Kretek Indonesia

Ulasan rokok kretek asli Indonesia

Judul buku: Kretek Indonesia: Dari Nasionalisme hingga Warisan Budaya
Penulis: S.Margana dkk
Halaman: 316
Penerbit: Kerjasama Jurusan Sejarah UGM dan Puskindo (Pusat Studi Kretek Indonesia)


Rokok kretek legenda Indonesia
Buku ini saya beli ketika menghadiri peluncuran buku tersebut beberapa waktu lalu di Perpustakaan Pusat UGM. Judul buku ini sangatlah menarik sehingga saya memutuskan untuk bisa membaca isinya lebih lanjut. Melihat sisi nasionalisme sampai warisan budaya dari rokok kretek. Nilai lebih dari buku ini adalah tulisan riset akademisi yang dituangkan ke dalam format buku populer. Bahasanya sederhana tidak terkesan ilmiah membuat buku ini nyaman dibaca oleh masyarakat umum. Tim penulis dengan baik menelusuri sejarah rokok kretek lewat riset dan juga menjelajahi daerah pabrik kretek untuk observasi lebih dekat dengan para pelaku di lapangan.

Buku dengan sampul daun tembakau yang menonjol dan dibawahnya sosok grader yang sedang mencium aroma bahan baku rokok kretek. Buku ini terbagi menjadi tiga bagian besar, bagian pertama buku ini membahas Kretek, Nasionalisme dan Kemandirian Ekonomi. Pada masa kolonial, bangsa penjajah dapat merauk keuntungan luar biasa dari negeri Indonesia dari rempah-rempah. Industri kretek yang lahir pada jaman tersebut merupakan bentuk simbol perwujudan perlawanan ekonomi bumiputra terhadap ekonomi kolonial.

Suasana kerja di pabrik kretek
Bagian kedua membahas Kretek: Dimensi Sosial dan Budaya. Disini penulis mengulas kontribusi kretek dan kesejahteraan rakyat. Dari Kontribusi industri kretek bagi keamanan bangsa ketika masih terjadi agresi militer oleh Belanda hingga dana CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai imbal balik perusahaan rokok kepada masyarakat di berbagai bidang.

"Kretek adalah kebanggan warga Kudus dan bangsa Indonesia." (hal 194)

Rokok kretek sebagai warisan budaya merupakan alasan saya ingin mengetahui isi buku ini penulis merujuk pada karakter kretek yang menjadi produk kekayaan intelektual warga Kudus yang terwariskan secara turun-temurun. Karakter tersebut yang pertama adalah ramuan tembakau plus cengkeh (Blend tobacco and clove). Hal inilah argumen terkuat untuk mengatakan kretek adalah warisan asli Indonesia yang tiada duanya. Racikan rahasia di tiap perusahaan merupakan bahan bakar yang terus membuat industri kretek terus berjalan. Rasa kretek yang istimewa untuk dinikmati karena adanya takaran tertentu antara cengkeh dan tembakau dengan kualitas pilihan. Setiap pabrik memiliki komposisi tersendiri yang membuat cita rasa masing-masing merek rokok berbeda dan memiliki penggemar fanatik. 

Faktor kedua yaitu perisa/saos perasa (Tobacco Flavour), ketiga adalah Mbatil, Giling, dan Nglinting rokok ketiganya adalah ketrampilan khusus para pembuat rokok kretek. Nglinting itu pekerjaan membentuk kerucut kretek dengan alat contong, besut serta tali untuk rokok klobot. Nglinting inilah yang membuat sigaret kretek tangan (SKT) tetap masih dinikmati banyak orang. Lintingan tangan akan menghasilkan cita rasa rokok yang berbeda dari sekedar diproduksi dengan mesin. Mbatil sendiri adalah kegiatan merapikan dua ujung kretek yang sudah dilinting dengan gunting., keempat adalah pelepah dan keranjang pisang, terakhir adalah grader: sang penjaga kualitas kretek. Bagian terakhir adalah esai-esai kebudayaan yang melengkapi puzzle dari rekaman tulisan yang telah dibuat.
Kerjasama dan ketrampilan membuat kretek

Buku yang layak untuk dibaca bagi pecinta rokok kretek, penyuka sejarah Indonesia, mahasiswa jurusan sejarah, anda yang tertarik dengan kekayaan budaya bangsa ini.

Da Conspiracao (De Winst #3)

Perjuangan Indonesia Melawan Penjajahan Dalam Novel

Judul : Da Conspiracao
Penulis : Afifah Afra
Editor : Mastris Radyamas
Penerbit : Afra Publising-Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit : Pertama, November 2013
Jumlah Halaman : 632 halaman
ISBN : 978-602-8277-66-2

cover da conspiracao

cover da conspiracao

Peresensi : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious.

Setelah sukses dengan dua novel De Winst dan De Liefde, Afifah Afra melanjutkan kisah RM Rangga Puruhita dalam novel yang berjudul Da Conpiracao. Jika sebelumnya kedua judul novel berbahasa Belanda, sekuel ketiga berjudul bahasa Portugis. Hal ini karena setting dalam novel ini di Flores yang waktu itu daerah perebutan antara Portugis dan Belanda.
Diceritakan Rangga diasingkan ke Flores. Dia pun tetap berusaha berperan aktif dalam mengupayakan kemerdekaan Indonesia. Tidak seperti daerah lain, Flores tidak hanya ingin dikuasai oleh Belanda namun telah dikuasai oleh Portugis yang lebih dulu datang ke sana sebelum Belanda.

Namun begitulah Rangga, sebagai lelaki dia mudah sekali menyukai seorang perempuan yang ditemuinya. Padahal dia telah memiliki istri Kareen, selain juga dia masih memikirkan Sekar Pembayun. Dalam novel ini Rangga tiba-tiba menyukai Tan Sun Nio, saudagar Tionghoa kaya raya di Flores. Sebelum bertemu dengan Tan Sun Nio, Rangga sempat terpesona dengan Maria, pribumi Flores. Hal ini menjadi kisah yang turut membumbui intrik dan konspirasi yang ada dalam novel ini.

Konspirasi yang diceritakan dalam novel ini adalah oposisi antara kelompok bajak laut Bevy de Aquia Leste dengan Belanda. Kelompok bajak laut yang bekerja sama dengan pribumi dengan alasan mempertahankan tanah air dan menghalau penjajah ternyata bohong. Mereka pun ingin menguasai Flores. Pejuang pribumi semakin kesulitan karena lawan mereka bukan hanya satu namun dua.
Bajak laut membunuh beberapa tetua pribumi yang dianggap membahayakan bagi mereka. Sedangkan Rangga tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan dia ditawan oleh Bajak Laut. Dalam adegan-adegan inilah Rangga dan Tan Sun Nio semakin dekat, Tan Sun Nio yang menyukai tentu merasa senang.

Keunggulan novel ini menyajikan sejarah dengan begitu nyaman dibaca. Bahasa yang renyah. Namun, sayang ada kesalahan tulis dan EYD. Hal yang terpikirkan sejak awal adalah kenapa kok Rangga semakin ke depan menjadi semakin mudah mencintai wanita? Saya mencoba menjawab pertanyaan saya sendiri. Pertama, dia adalah keturunan trah biru. Sudah hal biasa bila trah biru memiliki banyak istri. Saya kok merasa penulis terinspirasi dari Soekarno yang begitu mudah mencintai wanita sehingga dalam hidupnya telah menikahi sembilan wanita. Kedua, dia jauh dengan istrinya, jadi hasrat sebagai suami pasti ada. Namun, untung saja dia bisa menahan.

Satu hal lagi yang kurang nyaman adalah catatan kaki yang ditaruh dibelakang. Menurut saya jika catatan kaki ditaruh di bawah tulisan langsung lebih nyaman tanpa harus membuka halaman lagi. Apalagi bukunya cukup tebal. Namun, dari kesemuanya novel ini sangat bagus dan layak dibaca. Silakan saja jika Anda penasaran :)
cover diambil dari sini

(29-Dimuat di Indoleader 22 Maret 2014)

 


Filed under: Buku Yang Sudah Dibaca, Fiksi, Indiva Readers Challenge (IRC) 2014, Indoleader.com, Inspiratif, Islami, Novel, Resensi Buku, Sejarah Tagged: afifah afra, buku, buku 2013, cinta, fiksi, flores, forum lingkar pena, indiva media kreasi, indiva reading challenge (irc) 2014, inspiratif, islam, keluarga, kisah inspiratif, konspirasi, motivasi, novel, penjajahan, pernikahan, pondok pesantren, resensi buku, review 2014, tionghoa

Soekarno’s Wife

Para Perempuan Di Balik Kesuksesan Putra Sang Fajar

                                                                       Judul                           : Soekarno’s Wife

cover Soekarnos Wife

cover Soekarno’s Wife

Penulis                         : Rachmat Darsono

Editor                          : Kaka Alvian Nasution

Penerbit                       : Buku Biru-Diva Press

Tahun Terbit                : Pertama, Februari, 2014

Jumlah Halaman          : 190 halaman

ISBN                           : 978-602-255-435-6

Peresensi                     : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Pecinta Buku Booklicious.

Sering kita dengar perkataan, “Di balik kesuksesan lelaki ada perempuan (istri) hebat di belakangnya.” Sepertinya perkataan itu tak salah, Soekarno Putra Sang Fajar mendapatkan kesuksesan bukan karena usahanya saja, namun juga karena ada support dan motivasi dari istri-istrinya.

Berbicara Soekarno, kita akan mengingat seorang yang gagah, tampan, pidato serta perkataannya yang menggelegar dan tajam menggerakkan. Seperti, perkataan “Bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Selain itu ternyata Soekarno juga seorang yang banyak memikat hati wanita bukan, tentu dengan alasan yang telah tersebut di atas, sekaligus Soekarno pun mampu membuat kata-kata yang melelehkan hati wanita atau biasa disebut romantis.

Dalam buku Soekarno’s Wife karya Rachmat Darsono disebutkan, Soekarno telah menikahi sembilan wanita. Mungkin darah bangsawannya yang membuat sang Bapak Proklamasi ini begitu mudah mencintai banyak wanita. Inilah sisi manusiawi Soekarno dibalik kharismanya yang gagah dan disegani para pemimpin lain. Bisa jadi ini adalah kelemahannya, terlalu mudah mencintai wanita yang ditemui.

Istri pertama Soekarno adalah Siti Oetari. Oetari adalah putri dari pahlawan nasional pemimpin Sarekat Islam, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Pada waktu itu Oetari masih berumur 16 tahun. Sedangkan Soekarno belum genap 20 tahun. Sebenarnya, Soekarno tidak terlalu mencintai Oetari karena telah menanggap anak Tjokroaminoto tersebut sebagai adik sendiri. Namun, karena adik Tjokro yang meminta Soekarno untuk menikahi salah satu anak pemilik rumah yang dia tempati tersebut (halaman 20).

