Restart


Judul : Restart
Penulis : Nina Ardianti
Tebal : 456 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Syiana merasa seakan dunianya hancur saat pacarnya berselingkuh. Ia sudah lama sekali pacaran dengan Yudha dan merasa mantap dengan hubungannya itu. Karena patah hati, ia pun terus menghindar dari pria itu dan mencoba memendam kekecewaannya sendiri.

Fedrian datang di saat yang tidak tepat. Ia adalah seorang artis band rock Dejavu yang baru terkenal di Indonesia. Keduanya bertemu secara kebetulan di bar Hongkong saat salah satu teman band Fedrian sedang mabuk-mabukan. 

Kesan pertama Fedrian tidak begitu baik di mata Syiana. Ia tidak terlalu memikirkan pria itu sampai akhirnya mereka bertemu lagi. Tempat kerja Syiana sedang meluncurkan produk baru dan membutuhkan musisi untuk mewakili produk itu. Ternyata musisi tersebut adalah band Dejavu. 

Fedrian langsung tertarik pada Syiana. Ia tidak membuang waktu untuk mengejar Syiana, tidak memberi kesempatan pada gadis itu untuk menolak. Namun sayangnya, hati Syiana masih menginginkan Yudha. 
Read more »

GlamTeen: Girl With So Many Problems

Impossible (Glam Girls: GlamTeen #3)
Penulis: Nina Ardianti
Editor:
Desain sampul:
Penerbit: GagasMedia
ISBN:
Cetakan
294 halaman
Harga: 36k (Beli di @kawanbuku)

GLAM GIRLS. YOU WILL LOVE US—WE PROMISE.

Mana yang kau pilih: jadi cantik atau pintar?

Kalau kau memilih cantik, percayalah, dalam waktu singkat kau akan jadi pusat perhatian. Banyak yang akan jatuh hati padamu—begitu juga dengan yang akan membencimu. Kau harus berhati-hati dengan kebencian karena iri hati. Perasaan itu beracun seperti taring ular. Sekali dia menggigitmu, hidupmu akan berubah selamanya.

Kalau kau memilih pintar, masa depanmu akan seterang matahari pagi di tepi Pantai Ibiza. Guru-guru jatuh hati kepadamu. Nilai-nilaimu sama indahnya seperti couture Alexander McQueen. Sayangnya, jadi pintar membuat pergaulanmu harus mengalah.

Karenanya, aku tak akan memilih cantik maupun pintar. Aku lebih ingin ditakuti. Aku ingin jadi alasan seseorang meragukan kualitas di dalam dirinya. Aku ingin semua mata terarah kepadaku. Hanya orang yang disegani yang menjadi poros dunia di sekelilingnya, Darling....

Baca selengkapnya »

Meet The Clique: Adrianna

Glam Girls (Glam Girls #1)
Penulis: Nina Ardianti
Editor: Christian Simamora & Widyawati Oktavia
Desain sampul: Dwi Anisa Anindhika
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-283-3
Cetakan pertama, 2008
342 halaman
Pinjem @noninge

GLAM GIRLS. YOU WILL LOVE US—WE PROMISE.

Jadi pintar itu gampang—belajar aja yang rajin. Jadi cantik lebih gampang lagi. Dengan semua servis ala Nip/Tuck yang ada sekarang, apa aja mungkin. Kekayaan? Well, hanya karena lahir di keluarga kaya raya sampai tujuh turunan, bukan berarti kamu lantas punya potensi sebagai pusat perhatian. You can buy Gucci, but you can’t buy style.

Kami nggak pernah pelit kok ngasih tahu rahasianya jadi terkenal. Kamu nggak boleh dijengkal, apalagi jadi orang yang gampang ditebak. Kalau ada yang bersikap buruk ke kamu, jangan takut. Kamu juga punya hak penuh buat balik nge-bitchy-in dia. Kamu juga harus berani tampil beda. Sesekali, nggak ada salahnya tampil kontroversial. Yang nggak masuk akal biasanya susah dilupakan.

Ribet? Emang! Siapa juga sih yang bilang jadi populer itu gampang?

Baca selengkapnya »

Restart

Judul: Restart

Penulis: Nina Ardianti

Terbit: Cetakan IV, 2013

Penerbit: GagasMedia

Genre: Romance, Metropop

Tebal:  x + 446 halaman

ISBN: 979-780-631-6

Harga: Rp 55.000 (Beli di bukabuku.com Rp 44.000)

Semua orang pernah patah hati.

All you have to do is move on.

Aku selalu mengira tak akan bisa hidup tanpa cintanya.

Aku lupa, semua luka perlahan-lahan akan sembuh juga.

Biarkan saja waktu yang jadi obatnya.

Saat itu akan tiba, ketika aku benar-benar menerima

kenyataan bahwa kini tak ada lagi ‘kita’.

Sekarang hanya aku, minus dirinya. Dia pergi terlalu lama

dan aku terlalu bodoh terus-terusan memikirkan dirinya.

Aku bisa hidup tanpa kenangan dan senyumannya.

Kalau sebelum mengenal dia saja aku bisa bahagia,

Apa bedanya bahagia setelah tanpa dirinya?

Aku pasti akan jatuh cinta lagi. Suatu hari nanti…

dan dengan yang lebih baik dari dirinya.

Review:
Seorang Banker bernama Syiana Alamsjah baru saja patah hati karena memergoki pacarnya selingkuh dengan wanita lain. Yudhaadalah nama lelaki yang hampir menjadi pasangan hidupnyaitu.

Tidak perlu waktu lama untuk membuat keputusan, karena Syiana akhirnya memutuskan untuk berpisah dengan Yudha.

Selang waktu beberapa bulan, tidak disangka kepergiannya ke Hongkong untuk Asia Banking Award bersama rekan kerjanya Aulia, mempertemukannya kembali dengan Yudha, itupun setelah acara selesai. Syiana yang tidak mau bertemu dengan lelaki itu–pergi begitu saja diantara pertemuan tak terduga dengan teman-temanya.

“How can I move on when I’m still in love with him?” (page 31)

Selanjutnya sih, aku tidak terlalu melihat tokoh Yudha berperan banyak, meskipun dia masih mengejar-ngejar Syiana dengan mengirimkan bunga setiap hari dan mengajak bertemu sekali untuk memberikan penjelasan, tapi itu tidak memberikan kesan yang lebih dalam bagi hubungannya dengan Syiana, IMO.

Mungkin karena tema novel ini tentang move on, jadi ceritanya berkaitan dengan perjalanan cinta Syiana pasca putus dari Yudha. Nah, Yudha-nya itu nggak terlalu berpengaruh dengan cerita ini. Well, meskipun hatinya Syiana sih masih sakit dan trauma dengan kegagalan cintanya, tapi memang aku nggak dapet feelnya tokoh Yudha ada.

“I was fine before you came into my life, Pratama Yudha Sjahrizal. And I bet I’ll be just fine without you in it again,” – Syiana (page 211)

Sekarang bagaimana ceritanya Syiana mau move on? Singkatnya, Syiana bertemu dengan Ferdian Arsjad–yang bagi Syiana—dia cowok yang ganteng dan seksi abis—tapi ngeselin itu karena menuduhnya mengajak minum sahabatnya waktu di bar Hongkong dulu.

Seperti benang takdir, mereka bertemu kembali. Ceritanya Bank tempat Syiana bekerja membutuhkan semacam brand ambassador untuk produk Bank-nya, ya semacam nyanyi di acara musik seperti Mandiri Fiesta-lah, tapi ini Bank—apa ya—lupa, pokoknya fiksi.

Syiana yang bertugas mengordinir itu malah nggak tahu siapa Ferdian Arsjad dan apa itu Dejavu. Yap, ternyata Ferdian Arsjad ini gitaris dari band Dejavu yang terkenal pake banget di Indonesia. Selain itu, Ferdian bikin Syiana cukup uring-uringan juga karena lelaki itu tiba-tiba saja mendekatinya. Pesona Ferdian tidak bisa ditolak meskipun selalu bikin Syiana kesal. Sahabatnya Edyta mendukung penuh jika Syiana dekat dengan Ferdian, Aulia pun demikian.

Namun, nggak mudahlah… Ferdian itu kan artis yag digilai para cewek, entah itu ibu-ibu apalagi remaja. Ditambah lagi dengan mantan pacarnya yang cantik banget, sama-sama artis pula. So, inti ceritanya sih, Restart lebih ke hubungan baru Syiana dengan Ferdian, mau jadian atau nggak?

Ya, gitu-gitu, deh… ceritanya biasa aja, nggak ada konflik yang bikin menguras emosi. Enjoy bangetlah bacanya, apalagi gaya tulisannya itu kayak curhat, pake kata-kata nggak baku semua.

Kalau aku sih cukup kaget juga, baru pertama kali baca novel dengan gaya tulisan seperti itu, dan pertama juga baca karyanya Nina Ardianti. Awalnya sih kurang nyaman, sempet nunda-nunda baca juga karena sedikit ngebosenin. Novelnya cukup tebal, tapi nggak dapet bobot ceritanya.

Sedikit banyak typo, mungkin karena bahasanya nggak baku jadi mudah terlewat typo EYD itunya ya.

Dan, entah kenapa aku merasa geli dengan nama Aulia, aku pikir tuh cewek, eh ternyata cowok. Untungnya sih nggak kemayu, bener-bener cowok normal-lah, Aulia : )

Makin kesini, ya lumayan nempel tokoh Syiana dan Ferdian ini—yang buat aku cukup suka.

Kalau kamu yang baru aja putus cinta, bingung mau harus bagaimana… move on aja! Baca Restart, bacaan ringan dan menyegarkan :D nggak menye-menye kok.

Oya, novel restart ini tahun kemarin dapet penghargaan Anugerah Pembaca Indonesia di acara IRF 2013. Wuih, keren ya… Congrats buat mbak Nina :D

Aku kasih 3 bintang untuk si ratu drama Edyta, sahabatnya Syiana ;)

Quotes yang kusuka:

“Seandainya saja mematikan perasaan bisa semudah mematikan sambungan telepon, hidupku pasti akan jauh lebih mudah.” (page 156)

“A woman’s gotta do what she’s gotta do,”- Ferdian (page 204)

“Nggak usah takut sama cobaan, masalah, atau apa pun itu. Karena ketika kalian sudah menemukan orang yang tepat untuk berbagi beban dan kebahagiaan, naik dan turunnya hidup—percayalah, berada di bawah itu akan sama rasanya seperti ketika kita berada di atas. Senang dan susah hanyalah fase dalam hidup yang akan segera berganti.” (Page 407)

About Author:

By day, a treasury banker. By night, a struggling writer. A hopeless romantic. Dreaming and breathing romance books and movies. A shameless fangirl, easily distracted by internet world (damn you, pop culture!)

Could be reached by e-mail:

Nina.ardianti@gmail.com or Follow her on Twitter:

@NinaArdianti

Oh, if you’re looking for the least important thing on earth, please visit http://ninaardianti.com

At your own risk, of course.


Fly To The Sky


Judul : Fly To The Sky
Penulis : Nina Ardianti & Moemoe Rizal
Tebal : 360 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Edyta...

Sudah bertahun-tahun ia tidak pacaran dan malam itu ia dikenalkan sahabatnya pada seorang pria yang akhirnya dekat dengannya. Pria itu baik, keren, dan sangat sempurna. Namun Edyta tidak bisa lupa akan sosok yang ditemuinya di rumah makan bebek. Saat itu ia sedang sial dan pria itu membantunya.

Adrian...

Menjadi pilot membuatnya terus berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Ia ingin menetap dan menemukan wanita idealnya sehingga ia pun membuat checklist ciri-ciri wanita idamannya. Sebagai orang perfeksionis, ia juga mendambakan orang yang perfeksionis. Saat ia menemukan wanita itu, entah kenapa ia malah terus teringat pada sosok berantakan yang ditemuinya tanpa sengaja di sebuah restoran.

Bertemu hanya sekali, namun hati mereka terus mencari...

Read more »

Glam Girls


Judul : Glam Girls (Glam Girls: Rashi and The Clique #1)
Penulis : Nina Ardianti
Tebal : 339 halaman
Penerbit : Gagasmedia

Adrianna baru pertama kali masuk ke Voltaire High School. Awalnya, dia tidak terlalu peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Tugasnya hanyalah belajar dan meraih nilai tertinggi. Tapi teman-teman di sekitarnya menganggap dia aneh karena ada yang jauh lebih penting di sekolah itu daripada sebuah prestasi.

Popularitas.

Ikon sekolah mereka adalah tiga cewek kaya yang fashionable bernama Rashi, Maybella, dan Marion. Mereka cantik dan dikagumi banyak cewek juga cowok. Mereka selalu diundang ke pesta-pesta keren dan selalu bisa tampil dengan sangat keren pula.

Adrianna tidak terkesan. Malah ia sebal dengan Maybella yang berisik dan bodoh banget dalam pelajaran. Rashi juga nggak ada bedanya. Kebetulan dua orang itu duduk di belakangnya dan selalu membuyarkan konsentrasi belajarnya. Dan parahnya, ia harus sekelompok dengan tiga orang itu dalam membuat tugas. Bayangkan saja betapa susahnya menyuruh mereka mengerjakan tugas.

Namun saat Marion membuat masalah dan dikeluarkan oleh Rashi dari kelompok Clique-nya, Adrianna mulai masuk ke dalam kelompok mereka. Tidak disengaja sebenarnya. Hanya saja, Rashi dan Maybella tanpa sepengetahuannya sudah memilihnya. Mereka berdua memintanya memakai baju sesuai dress code, bahkan mengajaknya ke pesta-pesta elit. Mereka memperlakukannya sebagai teman walaupun Adrianna sendiri belum menganggap mereka siapa-siapa.

Tapi saat teman-teman lamanya memusuhinya karena menganggap dirinya hipokrit dan mau enak sendiri, Adrianna mulai bertanya pada dirinya sendiri. Siapakah temannya yang sesungguhnya?

Read more »

Review Buku : Restart

Judul Buku : Restart
Penulis : Nina Ardianti
Penerbit : Gagas Media
Jumlah Halaman : 456 Halaman
Harga : Rp. 55.000
ISBN : 9789797806316

Yang bisa mengobati patah hati itu cuma waktu dan orang baru.

Ini buku kedua dari Nina Ardianti yang saya baca, setelah sebelumnya di tahun 2007 saya membaca Simple Lie. Saya hampir lupa saya pernah membaca karya Nina sebelumnya. Bukan, bukan karena Nina baru menelurkan karya kembali, hanya karena saya kurang sreg dengan karya-karyanya yang lain.
Setelah Restart terbit, entah kenapa saya tergerak untuk membeli dan membacanya.

Tema besar buku ini memang tentang move on.
Kata yang lagi ngehits memang di social media. Gak jarang jadi bahan lucu-lucuan di Twitter dan Path. Padahal, bagi sebagian orang memang tidak mudah untuk move on. Apalagi ini urusan hati, cinta. Aiiih…gak bisa pake teori, tapi dijalani. *sok bijak*

Bercerita tentang Syiana Alamsjah dan Fedrian Arsjad.
Syiana yang ingin move on dari Yudha, sang mantan pacar yang kepergok selingkuh bertemu secara gak sengaja dengan Fedrian, si gitaris band Dejavu yang terkenal ganteng. Dalam buku ini band Dejavu terkenal banget se-Indonesia Raya.

Syiana yang jadi ketus dan sarkas akhirnya jadi dekat dengan si artis. Kata orang berjodoh itu ketemu lagi setelah gak sengaja ketemu di pertemuan pertama, dan selanjutnya cerita tentang Syiana dan Fedrian mengalir.

Syiana yang seorang pegawai bank, mengingatkan saya dengan Ika Natassa, tapi thanks God, kalimat berbahasa Inggris tidak mendominasi di buku ini seperti halnya kita temui di bukunya Ika Natassa :D

Saya mungkin bisa saja memberi buku ini 5 bintang seandainya saja, saya menemukan konflik yang lebih hebat pada hubungan Syiana dan Fedrian yang mampu ditutup dengan ending enak. Dalam sepertiga terakhir buku ini saya hampir mencari-cari dimana letak konflik antara mereka berdua selain ada mulut. Akhirnya saya menemukannya, walaupun menurut saya, konflik antar mereka kurang hebat. Tapi, tidak mengubah penilaian saya bahwa buku ini menarik banget. Bintang 4.

Oh ya, satu lagi, entah kenapa oh mengapa, Fedrian disini digambarkan sangatlah sempurna. Ya gantengnya. Ya keluarganya. Ya kaya. Ya pinter. Ya musisi. Ya seleb. Ya gitu deh. Mbok ya dibuat jangan serupa malaikat gitu, biar para pembaca bisa memahami bahwa memang tak ada yang sempurna namun bisa diterima oleh pasangannya :)

Nggak usah takut sama cobaan, masalah, atau apa pun itu. Ketika kalian sudah menemukan orang yang tepat untuk berbagi beban dan kebahagiaan, naik turunnya hidup–percayalah, berada di bawah itu akan sama rasanya seperti kita berada di atas. Senang dan susah hanyalah fase dalam hidup yang akan segera berganti.

