini kumpulan kisah sederhana, kumpulan kontemplasi, mungkin juga kumpulan cara memaknai cinta…

*

Review:

Intermezzo sedikit, ini adalah kumpulan cerpen pertama yang diterbitkan divisi fiksi Media Pressindo aka @MedpressFiksi. Sebenernya udah lama liat di tumblr mereka, tapi kayaknya baru beredar belakangan ini. Dan kebetulan aja beberapa hari lalu lagi ada di toko buku, terus liat di rak new release : ))

Gue jarang baca kumpulan cerpen, mungkin karena sekarang lebih suka baca novel yang satu cerita namun lebih kompleks. Tapi kayaknya, nggak ada salahnya juga dicoba. Ini dia reviewnya.

1. First impression

Saat pertama kali lihat buku ini, yang paling bikin gue tertarik adalah warna dan covernya. Biru agak aquamarine gitu, deh. Lalu gambar covernya simpel dengan tulisan ‘Sepanjang Musim’ di bagian atas. Kalau gue harus mendeskripsikan covernya secara singkat, maka akan gue jawab dengan; sederhana, cantik dan elegan.

Tapi selain cover, alasan gue beli dan baca buku ini karena penasaran sama tulisan editor-editor sendiri. Hahaha. :p

2. How did you experience the book?

Nggak butuh waktu lama buat membaca buku ini, sih. Soalnya isinya lumayan ringan. Gue baca dua hari, soalnya cuma ada waktu baca tiap tengah malam :| Tapi so far, walau waktunya agak sempit, satu buku maksimal selesai dua hari (biasanya).

3. Main Idea/Theme

Benang merah dari seluruh cerita di buku ini adalah musim. Jadi, dari 12 cerpen yang ada, seluruhnya mengusung tema musim; musim liburan, musim kawin, musim pemilu, musim durian, musim lainnya.