Namun, sayang pernikahan mereka kandas karena Bung Karno harus pindah ke Bandung karena melanjutkan sekolah ke THS (sekarang ITB). Sedangkan, Oetari lagi menikmati masa-masa remajanya. Mereka pun berpisah.

Perpisahan dengan Oetari, ternyata membuat Soekarno bertemu dengan Inggit Garnasih. Walaupun Inggit adalah seorang janda, namun mampu membuat hati Soekarno luluh. Mereka menikah pada 23 Maret 1923 di Bandung. Saat itu umur Bung Karno 22 tahun dan Inggit 36 tahun.

Inggit memiliki posisi penting dalam hidup Bung Karno, karena telah menemani dia saat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Inggit adalah orang yang setia, tegar dan tabah. Ketika Bung Karno dipenjara di Sukamiskin Inggit selalu mengunjunginya. Membawa makanan ataupun buku-buku yang dipesan oleh Bung Karno. Dari buku-buku yang dibawa Inggit maka lahirlah teks pidato Soekarno yang berjudul Indonesia Menggugat.

Inggit berusaha menghidupi anak-anaknya sendiri, dengan membuka usaha kecil-kecilan seperti menjual BH, bedak, rokok dan menjadi agen sabun dan cangkul (halaman 50). Inggit selalu memotivasi Bung Karno agar bersabar dan menunggu masa lepas dari tahanan dan kembali memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Namun, pernikahan ini pun harus berakhir karena Bung Karno kembali mencintai wanita lain ketika diasingkan ke Bengkulu. Perempuan itu bernama Fatmawati, anak dari Hassan Din dan Siti Chadijah yang menjadi tokoh Muhammadiyah di Bengkulu kala itu. Dalam masa pengasingan Bung Karno menempati rumah Hassan Din. Dan ternyata Bung Karno mencintai anak Hassan Din, Fatmawati.

Ketika telah kembali dari Bengkulu, Bung Karno sering murung dan merasa kangen pada Fatmawati. Karenanya, dia ingin menikahi Fatmawati namun Inggit kurang senang dan meminta Soekarno mengembalikannya ke Bandung saja. Bung Karno yang waktu itu masih mencintai Inggit juga, hanya bisa mengiyakan saja.

Maka, menikahlah Bung Karno dengan Fatmawati pada bulan Juni 1943. Dari pernikahan ini lahir Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Fatmawati terkenal sebagai penjahit bendera pusaka merah putih yang ternyata telah dia jahit setahun setengah sebelum kemerdekaan (halaman 66). Dialah Ibu negara pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah kelahiran Guruh Putra 15 Januari 1953. Bung Karno meminta izin pada Fatmawati untuk menikahi Hartini. Fatmawati mengizinkan namun, dia tak mau dipoligami. Akhirnya, Hartini dinikahi di Istana Cipanas pada 7 Juli 1953. Bung Karno berjanji akan menjadikannya istri terakhir, karenanya Hartini memberikan seluruh kesetiaannya pada Bung Karno. Namun, ternyata Bung Karno menyalahi janjinya dan menikah lagi dengan Ratna Sari Dewi yang seorang Jepang (1961), Haryati (Mei 1963), Yurike Sanger (Agustus 1964), Kartini Manoppo (1959) dan Heldy Djafar (1966).

Semua wanita yang pernah ada dalam hidup Bung Karno memberikan dampak dan kontribusi bagi kehidupan Bung Karno dalam memimpin negeri ini. Bisa jadi darah birunya yang membuat Soekarno mudah tertarik pada wanita yang ditemuinya. Namun, paling tidak ini menjadi kelemahan yang ada pada sang proklamator yang juga manusia biasa. Buku yang sarat dengan pengetahuan, cocok dibaca siapapun untuk mengetahui siapa saja istri Putra Sang Fajar, kontribusi mereka terhadap Negara, dan kesuksesan Bung Karno dalam memimpin negeri. Selamat membaca!

Copy of PARA PEREMPUAN

dokumentasi pribadi

cover diambil dari fesbuk Diva Press

(28-Dimuat di Malang Post 30 Maret 2014)

 


Filed under: Biografi, Buku Yang Sudah Dibaca, Cinta, Indiva Readers Challenge (IRC) 2014, Indonesia, Inspiratif, Malang Post, Non Fiksi, Resensi Buku, Sejarah Tagged: buku, buku 2014, diva press, istri soekarno, nonfiksi, rachmat darsono, resensi buku, review 2014, soekarno

Pulang


Salah satu karya terbaik fiksi sejarah Indonesia




Judul Buku: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Halaman: 461
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)




Hal pertama yang mendorong saya untuk membeli dan membaca buku ini adalah karya Leila S. Chudori ini memenangi penghargaan literatur bergengsi Indonesia, Khatulistiwa tahun 2013. Namun buku ini mencuri perhatian saya lewat artikel-artikel di media. Salah satunya rubrik People di harian The Jakarta Post yang menampilkan sosok sang penulis. Sebagai insan penikmat sastra Indonesia, terbersit saya harus membaca karya tersebut. Bagi saya ini adalah bacaan yang harus dinikmati dan diapresiasi. Sungguh, Pulang adalah ulasan sejarah yang dinarasikan dengan elegan, memukau.