Hai Nina!

NinaArdianti

Hai Author! kali ini menyapa satu penulis cewek yang mendeskripsikan dirinya sebagai a hopeless romantic and (self-proclaimed) normal lady – nyontek bio twitternya, hihi. Novel terbarunya berjudul Restart rilis di bulan Mei 2013 lalu. Saya sudah membaca novel itu dan saya sangat menikmati caranya bertutur. Hiyaaakh, kalau kamu menyebut nama Nina Ardianti, maka tidak salah lagi, mari ngobrol dengan kakak cantik satu ini….

Hai, Nina! Terima kasih ya buat waktunya. Nah, yuk nggak pakai basa-basi, langsung kita mulai tanya-jawabnya berkaitan dengan novel dan profesimu sebagai penulis. :) Pertanyaan pertama untuk novel terbarumu, kenapa judulnya Restart bukannya ‘Move On’? Hehe, ya i know move on itu kan memang cuma tema ceritanya, but why Restart?

Jawaban jujur atau jawaban jaga image, nih? Let me go with jawaban jujur aja ya, hehehe. Alasannya karena semua judul yang saya ajukan ke editor nggak ada yang diterima. Lalu akhirnya, ketika bukunya sudah mau diterbitkan, diberitahu kalau judulnya ‘Restart’ dan saya setuju. Udah sih, gitu aja. Nggak ada drama.

Singkat, padat, jelas, dan no drama! Hihihi. Lanjut, ya…. Jujur nih, Restart ini berdasarkan pengalaman pribadimu bukan, pas habis patah hati? Hehe, atau setidaknya, ada unsur kisah nyatamu di sana?

Saya rasa ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan kepada semua penulis fiksi, ya? And no one believes even though I am constantly answering with, “BUKAN WOYY!!” Hebat bener kisah hidup saya kalau bisa terus-terusan ditulis di buku. Tapiii… banyak adegan, terutama bagian percakapan, yang merupakan fiksionalisasi dari kejadian nyata di sekeliling saya. Kalau ada yang komentar bahwa bahasa yang saya gunakan kayak sehari-hari banget… LAH KARENA MEMANG SEHARI-HARI NGOMONGNYA KAYAK GITU. Banyak juga kejadian-kejadian kecil yang lucu dan menarik, atau selepetan tajam yang bikin berbalas pantun dengan kata-kata sarkastis, yang saya masukkan ke dalam cerita.

Teman-teman saya udah terbiasa kalau misalnya lagi ngobrol, tiba-tiba saya suruh berhenti karena mau saya catat di ponsel atau di notebook. Karena kalau nggak dicatat, pasti bakalan lupa. Padahal kadang yang diobrolin lucu banget dan menarik.

Di novel itu kan juga ada lagu-lagu baru yang ceritanya sih diciptakan oleh Fedrian Dejavu. Pastinya kamu dong yang bikin…. Itu beneran kamu bikin liriknya jadi sebuah lagu gitu, plus ada nadanya? Idenya dapat dari mana?

As much as I want to admit it, but unfortunately they’re not mine. Yang buat teman saya, namanya Indra (atau biasanya kami memanggil dia sebagai Oon). Karena saya tahu dia bagus banget dalam menulis puisi (dan saya payah banget), saya minta tolong supaya dia membuatkan lirik lagu. Udah minta tolong, saya minta dibikinin dua lagi. Saya kasih tau penginnya kayak gimana, dan… VOILA! Jadi deh. Nggak susah, hihi…

Sayangnya, karena kami berdua payah dalam bermusik (Oon sedang belajar biola nggak bisa dihitung. Baru beberapa bulan soalnya xP), maka lirik lagu ini hanya sampai di mata pembaca, belum sampai di telinga pendengar.

Kalau ingin tanya idenya dapat dari mana, bisa ditanya langsung kepada yang bersangkutan di akun Twitter @harimau_belang (you better pay me, On…).

Keseharianmu kan bekerja sebagai karyawan bank, seberapa banyak kamu mengambil cerita di dunia kerjamu untuk diadaptasi di novel Restart? Temen-temen kantor ada yang komen nggak sih, misalnya bagian tertentu mirip banget dengan kondisi nyata di kantor …

IMG_1289

(pic credit: Nina Ardianti)

Seperti yang sudah saya jawab di pertanyaan nomor dua, bahwa walaupun plot utamanya merupakan fiksi, tapi detail-detail di dalam cerita berdasarkan kehidupan nyata. Jadi kalau ditanya seberapa banyak saya ngambil cerita di dunia kerja, jawabannya ya… banyak. Hehehe… Dan teman-teman kantor suka menebak-nebak, ‘eh si A itu si X ya?’

Oh gitu…. *nodding* Oh ya aku lihat di goodreads, kamu lumayan rajin tuh ninggalin komentar untuk review novel-novelmu dari goodreads user. Buat kamu, seberapa banyak sih review itu memengaruhimu untuk penulisan selanjutnya? Pernah nggak baca satu review yang bikin kamu sampai ‘termenung’ banget gitu? Misalnya, karena saking banyaknya kritik-kritik pedasnya di review itu, hehe.

