Barcelona Te Amo, Masih Ada Sketsa Rindu Untukmu

Judul               : Barcelona Te Amo
Pengarang       : Kireina Enno
Penerbit           : Bukune
Tebal               : 266 halaman
Sumber            : pinjam dari Mbak Lis
Sinopsis :
Tadinya, musim panas selalu muram.
Lalu, dia datang dengan senyumnya yang indah, ketika waktu mendamba detik- detik yang hangat dari matanya. Entah bagaimana, hati Katya begitu dingin ketika menepis uluran tangan laki- laki itu.
Kesepian pun menghantamnya.
Sepanjang La Rambla, angin menepi.
Sayap- sayapnya membawa Katya menari di antara pilar- pilar Gothic Quarter yang sunyi.
Membangkitkan rindu kepadanya, seperti ombak kepada pantai yang menunggu.
Maka, di sinilah Katya berada kini.
Menyambut genggaman tangannya.
Di Placa de Catalunya, tempat merpati bercengkerama.
Ketika matahari menyinari Barcelona.
Dia bagai musim panas yang begitu indah.
Te amo,” pelan ucap Katya.
Akankah dia dengar?

Te amo siempre,
Kireina Enno

Review :
Katya kehilangan kedua orang tuanya sejak ia masih SD. Ia kemudian diasuh oleh pamannya, Prana Hadiningrat. Katya disekolahkan di sekolah yang sama dengan Sandra, sepupunya yang juga adalah anak tunggal Prana. Sifat mereka sangat bertolak belakang. Katya dikenal sebagai anak yang pandai dan berbakat. Sandra sangat sembrono dalam berbagai hal. Sandra kerap membuat masalah. Katya dan Evan lah yang selalu melindungi Sandra. Evan adalah sahabat mereka sejak SD. Mereka kenal karena saat liburan sama- sama mengunjungi nenek mereka di kota Malang.
Hingga ketiganya beranjak dewasa, masalah yang ditimbulkan Sandra semakin menjadi- jadi. Salah satunya ialah mengutil di mal. Biasanya Evan yang akan membayar barang- barang yang sudah dicuri oleh Sandra. Katya selalu menyimpan rapat kebiasaan buruk sepupunya itu, tidak ingin pamannya bersedih dan kecewa.
Ternyata persahabatan mereka memunculkan percik cinta. Katya dan Sandra sama- sama menyukai Evan. Katya yang selalu mengalah kepada Sandra juga melakukan hal yang sama kali ini. Ia rela memendam perasaannya demi kebahagiaan Sandra. Maka, setelah lulus SMA, ia menerima tawaran pamannya untuk kuliah di Barcelona, mendalami kemampuan seni lukisnya.
Katya menjadi sosok yang tertutup dan pendiam setibanya di Barcelona. Kesehariannya ialah bekerja di galeri milik Maria dan Isidro, pasangan suami istri teman Prana. Pasangan itu sangat baik terhadapnya. Katya juga memiliki seorang sahabat bernama Lucia yang sangat mengerti dirinya. Perlahan ia mulai menata hatinya dan berusaha untuk melupakan Evan. Ia masih berkomunikasi dengan Evan dan Sandra – sesekali – untuk mengetahui kabar mereka.
Suatu hari, saat Katya sedang di luar bersama Lucia, galeri Maria kedatangan tamu. Tamu itu meminta untuk bertemu Katya secara langsung karena telah melihat lukisan dandelion milik Katya. Katya yang mendapat telepon dari Maria bergegas kembali ke galeri. Saat Maria memperkenalkan tamu itu sebagai Manuel Estefan, Katya masih tidak menyadari bahwa Manuel adalah kurator terkenal di Eropa yang sering dibicarakan. Katya baru sadar setelah Manuel pulang.
Manuel mengajak Katya untuk ikut serta dalam pameran lukisan. Berbeda dengan respon pelukis lainnya, Katya malah menolak. Manuel terus menerus meyakinkan Katya bahwa gadis itu sangat berbakat dan Manuel akan membantunya untuk mendapatkan inspirasi melukis. Katya setengah jengkel pada Manuel karena pria itu selalu terkesan memaksa – dan dingin.
Baik hari Katya maupun Manuel berubah setelah perkenalan mereka. Manuel yang tidak lelah membujuk Katya dan Katya yang selalu menolak dan mengatakan bahwa ia tidak bisa. Namun Katya akhirnya setuju untuk ikut pameran.
Di tengah kehidupan Katya yang sudah mulai teratur, Sandra muncul. Katya sampai terkejut dan tidak menyangka bahwa sepupunya akan menyusulnya ke Barcelona. Hubungannya dengan Evan telah berakhir. Meski tidak menyukai Katya, Sandra tetap tinggal bersama sepupunya itu. Sandra langsung  tertarik pada Manuel saat pertama kali bertemu dengan kurator itu. Dengan pesonanya, Sandra akan memikat Manuel. Duh, kali ini Katya tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan sepupunya yang selalu berterus terang itu.
Masalah bertambah ketika Evan tiba di Barcelona. Bukan untuk menyusul Sandra, tetapi untuk mengungkapkan perasaannya terhadap Katya. Sementara Katya sibuk mengkhawatirkan Sandra dan Manuel, Sandra seoleh tak peduli dan terus membuat masalah. Hingga akhirnya, bagaimana kejelasan hubungan keempatnya? Akankah Katya menerima Evan? Bagaimana dengan perasaannya terhadap Manuel yang sedikit banyak cemburu saat mengetahui kurator terkenal itu sering keluar bersama Sandra? Ikuti kisah selengkapnya dalam Barcelona Te Amo.
Placa de Catalunya. sumber : disini
Cinta dan persahabatan mendominasi isi cerita ini. Tidak seperti kebanyakan novel yang menceritakan kebersamaan tokoh dengan sahabatnya melulu,  novel ini memberi sedikit sentuhan berbeda dengan Katya yang mengalah dan memilih menyendiri.
Saya prihatin sekaligus kagum dengan Katya yang selalu saja ‘ditindas’ oleh Sandra dan sifatnya yang sangat sabar terhadap sepupunya itu. Sedangkan kalau melihat Sandra, bawaannya pasti emosi terus. Ini anak asli troublemaker banget. Sekali melihat saja pasti langsung tidak suka.
Mengikuti kisah ini menurut saya tidak mudah. Konfliknya tidak berat, hanya saja jadi sesak pas bacanya. Mungkin karena karakter Katya yang diciptakan penulis. Katya seolah memiliki dunianya sendiri, tertutup dan cenderung formal. Barulah saat semakin mendekati akhir cerita, saya kembali bersemangat. Tiga bintang untuk novel STPC yang satu ini. Teman- teman yang menyukai arsitektur dan seni Eropa boleh coba membaca novel ini, bakalan dibawa jalan- jalan sama Senor Estefan yang kece. He he.. Selamat membaca J

London : Angel

Judul : LONDON : Angel
Penulis : Windry Ramadhina
Editor : Ayuning & Gita Romadhona
Profreader : Jia Effendi
Desain Sampul : Levina Lesmana
Ilustrasi Isi : Diani APsari
Penerbit : GagasMedia
ISBN : 979-780-653-7
330 halaman, cetakan I 2013

Blurb :
Pembaca Tersayang,

Mari berjalan di sepanjang bantaran Sungai Thames, dalam rintik gerimis dan gemilang cahaya dari London Eye. 

Windry Ramadhina, penulis novel Orange, Memori, dan Montase mengajak kita menemani seorang penulis bernama Gilang mengejar cinta Ning hingga ke Fitzrovia. Namun, ternyata tidak semudah itu menyatakan cinta. Kota London malah mengarahkannya kepada seorang gadis misterius berambut ikal. Dia selalu muncul ketika hujan turun dan menghilang begitu hujan reda. Sementara itu, cinta yang dikejarnya belum juga ditemukannya. Apakah perjalanannya ini sia-sia belaka?

Setiap tempat punya cerita. 
Dalam dingin kabut Kota London, ada hangat cinta menyelusup.

Enjoy the journey,
EDITOR

Baca selengkapnya »

Elyta, Riawani. Setiap Tempat Punya Cerita FIRST TIME IN BEIJING

Rasanya seperti melihat sebuah keajaiban, setelah segenap harapanku untuk menemuinya kembali telah kusingkirkan sejauh-jauhnya.

Tahun terbit: 2013
Penerbit: Bukune
Edisi: Paperback, cetakan pertama, bahasa Indonesia
"Genre": Abroad-setting, Love, Culinaire
Terima kasih buat kak Yuska lagi karena saya bisa punya buku ini tanpa beli hasil event STPCnya tempoh dulu^^

Nostalgia kisah cinta semusim lalu bagi Lisa dimulai sejak kedatangan pertamanya ke Beijing, membawa rasa duka yang atas ketiadaan ibunya yang masih belum sepenuhnya pergi. Namun keluarga ayahnya yang baru di Beijing telah menunggunya, setelah sekian lama Lisa tak pernah lagi bertemu ayahnya akibat perceraian antara ayah dan ibunya.

Tidak mudah memulai hidup yang "baru" di Beijing bersama keluarga "baru" yang masih terasa asing baginya, tapi juga tidak disangka oleh Lisa bahwa ia diharapkan untuk sebuah tanggung jawab besar. Ayah lisa mengharapkan Lisa dapat meneruskan eksistensi Restoran Shan yang telah sedari dulu dikelola ayahnya. Lisa otomatis diharapkan untuk bisa memasak dengan baik; mengurus dapur, padahal selama ini Lisa tidak pernah diajari memasak.

Suasana "asing" yang dirasakan Lisa berhasil dinarasikan dengan atmosfir yang "terasa" - sendu tapi hangat, sepertinya gaya menulis kak Riawani cocok sekali untuk menggambarkan perasaan Lisa. Sebagai pembaca, saya cukup dapat membayangkan posisi Lisa yang berada di negeri asing, di tengah keluarga asing meskipun itu keluarga ayahnya sendiri. Bahkan dengan ayahnya sendiri terasa asing, canggung, dan "kaku" setelah lamanya mereka tidak pernah bertemu.

Meskipun memang ingin bisa memasak, "keharusan" Lisa untuk belajar memasak mengikuti "arahan" ayahnya terasa lebih berat karena harapan yang ditumpukan ayahnya, padahal diam-diam Lisa memendam keinginan untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Namun Lisa tidak punya banyak pilihan, ia adalah satu-satunya yang bisa diharapkan untuk meneruskan Restoran Shan.

"Keyakinanku dan keinginanmu. Itu sudah cukup. Tinggal lagi bagaimana kamu membuktikan bahwa kamu benar-benar ingin belajar."

Kerja keras Lisa untuk dapat belajar memasak dengan baik memang tidak mudah, namun Lisa ternyata memiliki keinginan yang kuat serta dukungan yang ternyata cukup didapatnya, terutama dengan keberadaan Daniel, salah satu koki "senior" di restoran ayahnya. Perlu dicatat di sini bahwa buat saya karakter Lisa juga cukup berhasil digambarkan kualitas-kualitas ketekunan dan kerja kerasnya oleh kak Riawani, sehingga karakter Lisa pun terasa cukup kuat juga kesannya dibandingkan dengan tokoh utama perempuan lain yang pernah saya baca dan saya ingat waktu lagi baca #... Otomatis, ya, antara lain saya jadi membandingkan dengan karakter Aline di STPC Paris yang belum lama saya baca, dan saya jauh lebih suka karakter Lisa daripada Aline ;).

Kembali lagi dikatakan, sepertinya hal itu juga karena pengaruh gaya penulisan kak Riawani yang sendu-sendu-hangat bak teh Oolong #apa untuk menggambarkan sudut pandang orang pertama dari Lisa yang karakternya juga emang semacam-lembut-hati. Namun demikian meskipun sebenarnya dia menghadapi tantangan cukup berat, dalam sosok Lisa masih tetap punya optimisme yang juga "hangat" sehingga buat saya tidak terasa lebay mengikuti sudut pandang Lisa^^. 

Aku percaya, impian adalah wujud prasangka manusia terhadap Tuhan. Suatu hari nanti, Tuhan pasti akan mendekatkan kita pada impian itu, sepanjang kita pun berusaha keras untuk meraihnya.

...tuh, kalimatnya ughu ya^^ Nah, tapi agak disayangkan bahwa rasanya "pas"nya kesan Lisa di sini seperti dibayar dengan "kekuatan" karakter utama lainnya yang lama-lama terasa "kabur" di sepanjang cerita. Daniel yang memang diceritakan bukan jenis yang "eksplisit" tentang maksud dan isi hatinya meskipun punya kualitas yang bisa "menolong" Lisa berjuang di dapur akhirnya terasa "kurang" porsi "insight"nya untuk membuat pembaca paham soal "siapa dirinya".

Begitu pula dengan sosok tokoh Alex, yang ditemui Lisa di restoran karena Alex adalah pemandu wisata asal Indonesia yang masih punya ijin tinggal di Beijing - meskipun punya kesan "santai-humoris" dan merupakan orang yang "berjasa" mengajak Lisa jalan-jalan di Beijing selain di dapur, akhirnya juga perannya di dalam cerita terasa kurang maksimal buat saya untuk membuat "dinamika".

On the fangirling note, tho, soal kedua cowok ini, I ENVY LISA DUDE AND I'D LIKE TO REPLACE THE L IN HER NAME WITH R so it become Risa #direbus =)) Saya sukaa sama penggambaran sikap Daniel dan Alex yang sama-sama kasih kesan yang "enak" buat Lisa dengan cara masing-masing. 

Setelah sekian lama meninggalkan tanah kelahiranku, baru sekarang kutemukan kembali kehangatan dan keceriaan sebuah hubungan persahabatan yang berlangsung dalam setiap detak hari. Tentu aku juga tak menganggap sepi persahabatanku dengan Alex. Namun Alex adalah sebuah situasi berbeda. Kehadirannya hanya sesekali, belakangan juga sudah mulai kian jarang. Tapi, ia ibarat kembang api yang mampu membuat suasana hatiku jadi lebih semarak setiap kali ia ada.

Meski demikian, menurut saya di sinilah sudut pandang orang pertama jadi memberikan sedikit "hambatan" karena dinamika "kisah cinta" yang disajikan "hanya" lewat sudut pandang Lisa, yang ternyata, ehem, buat saya memiliki semacam-kekurangan berupa entah-polos-atau-nggak-ngeh, tapi-gak-nyadar-kalau-ada-dua-cowok-yang-sebenernya-potensial-suka-sama-dia-lebih lol. Dampaknya saya jadi gemes-gemes geli kalau ngebaca gimana Lisa menanggapi momen-momen dengan salah satu atau dua pilih aku atau dia cowok itu dengan segala charmnya bagi Lisa dengan "keluguan" yang membuat saya pengen nampol terus bilang "NENG PLIS DEH GAK NYADAR APA"... