REVIEW Kujemput Engkau di Sepertiga Malam

“Cukup mudah untuk bersikap menyenangkan, kalau hidup mengalir seperti lagu. Tapi orang yang hebat ialah yang bisa tersenyum, saat semua berantakan. Sebab ujian bagi hati adalah kesulitan, dan kesulitan selalu datang setiap waktu. Dan senyuman yang layak disanjung dunia, adalah senyuman yang bersinar menembus air mata.” (hlm. 40)

Rumah tangga adalah segalanya bermula dan bermuara, tempat berangkat dan pulang, tempat berdiam dan berkisah, bukan hanya fisik, tapi yang hakiki adalah jiwa, batin, hati tiap manusia. Maka rumah tangga harus dikelola dengan baik, dengan keseriusan, sama baik dan sama seriusnya seperti kita yang selalu memampukan diri mengelola usaha, karier, karya, pekerjaan, tugas, dengan berdedikasi tinggi padanya. Sejatinya tak ada satu manusia pun yang berniat berpisah ketika menikah. Tentu, karena rumah tangga berisi dua orang. Begitu juga yang dialami oleh Peggy dan suaminya.

Hidup ini diciptakan berpasang-pasangan, ada siang ada malam, ada perempuan ada laki-laki, ada suka ada duka, semua Allah ciptakan agar memiliki perimbangan. Demikian adilnya, Allah ciptakan kehidupan manusia, termasuk tentang diciptakannya siang dan malam.

Segala yang berpasang-pasangan inilah yang sesungguhnya harus dijadikan sebagai bahan bagi mereka yang berpikir, yaitu manusia diberikan pilihan di dalam hidupnya. Allah beri kemerdekaan manusia untuk menentukan akan hidup seperti apa. Tentu, masing-masing manusia menanggung konsekuensinya di hadapan Allah SWT.

Manusia, sebagai mahluk yang paling sempurna dari mahluk-mahluk lain yang Allah ciptakan, dianugerahi kemampuan untuk berpikir. Dengan pikirnya ini manusia mampu menilai segala sesuatu, termasuk manusia seyogyanya belajar untuk menilai diri sendiri. Proses manusia menilai diri sendiri ini yang sering disebut dengan muhassabbah. Yaitu, keadaan di  mana manusia berkaca pada dirinya sendiri, yang kita kenal dengan introspeksi. Berkaca pada hatinya sendiri.

Melakukan muhassabbah menjadi sangat penting bagi manusia, sebab dalam proses ber-muhassabbah ini manusia akan merenung, berpikir, dan membuat penilaian terhadap dirinya menyangkut prestasinya, yaitu prestasi baik maupun prestasi buruk. Jika manusia melakukannya secara rutin, maka ia akan mampu melihat dirinya di masa lampau, di hari ini, dan akan lebih tahu harus bagaimana di masa depan. Lewat proses ini juga maka manusia akan memahami tentang kesalahan-kesalahan lakunya di hadapan Allah SWT. Maka ber-muhassabbah ini sangat penting guna menjadi sarana manusia bermawas diri dalam beribadah kepada Tuhannya.

Muhassabbah sangat baik untuk dilakukan secara kontinu. Agar manusia selalu memiliki kendali dalam hidupnya. Kendali yang mengarahkan kepada jalan-jalan yang lebih baik dan lebih disukai Allah SWT.

Kapankah waktu paling afdal untuk melakukan? Tentu saja setiap waktu sama baiknya apabila ber-muhassabbah kita dudukkan dalam posisi yang penting. Tetapi, Allah sudah mempergilirkan siang dan malam, karena Allah menuntun manusia untuk membagi dirinya, pada waktu siang bekerja maksimal pada batin, dan menurunkan kerja fisik. Maka pada malam hari ini adalah waktu yang afdal untuk ber-muhassabbah.

Ibadah Tahajud ini memang berat tantangannya. Karena ia dilakukan setelah manusia  terlebih dahulu tidur, maka manusia harus punya niat yang kuat untuk bangun kembali, atau bahkan manusia harus mengatur jam kehidupannya sedemikian rupa agar dapat melakukan ibadah shalat Tahajud di sepertiga malam. Ini juga maknanya mengatur pola hidup.

Dengan menghidupkan kalbu, maka kita bisa bertemu Allah. Lalu kita tak merasa sendiri lagi, karena Allah selalu ada bersama kita. Selalu kita hadirkan. Ketika gerak hidup masih selalu gerak fisik yang utama, yang terjadi adalah ke-aku-an yang tinggi. Karena tak ada keseimbangan antara jasmani dan ruhani. Tak ada waktu bertemu dengan-Nya lalu bermuhassabbah agar diri semakin menyadari ketiadaan di hadapan Allah. Tahajud adalah jalan untuk menghadirkan gerak jiwa. Yang hidup pada diri adalah nilai spiritualitas. Itu akan terpancar pada pikir, laku, sikap, wajah, sehingga keberkahan dan rahmat Allah semoga lebih mudah hadir pada kita.

Bagi umat Islam, baik laki-laki ataupun perempuan, penting untuk membiasakan diri melakukan qiyamul lail, sebab akan meningkatkan kemampuan mawas diri terhadap berbagai tantangan dan ujian dari luar. Mawas diri akan terbentuk jika seseorang terlatih. Karena, apabila manusia sudah terjebak dalam rutinitas dan kesibukannya di dunia, maka dia akan menjadi seperti robot, seperti sudah diprogram, dan programnya tentu lebih banyak yang bersifat keduniawian. Dengan demikian, ia akan kehilangan jiwanya. Tidak lagi melakukan segala sesuatu dengan hati. Hatinya kering.

Lewat buku ini kita akan melihat sisi lain dari kehidupan Peggy yang selama ini belum terkuak, salah satunya adalah saat dirinya diambang perpisahan dengan suaminya dan proses bagaimana dia berubah dari dunia artis yang penuh gemerlap ke jalan Allah. Hal yang dilaluinya tidaklah semudah membalikkan tangan. Banyak hambatan dan rintangan yang harus dilaluinya. Sebuah memoar yang patut diteladani.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Kujemput Engkau di Sepertiga Malam

Penulis                                 : Peggy Melati Sukma

Penyunting                         : Tofik Pram

Desain isi                             : Media Sari, Nurhasanah Ridwan

Penata aksara                    : Citrani Elnur, Nurhasanah Ridwan

Desain sampul                   : A.M. Wantoro

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Februari 2014

Tebal                                     : 395 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1606-93-3


Athirah

"aku belajar banyak dari Emma tentang perkara bangkit dari duka. 
belajar sangat banyak. 
ia bukan melupakan. bukan pula mengubur. 
ia bersekutu bersama sedihnya 
untuk kemudian bersama-sana mengubah itu menjadi energi."



Judul Novel: Athirah
Pengarang: Alberthiene Endah
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: Desember 2013

"Apakah ini artinya Emma kalah, Jusuf?”
Pertanyaan Emma menusuk batinku. Aku pilu. Mata bening Emma basah. 
Angin sore mendadak terasa sangat dingin. 
Cahaya matahari dari barat jatuh di wajah Emma. Dukanya semakin terlihat. 


Emma tidak pernah punya gambaran tentang wanita yang dimadu.
Sejak Bapak memilih tinggal di rumah keduanya, Emma sering terlihat merenung, tertunduk lesu. Ketika langkah Bapak semakin jarang terdengar di rumah kami, Emma semakin sendu.
Namun, Emma tak membiarkan dirinya terlalu lama disiksa rindu.
Dia segera berjuang untuk bangkit, menjadi wanita yang mandiri.

Emma adalah perjalanan keberanian. 
Ada sosok yang kokoh dalam dirinya yang lembut dan sangat halus.
Jika kau ingin aku berkata-kata tentang keindahan, kepadanya benakku akan bertumpu. 

Maka, kini, aku akan bercerita tentang, dia, ibuku. 
Emma-ku. Athirah.
Perempuan indah yang mengajarkan aku tentang hidup …. 

Sesuatu yang tak perlu kau takutkan jika kau tahu makna kesabaran ….

***

Sejujurnya saat menelusuri kisah cinta Athirah dan Kalla, saya terkejut. Saya pikir ibunda Jusuf Kalla dipoligami karena pernikahan mereka hasil perjodohan ataupun perjalanannya tak bahagia. Tapi demi mendapati kisah cinta mereka yang demikian indah, mereka yang melengkapi satu sama lain dengan sempurna, saya heran kenapa Kalla masih bisa jatuh cinta pada wanita lain.

....yah, namanya juga lelaki manusia :p


Saya pernah baca di sebuah buku (sayang saya lupa judulnya), bahwa terkadang peran istri dan ibu dapat merenggut identitas seorang wanita. Sebagai individu. Saking terpusatnya perhatian seorang wanita untuk suami dan anak dapat membuat wanita lupa akan mimpinya, bahkan seperti apa dirinya sebenarnya.
Mungkin ini pula yang dialami oleh Athirah pada awal mula ia dimadu. Bayangkan saat seorang wanita membagi kehidupannya, separuh untuk suaminya dan separuh lagi untuk anak-anaknya, kemudian ia kehilangan separuh hidupnya secara mendadak, bagaimana ia tak oleng?