Salah satu prinsip saya dalam menulis adalah, you can’t please everybody. Akan ada yang menganggap bagus, menganggap biasa-biasa aja, atau menganggap bahwa saking jeleknya tulisan kita nggak perlu dibaca dan sebaiknya langsung dibuang ke tempat sampah. I cannot control what people think about my writing, yang bisa saya lakukan adalah memperbaiki kualitas tulisan saya secara kontinyu. Gampangnya, kalau saya nggak suka dengan tulisan saya, gimana caranya orang lain akan suka dengan tulisan tersebut? Dan saya juga berprinsip, saya akan menulis apa yang saya senang untuk membacanya. Berhubung kebetulan genre yang saya pilih itu mainstream banget (haloooo… contemporary romance—kurang mainstream apa coba?) dan penggemar romance di luar sana banyak, jadi lebih mudah untuk menelusuri dan mencari feedback.

Saya nggak mengabaikan kritik—dengan catatan kritik itu membangun dan bukan sekadar trolling nggak jelas. Kalau ujung-ujungnya sudah masalah selera, sih, biasanya saya berpikir… just let it go. Karena kita nggak bisa berdebat tentang selera.

Jadi, membaca review jelek pastinya bikin sedih, tapi bukan alasan untuk nggak menulis lagi (alasan nggak menulis biasanya lebih sering kepada malas dan nggak ada ide, hihihi).

Kamu sendiri juga suka baca dan mereview buku. Kalau lagi jalan-jalan di toko buku, biasanya bakalan tertarik ambil satu buku untuk dibeli karena faktor apa aja?

Yang pertama, penulisnya. Kalau saya sudah suka sama seorang penulis, biasanya akan beli bukunya nggak pakai mikir lagi. Kalau perlu pre-order sebelum bukunya terbit. Tapi berhubung di toko buku sekarang banyaaaaakkk… banget buku-buku dari penerbit baru dan penulis baru, biasanya saya mengandalkan Goodreads. Saya kapok mengandalkan Twitter, biasanya biasnya keterlaluan. Goodreads juga bias, sih, hanya saja masih lebih mending lah daripada Twitter.

Paling aman sih, rekomendasi teman. Apalagi kalau teman yang satu selera sama kita. Langsung deh baca nggak pakai mikir ;D

Kamu pernah duet sama Moemoe Rizal untuk proyek Gagas Duet Fly to the Sky. Kalau dikasih kesempatan duet lagi, tapi kali ini bareng penulis idolamu, kamu mau duet bareng siapa? Kenapa tuh milih dia, dan pengin nulis cerita seperti apa?

Errr… berhubung saya ngefans sama Julie James dan Lindsey Kelk, sama mereka boleh lah… (#Sombong #KemudianDikeplakMassa). Tapi ya realitasnya, mah, nggak mungkin. Eh tapi ini kan berandai-andai ya? Baiklah.

Pinginnya nulis cerita tentang…. apa ya? Bingung juga, sih. Saya nggak selalu banyak ide soalnya. Huehuehue… Tapi alasan kenapa saya pengen kolaborasi dengan mereka… ya karena saya ngefans. Hihihi.

Maafkan jawaban yang nggak komprehensif ini.

Terakhir, aku baca di domainmu kalau kamu tergabung juga jadi First Team Reader-nya Gagas Media. Berarti kamu sering berkutat dengan naskah-naskah mentah dan menemukan banyak naskah yang berpotensi jadi buku bagus atau sebaliknya, terkesan ditulis sekadarnya aja. Ada tips nggak buat temen-temen yang sedang berkutat dengan draft-nya, biar naskah dengan tema apa pun bisa asyik dibaca dan nggak ngebosenin? :)

First reader? Astaga, itu udah lama bangettt. Saya bahkan udah lupa…

Hmmm… tips ya? Errr… apa ya. Intinya sih seperti yang saya bilang di atas, bahwa: 1). Harus menyukai apa yang kita tulis, 2) Kita menulis apa yang kita ingin baca. Dan untuk tahu hal tersebut mau nggak mau kita harus banyak baca, bukan? Prinsip saya sih, begitu.

Sebelum mengirimkan kepada penerbit, coba deh, cek-cek ombak dulu dengan meminta supaya teman-teman di sekitar kita untuk membaca draftnya. Biasanya saya begitu, sih. Tujuannya minta masukan. Karena percayalah, setelah berkutat dengan draft selama sekian lama: NGGAK ADA YANG NAMANYA PANDANGAN OBJEKTIF DARI DIRI KITA SENDIRI. Makanya, minta orang lain buat berkomentar. Dan jangan gampang sensi. Kalau dikritik sama temen sendiri aja sensi, gimana dikritik sama pembaca beneran yang marah-marah karena udah ngeluarin uang banyak untuk beli buku kita?

Terakhir, jangan menyerah kalau ditolak. Coba lagi award bukan hanya berlaku bagi peserta Indonesian Idol. Tapi juga kepada kita di dunia nyata.

Terima kasih ya Nina Ardianti buat waktunya menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk blogku. Nah, sekarang sebagai penutup silakan sampaikan apa pun untuk pembaca interview ini, bebaass boleh promosi bukumu atau titip salam, asal jangan nulis cerpen di sini, ehehehe…. Silakan:

Stay calm and keep reading, ya ;) ))

Nina’s out.

Thank you Nina Ardianti for the nice and fun answers! Nah, kamu punya akun twitter? Boleh banget deh menyapa Nina di akun @NinaArdianti juga kulik domainnya di www.ninaardianti.com. :)


[Book Review(++)] Restart by Nina Ardianti






Judul: Restart
Pengarang: Nina Ardianti
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 384 halaman

“Karena gue sayang banget sama Yudha, gue takut nggak akan kuat dengan keyakinan gue saat ini dan memaafkan dia, dan kemudian meyakinkan diri gue bahwa semuanya akan baik-baik aja. Lalu akan ada saat-saat gue menyesali keputusan itu dan membenci diri gue karenanya.”

