Jadikan Aku Halal Bagimu

Cara Mempersiapkan Nikah Muda

cover Jadikan_Aku_halal_bagimu

cover buku

Judul                            : Jadikan Aku Halal Bagimu

Penulis                          : Ahmad Rifa’i Rif’an

Penerbit                       :Mizania

Tahun Terbit                : Pertama, Februari 2013

Jumlah Halaman          : 186 halaman

ISBN                           :  978-602-9255-37-9

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Banyak orang menganggap nikah muda untuk saat ini sudah bukan zamannya lagi. Sekarang saatnya mengejar karir setinggi-tingginya. Karena banyak yang menganggap menikah di usia muda, hanya mengganggu kuliah atau mengganggu kerja saja.

Padahal menurut penulis menikah di saat muda, malah membuat dia semakin bahagia, semakin produktif karena ada tempat berbagi kebahagiaan dan meringankan kesedihan, seperti yang dialami oleh penulis. Buku ini ditulis, agar menjadi pemantik gairah menikah anak muda muslim yang semakin menurun. Dimana banyak diantara pemuda-pemudi muslim yang lebih memilih pacaran ketimbang menikah.

Secara sistematis, buku ini terdiri dari enam bagian. Bagian pertama buku ini membahas memperjuangkan sucinya cinta. Dalam bagian ini penulis mengatakan bahwa cinta itu suci. Cinta adalah fitrah, dan tak ada salah dalam cinta. Cinta itu menghadirkan ketaatan pada Allah. Maka, jika mencintai namun itu malah membuat durhaka pada Tuhan maka itu bukanlah cinta. (halaman 20)

Namun, bila cinta hanya terucap dilisan itu akan menjadi omong kosong. Cinta butuh aksi nyata, dan aksi nyata itu hanya satu yaitu pernikahan. Tidak hanya mengatakan “I love you” namun segera disusul dengan kata “Qobiltu”. Karena, dalam hadits Nabi juga tertera, bahwa “Tidak ada yang lebih baik bagi mereka yang telah jatuh cinta, kecuali pernikahan.”

            Banyak orang yang memilih pacaran lantaran ragu apakah akan bisa mendapatkan pasangan tanpa mengenalnya lebih dulu. Menurut Kahlil Gibran dalam syairnya, “Jangan kau kira cinta datang  dari keakraban dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah putra dari kecocokan jiwa. Dan jikalau itu tiada, cinta takkan pernah tercipta dalam hitungan tahun, bahkan milenia.”

            Kahlil dalam syairnya ini bermaksud menunjukkan bahwa meskipun telah lama akrab dan dekat satu sama lain, itu tidak menjamin adanya cinta. Karena, cinta lahir karena kecocokan jiwa, saling mengerti dan memahami. Bahkan, jika dilihat dari penelitian yang dilakukan oleh Janet Askham, peneliti dari University of Aberdeen. Ada ulasan menarik dalam bukunya yang berjudul Identity dan Stability in Mariage yang diterbitkan oleh Cambridge University Press. Dia mengemukakan bahwa lamanya hubungan pranikah serta tingkat intensitas hubungan pranikah, tidak memberikan sumbangan positif saat mereka bersepakat untuk menikah.

            Penulis merasa bahwa cinta itu harus direncanakan dengan baik, karenanya dia menawarkan agar pembaca membuat semacam proposal pernikahan. Mengapa? Menurut penulis, dengan adanya proposal nikah ini ada banyak manfaatnya. Pertama, mengoptimalkan waktu agar produktif. Kedua, meluruskan perjalanan cinta agar tetap berada di jalur yang benar. Ketiga, menargetkan muara cinta. Keempat, mendetailkan apa saja persiapan yang akan kita lakukan dalam rangka menggapai pernikahan berkah.

            Nah, penulis pun memberi cara bagaimana menyusun proposal nikah. Pertama, tuliskan kapan target nikahmu. Tulis sedetail mungkin. Kalau bisa tidak lebih dari setahun, agar semakin dekat maka semakin semangat kita mencapainya. Kedua, tuliskan apa saja masalah yang mungkin akan dihadapi jika akan menikah pada waktu yang sudah ditargetkan tersebut. Ketiga, menjawab satu per satu masalah yang ditulis tersebut.

            Bagaimana cara agar proposal cinta cepat terwujud? Penulis, memberi tips. Pertama, awali dengan tobat. Karena kita tak mungkin lepas dari dosa. Karena dosa membuat rejeki mampet, termasuk rejeki jodoh. Kedua, ceritakan proposal cinta tersebut pada dua manusia keramat, bapak dan ibu. Agar ikut mendoakan apa yang terbaik bagi kita. Ketiga, doakan orang lain. Karena dengan hal itu, kita akan turut didoakan oleh para malaikat (dalam shahih muslim). Keempat, banyak bersedekah.

