Secangkir Kopi Inspirasi

Catatan Inspiratif Prabu Revolusi

                                                                            Judul                           : Secangkir Kopi Inspirasi

cover secangkir kopi inspirasi

cover secangkir kopi inspirasi

Penulis                         : Prabu Revolusi

Penerbit                       :Kaifa-Mizan

Tahun Terbit                : Pertama, 2013

Jumlah Halaman          : 256 halaman

ISBN                           : 978-602-8994-94-1

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious,

Prabu Revolusi memang terkenal menjadi news anchor di sebuah stasiun televisi swasta. Gaya dan suaranya yang khas, sekaligus tampang yang banyak disukai penonton wanita sudah menjadi modalnya untuk dikenal masyarakat luas.

Lalu, bagaimana jika sang penyiar berita ketika menulis, apakah selancar ketika dia membaca sebuah berita? Tak dinyana ternyata tulisan penyiar muda ini pun renyah dan mengalir. Bahkan, tak hanya itu tulisan Prabu juga inspiratif.

Hal ini terbukti dalam bukunya yang berjudul Secangkir Kopi Inspirasi. Sebuah judul yang dia dapatkan ketika sedang santai ngopi sambil mencari inspirasi. Buku ini berisi kumpulan catatan Prabu tentang apa saja, dari cinta, keluarga, uang, hingga pekerjaan. Kesemuanya inspiratif dan membangun diri, jadi judul yang dia pilih tidak hanya judul hiasan namun memang sesuai dengan isi bukunya.

Secara sistematika buku ini terdiri dari empat bagian. Bagian pertama, berisi tentang cinta dan keluarga. Dalam gagasannya, setiap orang hendaknya bangun cinta bukan jatuh cinta. Karena menurut Prabu, orang jatuh cinta itu mudah sekali. Dalam jangka 10 menit orang akan mudah jatuh cinta, bahkan bisa lebih sedikit dari itu. Ketika itu hidup terasa indah, semua terasa dalam keadaan suka cita saja. Karena pada saat itu kita buta, tuli, dan bisu terhadap keburukan pasangan kita.

Namun, dalam pernikahan tidak hanya ada senang di dalamnya. Ada sedih, ada duka, juga ada jengkel dan berbagai kesalahpahaman lainnya. Karena hidup 24 jam per hari, 7 hari seminggu, semua belang akan tersingkap. Di sinilah perbedaan jatuh cinta yang ada pada saat saling menyukai, sedangkan bangun cinta diperlukan pada saat saling jengkel. Dalam keadaan tersebut cinta bukan hanya sebuah pelukan, namun juga iktikad. Untuk memahami konflik dan bersama-sama mencari solusi yang dapat diterima kedua belah pihak (halaman 22).

Pada bagian kedua, Prabu membahas tentang uang, pekerjaan dan kreativitas. Pada artikelnya yang berjudul sama dengan judul bukunya, Secangkir Kopi Inspirasi Prabu berbicara tentang kopi. Dibalik banyaknya orang berbicara tentang sisi negatif kopi, Prabu menulis tentang sisi positif kopi.

Mengambil pendapat Sayyid Habib Umar bin Saqqaf dalam kitabnya Tafrihul Qulub wa Tafrihul Kurub, “Kopi memang hitam, tapi menyalakan semangat, bahkan memancarkan cahaya.” Prabu merasakan sendiri khasiat kopi dalam memudahkan pekerjaannya.

Selain agar tidak mengantuk, ternyata kebiasaan mengopi di kafe sebelum masuk kantor memberi Prabu inspirasi untuk membangun ide acara yang akan dibuatnya. Setelah beberapa waktu berkontemplasi bersama kopi, akhirnya jadilah sebuah acara yang dia rancang bernama 8 Eleven Show (halaman 133).

Di bagian ketiga buku ini Prabu membahas kesehatan dan kebahagiaan. Sehat akan ada jika kita bahagia. Bahagia itu bisa jadi kebalikan dari stres. Agar tidak stres, maka kita harus mengusahakan kebahagiaan.

Bahagia itu mudah didapat. Bahagia bisa didapat ketika kita berbagi. Hal itu dirasakan oleh Prabu ketika diundang oleh Suryo Brahmantyo untuk mengisi tentang public speaking di Akademi Bersama Jakarta. Sebuah acara yang pembicara yang diundang tidak dibayar dan peserta yang hadir tidak membayar, gratis. Acara yang murni untuk saling berbagi sesuai namanya, Akademi Berbagi. Melihat banyaknya dan antusiasme peserta, Prabu semakin semangat dalam membagi ilmu yang dia miliki.

