Meningkatkan Kualitas Diri dalam Penantian Pasangan Jiwa.




Judul Buku : Perjanjian yang Kuat
Penulis        : Leyla Hana
Penerbit     : Quanta Elekmedia
Terbit          : 2013
Jumlah Halaman : 260 Halaman
ISBN           : 978-602-02-2728-3
--------------------------------------------------

Betapa Jodoh adalah rahasia kehidupan. Kedatangannya bukan ajang perlombaan, yang mana bukanlah yang paling cepat datangnya kemudian dianggap sebagai juara. Jodoh layaknya kelahiran dan kematian. Tak ada satu manusia pun yang mampu menghadirkannya kecuali jika sudah ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa.

Setiana, adalah seorang gadis yang risau akan jodohnya. Tubuh agak gemuk dan wajah tak begitu menarik sering dijadikan kambing hitam atas kesendiriannya dalam usia yang lebih dari matang untuk berkeluarga.

Menapak usia 29 tahun, keluarga besar Setiana mencoba menjodohkan dengan beberapa pemuda, tetapi sayang semuanya gagal dengan berbagai sebab. Usia semakin bertambah sementara perihal jodoh tampak semakin gelap saja. Sementara itu Setiana ternyata memiliki cinta terpendam kepada seorang teman dekatnya yang bernama Edo. Namun Edo terlihat hanya menganggap biasa hubungan mereka, tak lebih dari persahabatan. Bahkan Edo kemudian menikah dengan perempuan lain.

Setiana memasrahkan jodohnya kepada Allah SWT. Ia berusaha memperbaiki diri dan tetap melanjutkan hidup, Tetap berani menghadiri undangan pernikahan teman dan juga kerabat perempuan yang lebih muda daripada umurnya, meski disana ia selalu menjadi sasaran cecaran pertanyaan “Kapan menikah?”. Dan Setiana juga tak lagi memperdulikan beberapa rekan kerjanya yang suka menggosipkan bahkan mengolok-olok dirinya sebagai perawan tua.

Seiring waktu Setiana malah dihadapkan dengan contoh-contoh problema pernikahan yang menimpa orang-orang di sekitarnya. Kakaknya yang ingin bercerai dengan suaminya hanya karena masalah sepele, kemudian teman kerjanya yang telah lama menikah namun tak kunjung dikaruniai keturunan sehingga terancam akan diceraikan oleh suaminya. Bahkan juga ada perselingkuhan orang-orang yang sama sudah menikah.

Meskipun setting cerita mengambil daerah jawa tengah dengan tokoh-tokohnya yang terkadang menyisipkan ucapan dan istilah-istilah bahasa jawa, namun cerita ini cocok dinikmati oleh semua kalangan, karena  novel ini ditulis dengan bahasa penceritaan yang renyah dan mudah dicerna. Kisah kejadian sehari-hari begitu membumi dialami oleh masyarakat kita.

Bahwa pernikahan itu bukanlah ikatan main-main dan untuk coba-coba. Pernikahan adalah perjanjian yang kuat antar sesama manusia bersama Tuhannya. Banyak hikmah yang bisa kita petik manakala jodoh yang dinantikan belum juga tiba. Bisa jadi para penanti jodoh itu diberikan kesempatan yang lebih banyak untuk belajar berbagai tanggung jawab dan segala konsekuensi dari ikatan pernikahan. Berprasangka baik kepada Sang pencipta dan juga dunia sekitar kita dalam menyikapi penantian itu merupakan pesan yang dapat diambil dari novel berkaver cantik ini.

Bahkan novel ini juga menyentil kepada semua masyarakat yang berperan sebagai tokoh-tokoh yang berinteraksi dalam lingkungan seseorang yang sedang menanti jodohnya. Apakah kita sebagai ayah, ibu, saudara, tetangga atau teman kerja. Bagaimanakah sebaik-baik sikap kita terhadap para penanti itu? apakah ikut riuh mencandai kesendirian mereka? mencela? atau membantu, mendoakan dan membesarkan hatinya bahwa Rahmat Tuhan selalu ada bagi hambaNya yang ikhtiyar, sabar dan tawakkal.(*)


Cinta Negeri Dalam Dayung Harapan

Dimuat di Website RIMANEWS Pada Tanggal 20 Februari 2014 : 
http://www.rimanews.com/read/20140220/143699/cinta-negeri-dalam-dayung-harapan





Judul Buku : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Penulis         : Shabrina WS
Penerbit       : Quanta Elex Media
Genre            : Novel Islami
Jumlah Halaman : 175 Halaman
Terbit            : Cetakan pertama 2013
ISBN             : 978-602-02-2389-6
------------------------------------------------------


Ketika diberikan pertanyaan kepada pemuda pemudi kita tentang cinta negeri, pasti jawabannya akan sangat beragam. Ada yang bersungguh-sungguh bangga dan ingin memberikan bukti sebentuk cinta untuk negerinya, ada juga yang mungkin karena kecewa melihat carut marut pemerintahan yang sering diberitakan tentang korupsi, sehingga bersikap acuh saja. Bahkan ada pula yang terang-terangan mengatakan menyesal dan malu dilahirkan di negeri ini.

Namun lain halnya dengan Danum. Seorang tokoh yang dihadirkan oleh Shabrina WS dalam novelnya yang berjudul -Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam-. Danum dilahirkan di rumah Betang. Sebuah rumah adat Kalimantan yang penghuninya terdiri dari beberapa keluarga termasuk keluarga Dehen, seorang anak laki-laki yang menjadi sahabatnya semenjak kecil. Umur rumah yang konon sudah mencapai ratusan tahun itu tetap berdiri kokoh, meskipun  penghuninya satu persatu banyak yang pergi dengan berbagai alasan.

Hingga tinggallah Danum seorang diri bersama kakeknya. Kemudian ada juga Arba yang tiba-tiba datang ke dalam kehidupannya. Kakak laki-laki yang tak pernah ditemuinya sejak kecil karena ikut ayahnya pergi dari rumah Betang. Kehilangan demi kehilangan yang dialami Danum membuatnya merasa berat untuk meninggalkan rumah Betang, meskipun itu demi mencapai impiannya untuk menjadi atlet dayung.  