Sempat ia hampir hilang akal sehatnya demi memuaskan rasa penasarannya, kenapa ia dimadu? Kenapa suaminya sampai hati? Satu per satu orang pintar ditemuinya, padahal Athirah bukannya tak elok dalam mempelajari agamanya. Makin banyak yang ditemui, makin gamang Athirah. Hingga akhirnya Athirah menyadari, nasibnya bukan untuk diratapi. Ia harus bangkit. Demi dirinya sendiri, demi anak-anaknya.

"Mari bangkit. Kita hapus rasa sedih dan berat dari batin kita. Anggap ayahmu khilaf. Tapi, kita tak perlu merusak hidup kita." -Athirah, halaman 131.

Maka dari Athirah ini, saya meneladani bahwa seorang wanita dalam sebuah keluarga, bukan berarti ia harus selalu mengambil posisi nomor dua. Saat sang pemimpin, dapat dibilang, menelantarkan, bukan berarti ia harus kehilangan daya. Bahkan saat keadaan berbalik, Kalla membutuhkan bantuan Athirah, dengan ringan tangan Athirah mengulurkan pertolongannya. Bukan hanya demi Haji Kalla sendiri, namun juga untuk keluarga dari madunya. Menarik saat kita simak ucapan Emma saat Jusuf menanyakan kabar Ayahnya,

"Bapak sedang belajar tentang kedewasaan baru,Jusuf. Kedewasaan untuk ikhlas,menerima risiko dari pilihannya, dan bisa bersikap adil dengan hati yang jernih. Bukan dengan hati yang keruh..."-Athirah, halaman 244.

Tentang ini, saya teringat sebuah quote:
"Perjalanan itu bersifat pribadi. 
Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku." -Paul Theroux. 

Sebagai manusia, hamba Allah, manusia terlahir sendiri dan akan meninggal sendirian pula.Selama hidupnya, meski menempuh hidup bersama, berdampingan, pada hakikatnya perjalanan hidup tetaplah milik individu. Emma telah menempuh ujiannya sendiri saat dimadu. Emma lulus ujian saat ia telah ikhlas dan mampu bangkit, meski sejatinya ia memiliki alasan yang kuat untuk terpuruk. 
Suaminya, mungkin merasa di atas angin saat memutuskan untuk menikah lagi. Namun dari kacamata pembaca, saya menyimpulkan ternyata keluarga barunya banyak menuntut. Hingga suatu ketika Kalla mendapatkan tekanan dari keluarga keduanya dan menyadari begitu pengertian dan melimpah kasih sayang dari Athirah, saat itu juga ia diuji. Diuji untuk tetap berbuat adil meski ia dihadapkan rasa tak suka. Menerima risiko membina dua buah keluarga, tak hanya saat suka namun juga saat duka merundung. 

Ada pelajaran lain dalam buku ini. Meski dalam keluarga, perempuan menduduki posisi sebagai vice president, saya rasa benarlah kata bu Athirah, 
"Istri adalah nafas keluarga. Kau yang akan mengatur denyut semangat keluargamu. Kau yg bisa menjaga emosi dan menciptakan damai di rumahmu...Ketika seorang ibu menangis, ia menciptakan hujan badai di rumah. Ketika seorang ibu tersenyum, Ia menciptakan berjuta sukacita. Jika seorang ibu meledakkan hatinya, keluarga akan ikut meledak..."-Athirah, halaman 370

Selain sosok Athirah ini, kisah pak JK mendapatkan bu Mufidah tak kalah memikat. Sabarnya pak JK, duh...beruntungnya bu Mufidah mendapatkan beliau >.<
Untuk lebih jelasnya, baca bukunya ya, meski saya udah ngasih banyak spoiler juga sih, hehe >.<

5 of 5, tentunya
untuk kisah yang sarat akan pelajaran
untuk gaya penceritaan yang sederhana namun memikat
untuk tutur kata yang halus nan puitis
untuk sosok Athirah
untuk Alberthiene Endah yang membawakan kisah indah ini untuk kami para pembaca :).



Well, ada dua hal yang saya kurang sreg. Pertama, cover buku kurang eye catching. Kedua, ada beberapa bagian buku yang diceritakan dengan gaya penceritaan kilas balik. Salahsatunya saat Pak JK naik haji. Mungkin cukup penting untuk diceritakan, tapi kalau menurut saya sih....sebuah kilas balik sebaiknya tidak terlalu panjang supaya pembacanya tidak keluar terlalu jauh dari arus kisah utama :D
Tapi kedua hal tersebut tak sedikitpun menimbulkan niat untuk mengurangi poin. Tetep lima bintang penuh ;)

Muhammad Al Fatih 1453 by Felix Siauw

Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335] Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam, kalimat yang disadur dari slogan Bung Karno ini, mungkin menjadi salah satu misi dari buku berjudul Muhammad Al-Fatih 1453. Buku ini […]