4. Review Singkat Cerpen

  • Before The Rain: tentang seorang pemilik toko DVD di jalan Progo, Bandung, dengan seorang cewek yang punya kedai kopi di depan tokonya. Ini lebih tepatnya tentang cinta yang tak terungkapkan : )) Jujur, ketika sampai di ending, gue sama-sekali nggak puas sama cerita ini.  (Rate: 2/5)
  • After The Rain: Ini sambungan dari cerita sebelumnya, dari penulis yang sama. Cuma musimnya berbeda, mungkin karena itu dipisah jadi dua cerpen. Kalau boleh jujur lagi, gue tetep nggak puas atau kata lainnya, kurang greget sama ceritanya. Maybe ini masalah selera saja. (Rate: 2/5)
  • Selamat Datang Cinta: Ini yang pada awalnya lumayan bikin penasaran, di pertengahan agak drama dikit, tapi endingnya masih cukup memuaskan :D Termasuk salah satu cerpen favorit gue di Sepanjang Musim. Mungkin kapan-kapan gue harus nyoba cara absurd seperti di cerpen ini, jalan-jalan sendiri ke kota lain, lalu ketemu sama orang nggak dikenal dan nambah temen baru. Hahaha :p (Rate: 3/5)
  • Sesederhana cinta: Cerita ini berkisah tentang cinta seorang cewek sama pacarnya yang terhalang selera : )) yang satu suka durian, yang satu benci durian. Tapi alasan kenapa mereka putus itu lemah sekali, yang satu karena pasangannya nggak suka durian, yang satu karena nggak suka daging kambing. Well, itu bukan alasan yang bagus untuk membubarkan hubungan sepasang tokoh, in my honestly opinion. Butuh sebab dan akibat yang kuat, dari sudut pandang gue akan cerita ini, sih. Karena kelihatannya si cewek udah galau berat begitu, jadi bisa dipastikan dia pacaran sama cowoknya bukan cuma main-main. Kecuali mungkin cuma sekedar have fun, bisalah putus karena alasan sederhana begitu. Tapi kalau gue jadi tokoh utamanya, pacaran (seandainya) karena pengin senang-senang, gue nggak perlu galau untuk memutuskan bubar jalan segera. Nah, di sanalah janggalnya, apalagi si cewek berpindah hati ke seorang cowok lain yang suka durian. Cintamu hanya sebatas durian? I don’t think so.. *duh, kenapa jadi panjang* (Rate: 1/5)
  • Cinta di Ujung Senja: Ini agak absurd sedikit, tapi ceritanya cukup dalam : )) Tentang sepasang oma dan opa yang dari muda cintanya nggak kesampean, lalu saling mencari lagi ketika sudah tua. Absurd, karena setelah rentang jarak sejauh itu, gue awalnya nggak yakin dua orang yang udah lama terpisah bisa ketemu lagi. Tapi, nggak ada yang nggak mungkin sih di zaman canggih kayak sekarang.  Not bad. (Rate: 2/5)
  • Bola Cinta: Jujur, gue nggak baca cerpen yang ini sama sekali. Alasan pribadi, alasan selera. Karena gue nggak suka bola, dan karena gue nggak suka Manchester United. Sangat-tidak-suka. Jadi nggak bisa ngasih komentar apapun. Skip, next! (Rate: ?/5)
  • Pulang ke Hatimu: jika harus memberi rating untuk yang ini, gue akan memberi rating biasa saja. Nggak ada sesuatu yang mampu menarik gue ke dalam ceritanya, halaman-halaman berikutnya, gue baca skimming. (Rate: 1/5)
  • Tentang Hak Pilih: Yang ini juga agak dalem, sih. Bayangin aja, suami istri yang udah nikah bertahun-tahun, ternyata suaminya masih ada rasa sama mantan pacarnya dan sering ngigau nyebut nama si mantan ketika sedang sakit. Kasihan istrinya, tapi gue lebih suka lagi endingnya. Bahwa cinta, ya, seperti itu. Segimana pun sakitnya, kalau sayang, ya sayang aja. Perfect ending. (Rate: 4/5)
  • Harusnya Kita Putus: Ini nih yang teenlit banget. Tentang seorang cewek yang diajak janjian sama sahabat-sahabatnya, bahwa menjelang ujian nasional mereka harus memutuskan hubungan dengan pacar masing-masing. Tapi di luar dugaan gue, jawaban pacarnya pas di ending itu sesuatu sekali. Wajib baca! :p (Rate: 4/5)
  • Musim Termanis: Yang ini bisa dibilang roman komedi. Dua cowok kembar yang nggak begitu akur, tapi juga nggak saling bermusuhan. Tapi akhirnya malah saling bantu satu sama lain. Manis. (Rate: 3/5)
  • Wake Me Up When December Ends: Tentang Tari, seorang cewek yatim piatu yang hanya tinggal bersama supir dan pembantunya di rumah besar peninggalan mendiang orangtuanya. Kasihannya tokoh ini, dia yatim piatu sejak kecil. Gue kira dia adalah tokoh paling ngenes dalam cerita ini, tapi ternyata di cerpen berikutnya, ada tokoh yang lebih ngenes nasibnya. Tapi ketika mereka ketemu, kisahnya jadi super manis. (Rate: 4/5)
  • Moonlight Becomes Sunshine: Ini menjadi cerpen penutup Sepanjang Musim, dan endingnya cukup memuaskan. Erat kaitannya dengan cerpen sebelumnya. Realistis, sederhana, dengan ending yang cukup manis. (Rate: 4/5)

5. Quotes

Jaka Tarub juga nggak akan dapet bidadari, Bro. Kalau dia nggak nyuri selendangnya. Kalau dia cuman ngintip dari jauh. –Cakra to Abi, hal. 9

Manusia tidak pernah bisa berdamai dengan kesendirian. –Hal. 50

Dalam hati aku berharap, semoga ia memahami satu hal: cinta yang tidak terucap ternyata jauh lebih punya arti. –hal. 107