            Bagian kedua dalam buku ini membahas tentang Ya, Allah Siapa Jodohku? Agama menganjurkan untuk mencari pasangan dengan 4 kriteria, agama, nasab, paras, dan kaya. Yang diutamakan adalah yang pertama, yakni baik agamanya. Untuk mendapatkan jodoh yang baik agamanya, maka seharusnya kita juga memantaskan diri dengan menjadi lebih baik dalam beragama (QS An-Nur (24): 26).

            Namun begitu, alangkah tidak baiknya jika kita memaksa Allah agar menjodohkan kita dengan orang yang kita anggap pantas menjadi pasangan sehidup-semati. Karena, hanya Allahlah yang tahu siapa yang terbaik untuk kita. Jangan sampai Allah, memberi apa yang kita minta dengan paksa bukan dengan santun, tapi dengan kemurkaan-Nya. Sehingga, membuat pernikahan kita bukannya berkah, tetapi penuh dengan amarah.

            Pada bagian ketiga penulis membahas tentang dahsyatnya nikah muda. Penulis mengemukakan bahwa usia muda, adalah usia penuh energy. Sayang jika hanya dibuat untuk pacaran lalu kemudian melanggar agama dengan melakukan hubungan suami istri sebelum halal dalam pernikahan. Maka, menikah sebenarnya adalah solusi.

             Mari mendengarkan apa yang dikemukakan oleh pakar psikologi, Diane E Papalia dan Slly Wendkos Olds dalam buku Human Deveploment (1995). Menurut mereka berdua, usia menikah terbaik bagi wanita adalah 19-25 tahun sedangkan bagi lelaki usia terbaiknya saat 20-25 tahun. Usia ini pun baik menjadi pengasuh anak pertama. Yang lebih mencengangkan hasil penelitian Campbell dan kawan-kawan yang mengatakan bahwa pasangan menikah yang paling bahagia adalah pasangan yang menikah di saat umur 20-an.

            Maka menurut penulis sudah saatnya, pemuda menjadi lebih bertanggung jawab dengan menikah. Jika orang tua belum membolehkan, maka kita harus membuktikan bahwa kita sudah siap dan mampu. Karenanya, memang hal ini harus dipersiapkan lebih awal. Seperti teman penulis yang sudah bekerja sejak kuliah dan tidak meminta ke orang tua, dengan mengumpulkan sedikit-sedikit penghasilannya untuk biaya nikah. Akhirnya, orang tuanya pun merestui dia untuk menikah.

            Dalam bab keempat penulis membahas tentang motivasi pernikahan. Penulis membahas bagaimana membangun keluarga yang islami. Bagaimana arti penting niat dalam berumah tangga. Juga bagaimana membahas upaya agar pernikahan menjadi berkah.

            Dalam bab kelima penulis membahas bagaimana menikah kok bisa membuat pelakunya kaya. Dengan banyaknya ajakan berdasarkan ayat dan hadits bahwa menikah itu mengkayakan penulis juga memberi dasar ilmiah mengapa menikah itu membuat kaya.

            Dalam bab terakhir, penulis membahas persiapan menghalalkan cinta. Pada bab ini penulis pembaca agar bergairah menikah muda juga langsung aksi dengan mempersiapkan dengan matang. Buku semacam ini banyak di pasaran dengan gaya yang berbeda. Kelebihan gaya bertutur yang santai dan mengena dalam tulisan Ahmad Rifa’i Rif’an. Buku yang cocok dibaca anak muda zaman sekarang agar hidup lebih terarah dan dalam keridhoan-Nya. Juga tak kalah pentingnya dibaca oleh orang tua agar bisa memahamkan anaknya untuk menjadi lebih baik ke depannya. Selamat membaca! :)

gambar diambil dari sini

(12-Dimuat di Nabawia.com 20 Januari 2014)


Filed under: Buku Yang Sudah Dibaca, Cinta, Hubungan Laki-Perempuan, Indiva Readers Challenge (IRC) 2014, Inspirasi, Inspiratif, Keislaman, Motivasi, Nabawia.com, Non Fiksi, Pernikahan, Resensi Buku Tagged: ahmad rifa'i rif'an, anak muda, buku, buku 2013, cinta, gairah, inspiratif, islam, jodoh, kisah inspiratif, menikah, menikah dewasa, menikah muda, mizania, muhasabah cinta, nonfiksi, orang tua, pacaran, pemuda muslim, pemudi muslim, pernikahan, proposal cinta, resensi buku, romantis, tanggung jawab