Paula


 Judul : Paula

Penulis  : Isabel Allende

Penerbit : Harper Perennial

Tahun Terbit : 1996

My life is created as I narrate, and my memory grows stronger with writing, what I do not put in words on a page will be erased by time.- Isabel Allende

Buku ini adalah catatan seorang ibu kepada anaknya. Isabel Allende mempunyai kebiasaan untuk mulai menulis novel di setiap tanggal 8 Januari. Pada 8 Januari 1992 putrinya yang berusia 28 tahun, Paula Frias Allende, terbaring koma di rumah sakit Madrid. Paula didiagnosa Porphyria.  Jika sepuluh tahun sebelumnya ia menulis “The House of Spirits” sebagai penghormatan untuk kakeknya yang meninggal dunia,kali ini Isabel Allende menulis untuk membawa kembali putrinya hidup. Buku Paula ini terbagi menjadi dua bagian yaitu ; Bagian pertama, Desember 1991 - Mei 1992, ditulis di rumah sakit dan hotel di Madrid. Bagian kedua, Mei - Desember 1992, ditulis di kediaman Isabel, California.

Paula berusia 28 tahun. Ia sangat cantik dan dikenal baik hati. Dari kecil Paula telah menunjukkan kepeduliannya pada orang yang membutuhkan. Ernesto, suami Paula, setia mendampingi Paula. Mereka baru satu tahun menikah. Ernesto membisikkan saat-saat bahagia mereka, kenangan mereka jatuh cinta di telinga Paula. Sungguh sedih masa bahagia mereka begitu singkat. Siapa yang menyangka dalam waktu singkat, Paula jatuh sakit. Kata terakhir yang ia ucapkan ketika masih sadar adalah "I love you, Mama".

Selama dua bulan, Paula dirawat intensif di ICU. Keluarga yang sudah berserakan di seluruh dunia datang ke Madrid untuk mengunjungi Paula termasuk ayah kandungnya dan Ibu dari Isabel Allende dari Chili. Isabel Allende dan Ernesto tidak hanya terkuras fisik dan tenaga mereka selama mendampingi Paula di rumah sakit, mereka juga diuji secara mental dan emosi. Apakah Paula akan sadar seperti semula ? Apakah ia akan mengenali mereka ? Isabel menulis berharap suatu saat ketika Paula sadar akan membaca tulisan-tulisan yang ditujukan untuknya. Masa lalu Isabel tertutup hingga hari ia memutuskan menulis untuk Paula.



Isabel Allende ditinggalkan oleh ayahnya, Tomas Allende, ketika masih balita. Ayahnya pergi tanpa jejak dari kehidupan mereka. Papa menjadi hal yang sensitif diucapkan di rumah mereka. Satu-satunya kerabat keluarga ayahnya yang masih berhubungan dengan mereka adalah Salvador Allende, sepupu dari Tomas Allende. Figur ayah kandungnya digantikan oleh Tio Ramon, yang merupakan diplomat Chili. Isabel menikah dengan Michael Frias ketika ia berusia 19 tahun dan dikaruniai sepasang anak perempuan dan laki-laki, Paula dan Nicolas. Pernikahan mereka berakhir pada tahun 1986. Mereka berpisah baik-baik dan tetap menjalin hubungan pertemanan.

Kehidupan Isabel Allende tidak lepas dari sejarah negaranya, Chili. Pada awal tahun 1970-an, Isabel Allende memiliki minat serius pada gerakan feminis di Chili. Isabel Allende meninggalkan Chili setelah terjadi kudeta militer Augusto Pinochet. Situasi Chili berada dalam ketidakstabilan politik dan keamanan. Orang-orang menghilang dan tak kembali pada keluarganya. Aktivitas Isabel Allende sebagai feminis, dianggap sama subversifnya dengan komunis. Ia menerima ancaman pembunuhan dan akhirnya memutuskan keluar dari Chili. Isabel dan anak-anaknya pindah ke Venezuela sementara kakeknya masih bertahan di Santiago. Membaca kisah hidup Isabel Allende menguatkan kembali ingatan saya dengan karakter-karakter dalam cerita The House of Spirit. 
Paula Frias Allende 
(sumber : http://isabelallendefoundation.org/)

Setelah keluar dari ICU, kesadaran Paula masih nihil. Ia telah membuka mata tapi tatapannya kosong dan tidak menyadari dunia di sekelilingnya. Kadang Paula menangis tiba-tiba. Isabel memutuskan untuk memindahkan Paula ke Amerika, pulang ke rumah mereka di California, Proses pemindahan Paula ke California cukup berisiko karena lamanya waktu tempuh perjalanan.

Di California, dokter klinik rehabilitasi yang menangani Paula menentukan waktu tiga bulan untuk perkembangan kondisi Paula. Isabel mau tidak mau harus memikirkan kemungkinan terburuk. Isabel tidak pernah putus harapan bahwa putrinya akan sadar. Dengan kondisinya mustahil Paula akan kembali seperti semula, seumur hidupnya ia invalid dan tidak boleh lepas dari perawatan. Jika yang terbaik untuk mengakhiri penderitaan Paula adalah kematian. Sanggup kah mereka ditinggalkan ? Siap kah mereka mengikhlaskan kepergian Paula ?

Suatu malam Isabel merasakan putrinya mendatanginya di kamar tidur. Paula mengatakan ia sudah letih dan ingin pergi tetapi tubuhnya masih kuat. Paula meminta ibunya untuk merelakan dia pergi. Yang terlihat oleh Willie, suami keduanya, adalah Isabel menangis dalam tidurnya. Beberapa saat sebelum sakit seakan dia mempunyai firasat, Paula menulis surat yang belum dibuka oleh Ernesto. Dengan berat hati Isabel membaca tulisan Paula.

I do not want to remain trapped in my body. Freed from it, I will be closer to those I love, no matter if they are at the four corners of the planet. It is difficult to express the love I leave behind, the depths of feelings that join me to Ernesto, to my parents, to my brother, to my grandparents. I know you will remember me, and as long as you do, I will be with you. I want to be cremated and have my ashes scattered outdoors. I do not want a tombstone with my name anywhere, I prefer to live in the hearts of those I love, and to return to the earth. I have a savings account; use it to help children who need to go to school or eat. Divide my things among any who want a keepsake-actually, there is very little. Please don’t be sad, I am still with you, except I am closer than I was before. In another time, we will be reunited in spirit, but for now we will be together as long as you remember me. Ernesto…I have loved you deeply and still do; you are an extraordinary man and I don’t doubt that you can be happy after I am gone. Mama, Papa, Nico, Grandmother, Tio Ramon; you are the best family I could ever have had. Don’t forget me, and..Let’s see a smile on those faces! Remember that we spirits can best help, accompany, and protect, those who are happy. I love you dearly.

Paula.



Ouch !!!

Ouch !!!
Penulis: Melanie Subono
Penyunting: Christian Simamora
Desain sampul: Jeffri Fernando
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-103-9
Cetakan pertama, 2007
132 halaman
Harga: Rp 5.040 (Beli di BukaBuku)

"Liaison Officer. Talent Division. Artist Personal Assistant. Sounds cooooolll. Gue yakin ini profesi impian hampir semua orang. But apakah lo tau bahwa artis juga manusia? Apakah keadaan di balik panggung dan kehidupan sehari-hari mereka seglamor yang kita baca dan denger? Butuh 15 tahun buat gue bisa nerima bahwa kadang kenyataan gak seindah bayangan. Dan di buku ini gue akan bagi semua tawa, sedih, marah dan semua perasaan gue, dan ngebagi pada kalian semua rahasia apa yang sebenernya terjadi selama ini."


Baca selengkapnya »

Takkan Pernah Menyerah – Sari Meutia dan Emak-emak AAB


Judul: Takkan Pernah Menyerah
Penulis: Sari Meutia, dkk
Penyunting: Budhyastuti R.H
Proofreader: Adriyani Kamsyach
Desainer sampul: Agung Wulandana
Ilustrasi hlm 130: Agung Wulandana
Foto: koleksi pribadi
Penerbit: Qanita
Cetakan pertama, Desember 2013
Jumlah halaman: 136 hal + xii, 20,5 cm
ISBN: 978-602-1637-17-3
Genre: Inspirasi, Kehidupan, Family, Non Fiksi, Memoar

"Aku kadang tidak tahu, apakah aku berdoa agar dia diberi usia panjang atau minta dihentikan saja penderitaannya."

"Dia pun pergi dengan meninggalkan aku yang tak kuasa membendung air mata.Bau parfumnya yang tertinggal di kamar membuatku semakin mual..."

"Tapi, putriku? Aku khawatir akan terjadi penyesalan di masa datang dan semua itu karena salahku dalam pengambilan keputusan saat ini."