Di novel pulang, penulis ingin mengungkapkan bagaimana tidak nyamannya menjadi seseorang yang dicap sebagai "musuh negara". Hal ini merupakan sejarah kelam yang dirajah pada perjalanan bangsa Indonesia. Membaca buku ini merupakan sebuah kenikmatan tersendiri. Dengan cepat kita melahap halaman demi halaman, ibarat kita membaca majalah Tempo yang dinarasikan. Salut untuk penulis yang mampu meramu kisah yang tidak biasa ini dengan bumbu romansa yang pas. racikan tersebut membuat kisah dalam buku ini menjadi lebih hidup dan berwarna tanpa mengurangi esensi yang ingin disampaikan.

Pulang dibuka dengan sosok bernama Harnanto Prawiro. Dia hanya sosok manusia biasa dengan hasrat dan ideologi di benaknya, Di Jalan Sabang akhirnya datang penjemputan dan seakan kiamat bagi orang yang paling dicari-cari pasca 30 September 1965. Dirinya dibekuk dan dijadikan tahanan politik (tapol). Beranjak dari babak awal ini di bagian pertama kehidupan seorang pria bernama Dimas Suryo diceritakan dengan baik. Bagian kedua adalah potongan kehidupan seorang gadis cantik jelita blasteran indo-eropa bernama Lintang Utara. Bagian penutup menceritakan Segara Alam, aktivis mahasiswa yang berada di jantung reformasi Indonesia.

Dari sosok Dimas Suryo kita diajak berkelana mengikuti perjalanan hidup yang tidak mudah dari seorang korban malapraktek politik. Kegetiran akibat apa yang dialami Indonesia di tanggal 30 September 1965. Seolah jalan takdirnya, Dimas dapat lolos dari angkara murka pembasmian anggota partai berideologi komunis. Disini kita dapat merasakan bagaimana rasanya lepas jauh dari negara yang kita cintai, kampung halaman yang debu dan udaranya melekat kuat di relung hati terdalam. Bagimana jatuh bangunnya bertahan hidup di negeri orang bersama-sama orang terdekat yang kebetulan bernasib serupa. Di bagian pertama ini cerita yang disajikan penulis sungguh menyentuh. Penulis juga membawa penggalan sejarah Paris 1968 untuk dikecap pembaca. Sebuah momen pertemuan Dimas dengan pujaan hatinya di kota cahaya. Akhirnya untuk bekal bertahan hidup di negeri orang sekelompok eksil ini membuat usaha makanan. Perjuangan mendirikan sebuah restoran tanah air, menjadi duta bangsa lewat bidang kuliner. Bukankah ini hal yang membanggakan. Sejak bertahun-tahun lalu masakan luar biasa milik kita sudah dikenalkan lewat resto tersebut.

Cerita romansa Dimas menghadirkan Lintang utara, pada bagian ini kita diajak menyelami kehidupan seseorang yang memiliki akar Indonesia namun lahir besar di negeri orang. Di dasar hatinya ada tempat kosong yang hanya mampu diisi oleh I.N.D.O.N.E.S.I.A. Tugas akhir untuk membuat sebuah film dokumenter berisi sejarah kelam para keluarga korban 1965 membuat dirinya harus berangkat pulang ke negeri sang ayah. Disini kelak dia akan bertemu dengan seseorang yang memukau hatinya, para narasumber berharga, dan tokoh-tokoh dalam proses reformasi Indonesia. Di bagian pamungkas, kita melihat dan merasakan kehidupan dari sisi anak tapol. Mereka sejak kecil bertumbuh dalam trauma yang mengerikan. Dikucilkan merupakan makanan sehari-hari, garis takdir yang tidak dapat ditolak. semua hal pahit merupakan tempaan untuk hidup sebagai keluarga tapol. Disini kita dibawa menjadi saksi peristiwa sejarah kerusuhan Mei 1998 di Jakarta.

Membaca cerita ini membuka tabir dalam pemahaman saya, sebagai generasi muda kita tetap harus memandang ke belakang, berempati untuk setiap penderitaan yang dialami oleh keluarga yang semena-mena dicap sebagai tahanan politik. Di salah satu bagian, penulis hendak menyindir kami generasi muda bangsa dengan mudah melupakan dan tidak sedikit pun berniat menyelidiki apalagi mempelajari sejarah bangsa. Lewat buku ini saya amat yakin, para generasi YZ yang akrab dengan internet mulai gelisah dan timbul rasa penasaran akan sejarah itu mulai muncul dari dalam hati. Saya teringat perkataan salah satu presiden RI yang berkata kita jangan melupakan akar sejarah bangsa kita. Saya kemudian berpikir sejenak, topik yang diangkat di buku ini adalah salah satu akar sejarah yang dimaksud.

Pulang layak untuk dibaca oleh semua kalangan, baik pelajar hingga para pemimpin bangsa. Dari orang biasa hingga terkemuka di Indonesia. Penulis layak diapresiasi karena membawa sejarah Indonesia ke pentas yang lebih tinggi untuk dinikmati khalayak ramai. Buku ini menjadi duta kebudayaan Indonesia di Frankfurt Book Fair tahun 2015, lewat Pulang dunia luar bisa melihat sejarah kelam bangsa kita dengan cara pandang berbeda.