Danum dan sahabat kecilnya, Dehen sangat mencintai dayung semenjak pertama kali mereka memilikinya. Mereka sama bercita-cita menjadi atlet dayung. Berharap suatu saat bisa mengibarkan merah putih di negeri orang. Mengharumkan nama Indonesia dalam cabang olah raga dayung. Cabang olah raga yang jarang mendapatkan publikasi besar seperti sepak bola atau bulu tangkis.

Namun ternyata kenyataan dalam menggapai cita-cita itu tak semudah membalik telapak tangan. Saat Dehen sudah menjadi atlit nasional, Danum masih saja tinggal di rumah Betang, tak tega meninggalkan kekeknya. Dia beberapa kali ikut seleksi tingkat daerah namun selalu gagal.

Berkali-kali gagal dan berkali-kali kehilangan memberikan pelajaran kepada Danum bahwa hidup yang sempurna itu bukan berarti semua berjalan sesuai keinginannya.

Buku ini dipenuhi quote-quote inspiratif dalam setiap babnya. Kisahnya dituturkan dengan runut, deskripsi tentang keadaan alam sekitar rumah Betang yang ditinggali Danum sangat detail dan seolah-olah nyata. Tentang hutan, sungai, kayu ulin dan juga anggrek hitam. Bahkan novel ini tak hanya menyiratkan pesan tentang cinta negeri dalam potret perjuangan Danum dan Dehen menajdi atlit dayung, namun juga pesan tentang pelestarian hutan dalam potret kisah kakek dan nenek Danum yang berusaha membudidayakan kayu ulin di sekitar hutan tempat tinggal mereka. Sebuah pekerjaan berat, membosankan dan harus teliti dilakukan namun tidak menghasilkan keuntungan secara materi, hanya karena cinta kepada alam dan ingin berusaha  mewariskan alam indah itu kepada anak cucu mereka, sementara banyak orang lain tak peduli dan malah merusaknya demi kepentingan pribadi.


Ada juga kisah romansa antara Danum dan Dehen. Juga seorang gadis bernama Sally yang ada diantara mereka. Bagaimanakah kisah cinta antara mereka? apakah Danum berhasil meraih cita-citanya seperti Dehen? Semua tersaji dalam racikan sastra yang manis dan santun dalam novel yang kavernya berwarna lembut ini. Cocok sekali sebagai bacaan motivasi cinta negeri, usai membaca kita akan diajak merenungkan apa saja yang sudah kita berikan sebagai bukti cinta bumi Indonesia ini?(*)

#114 Da Conspiracao

Da Conspiracao Afifah Afra 632 halaman, November 2012. Penerbit Afra Novela, imprint Indiva Media Kreasi. Raden Mas Rangga Puruhita, pemuda terpelajar, sarjana ekonomi lulusan Leiden, ningrat Jawa, dan visioner. Ia dibuang ke Flores karena terlibat dalam gerakan melawan kekuasaan pemerintah Hindia Belanda. Tan Sun Nio, gadis yang jelita, cerdas, ambisius, dan terlahir dari keluarga keturunan […]

Jangan Dengarkan Nada Dawai Asmara Masa Lalu !


Sebuah novel yang mengangkat tokoh-tokoh penuh semangat dalam mencari ilmu, sekaligus selalu berusaha mengaplikasikan adab pergaulan islami dalam nafas kehidupan mereka.

Zaida adalah seorang mahasiswi yang bercita-cita untuk mendapatkan beasiswa keluar negeri. Di tengah perjalanan menempuh cita-cita ia juga dihadapkan dengan problema jodoh. Sebuah pilihan antara mengambil beasiswa yang susah payah dia perjuangkan atau menerima pinangan seorang ikhwan salih yang ternyata sangat didambakannya. Kesempatan itu datang dalam waktu yang bersamaan.

Dan memang hidup itu penuh dengan pilihan. Namun begitu meski kita sudah berusaha memilih tetap saja kuasa Allah lah yeng menentukan jalan hidup yang akan dilalui hambaNya. Ternyata apa yang telah dipilih oleh Zaida bukanlah garis takdir yang digariskan kepadanya. Ikhwan dambaan yang telah meminangnya itu ternyata sudah dijodohkan orang tuanya dengan gadis lain. Gadis yang dianggap lebih baik daripada Zaida karena sudah menjadi seorang Hafidzah.

Tak ingin membuat hati sang ikhwan galau antara patuh kepada orang tua dan tak enak hati terlanjur ‘menyematkan pita’ kepada dirinya, Zaida memutuskan untuk menolak lamaran sang ikhwan meskipun ia teramat mendambakannya. Zaida terfokus melihat kekurangan dirinya yang bukan penghafal Qur’an sehingga memotivasi diri untuk masuk ke sekolah Tahfidz Qur’an. Sayangnya dia tidak lulus. Ia terpaksa pergi ke Belanda, mengambil beasiswa yang sempat dia abaikan dengan membawa luka patah hati.

Liku-liku perjalanan Zaida menuntut ilmu di negeri kincir angin itu digambarkan dengan begitu detail dan eksotis. Penulis buku yang dalam faktanya memang pernah hidup di Belanda itu mengambarkannya dengan indah setiap lekuk jalanan dan denyut kehidupan masyarakatnya.
Dan di negeri kincir itu juga pada akhirnya Zaida menemukan jodohnya. Salman, Ikhwan yang juga salih memilihnya menjadi istri. Mereka hidup menjalani rumah tangga di negeri orang dengan sederhana namun bahagia.

Tak ada rumah tangga manapun yang berjalan tanpa coba. Begitu juga Zaida dan Salman. Kebahagiaan mereka digoyahkan dengan hadirnya bos cantik yang jatuh hati kepada suami Zaida. Upaya tersamar dilakukan oleh perempuan itu untuk menarik simpati Salman. Bahkan hingga membuat Salman menghilang terpisah dari Zaida.

Di tengah situasi tersebut, takdir kembali mempertemukan Zaida dengan Ilham, Ikhwan yang pernah meminangnya di masa lalu namun tidak berjodoh dan sudah menikah dengan Hamidah. Pasangan itu tinggal di Istanbul. Mereka bersua kembali saat Zaida dalam perjalanan menuju Istanbul, kebingungan mencari suaminya.