Para ibu, tergabung dalam komunitas Arisan Antar Benua (AAB) yang mengawali persahabatannya di kegiatan Pembinaan Anak-anak Salman ITB,

Euis Fauziah - Hepti Mulyati Hakim - Ira Shintia - Keukeu Nurjannah Abdullah - Meilani Dewi Mayasari - Niken Sesanti Suci Rohani - Sangganiawaty - Sari Meutia - Sinta Asfandiyar - Ummi Aisyah,

menuliskan pengalaman mereka menjalankan bahtera rumah tangga dengan suka dukanya. Dari urusan mencari sekolah yang layak untuk anak, merawat suami atau anak yang divonis sakit berat bahkan meninggal, merantau menemani suami, hingga suami yang menikah lagi. Persoalan-persoalan khas istri yang tidak mudah dijalani, kecuali ketangguhan dan kesabaran menjadi perisainya. Perjuangan untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang mandiri.

Halo, Kakak Ilman dan Adik Zidan...

Selamat tahun baru 2014.. masih "hangat" dari sisa-sisa pesta akhir tahun lalu. Pastinya penuh harapan. Bunda belum punya semangat buat bikin master post bakalan ikut challenge apa aja tahun ini. Bikin resolusi baca juga belum. Haha.

Bunda sih kepingin men-challenge sendiri dengan minimal 30 review bisa Bunda produksi di tahun 2014 ini. Entah, deh. Mari kita hadapi aja apa yang akan terjadi di tahun ini dengan semua harapan ;)

Nah, di tanggal awal di tahun baru ini akan Bunda isi dengan buku yang sudah selesai Bunda baca dengan penuh lelehan air mata. Lebay? Mungkin. Meski bukunya berwarna pink, yang Bunda sebut dengan "buku pinkih", bukan berarti isinya penuh keceriaan, romantisme yang mendayu-dayu menggetarkan hati sekaligus bikin kasmaran...

Jadi, buku ini berisi sepuluh kisah nyata para ibu dalam merawat keluarganya. Misalnya aja, ada Uwak Sari yang sepenuh hati merawat Uwak Basrah yang sakit dan harus bolak balik cuci darah. Jadi kebayang kayak apa perjuangan Uwak Sari juga Uwak Basrah saat menghadapi ujian itu. Bukan hanya waktu dan tenaga yang harus dikeluarkan, biaya juga nggak sedikit yang harus dikeluarkan. Banyak nahan napas pas baca kisah mereka.

Terus ada Uwak Ira yang nahan napas karena khawatir melihat kak Safa berkutat di bawah kayak pas kayaknya terbalik di air yang arusnya yang super deras. Meski kak Safa sudah ahli eskimo roll saat simulasi, tetep aja pas kayak kebalik di air yang arusnya deras beda urusan.

Ada lagi cerita tentang kak Fahmi-nya Uwak Nia yang termasuk ABK seperti Kakak Ilman. Gimana perjuangan Uwak Nia mengasuh dan mengantar kak Fahmi supaya mandiri dan bisa bersosialisasi dengan teman-teman biasa.

Juga cerita Uwak Maya yang bikin waswas karena anaknya tiba-tiba kena stroke pasca kejeduk... T_____T 

Belum lagi cerita Bude Uci yang bikin.... napas sempat berhenti. Bunda nggak kuasa menuliskannya di sini. Selain jadi sop iler juga kok, malah nanti bikin mewek. Mending baca sendiri aja.

Nggak semua cerita di sini bikin sesak napas karena sedih, kok. Ada yang "ceria" seperti yang ditulis Uwak Euis, yang ceritain pengalamannya sewaktu sempat menjadi penduduk Jeddah. Atau cerita Uwak Sinta yang stres karena milih sekolah buat anaknya. Juga cerita inspiring yang bikin bersyukur banget dari cerita Uwak Hepti.

Empat bintang sangat layak Bunda persembahkan buat ibu-ibu hebat ini... ^_^

Kening by Rakhmawati Fitri

Pertama kali melihat profil Fitrop saya tidak terlalu memperhatikan keningnya yang jenong. Mungkin karena kening saya pun jenong, jadi fine-fine aja ngeliat orang lain berkening lebar. Keunikan Fitrop terlihat pada gaya bicara ‘alay’ yang mewabah sampai sekarang. Seingatku, Fitroplah yang menjadi pionir gaya bicara yang ‘muluk-muluk’ sampai mau muntah :p Gayanya yang ceria meriah menjadi […]

Berdamai Dengan Kematian

No: 074 Judul: Tuesday With Morrie Pengarang: Mitch Albom Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: Cet. 7; Maret 2010 Ukuran Buku: 207 hlm; 20 cm ISBN: 978-979-22-5021-3 Genre: Non Fiksi – Memoar Rating: 5/5 Kuliah terakhir dalam hidup sang profesor yg sudah lanjut usia itu berlangsung seminggu sekali di rumahnya. Kuliah dijadwalkan tiap hari […]

Books "A STOLEN LIFE – A MEMOIR"