Sampai saat ini Akademi Berbagi tidak hanya ada di Jakarta, tetapi menyebar ke berbagai daerah. Fotografi, menulis, enterpreuner dan lainnya juga dibahas dalam akademi ini. berbagi semakin menyebar karena akademi berbagi ini. Karena manfaatnya bagi banyak orang Akademi Berbagi mendapat banyak penghargaan di antaranya: The Most Inspiring Social Movement-Klik Hati Award dan juga The New Alternative-Editor’s Choice dari majalah Rolling Stone Indonesia.

Bagian terakhir Prabu membahas tentang impian dan gagasan. Orang bekerja sebaiknya sesuai dengan passion. Apa itu passion? Ketika seseorang bekerja berdasarkan dedikasi dan cinta, maka itu yang disebut dengan passion (halaman 239). Passion itu unik. Ketika kita bisa bekerja berdasarkan passion yang kita miliki, otomatis kita akan pada sebuah titik yang sangat optimal, aktual dan bisa jadi jauh lebih besar hasilnya dibandingkan dengan kita bekerja di bidang yang tidak cocok dengan passion kita. Sebagai contoh, seseorang yang bekerja sebagai salesman, namun passion-nya ternyata main gitar, sesungguhnya ia telah menghilangkan kesempatan untuk menjadi lebih besar dari Slash atau Dewa Bujana.

Begitulah, Prabu dalam merangkai kata pun penuh makna. Catatan inspiratif yang merevolusi diri pembaca. Sesuai namanya, Prabu mampu merevolusi diri pembaca. Buku ini cocok dibaca siapa saja, Anda yang sudah menikah ataupun belum, yang sudah atau belum bekerja. Dengan membaca buku ini Anda akan memiliki pandangan lain akan hidup, hidup itu bahagia.

Capture

dokumen pribadi pemuatan di harnas 30 maret 2014

#Resensi sebelum diedit harnas.

cover diambil dari sini

(27-Dimuat di harian nasional 30 Maret 2014)

 


Filed under: Bisnis, Budaya, Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Cinta, Harian Nasional, Indiva Readers Challenge (IRC) 2014, Inspirasi, Inspiratif, Motivasi, Non Fiksi, Parenting, Pernikahan, Resensi Buku Tagged: akademi berbagi, buku, buku 2013, cinta, gagasan, impian, indiva reading challenge (irc) 2014, inspiratif, keluarga, kisah inspiratif, kopi, menulis, mimpi, motivasi, nonfiksi, passion, penerbit kaifa, penerbit mizan, pernikahan, prabu revolusi, resensi buku, review 2014, sehat

Dreams, Idealistic, and Passion ~ a thought from Riri Hanafi [Guest Post #BBI3th]

BBI-GuestPost

Sebenernya sekarang udah jarang nulis sesuatu dengan tema tertentu, baik itu di blog pribadi atau blog buku dan lebih banyak nulis karena pengin curhat aja… seperti sekarang ini… #eh :D

Dalam rangka memeriahkan ultah Blogger Buku Indonesia yang ketiga, aku yang jadi “Guest Post” di blog-nya Dinoy… Nggak mau bikin pembaca setia blog-nya Dinoy kecewa dengan kekacauan yang aku tulis… tapi tenang aja… Dinoy kan editor, jadi edit dulu aja Noy… #lah :D *hihihi, siap Kakaak! ^^*

Judulnya keren yah… pasti Dinoy udah deg-deg-an tuh pas baca judulnya koq… bahasa Inggris lagi… hihi… itu cuma buat gaya-gayaan aja Noy… :D

Tadinya emang mau bikin review aja nih buat “Guest Post” tapi ditolak sama Dinoy… katanya takut nggak ada yang mau baca [#ngarang]… *melotot*

 Jadi apa hubungannya mimpi, idealisme dan passion sama buku? [#maaf aku lupa padanan kata passion dalam bahasa Indonesia, jadi kita pakai passion aja nggak apa-apa yah....]