Perang Salib II 1148; Ancaman Di Damaskus oleh David Nicolle, Christa Hook




Judul                : Perang Salib II 1148: Ancaman Di Damaskus
Penulis             : David Nicolle
Illustrator         : Christa Hook
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia March 2011
Judul asli         : The Second Crusade 1148: Disaster outside Damascus
ISBN13            : 9789799103161
Edisi bahasa Indonesia
105 Hlm.

Jatuhnya county Edessa di utara suriah ke tangan kerajaan muslim memicu perang salib ke-2, memanaskan tidak hanya wilayah timur tengah tapi juga wilayah eropa barat daya (sekarang Portugal dan Spanyol) hingga daerah-daerah pagan di eropa utara. Pasukan di pihak agresor lebih terkoordinir, professional dan terdanai karena raja Prancis dan Jerman yang turut serta dalam misi ini, namun semua keunggulan itu justru berbanding terbalik dengan hasilnya. Sementara di timur tengah, yang pada peristiwa perang salib 1 kerajaan-kerajaan muslim terpecah belah justru memperlihatkan persekutuan yang kuat. Seljuk rum di utara yang sedemikian rupa menghambat laju raja Konrad menuju timur hingga memaksanya mundur dan bergabung dengan raja Louis. Gabungan antara Damaskus dengan segala elemen militernya bersama bantuan dari Zengi menggagalkan misi pasukan perang salib 2 ini merebut Damaskus.

Selain berbeloknya misi perang yang semula menyelamatkan county Edessa menjadi merebut Damaskus, misi ini tidak seluruhnya murni religius, begitu banya tumpang tindih kepentingan politik dan militer, ada banyak intrik bahkan gossip yang mewarnainya (hal. 79). Tumpang tindih kepentingan inipun tidak hanya terjadi di Negara-negara pengusung perang salib 2, tetapi juga diantara kerajaan-kerajan muslim saat itu, toh walau dalam bingkai jihad dan ikatan persaudaraan muslim, setelah berhasil mengusir pasukan salib, justru Zangi lah yang akhirnya melakukan pengepungan dan berhasil menjatuhkan Damaskus. Satu-satunya pihak yang selalu berada di tengah-tengah dua kutub kekuatan kerajaan-kerajaan kristen-islam dan hanya menjadi korban adalah kaum yahudi, mereka turut dibantai di yerusalem pada perang salib 1 dan kembali menjadi bulan-bulanan kekejaman di jerman dan prancis pada perang salib 2.
.

Perang Salib I 1096-1099 Penaklukan Tanah Suci, oleh David Nicolle



Judul                     : Perang Salib I 1096-1099,  Penaklukan Tanah Suci
Penulis                : David Nicolle
Illustrator            : Christa Hook
Penerjemah         : Damaring Tyas Wulandari Palar
Penerbit               : Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN13                : 978-979-91-0290-4
Vi + 109 hlm.; 17 cm x 24,8 cm, edisi bahasa Indonesia

“Perang Salib I 1096-1099, Penaklukan Tanah Suci “ merupakan buku pertama dari tiga buku tentang Perang Salib dalam Seri Medan Laga milik David Nicolle. Selain mengikuti alur kronologis, buku ini, bab-babnya merupakan elemen-elemen dalam sebuah peperangan yaitu berturut-turut adalah bab “Para Pemimpin yang Berhadapan,” Pihak-Pihak yang Terlibat,” Adu Rencana, dan bab terakhir adalah “Laga”. dilengkapi dengan ilusrasi kejadian dan personal effect para prajurit dan kesatria dari kedua belah pihak pada waktu itu sehingga dapat membantu pembaca memahami situasi yang coba dilukiskan oleh penulis. Adapula ilustrasi pergerakan medan tempur-medan tempur terpenting selama perang salib pertama lengkap dengan tahapan-tahapan peristiwanya.

Kaisar Byzantium Alexios I memainkan  rencana politisnya merebut kembali wilayah yang sempat lepas, dataran Anatolia yang tercaplok Seljuk Rum  setelah perang Manzikert. Dengan mengendarai pasukan yang berasal dari kerajaan-kerajaan di eropa barat  yang sesungguhnya memiliki motivasi religius yaitu mengikuti seruan Paus Urbanus II untuk melancarkan perang salib.

Dari uraian penulis sangat terlihat fanatisme menjadi sebuah motivator yang sangat baik, jauh mengungguli  teknologi maupun taktik  perang, terlebih pasukan-pasukan muslim Seljuk yang sepertinya tidak terkoordinasi, dan pada awal peperangan yang menganggap enteng lawan sebagai tidak lebih dari peziarah-peziarah miskin yang fanatis. Dinasti Fatimid di afrika utara yang sangat kuat pada waktu itu tidaklah membantu karena terbelahnya umat muslim antara kaum syi’i dan suni, walaupun memang pada akhirnya Fatimid terlibat dalam peperangan ini. Sungguh berbeda dengan kondisinya tentara salib yang bersatu-padu menggabungkan kekuatannya dari seluruh penjuru eropa, mulai dari priyayi hingga rakyat jelata. Penghianatan dan persaingan yang memecah-belah dalam kaum suni pun memperparah keadaan.

Sosok Pendidik dan Sahabat Terbaik Bagi Anak-anak





Judul Buku : Sahabat-sahabat Cilik Rasulullah (Athfal M’al-Rasul)
Penulis        : Dr nizar Abazhah
Penerjemah : Asy’ari Khatib
Penerbit    : Zaman
Terbit         : Cetakan Pertama 2011
Jumlah Halaman : 219 Halaman
ISBN           : 978-979-024-259-3
---------------------------------------------

Rasulullah memiliki posisi yang mengagumkan bagi anak-anak pada masa Beliau. Beliau menyayangi anak-anak kecil, mengajari dan membimbing mereka, tak segan memeluk dan mencium serta mengusap kepala mereka. Bahkan Beliau juga bercanda dan bersuka cita mengajak mereka naik unta dan juga memberi hadiah.

Kepada anak-anak, Rasulullah tidak pernah mencela jika mereka bersalah, tapi beliau mengarahkan dengan cara yang tepat.karena Beliau adalah Uswatun Hasanah, setiap sudut kehidupan beliau selalu menyimpan keagungan dan hikmah yang patut menjadi panutan.

Buku ini menggambarkan secara sempurna bagaimana seharusnya seorang ayah, ibu (atau orang dewasa manapun) bergaul dan memperlakukan anak-anak di sekitar mereka, agar kelak menjadi pribadi yang salih dan salihah di tengah masyarakat, sebagaimana anak-anak pada masa Rasulullah menjadi pribadi mulia dan 
alim ketika mereka telah besar.


Informasi tentang kisah anak-anak pada masa Rasul telah banyak yang hilang, hanya sebagian kecil yang tersisa. Namun sisa yang sedikit itu tergambar begitu banyak hal yang bisa kita ambil sebagai tauladan.

Diantara bocah-bocah yang hidup dan melihat langsung Rasulullah adalah sahabat Zaid bin Tsabit. Seorang anak berusia 8 tahun korban penculikan yang kemudian dijual sebagai budak kepada keluarga Khadijah, Istri Nabi. Di Rumah Nabi, Zaid tidak diperlakukan sebagaimana budak belian namun disayangi dan dididik seperti anak kandung. Sehingga saat ayah dan pamannya menemukan kembali Zaid dan hendak menebus agar bisa membawa pulang anak yang dirindukan mereka, Zaid kecil sudah bisa memilih untuk mengikuti Nabi daripada Ayahnya. Dia lebih memilih status menjadi budak daripada orang merdeka. Ayah dan paman Zaid sedih dengan keputusan itu namun juga bahagia karena yakin Zaid dirawat orang yang sangat tepat. Setelah itu Zaid dimerdekakan dan diangkat anak oleh Nabi. Kelak saat dewasa dia menjadi panglima perang yang tangguh dalam membela islam.

Ada lagi kisah Anas bin Malik. Dia berusia 10 tahun saat Rasulullah datang ke Madinah, kemudian sang ibu dengan penuh suka cita menghadiahkan putra kesayangannya itu kepada Rasul sebagai hadiah. Sang ibu ingin agar Anas kecil menjadi pelayan nabi dan bisa dekat dengan Beliau. Dan Rasululullah menerima hadiah itu dengan senang hati, Anas masuk dalam keluarga Nabi dan tumbuh dalam pengawasan langsung Beliau. tak ada rumah sebaik rumah Beliau. Nabi memperlakukan Anas dengan sangat baik sehingga dia menceritakan bahwa selama lima belas tahun melayani Nabi, belum pernah sekalipun Nabi membentaknya, baik di rumah maupun di luar rumah.

Selain anak kandung, anak-anak yang hidup dalam pengasuhan Nabi termasuk juga anak-anak tiri beliau. Mereka adalah : Anak-anak Khadijah, Anak-anak Ummu Salamah, Saudah dan Ummu Habibah. Tidak ada catatan dalam sejaran bahwa Nabi pernah memperlakukan mereka secara tidak layak. Bahkan Hindun, Putra Khadijah bisa menggambarkan betapa ia merasa disayangi Rasulullah selayak ayah kandungnya sendiri.

Buku ini diakhiri dengan rangkuman perilaku Nabi terhadap anak-anak untuk panduan orang tua dalam memperlakukan anak-anaknya. Buku perpaduan sejarah kehidupan Nabi sekaligus ulasan parenting yang layak dijadikan panduan bagi keluarga muslim ini cocok untuk dikoleksi dan dibaca berkali-kali, agar senantiasa menimbulkan kembali rasa cinta kepada Nabi Muhammad sekaligus terus berproses menauladani cara menjadi orang tua ala Rasulullah.(*)



Kilas Buku: Daughter of Fortune


Judul: Putri Keberuntungan
Judul Asli: Daughter of Fortune
Pengarang: Isabele Allende
Penerjemah: Eko Indriantanto
Genres: Historical Fiction, Romance
Penerbit: Gramedia, 2009 (pertama kali terbit 1999)
Paperback, 550 halaman

1849. Kabar tentang ditemukannya emas di California menyebar luas, melintasi batas-batas negara dan benua. Jutaan orang terjangkit Demam Emas. Para pemuda yang tergiur janji dan cerita-cerita tentang emas meninggalkan keluarga serta kekasih mereka tanpa pikir panjang. Daerah baru terbuka luas bagi para pendatang.

Eliza Sommers berusia enam belas tahun, jatuh cinta sepenuh hati, dan memulai perjalanan hidupnya. Meskipun belum pernah meninggalkan Valparaiso, Chili, Eliza memutuskan untuk mengikuti jejak kekasihnya yang berburu emas di California, ke daerah barat yang ganas. Dengan bantuan sahabat dan penyelamatnya, si dokter Cina Tao Chi'en, Eliza hidup di tengah masyarakat yang belum mengenal peraturan. Perjalanannya untuk mencari sang kekasih perlahan berubah arah, sampai Eliza harus memutuskan siapa cinta sejatinya. (goodreads)

Buku ini dibagi menjadi tiga bagian. Pertama, 1843 - 1848 yang digunakan penulis untuk memperkenalkan para tokoh utama (keluarga Sommers) dan detil sejarah Valparaiso, kota di Chile yang menjadi bagian dari cerita. Disini kehidupan Eliza dan bagaimana ia tumbuh besar dibawah pengawasan bibinya, Miss Rose dipaparkan.

Bagian kedua yakni tahun 1848 - 1849. Pada bagian ini setting cerita mulai beralih dari Valparaiso menuju Cina dan sejarah kekalahannya dari Inggris. Allende menceritakan tentang Cina karena ia bagian dari kisah hidup Tao Chi'en yang kemudian akan menjadi sahabat Eliza. Tentu saja ia juga menceritakan masa lalu si dokter Cina sebagaimana ia menceritakan masa lalu Eliza. Tak lupa California dijadikan bahasan tersendiri dalam bagian kedua ini. California, Kota yang pada awal perkembangannya merupakan kota bertabur emas, mulai mendapat banyak imigran sejak emas ditemukan pada 1849. Kesanalah orang-orang Chile termasuk Joaquin, kekasih Eliza pergi untuk menambang emas. Dan kesana pulalah Eliza pergi untuk mencari kekasihnya.

Bagian ketiga, tahun 1850 - 1853. Masa inilah masa-masa penentuan bagi Eliza untuk memperbaharui tujuan dirinya berada di California. Apakah ia akan tetap berada dalam keraguannya dan terus mencari kekasihnya ataukah ia akan menikah dengan dokter Cina sahabatnya? Pada bagian ketiga ini saya semakin dibuat penasaran dengan keberadaan Joaquin, apalagi sejak Jacob Freemont membuatnya tenar seolah-olah ia adalah legenda yang hanya dikenal namanya namun tidak pernah diketahui keberadaannya.

Yang saya sukai dari novel ini adalah gaya Allende yang sangat mendetil dalam menggambarkan bagian sejarah yang terkait dengan cerita. Sehingga secara tak langsung saya bisa sekaligus membaca sejarah Chile, Cina dan California.

Novel ini menunjukkan sisi feminimisme lewat karakter Eliza dan Rose Sommer dan juga Paulina. Mereka adalah perempuan-perempuan yang feminim, lemah lembut, tahu bagaimana bekerja sebagai perempuan namun mandiri. Kemandirian yang ditonjolkan inilah yang menunjukkan betapa mereka sanggup mengatur hidup mereka sendiri dan bahkan memberi pengaruh kepada orang-orang di sekitar mereka.

Saya suka buku ini. Tertarik membacanya? Yuk... :)


Ulasan ini untuk:
TBBR Mbak Maria
IRRC 2014 Sulis
Lucky No. 14 Mbak Astrid
New Author RC Ren
Posbar BBI Tema Oprah's Book Club

Muhammad Al Fatih 1453 by Felix Siauw

Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335] Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah Islam, kalimat yang disadur dari slogan Bung Karno ini, mungkin menjadi salah satu misi dari buku berjudul Muhammad Al-Fatih 1453. Buku ini […]

Ken Arok: Cinta dan Takhta

Jejak Hidup Sang Revolusioner

cover ken arok cinta dan takhtaJudul                             : Ken Arok: Cinta dan Takhta

Penulis               : Zhaenal Fanani

Penerbit                        : Metamind (Penerbit Tiga Serangkai)

Tahun Terbit                 : Pertama, 2013

Jumlah Halaman            : 536 halaman

ISBN                           :  978-602-9251-19-7

Peresensi                      : Muhammad Rasyid Ridho, Pustakawan-Koordinator Klub Buku Booklicious Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang

Setiap kali mendengar nama Ken Arok, maka pasti selalu yang kita pikirkan adalah Ken Dedes, Mpu Gandring dan Tunggul Ametung. Selain itu, streotipe seorang Ken Arok di mata masyarakat bisa dibilang negatif. Pencuri, begundal, pembunuh Mpu Gandring dan mengambil kerisnya, membunuh Tunggul Ametung dan merebut istrinya, Ken Dedes. Begitulah apa yang kita dapat dalam pelajaran sejarah di sekolah.

Lain halnya dengan novel karya Zhaenal Fanani ini Ken Arok: Cinta dan Takhta ini. Sebagai orang kelahiran Malang dia ingin mengubah streotipe negatif yang sudah melekat di nama Ken Arok melalui novelnya tersebut.

Ken Arok lahir sebagai anak “haram” perselingkuhan antara Ken Ndok yang merupakan istri Maharesi Agung Sri Yogiswara Girinata dengan murid sang Maharesi Gajah Para. Penyebab hal ini adalah sang Maharesi hingga saat itu sang Maharesi belum menggauli istrinya. Sebagai perempuan normal Ken Ndok tentu ingin sekali sentuhan kasih sayang seorang lelaki. Namun ternyata Gajah Para tidak mau bertanggung jawab dan Ken Ndok pun merasa bersalah kepada Maharesi lalu dia kabur dari padepokan dan melahirkan Ken Arok.