Judul Asli : A STOLEN LIFE – A MEMOIR
By Jaycee Dugard
Copyright © 2011 by Luna Lee, Inc.
Penerbit Elex Media Komputindo
Alih Bahasa : Avin Kesuma
Cetakan I : November 2013 ; 306 hlm ; ISBN 978-602-02-2444-2
Rate : 3.5 of 5

Saat melihat sampul depan serta sinopsis singkat di sampul belakang buku ini, terbetik suatu keinginan yang didorong rasa penasaran untuk mengetahui lebih jauh apa sebenarnya isi kisah ini, bergulat dengan ketakutan akan bayang-bayang mengerikan tentang penderitaan anak-anak yang diculik dan dijadikan obyek ekspoitasi seksual ... dan akhirnya keingin-tahuanku menang. Maka tibalah saatnya untuk menguatkan mental serta pikiran, menelusuri kisah nyata gadis cilik bernama Jaycee Lee Dugard.

Jaycee adalah gadis cilik yang pemalu namun manis, hidup bersama ibu, adiknya Shayna yang berusia 18 bulan serta ayah tirinya Carl. Dibesarkan di Anaheim, California, wilayah Orange County, kemudian Carl memboyong mereka ke Tahoe – sebuah kota yang lebih kecil. Hubungan antar keluarga tidak terlalu baik, terutama Carl yang pengangguran dan tidak menyukai Jaycee. Dan pada tanggal 10 Juni 1991, gadis cilik berusia 11 tahun ini sedang berjalan menuju sekolahnya ketika sebuah kendaraan tiba-tiba muncul dan menculik dirinya.

Read more »

Ajaran Kesederhanaan dan Berbagi kepada Sesama untuk Menggapai Kesuksesan dari Raja Midas Indonesia



Chairul Tanjung Si Anak Singkong 
Thahja Gunawan Diredja
Penerbit Buku Kompas, Juni 2012
xvi + 384 hlm ; 15 cm x 23 cm
ISBN : 978 - 979 - 709 - 650 - 2
Cetakan ketiga, Juli 2012

Ajaran Kesederhanaan dan Berbagi kepada Sesama untuk Menggapai Kesuksesan dari Raja Midas Indonesia