Tahu siapa itu Syiana? Itu lho, temennya si my lovely Edyta, karakter utama Gagasduet Fly to the Sky.
Nah, di Gagasduet itu, Syiana ini digambarkan punya kehidupan yang serba sempurna. Wajah cantik, pintar, punya jabatan bergengsi di tempat dia bekerja(Bank Asia Pasifik) dan yang paling penting punya pacar yang (di mata Edyta) sempurna.

Di buku ini, diceritakan kalau Syiana sedang patah hati. Ternyata, Yudha yang selama ini dianggap pacar sempurna memiliki hubungan dengan wanita lain. Karena dari dulu Syiana beranggapan kalau selingkuh adalah kesalahan yang tidak bisa dimaafkan di dalam sebuah hubungan, Syiana memutuskan untuk mengakhiri hubungan cintanya dengan Yudha.

Ketika Syiana punya urusan pekerjaan di Hong Kong, secara tidak sengaja Syiana bertemu dengan orang yang selama ini berusaha dia lupakan dan dia hindari, Yudha. Karena berusaha menghindari Yudha, Syiana sembarang masuk ke sebuah bar di Hong Kong. Di bar itu, dia bertemu dengan dua pria menyebalkan(yang kemudian disiram Syiana dengan minuman).

Tanpa diduga, di Jakarta Syiana kembali bertemu dengan dua pria menyebalkan itu. Ternyata dua pria itu adalah salah dua dari personil band terkenal Dejavu. Salah satu dari pria itu, Fedrian Arsjad a.k.a Ian, pria yang sedang digilai oleh seluruh wanita Indonesia(termasuk para ibu-ibu xD).

Sejak saat itu pertemuan-pertemuan selanjutnya dengan Fedrian Arsjad (yang sering kali dihiasi oleh kalimat-kalimat sarkastik oleh pemegang sabuk hitam di bidang sarcasm, siapa lagi kalau bukan Syiana Syahrizka Alamsjah) tidak bisa dihindari. Pertemuan semakin sering terjadi ketika band Dejavu terlibat dalam proyek baru bank Asia Pasifik yang diurus Syiana, Music Card.

Cerita selanjutnya sudah bisa ditebak, mereka menyimpan perasaan khusus satu sama lain. Tapi Syiana masih ragu pada hubungannya dengan Ian, apalagi ketika Syiana mengetahui kisah cinta masa lalu Ian.

“Sometimes when you don’t expect to meet someone apparently they will appear in front of you, so many times.”

Saya mau membuat pengakuan. Setelah membaca buku ini, saya mengaku kalau saya memutuskan untuk menjadi salah satu penggemar mbak Nina Ardianti ;))

Di buku ini, mbak Nin *sok akrab* masih menggunakan gaya penulisan yang lancar dan dialognya enak dibaca, sama sekali tidak kaku. Selain itu, sepertinya mbak Nina tahu benar cara memuaskan fantasi para cewek-cewek tentang karakter-karakter pria yang muncul di bukunya.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan soal buku ini karena postingan ini masih akan cukup panjang, intinya Restart wajib dibaca untuk para penggemar novel-novel romance di mana pun kalian berada.

Buku ini hampir sempurna dan memuat banyak sekali unsur-unsur penting yang dibutuhkan sebuah novel romance. Karakter loveable, ide cerita menarik dan ya! Ending yang manis. Apa lagi saya mendapatkan buku ini secara gratis..tis..tis.. dari mbak Nin langsung :)) tentunya juga dihiasi tanda tangan :D

"Seandainya mematikan perasaan bisa semudah mematikan sambungan telepon, hidupku pasti akan jauh lebih mudah."

Mau tahu ceritanya bagaimana saya bisa mendapatkan buku ini plus notebook ketje “punya Syiana"? Nggak mau? Mau aja ya.. please... *pasang muka memelas*

Jadi begini, suatu hari mbak Nin membuat giveaway di blog-nya(ninaardianti.com). Nah, giveaway itu tentang membuat fanfictiondengan kita sebagai karakter utama bersama dengan salah satu karakter yang muncul di karya-karyanya. Dan, tentu saja saya memilih Edyta ;)

Beruntungnya, fanfiction saya terpilih jadi salah satu pemenang, jadilah saya mendapatkan Restart plus notebook yang sangat ketje(di dalamnya terdapat quotes dan “coretan-coretan” dari Syiana, Aulia dan Ian).





DREAM CASTS
Beberapa waktu yang lalu, mbak Nin membuat (lagi) giveaway yang kali ini berhadiah KAOS RESTART!!! Tugasnya hanya disuruh untuk menuliskan dream casts kira-kira siapa yang coock memerankan karakter-karakter di Restart jika (semoga saja terjadi) Restart difilmkan. Tulisan di bawah ini saya ikutkan ke giveaway tersebut. Saya ikut-ikutan mempostingnya(walaupun tidak menang T.T) ketika melihat salah satu fans mbak Nin juga memposting tulisan serupa di blog-nya *ya, selain labil saya juga mudah terpengaruh xD*

Karena  Restart adalah novel asli Indonesia dan bahasa yang digunakan juga bahasa Indonesia, maka saya membuat dream casts-nya dari aktor dan aktris Indonesia pula. Lagian kan kualitas akting artis-artis Indonesia nggak semuanya busuk kok :D menurut saya itu tergantung dari arahan sang sutradara sendiri. Tapi naskah juga penting sih sebenarnya, agar dialog yang digunakan tidak cheesy dan kaku. So, here’s the dream casts (versi saya):


Fedrian Arsjad: Rio Dewanto
Awalnya untuk karakter Ian, saya memilih Reza Rahardian. Tapi… menurut penerawangan saya, Rio Dewanto lebih cocok memerankan Ian. Menurut saya, Reza lebih cocok berperan sebagai eksmud daripada anak band. Apalagi kabarnya si Rio ini dulunya juga punya band. Kalau masalah suaranya, Syiana bilang kalau suara Ian nggak bagus-bagus amat kok, secara Ian gitaris plus yang nyiptain lagu.