Ada hal-hal yang harus dikorbankan dalam hidup, dan lulus dengan nilai bagus lebih penting daripada cinta taik kucing. –hal.118

Jika karena musim ujian sekolah kita harus mengurangi tautan, bagaimana kita menghadapi ujian-ujian selanjutnya?” –hal. 124

6. Kesimpulan

Overall, 3/5 untuk Sepanjang Musim dan para penulisnya :) Buat yang suka cerpen-cerpen ringan, mungkin ini bisa jadi pilihan bagus untuk menghabiskan weekend. Tapi berhubung gue mulai suka baca yang berat, sense of teenlit gue sedikit demi sedikit mulai hancur lebur jadi debu (dan tak tahu arah jalan pulang) :|

Mungkin karena itu, gue selalu memikirkan bener-bener sebuah cerita pendek, ketika akan menilainya dengan rating, bukan sekedar manis atau bikin senyum, seperti yang gue lakukan waktu SMA dulu. Namanya juga selera, bisa berubah sewaktu-waktu : ))

Btw, menunggu kumpulan cerpen @MedpressFiksi selanjutnya.


Resensi Buku : Summer in London (Kumcer)


Judul : Summer in London
Penulis : Erna Fitrini, dkk
Terbit : November 2012
Penerbit : Dar! Mizan
Tebal : 92 halaman
ISBN : 978-602-242-117-7
Rating : 3/5

Sinopsis Buku :

Musim panas kali ini, Minmie mengunjungi John dan Daisy. Mereka adalah sepupu Minmie yang tinggal di London. Minmie dan John sebaya. Sementara Daisy berusia sekitar lima tahun. Minmie, John dan Daisy berencana pergi ke London Zoo Mereka pergi dengan menggunakan mobil Paman Henry, ayah John.

Waaah… bagaimana ya perjalanan Minmie selama di London? Peristiwa apa saja yang Minmie alami? Eit, jangan lewatkan delapan catatan perjalanan Minmie lainnya. Seru, lho!

Resensi Buku :

Beberapa tahun lalu saya pernah melihat seorang teman sharing cover bukunya yang bergambar Minmie, saat itu saya belum tau siapa Minmie. Saat ke Bandung, seorang teman membahas lagi tentang buku bercover Minmie ini. Saya jadi penasaran. Namun, seiring waktu saya lupa dengan rasa penasaran saya. Saat saya sudah lupa, justru seorang teman lainnya mengirimkan buku ini karena saya menang kuis di Rumah Riang. Jujur, saya masih belum tahu apa dan siapa Minmie. Secara garis besar seperti yang diceritakan teman yang di Bandung, yang saya tahu Minmie adalah karakter anak perempuan, salah satu yang difrancisekan, hingga mirip seperti Hello Kitty atau tokoh kartun lainnya, souvenir dan segala hal berbau Minmie tak luput dijual dan dipasarkan di toko-toko di Indonesia. Minmie seperti princess, lengkap dengan senyum manis dan pita berwarna pink. Rambut panjangnya yang ikal pun tergerai indah.

Saat saya membuka satu persatu halaman buku ini, saya jadi tahu, Minmie adalah salah satu karakter yang diadaptasi oleh beberapa teman untuk dituliskan kisahnya. Ada 9 catatan perjalanan dengan tokoh Minmie sebagai tokoh utamanya. Tagline yang diusung adalah : Minmie around the world. Bersama sahabat dan sepupunya, Minmie melakukan perjalanan keliling dunia dan mengalami banyak yang menarik.