Ide tulisan ini muncul ketika aku baca buku “The Associate” karangannya Om John Grisham yang terkenal itu… si Om ini kalau nulis buku, kalau menurutku sih banyak curcol-nya… [#makanya sah-sah aja kan kalau aku nulis sambil curhat... :D ], termasuk bukunya yang satu ini…

Dia banyak bercerita tentang kehidupan di Law Firm yang keras, walaupun dengan bayaran tinggi, tapi terasa tidak manusiawi…. Nah, tokoh di buku “The Associate” ini sebenernya nggak suka dengan cara berbisnis Law Firm raksasa itu dan bercita-cita untuk melakukan praktik hukum untuk membela yang lemah… tapi apa daya, ada rahasia yang dipakai oleh sekelompok orang jahat yang memaksa Kyle McAvoy untuk bekerja di salah satu Law Firm untuk mengambil dokumen rahasia di perusahaan itu… dan cerita pun berlanjut….

Sambil baca, aku jadi tersentil juga…. Betapa Kyle merasa terkungkung dengan tuntutan pekerjaan, dan berapa banyak orang lain yang berada di posisi yang sama… lalu bagaimana dengan aku sendiri?

Latar belakang pendidikan (kuliah) yang dulu terasa dipilih secara asal, baru terpikir sekarang… dulu kuliah di Teknologi Pertanian lalu sekarang bekerja di bidang Asuransi… kerja Senin sampai Jumat dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, kadang perlu tambahan lembur, belum lagi waktu untuk perjalanan menuju dan pulang kantor… untuk apa??

Ya jujur… untuk sekadar mendapat gaji bulanan… karena apakah kerja di perusahaan Asuransi itu mimpiku? Sepertinya bukan…. Passion-ku? Tidak juga….

Baru-baru ini, setelah bergabung dengan BBI [#yay! thanks to BBI], aku tersadar bahwa passion-ku itu adalah buku dan hal-hal yang berkaitan dengan buku….

Secara ideal, aku seharusnya bisa menggeluti passion-ku bersama buku… tapi mau melakukan apa? Rasanya sudah terlambat untuk kuliah di jurusan perpustakaan misalnya atau mengambil kuliah sastra, kalau dipaksakan, mungkin malah cuma buang-buang waktu….

Sebenarnya tidak ada kata terlambat untuk menggapai mimpi kan?

“Jadi mimpi kamu apa?” Kalau kalian bertanya… mimpi aku adalah menjadi penulis… :D

Sudah terpenuhi ketiga elemen tadi… tapi… lalu bagaimana dengan pekerjaanku? Sampai hatikah aku untuk melepas pekerjaan ini, di saat banyak orang lain yang berharap untuk bisa berada di posisi ini untuk mengejar mimpi?

Mungkin langkah pertama, yang akan jadi penentu langkah-langkah berikutnya adalah mencari tahu bagaimana caranya menjadi penulis…

Hhhaaayyyoo yang udah jadi penulis, bikin workshop doongg…!! ;-)

 Jadi gitu deh Dinoy… akhirnya isi tulisannya adalah curhatan tentang kegalauan hati… tapi aku yakin banyak teman-teman yang berada di posisi yang sama seperti aku juga, kan? :D

Banyak, banyak kok Kak yang merasakan kegalauan yang sama… aku salah satunya, sampai akhirnya berani beralih jalur, hihihi. Makasih banyak Kak Riri yang sudah berbagi curahan hatinya. ^^ Nah teman-teman pasti pengin tahu dong, siapa sih sosok yang di atas baru saja menguraikan kegalauan jiwanya *tsaaah, drama abiis bahasanya!* Ini dia, sosok Kak Riri Hanafi yang cantik dan baik hati….

KakRiri

Kak Riri bersama buku yang menginspirasinya yaitu The Associate

Nah, tak lengkap rasanya jika tak mengulik-ulik lagi tentang Kak Riri, maka mari menyimak tanya jawabku bersama Kakak cantik ini…. ^^

D: Hai Kak Riri… Aku mau kasih beberapa pertanyaan nih, terkait dengan kehadiran Kak Riri sebagai tamu di blog bukuku. Pertanyaan ini juga aku ambil berdasarkan ubek-ubek dari blog buku milik Kak Riri ya, yang myheavenofbooks.blogspot.com. Yuk dimulai…. Pertama, kenalan dulu dong, siapakah Kak Riri ini? Misalnya, nama lengkap, kegiatan sehari-harinya seperti apa, juga keterangan berkaitan hobi baca seperti genre favorit atau yang lainnya. :)

R: Haha… mau jawab apa yaaa…. Kegiatan sehari-hari kerja kantoran aja… seperti yang udah diceritain di tulisan itu… :D Hobiku baca buku, sempet punya hobi postcrossing juga [sementara ini lagi hiatus dulu, sibuk baca… hihi], kadang nonton film, pengin punya hobi travelling, kalau lagi rajin kadang-kadang suka naek sepeda keliling-keliling sekitaran rumah aja.