Syiana Alamsjah: Acha Septriasa
Awalnya(lagi) saya memilih Acha karena yang memerankan Ian adalah Reza Rahadian. Kenapa? Karena eh karena, kalian sudha nonton Test Pack? Salah satu film adaptasi terbaik yang pernah ada. Di film itu karakter suami istri sangat cocok diperankan Reza dan Acha, chemistry-nya kuat. Tapi apa salahnya sekarang Acha “disandingkan” dengan Rio Dewanto? Lagian nantinya kan sekalian aja soundtrack-nya dinyanyikan Acha :D

 

Aulia Astrawinata: Abimana Aryastya
Nah, si Abimana ini telah mencuri perhatian saya lewat perannya di Catatan Harian Si Boy. Walaupun bukan sebagai pemeran utama, tapi karakter yang dimainkannya sangat kuat. Dan menurut saya Abimana aktingnya lebih bagus ketika sebagai pemeran pendukung daripada ketika dia menjadi pemeran utama di sebuah film *nyengir kuda*. Karakter Aulia yang merupakan sahabat baik, bijak dan terkadang nyinyir itu saya rasa cocok diperankan oleh Abimana.


Edyta Fauzi: Nagita Slavina
Sebenarnya saya merasa sedikit tidak rela untuk memberikan dream cast karakter Edyta. Takutnya merusak gambaran saya tentang sosok Edyta yang loveable xD. Setelah menjalani seleksi panjang nan ketat, saya memutuskan sosok dream cast untuk karakter Edyta yang lucu, cantik, ceroboh, baik hati, tidak sombong dan hapal Pancasila itu jatuh kepada Nagita Slavina. Yah meskipun sekarang Nagita sudah jarang muncul di layar lebar maupun layar kaca (kabarnya lebih sering terlibat di belakang layar). Nagita yang berwajah imut dan polos itu cukup layak memerankan karakter Edyta.


Untuk karakter pilihan saya sendiri, saya memilih Diandra!
Ya, Diandra yang hanya numpang lewat di adegan rumah sakit. Yang diduga Syiana merupakan pacar Attar, adik Ian. Walaupun tidak diberi dialog (CMIIW), tapi kemunculan Diandra di Restart cukup menarik perhatian saya. Malah saya berharap mbak Nina nantinya membuat spin-off Restart yang bercerita tentang kisah cinta Attar dan Diandra. Pasti bakal menarik karena saya belum pernah membaca novel romance yang dilatarbelakangi olahraga sepak bola.
Dan…. Untuk dream cast karakter Diandra, saya memilih: Maudy Ayunda >.< (walaupun banyak yang tidak suka pada Maudy Ayunda karena sering mendapat peran di film-film adapatsi -___- I still your fanboy Maudy ;))
Walaupun sudah tidak lagi SMA, Maudy Ayunda masih cocok berperan sebagai anak SMA kok. Apalagi dari waktu ke waktu aktingnya semakin total. Kapan lagi ngeliat Maudy Ayunda cuma jadi cameo :D lagi pula menurut saya cameo yang bertebaran di sebuah film itu penting. Bisa memberi kejutan ke penonton. Nah, nantinya Maudy Ayunda bisa jadi salah satu pengisi soundtrack filmnya juga.  Sambil menyelam minum air. Hehehe.

cantik amat sik *o* (source) 

Itulah tadi tulisan(kurang kerjaan) saya ;) selain dream casts, saya punya sedikit info(yang berhasil didapat dari stalking sana-sini) kalau next project mbak Nin adalah… kisah ATTAR!!! Yay! *tiup terompet*
Bahkan mbak Nin sempat memberikan sedikit teaser-nya ;) ini dia:



Menurut gambar di atas, (untuk sementara) sepertinya judul next project-nya itu adalah… REPLAY!
Ditunggu ya mbak Nin ;) nggak apa-apa kalau prosesnya lama, yang penting memuaskan


*semoga mbak Nin memaafkan kekepoan dan kesotoyan saya ini xD*

[UPDATED August, 3 2013]
Sorry ya, saking ngelanturnya review ini, saya jadi lupa ngasih rating buku ini xD

RATING 4.5/5

Restart by Nina Ardianti

restart cover

Judul: Restart

Penulis: Nina Ardianti

Penerbit: Gagas Media

Genre: Roman, Drama, Chicklit

Terbit: Mei 2013

Tebal: 456 Halaman

Harga: Rp 55.000

Move on, dong! Kalau lapar, makan… sakit, ya minum obat. Nah kalau patah hati?? Ya move on lah, Syiana! Kayak cowok di dunia ini cuma si Yudha aja. Diselingkuhi sama pacar emang nyakitin, but it’s not the end of the world. Lo nggak perlu jadi cewek ter-pathetic di dunia hanya karena masalah lo ini. You are single, pretty, and impressive, if only you could realize this. Dan satu pertanyaannya sekarang, apakah lo mau berlarut-larut dalam ketraumaan lo akan cinta, atau membuka pintu hati lo buat cowok baru??