Minmie pergi ke London, menara Petronas, jembatan Bosporus, tembok raksasa di China, Kuta, dll. Setiap kisah petualangan Minmie, penulisnya berusaha menyisipkan informasi tempat wisata yang bisa dikunjungi oleh anak-anak. Juga, pengalaman seru seperti menjadi detektif, membersihkan luka karena gigitan ubur-ubur, dll. Dengan membaca buku ini, anak-anak akan mendapatkan informasi yang menarik dan juga petualangan seru keliling dunia bersama Minmie. Yang saya amati, huruf di buku ini terlalu besar, atau memang mungkin karena target pembacanya adalah anak usia 6-9 tahun ya? Biasanya kalo novel anak, ukuran hurufnya tidak sebesar di buku ini. 

Buku kumpulan cerita ini juga dilengkapi dengan ilustrasi yang berwarna warni. Penulis mengajak pembaca menemani Minmie menyusuri Venesia dengan Gondola sambil bernyanyi di atasnya ataupun naik Skybridge. Kamu juga bisa sedikit belajar bahasa asing seperti Minmie. Pasti seru ya!

Resensi Buku : Kata Sandinya : Botak (Kumcer Bobo Edisi 73)

kumcer bobo : Kata Sandinya : Botak
Judul : Kata Sandinya : Botak (Kumcer Bobo Edisi 73)
Penyusun : Pustaka Ola
Penerbit : PT Penerbitan Sarana Bobo
Terbit : November 2011
Tebal : 144 halm
Rating : 3/5

Resensi Buku : 

“Aku mau makan dengan daging ayam huhuhuhu…”
Arya lalu menangis keras. Angga mendesah. Bagaimana ini? Adiknya menangis, tidak mau dibujuk. Tidak ada daging ayam di rumah. Ibu belum pulang. Hujan deras. Rumah bocor. Ayah sudah tiada. Kaki kirinya timpang. Ah, ingin rasanya Angga ikut menangis. Namun, dikuatkannya hatinya. Ia harus kuat, demi ibu!

Tulisan yang saya tulis di atas adalah salah satu isi dari cerpen yang terkumpul dalam kumcer Bobo  edisi 73 ini. Cerpennya berjudul Telah Lahir Anak Hebat yang ditulis oleh Mudjibah Utami. Dalam cerpen ini, anak-anak akan diajak untuk mandiri dan menjadi kakak yang baik. Ternyata, kreatif dan percaya diri bisa tumbuh dalam diri Angga setelah menjadi seorang kakak lho.

Ada limabelas cerpen yang menghiasi kumcer Bobo kali ini. Kumcer Bobo memang memuat tulisan yang pernah dimuat di Majalah Bobo. Biasanya dijadikan buku agar jika ada pembaca yang hobi membaca cerpen, mudah untuk membaca cerpen Bobo edisi lama.

Btw, kumcer ini layak untuk dibaca bagi anak-anak usia sekolah dasar maupun orang tua. Karena terdapat pesan moral yang bagus untuk anak-anak, antara lain indahnya persahabatan, berbagi dengan teman, bekerja keras, mandiri, rajin belajar bahasa daerah, menjauhi prasangka dan petualangan.

Dalam cerpen Kata Sandinya : Botak, anak-anak bisa belajar berpetualang untuk memecahkan teka-teki dari sebuah kasus yang dialami temannya di sekolah. Ternyata anak yang mematahkan penggaris di tas Rahma adalah anak yang dipanggil Botak, padahal tak ada yang botak di antara ketiga anak yang dicurigai sebagai pelaku. Lalu, siapa ya yang mematahkan? Yuk baca sampai selesai di buku ini. ;)

