Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang

Such a tricky title this book has. Maryamah Karpov: Mimpi-mimpi Lintang by Andrea Hirata is not actually about anyone named Maryamah Karpov, nor is it really about Lintang. In some ways it is about, like the previous three, reaching our dreams of life, but this fourth book of the Laskar Pelangi Tetralogy is more of […]

Sang Pemimpi

Laskar Pelangi doesn’t stop where it does. In fact, it continues to the next installment, revealing the other side of Ikal’s life. Though not as booming as the previous one, namely Laskar Pelangi itself, Andrea Hirata’s 2006 Sang Pemimpi can still attract a wide readership. Packed in a thinner, denser book, it continues to tell […]

Maryamah Karpov

Keberanian dan keteguhan hati telah membawa Ikal pada banyak tempat dan perstiwa. Sudut-sudut dunia telah dia kunjungi demi menemukan A Ling. Apa pun Ikal lakukan demi perempuan itu. Keberanian ditantang ketika tanda-tanda keberadaan A Ling tampak. Dia tetap mencari, meski tanda-tanda itu masih samar. Dapatkah keduanya bertemu kembali? 
Ini adalah buku keempat tetralogi “Laskar Pelangi”, novel yang ditunggu-tunggu banyak fans. Karya keempat yang merupakan “pamungkas”.
Awas, spoiler. You’ve been warned!
Dari awal sampai akhir sambil menilai sampul, aku masih belum paham kenapa judulnya “Maryamah Karpov”, padahal Cik Maryamah sendiri tidak sampai 30% perannya di novel ini. “Mimpi-mimpi Lintang” ternyata adalah nama kapal. Gadis gambar sampul, pemain biola bernama Nurmi, ternyata perannya juga kecil, sekecil airmata burung dara.
Sampul yang membuat bingung dan menyesatkan. Lalu apa isi dari novel Maryamah Karpov ini?
Kalau boleh menyimpulkan, pembaca awam macamku akan bilang, isinya adalah pencarian A Ling dan…..(mostly) deskripsi masyarakat Melayu Dalam. Yang perlu diacungkan jempol adalah yang terakhir ini. Andrea Hirata sangat lihai menggambarkan karakter orang Melayu dengan cara yang jenaka dan menarik.
Kisah pencarian A Ling dan reuni kawan-kawan “Laskar Pelangi” bila dibandingkan dengan cerita tentang masyarakat kampung Melayu Belitong, ibarat bumi dan langit. Khayalan dan kenyataan. Petualangan bertemu dengan pembajak, lanun, lebih mirip kisah petualangan ala Indiana Jones menyelamatkan tuan puteri.
Karakter A Ling sendiri, kurang banyak mendapat tempat. Seolah-olah dia adalah seorang Mary Sue, tokoh wanita khayalan ideal yang hanya ada di benak Ikal. Penggambaran karakternya kalah oleh Dokter Tanuwijaya. Dan entah kenapa Andrea berani membuat ending yang tidak terduga. Mungkin untuk menyadarkan pembaca bahwa hidup itu perjuangan yang tidak ada akhir? Atau karena lebih aman memberi akhir yang menggantung?
Catatan lain, kata-kata “mutiara” penerbit terkadang berlebihan. Tidak terkecuali penerbit “Maryamah Karpov” ini dengan menyebutkan karya Andrea Hirata sebagai cultural literary non fiction, sebuah karya non fiksi. Padahal di sub judul sampul depan ada tulisan “sebuah novel”. Dan menurut hematku cukup banyak hal yang fiksi, walaupun berdasar kisah nyata. Aneh.
Walaupun tidak sebaik “Laskar Pelangi”, “Maryamah Karpov” masih sedikit lebih menarik ketimbang “Edensor”, karena kedekatan kultural. Lumayan untuk melengkapi tetralogi Andrea Hirata di rak buku.
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit Indonesia : Bentang Pustaka (2008)
Tebal : 504 halaman