Asmara masa lalu seolah kembali menyapa dan membuat hati yang tenang bergejolak tak menentu. Titik konflik yang sangat klimaks berasa pada adegan-adegan di Istanbul, bagaimana Zaida menangis memohon agar arus kerinduan bertemu suaminya segera menemukan muara pertemuan, menyelesaikan salah faham yang terjadi. Di Istanbul juga Zaida berusaha meredam hatinya akan gejolak cinta masa lalunya. Pas sekali dengan judul buku barkaver biru ini.


Meski banyak terdapat adegan pertemuan-pertemuan ‘kebetulan’ antar tokoh dalam novel ini, sehingga terkesan menjadi alur yang dipaksakan. Namun pesan moral dan penokohan tokoh-tokohnya sangat bagus. Saat membacanya akan membawa kita kepada motivasi untuk meneladani semangat para tokoh novelnya  berkaafah islam dan juga giat dalam menuntut ilmu. Berbelitnya kisah romansa Zaida, Ilham, Salman dan Hamida juga memberikan kita perenungan tentang hakikat cinta dan menjaga keharmonisan rumah tangga, Jangan pernah mendengarkan nada dawai asmara masa lalu!, apalagi sampai terhanyut dalam alunannya. (*)

Judul Buku : Takbir Rindu di Istanbul
Penulis        : Pujia Achmad.
Penerbit     : Puspa Populer
Genre         : Novel Islami
Jumlah Halaman : 324 Halaman.
Terbit          : Cetakan pertama 2013
ISBN            : 978-602-8290-9377.
-----------------------------------------

Resensi ini juga dimuat di website Dawatuna.com, kamis 23 Januari 2013 : 
http://www.dakwatuna.com/2014/01/22/45154/takbir-rindu-di-istanbul/#axzz2rBFOA4c9




Tiga Matahari





Judul Buku : Tiga Matahari
Penulis       : Prito Wndiarto
Penerbit     : Divapress
Terbit          : Cetakan pertama 2011
Jumlah Halaman : 212
ISBN           : 978-602-978-991-1
---------------------------------------------------------


Novel berjudul tiga matahari adalah novel ke sekian dari beberapa novel yang saya baca dengan setting pesantren.

Setelah kang Ayat-ayat cinta dari kang abik, Negeri 5 menara dari Ahmad Fuadi, Novel Tiga Matahari juga menyuguhkan penggambaran ruh pesantren yang ditulis oleh Akhi Prito Widiarto. 

Novel ini menceritakan tentang 3 orang anak manusia yang masing-masing mempunyai tabir rahasia langit dan terbuka sedikit-demi sedikit dalam perjalanan alurnya. Ditulis dengan alur flash back dan eksplorasi diksi-diksi yang berirama sastra yang agamis, romantis dan juga bahasa-bahasa gaul yang zaman sekarang eksis

Tokoh sentralnya adalah Fajar, Fajrin dan Amar.  Dibuka dengan konfilk tentang penggusuran sebuah kampung di daerah Tasikmalaya oleh sebuah perusahaan yang kongkalingkong dengan pejabat daerah setempat. 

Fajar yang terlahir dengan mata buta sebelah adalah berasal dari keluarga pengungsi dari kampung yang tergusur, sementara Fajrin adalah anak dari pemilik perusahaan yang menggusur warga kampung Fajar. Kemudian Amar adalah teman selorong mereka yang dipertemukan dalam pesantren Mathla'ul Huda. 

Cerita mengalun runut dan asyik saat menceritakan sisi kehidupan Fajar dan keluarganya. Saya sempat menitikkan air mata saat membaca konfilk Fajar dengan ayahnya. Betapa seorang ayah yang agak di awal cerita terkesan kejam dan tidak suka kepada kehadiran anaknya yang cacat tenyata terkuak tabir kasih sayang yang besar untuk anak laki-lakinya tersebut.

Namun sayang pada bagian Amar dan Fajrin agak beberapa hal yang samar dan meloncat-loncat, tidak sedetail dan mengalir seperti pada bagian Fajar. Konfliknya juga saya menyangka akan terus berlanjut karena pada bagian awal kentara sekali Bapaknya Fajar dan Ayahnya Fajrin saling bersebrangan. nyata sekali ada konflik yang bisa jadi alasan mereka saling membenci. Yaaa... berarti tebakan saya emang salah sih tentang alurnya (terserah yang nulis doong hehe..). Pada kelanjutannya Ketiga anak itu malah menjadi sahabat dekat di pesantren, sama-sama menyukai puisi dan menatap langit. 

Deskripsi setingnya kental dan terasa sekali, karena memang penulis asli berasal dari jawa barat sehingga bisa menjelaskan seluk beluknya dengan detail. 

Pesan moralnya juga terasa menyejukkan tentang semangat menaklukkan keterbatasan dan berusaha menerima dengan penuh syukur atas segala rahasia langit yang teka-tekinya bisa kita kuak setiap saat dan di segala tempat. 

Sebuah angin segar jika kalangan yang terlahir dari pesantren ikut menyemarakkan dunia literasi. Tentunya dengan menceritakan bagaimana sesungguhnya pesantren menanamkan idealisme kapada para penuntut ilmu yang bernaung di dalamnya. Setting-setting pesantren tak perlu harus riset kemana-kemana, karena latar belakang kenangan di pesantren bisa menjadi sumber info dan ide yang tak akan ada habisnya. Pesahabatan, kebersamaan, menela'ah ilmu dan merefleksikan dalam amal sudah menjadi keseharian irama pesantren. 

Namun saya bertanya-tanya saat menelan ending yang menggantung dan menutup buku. Hmmm.. apa mungkin memang novel ini bersambung, ada sekuel berikutnya..?

Akhirul kalam, diantara kekurangan kelebihannya, buku ini tetap patut direkomendasikan kepada pembaca yang mengehendaki bacaan fiksi yang inspiratif.
-------------------------------------

Tulisan ini diikutkan dalam Even Indiva Readers Challenge 2014. 




Mitos, Eksotisme dan Religiusitas Tanah Palembang.

Judul Buku : Yang Tersimpan di Sudut Hati
Penulis        : Ade Anita
Penerbit      : Quanta PT Elekmedia Komputindo
Genre          : Novel  Islami
Jumlah Halaman : 440 Halaman
Terbit          : Cetakan pertama 2013
ISBN           : 978-602-022-112-0
-------------------------------------------


Palembang, selain terkenal dengan sungai Musi dan jembatan Ampera-nya, ternyata memiliki hal-hal lain yang eksotis dan menarik untuk diketahui. Sebuah budaya yang turut memperkaya keragaman pelbagai sudut nusantara.

Seorang penulis asal Palembang menggambarkan semua itu dalam sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata seorang sahabat penanya. Dengan banyak deskripsi yang detail tentang lokalitas budaya Palembang.

Solasfiana dan keluarga tinggal di rumah panggung kakeknya, Nek Nang Bayumi. Menurut kebiasaan di Palembang, Rumah panggung ditinggali oleh beberapa kepala keluarga, masing-masing keluarga dipisahkan pada beberapa sekat yang tampak perbedaan tinggi lantainya. Semakin ke belakang bagian rumah akan semakin rendah lantainya. Dan biasanya urutan keluarga dari depan ke belakang diurutkan kepada urutan lahir dari sulung sampai bungsu atau urutan mana-mana keluarga yang paling banyak memberikan kontribusi nafkah ( yang paling kaya) kepada keluarga besar di rumah panggung itu sampai yang paling sedikit (miskin).

Keluarga Solasfiana merupakan keluarga yang menempati urutan paling belakang rumah panggung tersebut, tepatnya berada di sebelah dapur. Aslam, Ayah dari Solasfiana merupakan anak bungsu dari Nek Nang Bayumi yang dianggap paling ‘tidak jadi orang’ dibanding anak-anak Nek Nang Bayumi yang lain,
Aslam hanya berprofesi sebagai pemanjat kelapa. Sebelah matanya buta sejak lahir dan kakinya pun kecil sebelah. Sedangkan Mak Pinah, ibunya Solasfiana menerita lumpuh kaki semenjak melahirkan adik kembar, Ishafan dan Marsyapati. Meski lumpuh pekerjaan Mak Pinah setiap hari memasak untuk semua anggota keluarga di rumah panggung, semua anak cucu Nek Nang Bayumi.

Sebuah kecelakaan di Hutan menyebabkan kematian Aslam dengan begitu tragis. disusul kematian Nek Nang bayumi tak berselang lama setelah kematian anak bungsunya itu. Sepeninggal kedua orang itu mak Pinah dan anak-anaknya sering mendapat perlakukan tidak menyenangkan dari Wak Hasni, bibi tertua Solasfiana yang menggantikan Nek Nang Bayumi dalam menjadi kepala keluarga di rumah panggung mereka. Tak hanya itu, tetangga mereka juga banyak mencurigai keluarga Mak Pinah bermufakat dengan setan melalui ilmu hitam (santet) untuk mengumpulkan harta dan memperkaya diri. Sesuatu yang amat dianggap dosa bagi mayositas penduduk kampung di tepi suangi musi itu yang mayoritasnya muslim.

Warga dusun akhirnya mengusir mereka keluar dari dusun. Terlunta-lunta tanpa tujuan dan bekal memadai. Mereka berempat berkelana keluar masuk kampung dan hutan hingga akhirnya takdir mengantarkan mereka pada kehidupan baru. Solafsiana merupakan gadis yang tangguh dan pantang menyerah dalam mengubah nasib. Sementara Mak Pinah adalah simbol kebijakan yang selalu menasehati anak-anaknya tentang membuang dendam dan berpikir positif tentang apa saja nasib kepahitan hidup yang menimpa mereka.

Kebangkitan Solasfiana dan keluarganya dari keadaan terpuruk dan kepahitan hidup bertubi-tubi dikisahkan dengan perpaduan unsur kisah mitos, eksotisme dan religiusitas tanah Palembang. Dalam satu adegan dalam novelnya, saat warga kampung ramai mendatangi rumah Mak Pinah, Solasfiana merasa sangat malu berdosa saat tak sempat menutup tubuhnya dengan pakaian yang diharuskan agamanya. Padahal kebanyakan warga yang menerobos paksa masuk ke rumahnya adalah laki-laki dewasa.

Selain intrik fitnah tentang santet dan perjuangan hidup bangkit dari masa-masa sulit, dalam novel ini juga dihangatkan dengan romansa manis remaja. Tentang Solasfiana dan Sofyan, hubungan ala anak remaja yang hanya seputar berboncengan sepeda kuno dan juga belajar bersama saat akan mengikuti kompetisi cerdas cermat. Sederhana, santun namun penuturannya tetap terasa manis. Solasfiana harus terpisah dengan Sofyan ketika keluarganya diusir dari kampung.

Direkomendasikan bagi penikmat novel yang tak sekedar berisikan romansa tanpa makna, juga pembelajar kehidupan yang ingin mengambil hikmah tentang cara bangkit dari keterpurukan. Sementara itu kelanjutan hubungan Sofyan dan Solasfiana hanya dapat diketahui dengan membaca lengkap seluruh rangkaian kata dalam novel ini.(*)


Belajar Ketangguhan dari Negeri dengan Seribu Cerita Lirih




Judul Buku : Rinai
Penulis       : Sinta Yudisia
Penerbit     : Afra Publishing
Terbit         : Cetakan Pertama, Dzulhijjah 1433/ November 2012
Jumlah Halaman : 400 Halaman
ISBN         : 978-602-8277-65-5
Harga         : Rp 45.000
----------------------------


Rinai, menceritakan tentang seorang gadis bernama unik, -Rinai Hujan- katanya sih dianggap lucu dan aneh oleh sebagian kawan kecil dan kawan sekolahnya. Namun bagi saya nama itu manis dan puitis sekali. Eits... lupakan dulu pendapat saya ya! kali ini saya pengen banget belajar menulis resensi dengan mengulas isi, unsur-unsur intrinsik, ekstrinsik serta pesan-pesan yang dapat saya tangkap di dalamnya.

Rinai yang tumbuh di antara keluarga besar Jawa yang teguh dengan segala adat istiadat yang menempatkan perempuan sebagai fihak yang (selalu harus) mengalah, acapkali sering tak punya 'suara' meski ia punya penghasilan dan mampu berpijak pada kaki sendiri, bahkan juga menopang kaki saudara laki-lakinya yang gagal menjadi 'orang'. Dominasi keluarga besar sangat mempengaruhi dan menentukan segala bidang kehidupan. Hmmm....

Saat kuliah di fakultas Psikologi, Rinai mendapati seorang dosen kharismatik bernama Nora Efendi, Rinai seolah menemukan sosok idola lain selain ibunya yang tegar dan lembut hati, Bunda Rafika. Nora adalah sosok yang begitu kuat, pintar dan menunjukkan diri secara elegan bahwa dia juga punya 'suara'. Rinai seringkali menganalisis dan membanding-bandingkan dua perempuan tersebut. Hingga suatu waktu ia dihadapkan pada perjalanan kemanusiaan bersama Nora Efendi dan beberapa relawan asal Indonesia ke daerah konflik, Gaza Palestina. Relawan yang terdiri dari tim medis, jurnalis dan juga tenaga Psikologi. Sebuah niatan kemanusian, memberikan bantuan selain makanan, obat, tenaga medis juga tenaga Terapis untuk membantu pemulihan trauma pasca perang.

Perjalanan yang tidak ringan, menembus perbatasan Rafah bukan perkara mudah. Digambarkan dengan detail betapa rumitnya prosedur dan betapa mengerikannya tentara Israel yang menjaga perbatasan. Rinai yang tergabung bersama relawan Indonensia banyak melihat fakta tentang negeri para Nabi itu. Penulis yang memang pernah mengunjungi kota Gaza itu selain bisa menggambarkan tempat-tempat dengan detail, juga bisa begitu hidup dalam menggambarkan getir, kewaspadaan sekaligus kepasrahan penduduk yang tinggal di tanah yang sewaktu-waktu dijatuhi bom oleh Israel. Negeri dengan seribu cerita lirih, pedih dan menyesakkan dada.

Konflik terjadi antar relawan, saat Rinai menyadari bahwa tugas kemanusiaan itu ditunggangi maksud-maksud lain yang menodai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dia pelajari sungguh-sungguh di kampus ternyata bisa dimanipulasi demi sebuah kepentingan yang Rinai tak mengerti, seperti buah simalakama ketika riset dengan hasil luar biasa harus diberitakan ke dunia luar dengan kebalikannya yang sangat jauh, nurani terdalam menyatakan bahwa ia merasa 'sakit' jika harus menjadi bagian kebohongan yang terkoordinasi itu, kebohongan yang katanya demi kepentingan bersama, demi penduduk Gaza juga. Ia selalu berpegang bahwa kejujuran adalah akar pengetahuan yang paling benar, yang akan memandu manusia menemukan jalan keluar dari berbagai macam persoalan. Namun harga sebuah 'suara' dalam kondisi rumit semacam itu menjadi samar, tertekan dan membuat dia terkucilkan.

Berbagai dialog hati Rinai dituturkan secara dalam dan membuat pembaca harus ikut merenung, juga memaknai setiap gurat kata bersayap yang dituangkan mbak Sinta Yudisia ini. Penceritaan tentang Palestina terasa menyentuh dan mengobarkan rasa takjub luar biasa. Dari Gaza, Rinai mendapat banyak pelajaran tentang ketangguhan bertahan, ketangguhan mempertahankan setiap jengkal tanah tempat mereka dilahirkan. Kemampuan bertahan yang tentu didapat bukan dengan menangis dan meratap. Dalam keadaan serba terbatas, terblokade, mendapat tekanan ekonomi dan konspirasi masyarakat internasional, suatu kelompok masyarakat tetap survive, tetap cerdas, bahkan melampaui mereka yang tinggal dalam situasi normal.

Ada beberapa romansa yang (agaknya) diselipkan sebagai pemanis kisah. Antara Rinai, Amaretta, Orion dan juga Montaser, si pemuda Gaza. Romansa yang tak betul-betul romansa, karena kisahnya hanya berasa dalam alam dialog jiwa Rinai seorang.

Jalinan kisah yang bebobot dan bertabur perenungan dalam setiap sisinya ini sarat pesan moral akan nasionalisme yang terkadang kurang terpatri di hati. Sebuah kemerdekaan begitu terasa penting ketika membersamai orang-orang yang tengah berjuang tak kenal lelah, berkorban berliter darah, anggota tubuh dan bahkan nyawa demi keluar dari cengkeraman kuku penjajahan.

Novel yang bagus namun pasti bukanlah sempurna. Dengan penuh kerendahan hati saya ingin memberi keseimbangan penilaian terhadap novel ini. Dalam berbagai kelebihan tentu saja ada kekurangan yang saya temukan. Novel yang sarat pesan ini agaknya berat dicerna dan kurang membumi, dikarenakan bertaburan istilah dan kajian ilmu psikologi seolah-olah sedang membaca materi kuliah. Belum lagi istilah-istilah asing yang keterangannya diletakkan di halaman belakang, bukan di bawah sebagai footnote seperti buku-buku lain yang mempermudah pembaca, tak perlu ribet membalik-balik halaman ketika ingin mengetahui maknanya.

Dan satu lagi, bagian yang agaknya saya tak menemukan maksudnya kenapa dimasukkan dalam cerita. Tentang mimpi Ular yang sering dialami Rinai, disebutkan pada prolog, petengahan dan jelang ending, tak banyak hubungan yang bisa menjelaskan harus ada bagian itu untuk cerita keseluruhan, seolah hanya menambah deret ulasan materi kuliah psikologi yang bagi saya rumit dan membingungkan  itu hehehe.. maaf, akhirnya saya nggak tahan juga untuk menampilkan pendapat pribadi yang sangat dipastikan didasari kepada selera.

Oh iya, tentang kaver, terlihat elegan dengan warna coklatnya dan juga siluet rumah-rumah penduduk Gaza yang bebentuk kubus. Secara tidak langsung sudah menggambarkan isi buku didalamnya, yang membhasa tentang negeri para Anbiya' itu. Desain isi buku juga bagus dengan ukuran huruf yang bersahabat dengan mata, ada beberapa typo yang bagi saya masih dalam batas toleransi. 2 sampai 5 salah ketik menurut saya masih belum terlalu menggangu kenyamanan membaca.

Bagiamanakah kelanjutan konfilk yang terjadi diantara para relawan dan Rinai? romansa dan juga kelanjutan kisah keluarga besarnya di Indonesia? tentu saja semua hanya bisa diketahui dengan membaca lengkap lembar demi lembar yang mencapai 400 halaman ini.

Dan terlepas kelebihan dan kekurangannya, bagi saya novel ini layak direkomendasikan buat pembaca yang ingin mengetahui Gaza, Palestina secara detail, suka dunia psikologi, dan ingin memantik rasa nasionalisme yang mungkin agak memudar dalam diri.(*)

Tulisan ini diikutkan dalam lomba Resensi Indiva.







Poligami Bukanlah Solusi Perselingkuhan

Resensi saya dimuat di RIMANEWS.COM, Ahad, 8 Desember 2013 : 



Judul Buku   : Frankfurt to Jakarta
Penulis         : Leyla Hana & Annisah Rasbell
Penerbit       : Edu Penguin
Genre           : Novel Chiklit
Terbit           : Cetakan Pertama  Juni 2013
Jumlah halaman : 320 halaman
ISBN           : 978-602-17777-2-5
---------------------------------

                                             

Sudah banyak sekali novel-novel romance yang mengambil tema cinta segitiga dengan latar perselingkuhan. Novel yang digarap secara duet ini juga mengambil tema tersebut. Menceritakan pertemuan kembali antara Fedi dan Rianda, gadis yang pernah dicintai Fedi di masa lalu saat ia masih kuliah di Frankfurt, Jerman. Dulu mereka sempat mengukir janji. Mereka sempat bertunangan kemudian putus secara sefihak karena Fedi yang lebih dulu pulang ke Indonesia ternyata memutuskan untuk menikahi gadis lain yang bernama Andini.

Rianda yang semenjak ditinggalkan Fedi menjadi patah hati dan terluka. Kemudian dia menjadi terobsesi mengejar karier, Tak peduli dengan usia yang semakin matang dan tuntutan keluarganya untuk menikah. Karier yang dia bangun setelah pulang ke indonesia menuai perkembangan yang menyenangkan. Royal Hijab, sebuah butik yang produknya ia desain sendiri itu banyak diminati dari kalangan menengah hingga artis. Seiring waktu dia juga mulai membuka cabang di beberapa kota lain di Indonesia. Bagi Rianda, keberanian adalah menjaga hati dalam menghadapi kekecewaan. Dan melihat kekalahan bukan sebagai akhir namun tetapi sebagai awal yang baru.

Sementara itu Andini,
statusnya sebagai istri sah Fedi sebelum ia menyelesaikan kuliahnya. Dia seorang mahasisiwi berprestasi yang kuat keinginannya untuk terus menuntut ilmu. Saat dijodohkan dengan Fedi, dia tak kuasa menolak karena tertawan juga dengan pesona fisik pemuda yang tampan itu, beserta nilai tambah gelar S2 lulusan luar negeri juga kabar baik bahwa calon suami pilihan keluarganya itu sudah diterima menjadi PNS di kantor Menristek. Belum tentu tawaran pendamping yang datang di kemudian hari bisa sebagus Fedi.

Pada awalnya Andini mengira bahwa suaminya yang berpendidikan tinggi itu akan mendukung mimpinya untuk melanjutkan kuliah, meski mereka telah menikah. Kehidupan awal rumah tangga mereka begitu indah, hingga mereka dikaruniai momongan pertama. Ternyata Fedi seorang pengekang dan otoriter,
dia terus saja menunda keinginan Andini untuk melanjutkan kuliah lagi dengan alasan anak mereka, anak tak boleh dititipkan ke ibunya Andini atau baby sister.

Maka Andini pun menyerah dan berusaha berdamai dengan takdirnya untuk sepenuh waktu mengurus rumah tangga. Tak berselang lama mereka dikaruniai buah hati kedua. Hidup dengan rutinitas mengasuh 2 balita, dan juga setumpuk pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya. Meski sudah dibantu ART paruh waktu tetap saja Andini seolah terpasung pada kesibukan dan rutinitas yang dulu tak pernah dicita-citakannya.

Sementara itu Fedi tampak tak lagi seperti dulu, perhatian dan romantisme pengantin baru menguap. Rumah tangga mereka seperti rutinitas yang tak tak pernah di upgradekesegarannya. Betapa banyak ruang kosong di dalam rumah cinta mereka, Rumah yang diupayakan Fedi namun tak memberi kebahagiaan untuk Andini.
Tanpa diketahui Andini ternyata Fedi bertemu kembali dengan Rianda, yang ternyata masih berstatus lajang. Mereka menjalin hubungan kembali meneruskan janji-janji lama yang pernah putus di tengah jalan. Sementara itu Andini dalam kondisi jiwa yang depresi ingin sekali mencari selingan penat untuk memotivasi dirinya agar bersemangat menjalani rutinitas rumah tangganya, dan kebetulan dia tertarik ikut hijab class yang diadakan oleh Butik Royal Hijab, tentu saja tutornya adalah Rianda. Pada akhirnya setelah saling kenal mereka malah bersahabat dan saling mengagumi.

Kelanjutan cerita, dituturkan dengan deskripsi alur yang smooth dan logis oleh penulisnya, saat perselingkuhan itu terbongkar Rinda dan Andini malah saling sepakat untuk bersedia di poligami. Pembaca perempuan rasanya banyak yang akan geram membaca bagian ini, karena sikap plin-plan Fedi seolah tidak diberikan efek jera. Karakter protagonis dua perempuan itu berpijak pada prinsip bahwa : Setiap wanita pasti mengharapkan pernikahan yang ideal dan bahagia, tak ada yang ingin menjadi istri kedua. Namun keadaan terkadang menuntut untuk bersikap realistis.

Apakah Fedi bersedia menerima kesempatan emas itu? mendapat dua wanita dalam satu genggamannya, ataukah ada jalan lain yang akan menjadi ending kisah yang ditulis secara duet itu. Direkomendasikan buat pasangan suami istri untuk berkaca dari sebuah fiksi, bagaimana sebenarnya sisi hati pasangan hidup yang ingin difahami.(*)

Romansa Para Pencari Tuhan, Ketulusan Mencintai dan Memaafkan




Judul Buku  : My Avilla
Penulis        : Ifa Avianty
Penerbit      : Indiva
Genre         : Novel  Islami
Terbit         : Cetakan Pertama Februari 2012
Jumlah Halaman : 184 Halaman.
Harga          : 26.000
Ukuran        : 14 x 20 cm
ISBN            : 978-602-8277-49-5
-----------------------------------------------

Novel bertema berat namun tersaji dengan rasa yang ringan. Itulah sekilas pandangan saya terhadap novel My Avilla yang ditulis oleh mbak Ifa Avianty ini. Novel yang mengangkat tema pencarian Tuhan, pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang ketuhanan yang sering kali menjadi bahan diskusi dalam kajian perbandingan agama. 

Kisah diawali dengan kepulangan Trudy kembali ke tanah airnya setelah beberapa waktu menetap di ibukota Norwegia. Kepulangan saat pemakaman Omanya disambut tatapan dingin mama dan papa, tapi tetap ada tatapan kasih sayang kakak perempuannya, Margriet yang seolah tak pernah berubah semenjak dulu. Trudy yang datang dengan sejuta penyesalan disambut Margriet dengan bermiliyar kemaafan.

Trudy juga bertemu dengan Fajar, laki-laki yang selalu terlihat pemalu dan penggugup. Laki-laki yang masih bisa menghadirkan desir dalam hatinya.

Kisah melaju flashback ke masa bertahun sebelumnya...
Trudy dan Margriet adalah kakak adik yang berbeda karakter. Margriet cenderung serius, penyayang dan lembut hatinya, sementara Trudy ceria, senang bergaul dan dalam pikirannya selalu ingin berkompetisi, terutama dengan kakaknya sendiri.

Sementara Fajar adalah teman sekolah Trudy. Seseorang yang sedang galau dalam menetapkan keyakinan, disebabkan tumbuh dalam keluarga yang berbeda agama. Papanya muslim, sementara mama katholik. Fajar serius memikirkan tentang Tuhan, sehingga ia mempunyai ketertarikan kepada Margriet, kakaknya Trudy yang terlihat sangat mendalami agamanya, Margriet berjilbab rapat dan sangat mematuhi ajaran agama yang dianutnya, sementara Trudy terlihat dangkal dan lebih menyukai hiruk pikuk keramaian duniawi.

Fajar merasa menemukan teman berbagi yang tepat tentang kegalauannya. Margriet yang cerdas itu menjadi teman diskusi yang menyenangkan, hingga romansa cinta menyapa mereka tak peduli bahwa Fajar berusia empat tahun lebih muda daripada Margriet, parahnya lagi Fajar adalah gebetan yang sangat diidamkan oleh Trudy. Dan tentu saja Trudy merasa kecewa, karena ia mengira bahwa sudah menjadi pemenang hati Fajar di hadapan teman-teman sekolahnya. Siapa menyangka bahwa seringnya Fajar main ke rumah Trudy lebih karena mengagumi dan memuja kakaknya, Margriet, kompetitor kehidupan yang paling ingin dikalahkannya di area keluarga, namun tak pernah bisa. Upaya Fajar mengungkapkan cinta kepada Margriet malah menjadikan benang kusut diantara mereka, sehingga mereka memutuskan untuk saling menjauh dan melupakan.

Romansa anak muda itu diceritakan dengan lincah sekali. Bagaimana interaksi antar mereka seolah terasa nyata, dan tak membosankan untuk dibaca. Bahasa segar yang dipakai penulisnya menjadikan selipan humor yang natural tanpa kesan dibuat-buat.

Selepas SMA Fajar melanjutkan pendidikannya ke Roma, di Pontificial Gregorian University, demi menikmati pencarian akan Tuhan dalam wajah kota yang menyatu dengan kota suci salah satu agam di dunia, Vatican Citty. Ia masih saja bimbang diantara dua pilihan, katholik atau islam? Di KTP dia menuliskan nama Islam sebagai agamanya, dalam keseharian dia juga menjalankan ibadah sebagaimana orang islam, namun dalam relung nuraninya Fajar masih merasakan getar-getar indah saat melihat nyanyian kidung gereja, pemujaan Tuhan yang terasa romantis dan indah. Tak jarang ia menyandingkan AlQur’an dan Bible untuk dipelajari dan direnungkan secara mendalam dalam waktu bersamaan.

Sementara itu dalam kehidupan Margriet, hadir seseorang bernama Phill, seorang dosen bule temannya mengajar di sebuah Universitas negeri. Bule yang atheis dan norak yang ternyata juga sedang merenungkan kemungkinan adanya Tuhan dan mencoba untuk percaya.

Keseluruhan kisah di dalam novel ini diceritakan secara selang-seling dengan POV orang pertama pada masing-masing tokoh. Banyak tokoh dan semuanya penting untuk mengetahui seluruh kisah. Margriet, Trudy, Fajar dan Phill yang paling banyak mengambil porsi cerita, selebihnya seperti Luna dan Iggy, meskipun seperti figuran yang sebentar lewat namun tetap menjadi bagian penting dalam cerita.

Saya menikmati membaca novel ini, tak terasa banyak renungan yang merasuk dalam kepala saya, tentang Tuhan dalam agama saya. Sebagaimana dalam tulisan surat Margriet kepada Fajar, sebuah pertanyaan...  Kenapa kita dilahirkan dalam keluarga muslim? Kenapa nggak diciptakan terlahir dalam keluarga atheis, hindu atau budha?, mungkin nggak Dia bermaksud menguji kita? apakah kamu  taklid, bingung, masa bodoh, makin mantap atau malah ingin pindah?

Seyogyanya menjadi muslim haruslah mendalami agamanya, berusaha juga mengetahui jawaban keingintahuan yang mungkin diutarakan orang-orang selain islam. Bukan sebagai bahan untuk berdebat, menjatuhkan dan menghina keyakinan agama lain namun lebih untuk memantapkan hati dan lebih dekat kepada Allah SWT tanpa setitik pun keraguan lagi. Itulah pesan yang saya tangkap dari keseluruhan isi novel ini.

Buku ini bagus, saya merating 3 bintang untuk buku ini, karena disamping banyak kelebihan dalam novel ini, saya juga menemukan beberapa hal yang menurut saya sebuah kekurangan. Hmmm.. maaf jika mungkin yang saya sebutkan mungkin agak klise, hanya soal selera. Hmm..

Pertama, yang membuat saya agak banyak mengerut kening adalah bertaburan bahasa inggris tanpa ada terjemahnya. Karena saya nggak mungkin baca buku sambil bawa kamus atau buka Google translate, maka kadang saya skip dan mengira-ngira saja maksud kata-kata inggris itu apa? :D sehingga saya sangsi kalau bilang ini adalah kekurangan buku secara teori kelayakan, sebab ya wajar banget dalam berbagai dialog menyertakan bahasa inggris. Lumrah sekali karena tokoh yang sedang diceritakan (Trudy dan Margriet) adalah orang-orang kaya, berpendidikan modern, dan silsilah keluarganya masih ada keturunan belanda. Jadi kekurangan bukan kesalahan penulis, salahnya yang baca nggak jago bahasa inggris. He,

Kemudian yang kedua adalah sebuah kesan yang sering saya rasakan seperti saat membaca beberapa novel lain. Kesan seolah penulis buru-buru ingin sampai ke ending dalam menulisnya. Terlihat dalam penulisan babnya, pada prolognya per bab (Maksud saya bab penceritaan per-tokoh) ada 3-4 halaman tertulis mengalir, detail dan terasa ‘hidup’. Namun menjelang ending ada yang cuma 1 halaman saja. Padahal sedang berada pada adegan penting disimak seperti saat perjodohan Margriet dan Fajar, pertengkaran Margret dan fajar karena tuduhan membandingkan dengan Phill, terasa kurang ngalir dan ‘hidup’ sebagaimana dalam prolognya. Entahlah mungkin ini perasaan saya saja sih sebagai pembaca yang terlalu cerewet dan penasaran minta semua bagian dikisahkan, ahaha..

Bagaimana kelanjutan hubungan antara Fajar, Trudy dan Margriet pada akhirnya? ya tentu saja hanya bisa diketahui dengan membaca keseluruhan bukunya. 

Akhirul kalam, buku ini saya rekomendasikan buat para muslim yang mencintai agamanya. Beneran loh, membaca ini tak se’berat’ kesan tema yang dijadikan inti ceritanya.
*** 

Tulisan ini diikutkan dalam LOMBA MENULIS RESENSI BUKU INDIVA 2013




Ketika Cinta disandarkan Kepada Penguasa Langit

Resensi saya dimuat di Website Dakwatuna.com : 
http://www.dakwatuna.com/2013/11/22/42529/surga-yang-terlarang/#axzz2lR3PvufC. Alhamdulillah 






















Judul Buku   : Surga yang Terlarang.
Penulis         : Leyla Hana
Penerbit       : PT Penerbitan Pelangi Indonesia
Genre          : Novel Romance
Terbit          : Cetakan I, 2013
Jumlah Halaman : 376 Halaman
ISBN           : 9786027800854
-----------------------------------------------------------------------


Cinta itu pemilik sejatinya adalah Pencipta semua makhluk yang hidup di dunia ini. Ketika menciptakan makhluk, maka hidup serta merta dalam interaksi antar sesamanya akan diselipkan sebuah rasa indah bernama cinta. Tak peduli apa status, kapan dan dimana tempatnya.

Sebuah kisah yang dituangkan dalam novel ini memang membicarakan dan mengisahkan tentang cinta. Cinta yang tumbuh di area para aktivis dakwah. Namun tak sekedar cinta yang diperturutkan kepada obsesi bahwa cinta harus diwujudkan dengan ikatan pernikahan.

Cinta Faisal kepada Nazma terjalin tanpa nama saat mereka sama-sama menjadi aktivis Rohis kampus. Hubungan yang menjadi ‘larangan’ di kalangan mereka, sehingga harus diakhiri dengan sebuah pilihan yang ditawarkan kepada pihak laki-laki. Menikahi si gadis dalam waktu dekat atau memutuskan hubungan? Karena tak ada kata pacaran dalam kamus pergaulan mereka. Ternyata Faisal memilih opsi kedua, karena dia merasa belum siap menikah. Tak berani nekat menikah saat masih kuliah, namun dalam hati ia menginginkan ketika saatnya siap menikah nanti dia akan mencari Nazma dan meminangnya. Dan Nazma pun menerima kenyataan itu dengan lapang hati, sedih namun harus bangkit agar tak kembali terperosok dalam jerat kisah yang sama. Ia berusaha menata hati, fokus belajar dan kelak akan mengusahakan agar mencintai laki-laki salih yang sudah sah menjadi suaminya.

Namun kisah mereka melaju dengan tragis karena sebuah kebetulan yang pahit. Gadis yang ia diimpikan Faisal untuk menjadi pendamping hidup itu malah berjodoh dengan kakaknya, Furqon.

Dulu, tak pernah terikrar kata cinta diantara Faisal dan Nazma, namun rasa itu tersimpan di hati keduanya dengan rapi. Ketika mereka bertemu kembali dalam satu rumah. aroma kemarahan dan cemburu menguasai hati Faisal, iri kepada kakaknya, dan marah kepada Nazma. Namun dengan jiwa yang masih genap menyandang iman, Faisal berusaha menerima takdir itu.


Sedangkan Nazma sendiri juga tak kalah pedih melihat fakta itu. Meski sudah bisa mencintai suaminya, Furqon. Jerat masa lalu terkadang kuat mencengkeram. Ada rasa pedih dan bergetar hati saat berjumpa dengan Faisal.

Bagaimanakah laju kisah cinta segitiga mereka? pastinya jauh sekali dari solusi perselingkuhan demi memperturutkan cinta yang masih berpendar dalam hati mereka. Sekuat tenaga mereka menyandarkan cinta kepada penguasa langit. Tak ada yang salah dengan takdir, sehingga harus digugat dengan jalan menyalahkan Dia sang pemberi takdir. Ikatan pernikahan adalah satu-satunya tempat menyuburkan cinta yang sejati.

Novel ini mengajak pembaca agar tidak terpedaya pada nafsu yang seringkali berbungkus kedok romantisme cinta masa lalu, romantisme cinta yang seolah belum usai. Yang inginnya disambung dan diulang lagi pada tempat dan keadaan yang tak lagi sama. Membedakan antara cinta dan nafsu terkadang bukan hal yang mudah. Namun ketika kita masih mempunyai bekal iman dan rasa takut kepada Penguasa langit maka perbedaan itu akan terlihat jelas dan hati akan dibimbing untuk memilih jalan yang diridhoi olehNya.

Novel yang mengandung nasehat agama ini diracik dengan alur dan penceritaan yang tidak membosankan. Sehingga patut direkomendasikan kepada siapapun yang ingin lebih dalam memaknai cinta yang terjadi antara laki-laki dan perempuan.


***