Shocking Japan, Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan

Pelancong tidak selalu bepergian ke suatu tempat baru hanya karena ingin tahu keindahan dari tempat baru itu, tetapi seringkali juga karena mereka diburu rasa penasaran untuk mengetahui bagaimana kebudayaan mereka. Karena itulah buku – buku perjalanan seperti buku Junanto Herdiawan ini selalu menarik bagi saya.

Ada banyak pujian bagi jepang. Dan puja – puji itu juga sudah saya dapatkan dari membaca buku Ajip Rosidi; Orang dan BambuJepang. Pun di buku ini, pujian – pujian itu banyak bertebaran. Namun, bukan sesuatu yang memancing pujian yang saya harapkan dari buku ini, tapi sisi lainnya itu. Karenanya, meskipun sama – sama membahas tentang Jepang dan orang Jepang, buku Junanto ini beda dengan buku Ajip Rosidi.

Apa yang lain? Kalo bicara masalah betapa disiplinnya orang Jepang atau betapa teraturnya mereka, itu sudah basi. Namun saya baru tahu dari buku ini jika Jepang yang sedemikian modern ternyata masih juga menyimpan takhayul yang dari sisi modernitas sangat tidak rasional. Coba baca di Ada Arwah di Boneka Jepang. Saya tidak habis pikir bagaimana sebuah rasionalitas bisa bersandingan dengan omong kosong seperti itu!

Sisi lain berikutnya adalah tentang Tak Ada Cinta di Tokyo. Terus terang saya senang melihat dorama – dorama Jepang seperti Tokyo Love Story atau Just The Way We Are yang banyak cinta – cintaannya. Tapi kata Junanto, orang Tokyo itu tidak romantis sama sekali. Tidak pernah terdengar kata Aku Cinta Kamu atau kekasihku dari pasangan yang ada di Tokyo. Bahkan pasangan yang bergandengan tangan pun tidak ada! Di tempat umum, orang lebih asyik dengan telepon atau buku mereka daripada berbincang mesra dengan pasangannya. Haduh!!

Yang mengejutkan saya, menurut Junanto, orang Jepang itu sebenarnya mirip dengan orang Jawa. Apa kemiripannya? Orang Jepang tidak menyukai konflik. Jikapun mereka berbeda pandangan dengan orang lain, mereka akan menyatakannya dengan halus. Sama seperti orang Jawa yang lebih baik mengalah daripada harus bersinggungan dengan orang lain.

Buku ini dibagi menjadi empat bagian. Salah satu dari keempat bagian itu adalah mengenai kuliner. Ingin tahu bagaimana orang Jepang kok tidak keracunan ketika memakan ikan buntal? Baca saja buku ini. Buku Junanto tentang Jepang ini ringan dan mudah dicerna. Tentu saja karena tulisan – tulisan yang ada di buku ini sebenarnya tulisan – tulisan yang pernah diunggah oleh Junanto di blog pribadinya. Kekagumannya akan Jepang membuatnya ingin membaginya dengan orang lain. Maka dia pun menuliskannya di blog. Dan untuk meraih pembaca yang lebih banyak, dicetaklah tulisan – tulisan itu menjadi sebuah buku. Buku yang benar – benar Shocking ini.

Oke sekarang waktunya untuk mengungkap siapa santaku. Santaku adalah Hanifah Mahdiyanti saya langsung tahu siapa dia karena dia membuat teka – teki yang begitu mudah ditebak. Katanya, dia punya blog yang ada gambar kucing hitamnya. Dan, ia tinggal di Jogja. Langsung aja kutembak orangnya, dorr!!    Big Machine Gun emoticon (Gun Emoticons)    Mati kau Han     menyerah Hahahaha.  Tepuk tangan buat saya!!Excited Girl emoticon (Happy Emoticons)


Terima kasih untuk mbak Oky dan mbak Mia juga mbak Han. Kapan - kapan boleh kutraktir bakso deh! 




Informasi Buku:
Buku 49
Judul: 
Shocking Japan, Sisi Lain Jepang yang Mengejutkan
Penulis: Junanto Herdiawan
Penerbit: B First
Tebal: 161 Halaman
Cetakan: I, 2012

Kilas Buku: Travelling Solo to Morocco

Judul: Travelling Solo to Morocco
Pengarang: Bettina Guthridge
Genre: Travelling, Juvenil Literature
Penerbit: Gramedia, 2005 (pertama kali terbit 1999)
Tebal: 62

Buku ini memang tipis. Tapi jangan tanya lagi tentang isinya. Yap, isinya lebih tebal dari kertasnya, alias lebih kaya. Memang simpel dan penuh warna dan gambar, namun tetap saja, sangat berpotensi untuk menambang wawasan, khususnya bagi anak-anak.

Seperti judulnya, buku ini memang tentang Maroko. Jadi bagaimana jika kamu ingin pergi kesana? Dan apa yang harus kamu ketahui? Well, banyak hal! Mulai dari wilayah Maroko yang dipimpin oleh para Sultan, lalu para penduduknya hingga makanan mereka. Tips dan trik juga ada? Ya, selalu ada. Ada cara bagaimana jika kita ingin bepergian melalui gurun pasir. Bagaimana itu? Silakan baca sendiri yah hehe.

Selain memahami bagaimana negeri Maroko itu, anak-anak yang membaca buku ini juga, secara tidak langsung akan berusaha belajar bahasa Inggris. Tenang saja, di akhir buku, ada glossary yang berisi arti dari kata-kata yang dianggap sulit kok.

Oke, jadi bagaimana teman-teman kecilku, mau kan baca buku ini? Menarik lho bisa jalan-jalan ke negeri lain. Kakak yang nulis artikel ini aja pengen juga kesana :D
Atau kakak tambahin aja nih foto-foto Maroko dari mbah Google?
wowww.... amazing line! (busabout.com)
Suuk or Market in Morocco (timeforkids.com)
Let's play surfboard with camel! :D (surfsatrmorocco.com)
So, so, so... menarik kan teman? :)

Ulasan ini kakak ikutsertakan pada:
CLRP Bzee
Lucky No. 14 Mbak Astrid

Kilas Buku: Get Lost


Judul: Get Lost
Pengarang: Dini Novita Sari
Genre: Fiksi Perjalanan, Romance
Paperback, 198 halaman
Bhuana Sastra, November 2013

I need to get lost... and get lost needs no itinerary...

Lana Sagitaria senang melakukan perjalanan sebagai selingan untuk mengatasi kejenuhannya menghadapi rutinitas sebagai karyawati. Alasan klasik, tetapi begitulah yang dia percaya selama ini. Hingga suatu ketika, dia memutuskan untuk berjalan mengikuti kata hatinya, tanpa itinerary, membiarkan dirinya hanyut dalam arus perjalanan. Siapa sangka, perjalanan ini justru membawanya pada jawaban penting atas pertanyaan yang selama ini terpendam jauh di lubuk hatinya. Jelajah kakinya ke beberapa kota dan negara, juga pertemuannya dengan orang-orang asing, membuatnya berkaca pada kenangan berbagai peristiwa penting dalam hidupnya, termasuk hilangnya seseorang yang sangat berarti bagi dirinya. Akankah kenangan itu tetap tinggal, ataukah sudah saatnya untuk dilepaskan ~ goodreads
***
Sebelum membaca buku ini saya sudah bisa membayangkan akan dibawa kemana. Jalan-jalan tentunya! Menyenangkan yah. Lain itu saya juga membayangkan akan ditenggelamkan ke dalam kisah pencarian cinta yang belum jelas kemana ujungnya. Dan benar ternyata.

Lana membuat saya penasaran dengan Dharma. Setidaknya satu pertanyaan membebani saya hingga menjelang akhir cerita; kemana Dharma? Dimana dia? Saya ikut merasakan apa yang Lana rasakan. Ga enak ya Lan, di-PHP-in? puk-puk-puk. Ketidakjelasan membuat Lana masih terus terbayang wajah Dharma dan berlari ke segala sesuatu yang dianggap adalah bayangannya.

Sampai kapan kau gantung
Cerita cintaku memberi harapan
Hingga mungkin ku tak sanggup lagi... ~Gantung by Melly

Well, itu kisah sedihnya. :)
Baiklah, kini soal kisah lucunya. Saya cekikikan berkali-kali membaca nama-nama seperti Miwon dan Bie Hun hahahahaha :)) | Eh Din, lo kira bihun ditambah penyedap rasa?? xD |
Dalam bagian cerita yang ini saya juga geleng-geleng kepala si penulis melibatkan sosok terkenal Korea which is saya ga tau apa benar 4AM itu ada?? *masih ketawa.
Yeah, bagian Korea sih yang menurut saya paling lucu.

Oke, kembali serius.
Membaca novel ini saya seperti mendengar Dinoy (penulisnya) berbicara. Khas dia sekali ya, apalagi kalau sering membaca dialog-dialognya via jejaring sosial. Ternyata kepribadian penulis bisa mempengaruhi karakter yang ditulisnya juga ya.

Namun karena itu juga, saya tidak bisa membedakan yang mana dialog khas Lana, dan yang mana dialog teman-temannya. Semuanya terasa sama. Yang sedikit memiliki khas adalah tokoh Jung dan tokoh Korea lainnya. Mungkin karena ada pencampuran bahasa dan ekspresi dan gaya tubuh yang khas Korea. Semoga kedepannya, bisa lebih ada perhatian soal ciri khas setiap tokohnya. :)

Yang paling saya suka adalah kutipan pada halaman 195:
aku mengerti takdir setiap orang adalah indah. Dengan siapapun akhinya mereka bersama.
Saya tersenyum membacanya sambil mengangguk membenarkan. :)

Jika boleh saya mengutarakan satu pertanyaan sebelum saya tutup resensi ini, saya ingin bertanya apakah sebagian cerita Lana mirip dengan cerita penulisnya sendiri? Tentang Lana yang dari Jawa Timur, tentang ibu Lana, tentang fakultas Ekonomi, dan..
Jadi apakah mirip, Din?

Baiklah sekian ulasan saya, semoga bisa memberi manfaat. :)

P.S. Ulasan ini diikutsertakan pada posbar BBI dengan tema Liburan.

Kilas Buku: Topi Selebar Langit

Judul: Topi Selebar Langit
Judul Asli: A Hat Full of Sky
Pengarang: Terry Pratchett
Alihbahasa: Santi Paramitta
Penerbit: Atria
Cetakan: I, Desember 2007
Tebal: 493 halaman
Award: Locus Award for Best Young Adult Novel (2005), Mythopoeic Fantasy Award for Children's Literature (2005), An ALA Notable Children's Book for Older Readers (2005), Pacific Northwest Library Association Young Reader's Choice Award for Senior (2007)

Tiffany Aching punya alasan kuat untuk pergi dari Negeri Kapur untuk sementara. Mempelajari sihir menjadi alasan utama dalam kepergian itu. Namun alasan untuk melayani orang lain, tepatnya seorang wanita yang tinggal sendirian di luar Negeri Kapur. Banyak alasan yang ia kemukakan ketika beradu pendapat dengan ayahnya. Beruntung ibunya memberi tambahan alasan yang menguatkan. Akhirnya, pergilah ia menuju negeri yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.

Selama perjalanan ia ditemani oleh Nona Tick, namun ia tetap merahasiakan sesuatu dari si guru kelana itu. Tiffany tidak tahu jika sesuatu yang disembunyikannya malah membuat dirinya dibuntuti oleh sesuatu yang tidak terlihat, tidak beraga, dan ... menyeramkan. Sesuatu itu merasakan kekuatan besar dalam diri Tiffany dan ingin mengambil alih tubuhnya sesegera mungkin ketika gadis kecil itu lengah.

Crivens!! Tapi Nac Mac Feegle tahu niat jahat si sesuatu itu dan berusaha membantu Nenek Sihir Cilik milik Negeri Kapur itu. Mampukah mereka membantu Tiffany untuk tidak mati melawan makhluk itu?
Ini adalah sekuel dari Pria Cilik Merdeka yang sebenarnya merupakan bagian dari serial Discworld Terry Pratchett. Seperti biasa, fantasi yang ditawarkan Pratchett disini bukan cerita yang mainstream. Pratchett menekankan bahwa peri tidaklah selalu cantik dan berdenting. Mereka juga bisa bau dan kasar seperti Nac Mac Feegle. Dan yang paling penting disini adalah tentang sihir. Sihir yang sebenarnya adalah ada pada diri kita sendiri dan juga alam di sekitar kita. Lahirnya kita ke dunia sudah merupakan keajaiban. Tanaman yang menjadi obat-obatan pun juga sudah merupakan keajaiban. Lalu sihir seperti apalagi yang ingin manusia lihat jika kita sendiri pun sudah memiliki sihir yang sempurna.

Bukan hal yang baru dari Pratchett jika para pembaca nantinya akan menemukan dialog-dialog yang mengocok perut sekaligus membuat cukup mencerahkan. Namun sayangnya ada beberapa bagian yang harus saya baca berulang kali agar bisa mengerti maksud si penulis. Terkadang ide-ide penulis tidak terjangkau dan abstrak untuk saya. Desain wajah buku pun juga kurang menarik. Ya memang Nac Mac Feegle sendiri sudah terlihat tidak menarik alias jelek. Namun setidaknya desain dibuat lebih menarik dan ada sedikit sentuhan warna cerah.

Untuk terjemahan yang sekarang digarap oleh Santi Pramitta, saya pun suka. Sepertinya gaya penerjemahannya senada dengan Astrid yang sebelumnya menerjemahkan Pria Cilik Merdeka. Tidak ada perbedaan terjemahan untuk istilah penting dalam fantasi Tiffany Aching ini. Karena kalau sampai ada, pastinya akan mengganggu pembaca.

After all, buku ini memang buku anak-anak kok tapi yaa agak kompleks hehe. Untuk anak SD bisa ga ya? Klo pun bisa, mungkin untuk anak kelas 1 SMP kali ya. Namun mungkin saja banyak kata-kata yang harus dibaca berulangkali agar bisa dipahami lebih baik.

Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 5 oleh Bzee.

Kilas Buku: A Wrinkle in Time


Judul: A Wrinkle in Time (Time #1) - Kerutan dalam Waktu
Penulis: Madeleine L'Engle
Penerjemah: Maria M. Lubis
Penerbit: Atria
Cetakan: I, 2007
Tebal: 265
Harga: IDR 7,500 (Obralan Gramedia Matraman)
Award: Newbery Medal (1963), Sequoyah Book Award (1965)

Kalau memang benar buku ini mendapat Newbery pada 1963, maka buku ini ada pada masa balita ibu saya. Sementara isinya tak dinyana, bikin saya sakit kepala luar biasa. Saya tidak perlu meminta maaf ya jika saya tidak (baca: kurang) mengerti dengan detil-detil yang ada dalam buku ini. Dan kemudian kalian berkata: toh ini hak kamu untuk mengerti atau tidak.

Novel ini bercerita tentang dua kakak beradik Meg dan Charles Wallace yang berpetualang hingga ke luar bumi demi mencari ayahnya. Oh ya, tak lupa mereka ditemani oleh Calvin O'Keefe, anak lelaki yang menjadi kakak kelas Meg di sekolah. Petualangan mereka adalah bercampur antara perasaan kengerian dan takjub. Sebelum, ketika dan sesudah petualangan, banyak pertanyaan yang mendayu-dayu dalam pikiran pembaca menurut saya, atau jangan-jangan cuma saya seorang yang ndak mudeng sama kecanggihan isi yang ditawarkan Madame Madeline disini?

Apa saja pertanyaan saya itu?
Well pertama adalah tentang Tesseract. Saya tahu konsepnya, ada kubus dengan titik yang saling berhubungan dalam bangunannya. Tapi kalau dibuat dalam konsep waktu itu bagaimana ya? Jadi kita bepergian ke tempat yang jauh dengan cara mengkerutkan waktu lewat tesseract? Itu bagaimana ya? Jujur saya mencoba membayangkan ini dalam kehidupan nyata, seperti saya membayangkan teleport.

Kedua lagi soal Tesseract.

Ketiga masih soal Tesseract!

Keempat, mari lanjut review. Petualangan kedua remaja (Meg dan Calvin) dan satu anak kecil yang sudah dewasa sebelum waktunya dan kelewat pintar (Charles Wallace) ini benar-benar rumit. Mereka dipandu oleh 3 makhluk yang mungkin termasuk jenis makhluk luar angkasa, sebangsa bintang dan matahari, yang menyamar sebagai manusia. Mereka bernama Mrs. Who, Mrs. Whatsitt dan Mrs. Which. Mereka semua tampak aneh dan memiliki ciri khas masing-masing. Dan merekalah yang memberi petunjuk (lebih tepatnya setengah teka-teki) kepada ketiga anak itu bagaimana menyelamatkan sang ayah dari cengkraman ITU di planet Camazot.

Ketika mereka, para anak-anak, tiba di Camazot, ada sergapan rasa ngeri dalam diri saya. Thriller? Bukan. Tapi lebih kepada keseragaman yang diterapkan di planet tersebut. Semua gerakan para penduduk yang ada disana sama. Tidak sekedar sama, namun ketepatan waktunya pun sama! Astaga. Seolah ada mesin yang mengatur para manusia itu. Penduduknya manusia lho, bukan robot! Disini, Madeleine mencoba menggambarkan betapa mengerikan dan tidak bebasnya jika keberanekaragaman yang ada dalam suatu negeri diberangus dan dijadikan seragam hanya agar mereka tidak memberontak.

Dan anak-anak kecil itu mencoba menghancurkan konsep itu. Mereka mengatakan bahwa keberanekaragaman adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan.
"Aku berbeda dan aku bahagia," Calvin berkata. (h. 178)

Ada reviewer yang bilang, bahwa buku ini merupakan hasil dari keyakinan dari agama sang penulis. Ya, mungkin memang ada kaitannya dengan nuansa reliji yang ditawarkan penulis. Seperti yang terungkap dalam kalimat Mrs. Who yang senang berbahasa Perancis:
"Que la terre est petite a qui la voit de cieux! Delile. Betapa kecilnya bumi bagi dia yang melihat dari surga." (h. 110)
Ya, apapun itu, apapun pendapat orang tentang buku ini, saya rasa mayoritas setuju dengan konsep yang ditawarkan Madeleine disini. Meskipun ia membuatnya menjadi lebih rumit dan 'menyenangkan'. Tapi sayangnya akhir cerita ini terlalu simpel buat saya. Tiba-tiba saja mereka bisa langsung pulang ke rumah setelah Meg menyelamatkan Charles. Lalu? Dan? Ahh, setelah sekian panjang saya membaca proses dan petualangan yang bikin saya mikir, jadi cuma ini saja akhirnya?

Dan itulah (mungkin) mengapa harga buku ini yang jatuh di obralan (awalnya terbit seharga > 30k, dan ketika saya beli harganya menjadi 7,500!). Karena isinya agak sukar bagi sebagian pembaca (atau mungkin cuma saya) sehingga mereka tidak tertarik untuk membaca buku sejenis ini lama-lama.

***
Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 5 oleh Bzee dan New Authors RC 2013  oleh Ren.

Kilas Buku: Geometri Bangun Datar (Asyik Belajar Matematika, #6)


Geometri: Bangun Datar (Asyik Belajar Matematika, #6)
By. Kim Rin
183 halaman
Bhuana Ilmu Populer, 2009
 
Serial Asyik Belajar Matematika #6 ini bercerita tentang petualangan Abu bersama Alexander Agung. Lalu apa hubungannya dengan matematika? Jadi ceritanya Abu menjadi teman Alexander kecil, belajar dan bermain strategi perang bersama. Dalam pelajaran yang menghadirkan Arisoteles sebagai guru, masalah bangun datar sering dibicarakan. Bahkan dalam bermain strategi perang, bangun datar pun ikut andil. Maka, cerita dalam educomic kali ini menyisipkan sejarah-sejarah zaman dulu yang terkait dengan bangun datar, dan tentu saja penjelasan lebih lanjut tentang bangun datar.
 
Yang menarik adalah ketika puncak perang Alexander Agung melawan Darius, raja Persia. Raja Siluman Matematika sempat membuat inkarnasi Alexander Agung dan Abu harus memecahkan mana Alexander Agung yang asli untuk menghindarkan raja tsb dari luka perang.
 
Semakin menarik petualangan Abu? Semakin seru juga teori matematika yang dipelajari. :) Maka tak heran buku ini cocok sebagai bacaan anak SD mulai kelas 3-4.
 
Ulasan ini diikutsertakan pada FYE Children Literature Fun Month: 3 oleh Bzee.

Kilas Buku: Segitiga Siku-Siku Pythagoras (Asyik Belajar Matematika, #2)


Asyik Belajar Matematika #2: Segitiga Siku-Siku Pythagoras
By. Kim Rin
224 halaman
Bhuana Ilmu Populer, 2007

Akhirnya, saya berhasil menemukan buku serial Asyik Belajar Matematika jilid 2 di shocking sale Gramedia Matraman dengan harga kurang lebih 15,000 saja! Padahal harga aslinya itu sekitar 65,000 - 75,000 lho! Mantap ga tuh. Sayangnya saya belum lagi menemukan serial jilid ketiga sehingga koleksi saya masih kurang 1 jilid dari koleksi lengkap berjumlah 8 jilid.

Lalu, bagaimana kelanjutan cerita Abu yang berpetualang bersama Thales di jilid 1? Ya dalam serial lanjutan di jilid kedua ini, Abu akan berpetualang dengan salah satu murid Thales, yakni Pythagoras. Ia bersama Peri Kecil dan teman-teman lainnya harus berpindah waktu ke masa Yunani kuno dimana masa Pythagoras hidup. Ketika itulah Abu dan sahabatnya Xiao Chun berhasil menjadi inspirasi bagi guru Pythagoras dalam menemukan teorinya yang sangat terkenal hingga kini, yakni Teorema Pythagoras. Namun, setelah Pythagoras berhasil menemukan rumus siku-siku tsb, muridnya yang bernama Hippasus menemukan teori yang menjatuhkan teori pythagoras yakni dengan menemukan adanya bilangan irrasional. Selama ini Pythagoras selalu mengagungkan bilangan rasional yang menjadi segala kunci teori, dan kemudian teori dengan bilangan rasional harus runtuh. Anehnya, tak lama setelah Hippasus menemukan teori yang menjatuhkan Pythagoras tsb, ia terbunuh.

Pada saat itulah Abu berusaha membuktikan hipotesa Hippasus dan bagaimana pembunuhan terhadapnya terjadi.

Well, sekali lagi membaca novel grafis yang satu ini tidak hanya membawa kita berpetualang mengarungi dunia rumus matematika namun juga sejarah penemuan awalnya. Buku ini cocok dibawa oleh anak-anak SD mulai kelas 3-4 SD.

Ulasan ini diikutsertakan pada FYE RC Fun Month 3 oleh Bzee.

Kilas Buku: Müller hoch Drei – Petualangan si Kembar Tiga


 
Müller hoch Drei - Petualangan si Kembar Tiga
By. Buckhard Spinnen
Gramedia Pustaka Utama, Desember 2012
264 halaman
 
"Umur kita belum empat belas. Kita dua anak yang terbuang atau nyaris terjual. Yang kita butuhkan adalah keluarga sungguhan. Orang yang memaksa kita makan makanan sehat. Orang yang mencucikan pakaian kita dan membujuk kita memakai pakaian yang tidak cool, supaya jangan sakit. Dan orang yang menjelaskan kepada kita kenapa melanjutkan sekolah lebih baik daripada mendaftarkan diri ikut casting acara pilihan bintang." (Spinnen, Petualangan si Kembar Tiga: halaman 119 - 120)


Buku ini bercerita tentang si kembar tiga yang bertualang mencari orang tua yang tepat bagi mereka. Pada awalnya mereka sendiri tidak tahu jika mereka adalah kembar. Namun berkat seorang hacker, semua kehidupan berubah. Kejadian demi kejadian yang tidak diduga terjadi begitu saja, seperti bertualang. Hingga pada akhirnya mereka menyadari jika memiliki tujuan yang sama, yakni memiliki keluarga utuh dengan orang tua yang sangat perhatian terhadap anak-anaknya.
 
***
 
Pertama kali bertemu dengan buku ini yakni di sebuah pusat perbelanjaan di seberang kantor. Beruntung saya langsung mengambil buku tsb tanpa ragu, apalagi jumlahnya hanya sebuah. Diterbitkan tidak sampai setahun dengan harga miring pula. Ditambah saya punya feeling bagus terkait buku ini. Dan benar saja, Petualangan Si Kembar Tiga menjadi satu-satunya buku yang langsung habis saya baca dalam hampir 3 minggu terakhir ini. Bahkan saya menghabiskannya hanya dalam waktu satu hari di tengah nuansa yang selalu hectic!
 
Lalu kemana saja saya selama tiga minggu? Tidak membaca? Ya saya membaca, namun tidak selalu habis. Saya baca 5 buku sekaligus dan belum selesai dalam 3 minggu ini. Entah, mungkin cerita-ceritanya membuat saya cepat bosan (padahal sebenarnya buku yang saya baca buku-buku berating tinggi). Jikalau saya mempublish ulasan buku-buku dengan cepat karena itu sudah terjadwal, dan bukan karena saya baca langsung pada waktu yang sama.
 


Saya senang dengan cerita si kembar Paul, Paula, dan Pauline Muller ini. Sang penulis tampaknya sangat menikmati cerita yang dibuatnya. Alurnya lancar dan kocak. Gaya Spinnen menulis agak blak-blakan dan apa adanya. Dengan berbagai sudut pandang si tokoh, Spinner berkali-kali mengkritik gaya asuh orang tua dan menyinggung bagaimana perasaan tertekan seorang anak jika harus menghadapi perceraian orang tuanya. Selain itu kritikan Spinnen juga ditekankan kepada sinetron yang ceritanya hanya berputar pada percintaan dan .... sering tak masuk akal. Secara tak langsung buku ini berbicara tentang sinetron yang tak bagus bagi kesehatan jiwa para penonton khususnya anak-anak.

Akhir kata, saya memberi 4 bintang pada buku ini. Pun buku ini cocok dibaca anak usia 10 tahun. :)

Ulasan ini diikutsertakan pada FYE; Fun Year Event with Children's Lit: Fun Month 3 oleh Bzee dan New Authors RC 2013. Bagi yang ingin ikut serta silakan lihat syarat dan ketentuan disini dan disini.

Berjalan di Atas Cahaya by Hanum Salsabiela, dkk

Saat mengetahui Hanum Salsabiela menelurkan karya baru setelah 99 Cahaya di Langit Eropa, saya termasuk yang excited untuk membaca buku terbarunya. Pengalaman membaca 99 Cahaya di Langit Eropa yang sarat dengan pengetahuan tentang sejarah Islam di ranah Eropa, memberikan pengharapan yang besar bahwa Berjalan di Atas Cahaya juga akan memberikan kejutan-kejutan senada. Ternyata, ekspektasi saya […]

(45-Resensi Buku 2013-Mjeducation.co 26 Juli 2013) Panduan Menjadi Travel Writer Profesional

cover travel writer

cover diambil dari mjeducation.co

Judul : Travel Writer

Penulis : Yudasmoro

Penerbit : Metagraf

Tahun Terbit : Juli, 2012

Jumlah Halaman : 204 halaman

ISBN : 978-602-9212-44-0

 

Travelling mendadak menjadi hobi yang disukai banyak orang. Tak hanya itu, menuliskan kisah perjalanan pun mulai digemari orang. Ternyata, menjadi travel writer itu cukup menjanjikan. Karena bisa menghasilkan uang sekaligus jalan-jalan secara gratis pula. Siapa yang tidak mau mendapatkan kenyamanan dua kali lipat tersebut.

 

Namun, menjadi travel writer tidak semudah yang dibayangkan. Karena menjadi travel writer tidak hanya soal jalan-jalan sesuai hobi kemudian menuliskannya menjadi artikel. Sah-sah saja jika hanya ingin menjadi travel writer biasa kemudian diunggah ke blog. Tetapi tidak bagi freelancer di media semisal majalah National Geographicmisalnya. Travel Writer juga harus memperhatikan apa saja yang dibutuhkan oleh media yang dibidiknya, sehingga akan menarik hati sang editor.

 

Travel writer bukan hanya soal menulis, namun harus dikombinasikan dengan keahlian memotret. Menulis pun tidak asal menulis tetapi juga perlu memiliki pengetahuan jurnalistik. Menurut Yudasmoro, menulis artikel travel itu sama dengan membuat sebuah film dokumenter. Bedanya, kita tidak menghadirkan gambar bergerak dan karya kita tidak dipamerkan di gedung bioskop atau televisi (halaman 41).

 

Buku ini terdiri dari delapan destinasi. Destinasi pertama penulis mengenalkan apa itu travel writer. Dalam terjemahan langsung, travel writer bisa diartikan sebagai penulis wisata atau jurnalis wisata (halaman 3). Dalam buku ini penulis akan memandu untuk menulis travelling di media cetak (majalah), pengenalan pada konsep travel writer, dan panduan supaya tetap eksis di media sebagai travel writer profesional.

 

Dalam destinasi dua penulis memaparkan tentang jurnalisme sastra, jurnalisme naratif dan jurnalisme feature. Jurnalisme sastra adalah gaya jurnalistik yang mampu menghadirkan artikel yang terdiri dari olahan data yang sangat akurat, kemampuan mengoptimalkan bahasa dan alur cerita yang cenderung seperti tulisan novel. Sedangkan jurnalisme naratif adalah genre yang berkembang di Amerika Serikat dengan nama new journalism berusaha untuk menjembatani antara jurnalistik dan sastra yang sudah lebih dulu merambah di dunia jurnalistik. Perbedaannya, jurnalisme naratif lebih menyentuh masalah alur cerita, adegan atau plot. Sebagian orang menganggap tidak ada perbedaan antara jurnalisme naratif dan jurnalisme sastra, hanya berbeda sebutan saja. Feature adalah berita yang dikemas dalam bentuk cerita sederhana. Feature bisa digunakan untuk menulis tentang kehidupan sosial, human interest, dan gaya hidup. Karenanya, feature adalah dasar dari sebuah penulisan travel writing.

 

Pada destinasi ketiga, buku ini memaparkan tentang pengetahuan fotografi. Karena memang travel writer wajib mengetahui dasar-dasar fotografi agar mudah dalam melaksanakan tugasnya. Dengan semakin canggihnya teknologi kamera, maka itu akan semakin memudahkan travel writer memotret sesuai keperluannya. Nah,penulis juga menegaskan sebenarnya tak perlu memakai DSLR untuk menghasilkan foto yang bagus, cukup dengan kamera pocket, dengan kreativitas maka kita akan menghasilkan foto yang bagus. Untuk memudahkan buku ini pun memberi contoh foto-foto penulis yang bagus dan layak dinamakan dengan foto travel.

 

Tentang traveling sendiri penulis membahas di destinasi keempat. Pada bagian ini penulis menekankan bahwa traveling bukanlah melulu harus melihat air terjun yang lokasinya sulit dicapai. Traveling bukanlah mengendarai jip dengan pakaian macho menembus badai pasir dan traveling bukanlah sekadar pack your bag & hit the road (halaman 98). Penulis mengatakan bahwa traveling tidak bisa dipisahkan dari pariwisata, dan travel writer harus mengetahui bahwa pariwisata berarti industri dan industri berarti bisnis. Maka, tidak salah dikatakan bahwa menjadi travel writeradalah berbisnis. Maka, penulis berharap jangan sampai travel writer menelan mentah-mentah istilah let’s get lost. Karenanya, travel writer harus menyiapkan segalanya sebelum melakukan perjalanan. Tentang tujuan sepertinya sepele tetapi menurut penulis ini penting kita persiapkan sejak awal, agar di perjalanan menjadi mudah. Karena kita telah tahu ke mana akan melakukan perjalanan, seperti apa medannya, apa saja yang dibutuhkan dan sebagainya.

 

Hal-hal yang harus diperhatikan menurut Yudasmoro pertama adalah faktor cuaca.Travel writer harus mengetahui jika cuaca tidak baik misalkan hujan padahal rencana akan melakukan trip ke pantai dengan tujuan mendapatkan foto-foto yang indah. Maka perjalanan ke pantai saat itu lebih baik dibatalkan, ketimbang membuang tenaga, uang sia-sia karena kita tidak mendapatkan foto-foto yang diinginkan.

 

Kedua, musim liburan perlu diperhatikan oleh travel writer. Bagi banyak orang musim liburan adalah hal yang paling dinanti. Namun, tidak demikian bagi travel writer. Ketika liburan harga tiket bisa melambung dari biasanya, karena itu liburan bagitravel writer wajib diperhitungkan. Yudasmoro, memberikan alternatif agar kita tetap bisa eksis. Travel writing bukan hanya menulis perjalanan, tetapi juga bisa menulis profil sosok budayawan atau seniman. Bisa juga menulis tentang lenong betawi atau meliput komunitas sepeda fixie. Jadi, saat liburan kita bisa memanfaatkan yang objek-objek terdekat untuk ditulis, murah bahkan bisa gratis. Hal yang sama juga ketika bulan puasa dan dana terbatas, hal di atas bisa kita lakukan. Tambahan dari Yudasmoro, kekurangan dana bisa dikonsultasikan dengan pihak media apakah bisa membayar lebih tinggi atau tidak. Jika ya ambil saja, jika tidak atau hanya sebatas memberi kupon diskon dan hotel jangan diambil. Lebih baik ditunda, menunggu ada uang atau media yang bersedia membayar mahal. Perlu diingat oleh seorang travel writer: travelling is a business, not a vacation (halaman 105).

 

Menulis perjalanan bukanlah sekadar menuliskan perjalanan yang kita lalui, tetapi juga harus dengan berbagai teknik. Seperti dengan gaya bahasa yang menarik. Yudasmoro, membahas tuntas hal ini dalam destinasi kelima dengan contoh-contoh yang bisa kita pelajari dan langsung praktik menulis sesuai panduan yang diberi penulis.

Dalam destinasi keenam baru penulis memaparkan materi lengkap tentang menulis perjalanan. Bagaimana memulai tulisan, bagaimana membuat judul, bagaimana mengumpulkan data bahkan juga bagaimana mengirimkan tulisan? Buku setebal 204 halaman ini pun dilengkapi dengan contoh tulisan perjalanan penulis yang pernah dimuat di berbagai media di destinasi ketujuh. Menjadi travel writer berarti kita juga harus siap dengan deadline dari editor. Kita harus disiplin pas waktu, karena jika tidak begitu, maka kita tidak akan dipercaya lagi dan bisa saja jobs berikutnya bukan milik kita lagi. Sangat disayangkan bukan? Yudasmoro membahasnya di destinasi kedelapan.

 

Maka tak salah bagi Anda yang tak hanya ingin menjadi travel writer biasa untuk membaca buku yang masih langka di Indonesia ini, dengan memahaminya dan melakukan praktik terus-menerus pasti nantinya akan profesional seperti penulis buku ini. Semoga!

 

#link http://mjeducation.co/panduan-menjadi-travel-writer-profesional/comment-page-1/#comment-3723


Filed under: Buku Yang Sudah Dibaca, Catatan, Inspirasi, Inspiratif, Kepenulisan, Mjeducation.co, Non Fiksi, Resensi Buku, Tips, Travel Writer, Travelling (Cacatan Perjalanan) Tagged: buku, metagraf, nonfiksi, perjalanan, tiga serangkai, travel writer, yudasmoro