Restart karangan Nina Ardianti ini bercerita tentang susahnya move on yang harus dilakukan oleh seorang perempuan yang memergoki pacarnya berduaan dengan wanita lain di dalam kamar hotel. Hal ini tentu bukan sesuatu yang mudah, dan tentunya menyakitkan. Maka dari itu Syiana susah sekali melupakan hal ini, dan lebih-lebih dia nggak mau berhubungan sama sekali dengan Yudha, mantan pacarnya. Jauh-jauh ke Hongkong atas nama pekerjaan padahal aslinya ingin runaway dari sakit hatinya, eh malah Syiana bertemu nggak sengaja dengan Yudha. Dan di tengah-tengah pelampiasan kekesalan Syiana akan hal ini, dia bertemu dengan cowok lain di sebuah bar. Cowok yang menyebalkan bagi Syiana karena telah menuduhnya yang bukan-bukan. Tapi yang nggak Syiana duga pada akhirnya, cowok ini jugalah yang di kemudian hari selalu datang di hidupnya dan mengajarkannya arti move on yang sebenarnya.

Saya nggak tahu alasan Nina (atau Gagas Media?) menamakan novel ini Restart, karena menurut saya ‘Move On’ lebih tepat dipakai sebagai judul karena inilah premis cerita ini menurut saya, dan penggunaan katanya lumayan sering di dalam cerita. Saya baru pertama kali membaca novel yang ditulis oleh Nina Ardianti, dan kesan pertama, saya menyukai caranya bercerita. Tema cerita yang dia angkat bukan hal yang baru: patah hati, susah melupakan, ketemu orang baru lalu menjalin cinta, tapi lantas dalam hubungan yang baru juga menemui masalah-masalah yang membuat luka baru lagi. Tapi tema yang standar ini tetap bisa saya nikmati karena penulisannya yang mengalir dan enak. Saya mengibaratkan gayanya bercerita ala metropop yang ditulis oleh Ika Natassa – dan ya, Ika adalah salah satu penulis favorit saya. Belum lagi, settingnya adalah para banker, juga penggunaan bahasa Inggris yang lumayan sering dalam dialog, membuat kemiripannya dengan cerita-cerita Ika Natassa semakin banyak. Well, i am not saying that Nina ’mencontek’ gaya Ika lho ya, karena ternyata Nina sendiri di keseharian bekerja di dunia perbankan, dan penggunaan bahasa Inggris dalam dialog sehari-hari adalah wajar untuk novel yang ceritanya berisi para kaum urban.

Untuk para karakternya, well, what can i say, sebenarnya juga standar, hehe. Syiana, bankir cewek yang suka sarkas, cenderung pesimistis dalam menghadapi hidup, bertemu dengan Fedrian, anak band yang dari luar tampak over percaya diri, tapi sebenarnya juga cenderung menganalisa segala sesuatu dengan baik. Bagi Syiana, kehidupan yang benar adalah kehidupan yang terencana, pendapatan tetap, jaminan finansial yang oke, dan tentunya sikap hati yang setia. Bertemu dengan Fedrian seolah berkebalikan dengan segala kriteria itu. Meski Dejavu adalah band yang sedang populer, tapi kan penghasilan sebagai artis sering tidak menentu, apalagi risiko Fedrian untuk tidak setia sangat besar karena dia dikelilingi para penggemar yang kebanyakan perempuan juga. Di sinilah lantas konflik itu terjadi, bagaimana Syiana benar-benar berusaha untuk move on dan membuka hatinya untuk Fedrian, tapi beberapa kali terjegal juga oleh trauma masa lalunya.

Seperti yang saya bilang, saya suka gaya penulisannya Nina. Narasinya yang ditulis dari sudut pandang pihak pertama juga tidak membosankan, dialognya pun lugas dan lincah. Hubungan antarkarakter juga smooth, hampir tidak ada celah. Tapi ada hal yang membuat saya bingung di novel ini, dan ini lebih ditujukan ke tim penyunting Gagas Media. Padahal selama ini saya cukup nyaman dengan gaya editing Gagas, bagaimana caranya memadukan kata-kata baku dan tak baku sehingga penulisannya tidak kaku saat dibaca. Tetapi, di sini kompromi untuk kata tak bakunya membingungkan saya, sementara di lain hal penggunaan kata baku juga ada yang kurang tepat. Misalnya, kata ‘pengen’ yang kalau menurut KBBI seharusnya ‘pengin’ (informal dari kata ‘ingin’), atau kata ‘mengacuhkan’ yang konsisten dipakai dengan makna mengabaikan, padahal kata dasar ‘acuh’ menurut KBBI berarti ‘peduli’ meski pengunaannya lazim sebagai makna negatif tapi harus tetap diikuti kata ‘tak’ di depannya. Dan sekali lagi saya harus pasrah dengan pemakaian kata ‘pukul’ untuk menunjukkan waktu, meski dalam dialog tak formal, misalnya ‘lo balik pukul satu’. Ya, sepertinya itu memang gayanya Gagas, karena sudah beberapa kali saya menemukannya dan tidak hanya dalam satu novel. Meski secara pribadi menurut saya penggunaan kata ‘jam’ lebih tepat untuk dialog kasual. Boleh cek di KBBI deh, kata ‘jam’ juga ada contoh penggunaannya dalam dialog, kok. Hehe.

Oh satu lagi, mungkin ini juga problem bagi novel kebanyakan, yaitu ceritanya dari awal sampai tengah sudah menarik dengan konflik dan gaya penceritaan yang asyik, tetapi ketika sudah mulai mendekati akhir cerita, saya merasa cara penyelesaian konfliknya agak dipaksakan dan berunsur cheesy, sih. Gimana ya bilangnya, saya takut spoiler nih, hehe. Tapi kalau dibayangkan itu kejadian beneran, saya akan berpikir, idih lebai sampai segitunya mempermalukan diri sendiri untuk ngajak balikan, hehe. *eh, ini udah spoiler belum, sih?* ;) ))

So overall i like Restart, and looking forward to read another novel of Nina Ardianti. :)

Ps: Thanks buat mbak @asdewi untuk pinjaman novelnya ini, hihi.