Quote yang saya suka dari buku ini : 
"Upah yang kuterima ternyata sedikit. Tetapi aku bangga. Uang itu kudapat dengan susah payah, bukan mengemis." (halm 27) 
"Ternyata memberi itu menyenangkan. Hanya dengan memberi sebagian kecil yang kita miliki, bisa membuat orang lain bahagia. Dan melihat orang lain bahagia, membuat kita juga ikut bahagia." (halm 144)
ilustrasi dalam kumcer bobo
Secara isi, saya suka isinya, bahasanya sederhana dan mudah dicerna sesuai dengan usia anak yang menjadi sasaran kumcer ini. Covernya unik, menggunakan potongan kertas yang dibuat membentuk wajah orang dan burung. Hanya saja, layout di dalamnya ada yang kurang rata kanan kiri. Jadi mengurangi keasyikan membaca. Untuk ilustrasinya, mengingatkan saya pada ilustrasi di buku cetak zaman saya kecil dulu. :D Sayang, di dalam buku ini saya juga tidak menemukan ISBN-nya. Entah kenapa, atau memang kumcer Bobo tak ada ISBN-nya ya? 3 bintang dari saya untuk buku ini. ;)

Resensi Buku : Rendezvous in Koyomizu – Mayoko Aiko

Cover Kumcer Rendezvous in Koyomizu
Biodata Buku : 
Judul : Rendezvous in Koyomizu (Kumpulan Cerpen)
Penulis : Mayoko Aiko
Penerbit : Universal Nikko
ISBN : 978-602-95476-5-8
Terbit : November 2011 (cetakan pertama)
Tebal : 102 halm
Rating : 3/5

Resensi Buku :

Pertama kali baca kumcer ini, saya disuguhkan sebuah cermin, cerita mini yang ternyata pernah dimuat di Majalah Anita tahun 1996. Sepotong cermin memberi suspend pada awal dan endingnya yang tak terduga membuat saya penasaran hingga akhirnya mau membaca cerpen-cerpen berikutnya sampai tuntas.

Tiga belas cerpen bertema romantis yang terkumpul dalam kumcer ini adalah cerpen Mayoko Aiko. Cerpen ini telah dimuat di tahun 1990-an di beberapa majalah ternama seperti Hai, Gadis, Anita Cemerlang dan Aneka. Kini dia sibuk dengan sekolah Cendol dan aktivitas di dunia iklan. Dari sekian banyak cerpen di buku ini, Rendezvous in Koyomizu memberi kesan tersendiri bagi saya. Apalagi pendeskripsian yang diberikan penulis untuk setting tempatnya, membuat saya merasa ada di Kuil Koyomizu bertemu dengan Re dan melihat Akiko Hamada meminum air dari patung naga terbang yang melegenda. Katanya, siapapun yang meminum air itu akan kembali ke Kyoto, tempat kuil itu berada. Benarkah? Baca saja cerpen ini ya.

Di beberapa cerpen lainnya, penulis menyisipkan pesan inspiratif untuk para remaja, tentang bahayanya narkoba, tawuran, pacaran,  diskriminasi status sosial terhadap para negro, dll. Dituliskan dengan gaya bahasa yang halus sehingga pembaca tidak merasa digurui. Apalagi penulisnya suka menulis dengan twist ending, hingga membuat saya terkecoh menebak ending yang akan dialami si tokoh utama.

Ada dialog yang saya suka seperti yang ini :
“Kita senang jika orang lain berkata jujur kepada kita. Tapi kalau kejujuran itu menyakitkan, kita menyesal telah mendengarnya.” (halm 15)

“Tuhan mengaruniakan rasa cinta itu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Tak peduli hamba-Nya itu baru sekali bertemu, berkali-kali bertemu, atau bahkan tak pernah bertemu sekali pun. Kalau Dia berkenan memberikan rasa itu, tak ada seorang pun yang mampu menghalanginya. Cinta itu akan tumbuh dengan subur.” (halm 41)
“Lagian, apa untungnya sih tawuran? Tidak ada, kan? Selain waktu kamu habis buat membolos dan pelajaran kamu berantakan, tanpa kamu sadari, kamu telah menanamkan permusuhan di mana-mana.” (halm 60)
Nah, berminat untuk membacanya? Secara keseluruhan cerpennya bagus, sayang editingnya kurang sempurna di beberapa bagian sehingga mengurangi kenikmatan membaca. 3 bintang untuk buku ini dari saya. ;)