Namun Ken Ndok tidak mau merawat Ken Arok, dia ingin anak itu dirawat oleh alam. Dia menaruh bayi Ken Arok di Setra (Kuburan) dan ditemukan oleh seorang pencuri yang lagi beraksi bernama Ki Lembong. Setelah melihat ada lambing cakra di tangan Arok kecil, dibawa pulanglah Arok kecil dengan keyakinan akan membawa keberuntungan untuknya. Ki Lembong memberi nama Arok kecil dengan nama Temon. Tidak salah keyakinan Ki Lembong ternyata Temon memberinya keberuntungan, Temon pun selalu ikut mencuri bersamanya. Hingga suatu saat Ki Lembong ingin Temon pergi untuk mencari sejarahnya sendiri yang benar.

Temon pergi, berjalan tanpa tujuan kemudian bertemu dengan Bango Samparan seorang penjudi. Temon diganti nama menjadi Ken Arok oleh Bango Samparan. Saat berjudi Bango Samparan selalu mengajak Ken Arok dan selalu menang. Terus begitu. Kemudian tak hanya menjudi saja kebiasaan lama Ken Arok mencuri pun semakin menjadi. Dia biasa menjudi dan mencuri bersama sahabatnya Tita, anak kepala dusun Seganggeng. Karena perbuatan tidak baik itu keduanya dibawa ke padepokan Mpu Palot untuk belajar sastra dan silat. Sayang mereka berdua tidak kerasan dan kabur untuk tetap menjudi dan mencuri.

Karena masyarakat resah karena aksi pencurian yang mereka berdua lakukan, akhirnya Kadiri memerintahkan Tunggul Ametung menjadi seorang Akuwu di Tumapel. Sejak itu Tumapel menjadi lebih sejahtera dan penjagaan ketat prajurit Tumapel yang menyebabkan perlahan yang meresahkan masyarakat hilang. Namun, bukan berarti Ken Arok dan Tita tidak mencuri lagi, bahkan mereka akan mencuri barang-barang di Pakuwon Tumapel.

Setelah melakukan aksi tersebut, mereka berpisah karena dikejar-kejar oleh prajurit Tumapel. Ken Arok sendiri ditolong oleh seorang yang misterius bernama Gendeng Panuntun. Ken Arok pun mengikutinya hingga Padepokan Dan Hyang Lohgawe. Ken Arok menetap di sana dan dididik oleh Dan Hyang Lohgawe.

Di tempat inilah yang menjadi titik balik Ken Arok yang dulunya seorang pencuri dan penjudi kini ingin berubah. Tumapel yang semakin sejahtera, namun mendapati keadaan yang pelik karena Kadiri memaksa Tumapel untuk menambah jumlah upeti. Hal ini juga memaksa Akuwu Tunggul Ametung pun memaksa meminta lebih kepada rakyat. Rakyat sejak dulu kurang suka dengan Tunggul Ametung karena kebiasaan buruknya, semakin benci karena upeti harus ditambah. Ditambah kebencian brahmana akibat masa lalu Tunggul Ametung yang membawa paksa Ken Dedes dari rumah Mpu Purwa.

Ken Arok kembali turun menjadi pencuri mengajak Tita, namun pencuri yang baik karena mencuri upeti yang akan dikirim ke Kadiri kemudian diberikan kepada rakyat lagi. Tumapel semakin kacau, ditambah semakin banyak konspirasi memperebutkan kuris Akuwu, baik dari luar Tumapel maupun dari dalam Tumapel sendiri. Hingga terjadi keributan yang mengakibatkan Tunggul Ametung dibunuh oleh para pembuat konspirasi dan hadirnya Ken Arok menjadi pahlawan yang dicintai oleh rakyat Tumapel.

Maka, keberadaan Ken Arok yang dari Zero to Hero, dari orang biasa menjadi seorang revolusioner adalah hal yang menarik dalam novel ini. Selain memang ada kisah cinta antara Ken Arok dan Ken Dedes, juga perempuan ketiga yang bernama Ken Umang.

Zhaenal Fanani menulis novel sejarah ini dengan baik dengan bahasa yang lugas dan mudah dicerna. Sebagai novel epik berlatar sejarah Jawa, namun tetap karena buku ini adalah novel tidak bisa menjadi pijakan sejarah yang pas. Tapi tentu perjuangan Zhaenal Fanani berdarah-darah mencari data dan waktu menulisnya yang lama pun harus pembaca apresiasi. Akhirnya, dalam buku ini masih ada yang misterius dan menjadi pertanyaan. Siapakah sebenarnya Gendeng Panuntun itu? Bagaimana keadaan Tumapel ketika Ken Arok menjadi Akuwu? Seperti kata Zhaenal, buku ini akan ada sekuelnya. Maka sebelum sekuelnya terbit alangkah baiknya Anda membaca novel ini lebih dulu. Sebuah novel yang layak dibaca oleh siapa saja, terutama orang Malang dan sekitarnya, agar mengetahui sejarah daerahnya sendiri.

Resensi Ken Arok di Tribun Jogja 16 Maret 2014

Resensi Ken Arok di Tribun Jogja 16 Maret 2014 (dok. pribadi)

gambar diambil dari sini

(25-Dimuat diTribun Jogja 16 Maret 2014)


Filed under: Fiksi, Indiva Readers Challenge (IRC) 2014, Lokalitas, Novel, Resensi Buku, Sejarah, Tribun Jogja Tagged: buku, buku 2013, cinta, fiksi, indiva reading challenge (irc) 2014, inspiratif, ken arok, ken dedes, konspirasi, mpu gandring, novel, review 2014, singosari, tiga serangkai, tumapel, zhaenal fanani