Untuk baca buku, genre favoritnya sih fantasi atau Young Adult Fiction…. Cuma kadang nggak banyak fantasi yang keren kayak Harry Potter, entah kenapa walaupun seneng fantasi untuk memulai baca fantasi aku malah pilih-pilih…. Jadinya yang lebih sering dibaca adalah romance… laaahh… koq gitu ya…. Sebenernya bacaannya umum sih… kalau banyak yang ngerekomendasiin, kadang jadi ikutan baca juga… dan beberapa emang seru, tapi beberapa kadang biasa aja….

Untukku, kalau nemu buku bagus itu kayak ketemu sama soulmate, jarang… tapi kalau udah ketemu, wah senengnya…. Sayangnya kalau nemu buku bagus, bacanya jadi cepet, tapi kan jadi cepet selesai juga…. :(

Satu hal lagi kenapa jadi milih-milih baca fantasi, kebanyakan sekarang buku itu berseri… suka nggak sabaran nunggu seri berikutnya….

D: Kapan tuh Kak Riri mulai merasakan bahwa membaca buku adalah suatu kebutuhan? Bisa diceritakan jatuh cinta pertama kali pada buku apa?

R: Udah lama sih…. Cuma memang dulu nggak parah kayak sekarang…. Pertama kali baca buku? Hhhmmm… dulu waktu kecil punya sepupu yang koleksi buku, jadi dia punya seri Mallory Towers sama Si Badung lengkap, aku ikutan baca…. sama komik Nina, trus punya tetangga yang kakaknya suka baca juga, sering ikutan baca Trio Detektif koleksi si kakak, ada komik Tintin dan Asterix:D

Lalu waktu SMP dikenalin novel dewasa sama temen yang minjemin buku kakaknya… The Godfather Mario Fuzo sama salah satu buku Sidney Sheldon… waaahhh… walaupun bacanya sembunyi-sembunyi [mungkin karena sembunyi-sembunyi ini jadi makin seru :D], jadi ketagihan baca Sidney Sheldon. Lalu merambah ke serial Lupus dan komik terbitan Elex :D Dan kebetulan di kantor Bapak, ibu-ibu Dharma Wanita-nya punya perpustakaan yang bukanya seminggu sekali; kalau nggak salah setiap hari Kamis, jadilah setiap minggu ke kantor Bapak untuk pinjem buku, dan seharusnya bisa jadi anggota teladan karena salah satu peminjam yang paling rajin. ;-)

Dan pas SMA, perpustakaan sekolah koleksi Agatha Christie-nya lumayan lengkap, enak bisa dipinjem… walaupun sempat dituduh gak ngembaliin buku, yaaa terpaksa ngegantiin deehh… :D

D: Sejak kapan sih Kak Riri mulai serius dengan hobi baca ini dengan membuat blog buku? Kenapa tuh Kak Riri perlu merasa punya blog buku?

R: Blog buku dibikin Oktober 2012 dengan postingan review buku Bared to You by Sylvia Day (http://myheavenofbooks.blogspot.com/2012/10/bared-to-you-by-sylvia-day.html) Hasil pinjeman temen yang merekomendasikan bukunya dan untuk bikin blog buku, sayang sekarang dia udah bukan anggota BBI lagi…. Sebenernya awalnya nggak merasa “perlu” untuk bikin blog khusus buku sih… lebih ke ikut-ikutan aja… dulu pernah rajin ngeblog, kadang suka nge-review film atau ada juga buku…. kalau nggak salah pernah ngereview Partikel-nya Dee Lestari.

D: Aku baca buku-buku yang direview Kak Riri kan hampir semuanya buku-buku impor ya, kayaknya cuma nemu satu nih yang buku lokal. :D Apakah memang Kak Riri mengkhususkan genre bacaannya di buku impor? Tapi pernah juga kan baca buku karya penulis dalam negeri? Biasanya, ada perbedaan apa saat membaca buku berbahasa asing dengan buku berbahasa Indonesia?

R: Hehe… gimana yaa…. Sebenernya entah itu penulis lokal atau penulis luar buat aku sama aja, yang penting kan ceritanya…. Menurutku secara pribadi, penulis lokal itu jarang bisa bercerita dengan memberi gambaran seperti yang dilakukan oleh penulis luar… ya bisa jadi karena aku kurang referensi aja, tapi sempet beberapa kali kecewa dengan penulis lokal, tapi aku juga nggak memungkiri kalau ada penulis-penulis lokal yang bagus. Kadang masalahnya karena aku kurang suka sastra (kurang bisa menikmati), sementara penulis lokal yang bagus “biasanya” lebih ke arah sastra…. Ada penulis-penulis lokal yang aku suka banget misalnya Marga T dan Dee Lestari… atau misalnya buku Rahasia Meede-nya E S Ito, menurutku keren banget…. Tapi nggak banyak yang bisa bikin tulisan sekeren itu… sedangkan pilihan buku impor sangat banyak… yang kebanyakan juga keren-keren….