Tidak banyak buku autobiografi yang terbit dalam bentuk seperti buku harian seseorang yang memuat perjalanan hidup dari merintis usaha dari bawah sampai sukses di umur yang bisa dibilang parobaya. Bahasa yang digunakan pun sangat mengalir dan tanpa meloncat-loncat khas seperti sebuah buku harian. Bagi yang ingin menjadi wirausahawan sukses buku ini patut anda baca dan sangat direkomendasikan. Saat pertama kali buku ini terbit saya sempat mengacuhkannya, karena saya juga belum tahu siapa sebenarnya Chairul Tanjung. Bahkan sebutan Si Anak Singkong pun juga saya belum mengerti. Apalagi sosok Chairul Tanjungsangat jarang terdengar di telinga kebanyakan orang dalam kiprah di pemerintahan persis seperti dalam isi buku tersebut yang menyebut bahwa Chairul Tanjung juga belum menjadi apa-apa tiba-tiba menjadi sosok yang terkenal dan kehadirannya berubah menjadi diperhitungkan ( gagasan visi Indonesia 2030 ). Bisa dibilang saya sangat terlambat memahami sosok ajaib ini, bila dibandingkan dengan sosok yang lain katakanlah sosok yang lagi naik daun saat ini siapa lagi kalau bukan Dahlan Iskan. Saya mengenal Dahlan Iskanlebih karena tulisan-tulisannya yang serius tapi penuh humordan sudah begitu banyak buku yang terbit berkat tulisannya yang berbobot, tapi Chairul Tanjung tulisannya tidak pernah saya temukan di mediamana pun apalagi di media sosial.
Banyak yang menyebut kalau Chairul Tanjung adalah seorang sosok yang mampu mengubah keadaan suatu ekonomi perusahaan dari minus menjadi sebuah perusahaan yang bersih, sehat dan menghasilkan keuntungan yang berlipat-lipat dalam waktu yang relatif tidak lama, seperti dalam kasus mengambil alihan Bank Karmanmenjadi Bank Mega di tahun 1995. Dan saat terjadi krisis monter 1997/1998 malah Bank Mega dinobatkan sebagai bank sehat dan tidak terpengaruh krisis bahkan, sempat membukukan laba yang fantastis di saat yang lain sedang mengalami kebangkrutan secara finansial. Maka tidak heran bila Chairul Tanjung seperti diumpamakan seperti Raja Midas dalam mythology rakyat Yunani kuno. Di bawah bendera CT Corp miliknya ( sebelumnya bernama Para Group ), puncak dari semua usaha yang dilakukan adalah mengakuisisi perusahaan ritel terbesar di dunia, Carrefour. Dengan menguasai 60 persen saham Carrefour Indonesia ( hal: 317), maka Chairul Tanjung pun berusaha untuk memajukan dan meningkatkan dunia UKM Indonesia yang sempat tertatih-tatih akibat serbuan produk impor.
Mungkin pembaca sempat heran saat membaca bahwa latar belakang pendidikan Chairul Tanjung adalah dokter gigi dan bukan pendidikan ekonomi. Ternyata sejak kecil Si Anak Singkong ini sudah dibekali oleh neneknya berupa jiwa entrepeneur dan sikap disiplin yang ketat. Tidak hanya dari keluarga saja Chairul Tanjung mendapatkan pendidikan yang keras, tetapi ini juga saat dimana keputusan ayah Chairul Tanjung yang memasukkannya ke sekolah Katolik elit dari SD sampai SMP yang bernama Van Lith. Keputusaan ayah Chairul Tanjung sama persis dengan apa yang dilakukan oleh mantan Wakil Presiden Moh. Hatta yang memasukkan anak-anaknya di sekolah Katolik pada waktu itu. Sungguh keputusan yang aneh bila dilakukan di zaman sekarang. Orang Islam kok masuk sekolah Katolik. Saat menjadi siswa ini bakat tawar-menawar atau yang lebih dikenal bertransaksi dalam istilah ekonomi sudah terlihat ( hal : 107 ). Tidak hanya jago tawar-menawar, Chairul Tanjung muda pun juga jago melakukan kegiatan teater yang berguna bila ingin mendapat kendaraan gratis ke sekolah pulang pergi. Pernah suatu saat Anak Singkong ini hampir diringkus Laksuskalau di jaman sekarang mungkin Polisi Satpol Pamong Praja karena melakukan ngamen di jalan-jalan protokol Jakarta. Sungguh kenakalan khas remaja waktu itu yang sulit terbayang juga pernah dialami oleh pengusaha sukses sekelas Chairul Tanjung seolah-olah sulit dipercaya oleh akal sehat.
Jiwa solidaritas, sosial, kepemimpinan dan idealismediturunkan dari sang ayah, AG Tanjung yang merupakan ketua ranting Partai Nasionalis Indonesia cabang Sawah Besar ( hal : 65 ). Pernah saat menjadi ketua mahasiswa FKG-UI, Chairul Tanjung muda menolak peran militer masuk Universitas Indonesia dan hasilnya sia-sia karena akhirnya militer berhasil mendudukkan jenderalnya sebagai rektor UI. Tidak hanya melakukan demo saja, Chairul Tanjung juga aktif melakukan berbagai kegiatan aktif baik di dalam kampus maupun di luar kampus. Malam menggalang dana untuk penderita thalesemia juga sukses dilakukan dengan dihadiri oleh empat menteri yang merupakan sebuah prestasi luar biasa pada waktu itu karena dilakukan saat Chairul Tanjung masih berstatus mahasiswa. Sikap sosial ini masih dipertahankan juga sampai sekarang oleh Chairul Tanjungdengan mendirikan Rumah Anak Madani di Medan bagi anak-anak korban Tsunami Aceh 2004 di bawah naungan CT Foundation.
 Dalam menjalankan usaha bisnisnya Chairul Tanjung pun pernah mengalami kerugian saat pertama kali merintis bisnis sama seperti kebanyakan para entrepreuneur pemula. Tidak hanya merugi Chairul Tanjung pun juga pernah dikhianati oleh teman sendiri, walaupun Chairul Tanjung sudah sukses mempunyai bisnis yang sudah menggurita. Dan yang paling menarik dari isi buku ini adalah ternyata sosok Chairul Tanjungtidak pernah menggunakan kekuasaannya untuk kemajuan roda bisnisnya, walaupun beliau menjabat sebagai ketua Komite Ekonomi Nasional ( KEN ).

Yang ingin disampaikan dalam buku ini adalah bagaimana seharusnya menjadi pemimpin dengan leadership yang kuat bisa membangun sebuah perusahaan yang bersih dan mempunyai keuntungan yang besar. Karena mendapatkan keuntungan itu bukan tujuan, melainkan sarana agar perusahaan bisa menjalankan cita-citanya. Tidak hanya masalah bisnis, tetapi sikap pluralisme juga ditunjukkan dengan bagus oleh Chairul Tanjung disamping tanpa meninggalkan sikap nasionalismeyang kuat. Sungguh sebuah buku yang bermutu, walaupun juga berisi nostalgia Chairul Tanjung saat masih muda dulu. Kerja keras, Ikhlas dan Jujur, itulah yang dicoba ditularkan oleh Chairul Tanjung kepada pembaca.