D: Berkaitan dengan curhatan Kak Riri tentang “Dreams, Idealistic, and Passion” nih…. Kak Riri kan bilang kalau akhirnya menemukan passion di bidang buku dan impiannya adalah menjadi penulis. Sampai sejauh ini, apa usaha yang sudah Kak Riri lakukan untuk menjadi penulis? Sudah ada berapa draf tulisan nih, Kak? Hehehe… ^^

R: Hahaha… nggak ada… baru mau memulai… tapi nggak mulai-mulai… :D

D: Dan terkait dengan buku The Associate karya John Grisham yang menginspirasi Kak Riri. Tolong sebutkan dong, kutipan yang paling nyangkut di Kak Riri. Boleh lebih dari satu, silakan, yang sekiranya kalimat itu bisa jadi gongnya buat Kak Riri. :D

R: He thought about his life. Here, in the third hour of his professional career, he was already questioning his sanity. What manner of man could sit here and pore over these meaningless pages for hours and days without going bonkers? What did he expect the life of a first-year associate to be? Would it be any better at another firm?

I do a lot with that kind of thinking… not the same but pretty much similar, what have i done in my life? do i want to live my life just like this until the time that i don’t require to work anymore? can i live another life, the one that makes me more alive? is there any? lhooo… curhat lagi… :D

They would never reveal every fact because successful negotiation does not hinge on full disclosure.

Hehe… ini sih tips yang bisa kita pakai dalam kehidupan sehari-hari… We do a lot of negotiation in our life, even with our self… ;-)

D: Bicara tentang realita juga, kan Kak Riri merasa pekerjaan yang ada sekarang hanya sekadar sebagai penghasilan bulanan tapi tidak menikmati bidangnya. Nah kalau mau berandai-andai, memiliki pekerjaan sesuai passion tapi sekaligus dapat memberi penghasilan yang oke, Kak Riri spesifiknya ingin bekerja sebagai apa? Misalnya nih, kalau aku pengin jadi editor tetap di penerbit idolaku, dan pengin bisa mengedit naskah dari penulis-penulis idolaku juga, hehe. 

R: Jadi penulis dong… dan pengin bisa menikmati puisi, sebenernya pengin belajar, gimana caranya nulis dan gimana menikmati puisi atau sastra secara umum, tapi… hihi… kebanyakan tapinya… :D

Ada suatu waktu di mana aku “pengin” jadi Dee Lestari, she seems to have a pretty perfect life, a loving husband, cute & smart children, a perfect career as a writer, i want to be just like her… ;-)

D: Terakhir nih, buat yang masih mencari-cari apa sih yang menjadi dreams, idealistic, and passion-nya; apa saran yang dapat Kak Riri berikan sehingga jangan sampai mereka “salah pilih” atau bahkan “salah jurusan” dan nggak galau di kemudian hari?? :D

R: Menurutku yang diperlukan itu pengarahan yang tepat dari pembimbing di sekolah atau di keluarga. Anak-anak muda [cciiyyee yang udah ngerasa tua... ] seharusnya diberikan gambaran bagaimana nantinya mereka akan mengisi waktu  (hidup mereka) ketika sudah dewasa nanti, dan diberi kesempatan untuk menjalani hobi dan passion-nya… jangan dilarang, jangan dibilang hobinya tidak menghasilkan [walaupun mungkin menurut penilaian kita saat itu memang tidak menghasilkan], selama positif, setiap anak harus diberi kebebasan untuk menekuni hobi… lebih-lebih kalau dia sudah bisa yakin bahwa itulah passion-nya…

Menurutku nggak gampang untuk bisa menemukan passion kita… nggak semua orang bisa klik dan bilang “AHA! itulah passion-ku…” :D

D: Terima kasih banyak ya, Kak Riri! Nah sebagai penutup, aku persilakan Kak Riri memberi kalimat promosi, kenapa sih teman-teman harus blogwalking ke myheavenofbooks.blogspot.com?? Silakaaan, bebas kalimatnya:

R: Kalau kalian lagi iseng, jalan-jalan ke blogku  yuk… di myheavenofbooks.blogspot.com tempatku bercerita tentang buku-buku yang aku baca, atau buku-buku yang lagi aku pengin [siapa tau lagi bingung mau ngasih kado apa buat aku, walaupun sebenernya jangan ngasih aku kado buku, yang lain aja, aku sudah punya banyak soalnya... hehehe...], siapa tahu ada buku yang bikin kamu tertarik, atau kalo kamu lagi beruntung mungkin juga aku lagi ngadain GiveAway [padahal cuma sekali... gitu aja bangga... :D ], atau sekadar baca-baca iseng tulisan-tulisanku tentang buku yang selalu terselip curhat colongan… :D

Makasih ya Dinoy udah jadi host-ku dan selamat ulang tahun ya untuk BBI semoga pertemanan kita yang diwadahi oleh BBI semakin erat dan ke depannya BBI akan semakin membanggakan karena anggota-anggotanya yang keren-keren kayak kita… ;-)

HAHAHA!! Setuju banget sama Kak Riri! Setuju anggota BBI keren-keren semuaaa! #eh Hihihi, demikianlah artikel tamu berkaitan dengan ulang tahun BBI ketiga. Silakan menyapa Kak Riri, barangkali mau curhat hal yang sama tentang passion? Kak Riri punya akun Twitter yang siap untuk dicolek: @de2via. Sampai jumpa di postingan berikutnyaa! ^^

*ps: untuk membaca artikel di blog lain berkaitan guest post #BBI3th, coba deh klik ini:


Meraih Sukses Dengan Mengetahui Passion Diri

cover follow-merry-riana

cover follow-merry-riana

Judul                            : Follow @MerryRiana

Penulis                          : Debbie Widjaja

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit                : Pertama, 2013

Jumlah Halaman          : 360 halaman

ISBN                           :  978-979-22-9333-3

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang.

Pengalaman adalah guru yang paling baik, begitu dalam peribahasa. Hal ini tidak salah, karena dengan pengalaman orang akan belajar. Bila salah dia akan mencari cara agar benar, bila sudah benar dia  akan berusaha mempertahankan. Baik itu pengalaman pribadi ataupun pengalaman orang lain, semua bisa diambil pelajarannya.

Pengalaman orang yang awalnya harus susah dan kemudian mendapatkan kehidupan yang lebih baik, bisa menjadi pelajaran dan motivasi bagi yang lain. Begitulah juga kisah Merry Riana, yang ditulis yang banyak menyita perhatian orang yang butuh motivasi. Dari buku tak cukup Merry pun harus mengisi acara motivasi langsung untuk menceritakan pengalamannya jatuh bangun membangun kesuksesan.

Salah satu orang yang termotivasi setelah membaca dan mengikuti seminar Merry Riana adalah Debbie Widjaja. Dia seorang penulis novel. Karena dia merasa mendapatkan banyak hal dari buku dan seminar motivasi Merry, Debby ingin sekali menulis kisah tentang Merry Riana. Namun, setelah konsultasi dengan Merry, akhirnya Merry mengusulkan untuk menulis novel tentang kisah Debby sendiri yang termotivasi oleh buku, seminar bahkan juga tweet Merry Riana yang dirangkai dengan imajinasi. Maka jadilah, novel Follow @MERRYRIANA.

            Buku ini mengisahkan seorang yang bernama Bella yang bekerja di sebuah PT yang bernama Everal Lintaskarya. Awalnya Bella hanya berada di Divisi HRD. Dia sudah sangat nyaman dengan suasana kantor dan persahabatan antar anggota divisi tersebut. Namun, kekurangannya mungkin divisi HRD hanya akan menaikkan jenjang anggotanya mentok di posisi Direktur saja. Tidak bisa naik menjadi posisi CEO atau COO. Selain itu gaji yang didapatkan juga tidak seberapa.

Suatu ketika datanglah sebuah pengumuman bahwasanya pihak divisi rekrutmen PT akan menyelenggarakan program NEXT (New Enterprise Executive Training). Sebuah jenjang bergengsi karena ada seleksi dan tidak semua bisa masuk sekaligus gaji yang lebih daripada divisi HRD, yakni delapan juta perbulan. (halaman 18)

Bella sebagai salah satu karyawan yang potensial, banyak mendapat dukungan dari teman-temannya di divisi HRD. Awalnya, dia tidak ingin sekali pindah divisi, karena dia sudah kerasan dengan divisi HRD. Akan tetapi, setelah Bella menimbang, berpikir juga berkonsultasi pada orang tua juga pacarnya sekaligus menghitung kebutuhan untuk persiapan nikahnya juga besar, dia ingin mencoba program NEXT tersebut. Siapa tahu dia bisa lolos seleksi, dan berharap tabungannya akan segera banyak.

Setelah melewati proses seleksi, Bella benar-benar lolos dalam seleksi NEXT. Sejak itu dia pindah divisi sekaligus pindah ruangan dengan teman-teman lamanya di divisi HRD. Hal ini menjadi kesedihan sekaligus satu yang perlu disyukuri karena dia lolos di program NEXT.

Tidak seperti di divisi HRD yang masih ada santai, NEXT seperti tidak memberikan waktu luang untuk santai bagi para anggotanya. Bella tidak punya waktu dengan orang tuanya, dengan teman-teman paduan suara gereja, termasuk dengan pacarnya juga. Dengan alasan, begitu banyaknya tugas yang diberikan oleh program NEXT yang harus dia lakukan.

Hari dan bulan terus berlanjut, ternyata NEXT hanya memberikan dampak positif bagi isi dompet, namun tidak bagi kehidupan dengan keluarganya terutama. Pertemuan dengan keluarganya menjadi jarang, juga dengan pacarnya. Bahkan, akhirnya Bella harus rela pacarnya yang sudah saling berencana untuk menikah meninggalkannya.  Salah satu penyebabnya karena Bella sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuknya.

Tidak hanya itu, sebagai penulis novel yang sudah dikenal cukup banyak orang dan telah memiliki pembaca setia, Bella hampir sering dibombardir dengan pertanyaan tentang kapan novel terbarunya akan terbit lagi. Hingga pada puncaknya, Bella mulai menyadari, bahwa jalan yang tengah dia jalani, bukan jalan yang sebenarnya cocok untuknya.

Hanya karena keinginan menambah gaji dan aktualitas diri, namun harus mengorbankan keluarga, sahabat, bahkan pacarnya tak sabar dan meninggalkannya. Bella semakin sadar bahwa jalan yang sesuai passionnya adalah menulis. Bella semakin yakin ketika dia tak sengaja bertemu dengan salah satu penulis seangkatannya, namun telah memiliki banyak karya. Sedangkan dia hanya sedikit.

Setelah Bella yakin dengan passion menulisnya, dia meyakinkan diri untuk resign dari NEXT dan kembali menjadi penulis. Akhirnya, buku setebal 360 halaman ini memberikan pelajaran bahwa jika ingin meraih kesuksesan yang perlu diketahui dulu adalah passion kita apa, setelah mengetahui itu baru beraksi, bertawakkal dan tak lupa berdoa. Selamat membaca novel yang penuh gizi ini!

IMG_0002-1

dokumentasi pemuatan di jateng pos

IMG_0003-1

dokumentasi pemuatan di jateng pos

 

 

 

 

 

 

 

 

(65-Resensi Buku 2013-Jateng Pos  November 2013)


Filed under: Buku Yang Sudah Dibaca, Fiksi, Inspiratif, Jateng Pos, Novel, Pop, Resensi Buku Tagged: buku, cinta, debbie widjaja, fiksi, gramedia, kesuksesan, kisah inspiratif, merry riana, motivasi, novel, passion

[Review] Lakukan dengan Hati by Dedy Dahlan

Judul Buku: Lakukan dengan Hati Penulis: Dedy Dahlan Penerbit: Elex Media Komputindo Terbit: September 2013 Bahasa: Indonesia Tebal: 240 halaman ISBN: 978-602-02-1968-4 Peresensi: Launa Rissadia Rating: 3.5/5 Sinopsis Buku ini memberikan bukan hanya teori muluk di awang-awang tentang konsep ENJOY dalam hidup, karier, dan pekerjaan. Melalui kisah- kisah dengan gaya khasnya yang kocak, nyeleneh, dan […]

[Review] Dengan Passion, Hobi pun Bisa Berubah jadi Duit!

Judul Buku: Passion! Ubah Hobi jadi Duit Penulis: Dedy Dahlan Penerbit: Elex Media Komputindo Terbit: Februari 2011 Bahasa: Indonesia Tebal: 212 halaman ISBN: 9789792795066 Peresensi: Launa Rissadia Rating: 4/5 Sinopsis Passion! Ubah Hobi jadi Duit, sebuah angle BARU dalam memandang hidup, yang seharusnya menyenangkan! Ternyata memang rezeki dan duit bisa datang sendiri, kalau kita bahagia […]

Passion by Lauren Kate

Passion-Lauren Kate

Judul: Passion

Penulis: Lauren Kate

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Genre: Fantasi, Drama, Roman, terjemahan

Terbit: Juni 2013

Tebal: 416 Halaman

Harga: Rp 60.000

Melintasi waktu, menjelajahi tempat demi tempat dari benua yang berbeda, menerobos zaman, dan menantang bahaya. Semua dilakukan demi keabadian cinta bersama sang kekasih. Berdua Luce dan Daniel menjalani kehidupan sebagai malaikat yang terkutuk. Mereka saling menemukan satu sama lain, meski harus menggunakan nama dan penampakan yang terus berganti. Semua mereka lakukan karena gairah cinta mereka terlalu besar untuk dipadamkan …

Lyrica, Lucinda, Luschka, Lu Xin… Mulai dari masa perang di Moskow, beralih ke Milan, berkunjung ke Tibet yang mengagumkan hingga ke zaman Firaun di Mesir. Novel ini membawa kita bertualang ke berbagai zaman dan tempat, dalam kisah seorang malaikat menaklukkan rintangan demi rintangan untuk bersatu dengan kekasihnya. Luce harus mengalami nyawanya terancam bahaya, melakukan hal-hal yang ia tak biasa, sampai bertemu dengan orang-orang yang menginginkan kematiannya. Sementara Daniel, sang kekasih, juga tak kalah gigihnya untuk selalu menyusul Luce dalam petualangan itu. Cintalah yang mereka perjuangkan, keabadian gairah merekalah yang ingin didapatkan. Bahkan mereka mengabaikan titah Yang Maha Agung agar dapat terus bersama dalam gairah cinta mereka. Pun kawan jadi lawan. Pihak yang selama ini mereka kira selalu membantu mereka, juga ternyata adalah jelmaan iblis yang siap menerkam mereka. Hingga pada akhirnya Luce dan Daniel mendapati bahwa pilihan dan tindakan mereka sendirilah yang memutuskan keabadian cinta mereka.

Novel Passion adalah novel ketiga dari seri Fallen yang ditulis oleh Lauren Kate. Novel bergenre fantasi, dengan dibaluri aroma romance juga, tapi fantasinyalah yang sungguh mendominasi, dan sering membuat saya kewalahan karena sebenarnya genre ini bukan kategori yang biasa saya nikmati. :) Tapi saya toh terus mencoba untuk menyelesaikannya, dan saya tidak dapat memungkiri bahwa beberapa kali saya terlarut dalam kisah-kisah Luce dalam berbagai era dan tempat. Saya terpukau dengan perguliran adegan yang tahu-tahu sudah ke masa ribuan tahun lampau atau malah ribuan tahun berikutnya. Tokoh favorit saya adalah Bill yang selalu menyertai dan membantu Luce dalam menembus waktu dan sejarah demi menuntaskan masalahnya. Bill adalah sosok yang jenaka namun senantiasa memiliki solusi bagi masalah-masalah Luce. Ibaratnya, dia adalah Doraemon bagi Nobita yang sering bandel. Hehehe.

Berikut adalah beberapa kutipan yang makjleb menurut saya:

Jika perjalanan ini mengajarkan sesuatu padanya, itu adalah betapa besar rasa cintanya pada Daniel Grigori.

Semua kebaikan di Surga dan di Bumi terlahir dari cinta. Cinta adaah satu2nya yg paling pantas untuk diperjuangkan.

Seluruh waktu seperti papan tulis besar. Tak ada satu pun yg ditulis dan tidak bisa dihapus oleh watak yg cerdas.

Aku akan menunggumu selama yg dibutuhkan. Aku akan mencintaimu setiap saat sepanjang masa.

Tidak perlu takut. Sama saja seperti membuang usus buntu. Hidupmu akan lebih nyaman tanpanya.

Tidak ada yang tetap sama untuk selamanya.

Masalah terjemahan sendiri, saya tidak merasa begitu terganggu saat membacanya. Ya, memang sih ada satu-dua kalimat yang saya merasa janggal membacanya, tapi nggak sampai terlalu menghambat proses membaca, kok.  Ada baiknya membaca dua seri terdahulunya (Fallen, Torment) biar lebih nyambung, saya sendiri dapat buku ini karena buntelan dari Gramedia melalui Blogger Buku Indonesia, hihi. Untuk sekadar dibaca iseng tanpa mengikuti seri-seri sebelumnya, lumayan asyik kok, apalagi buat yang suka cerita fantasi. :)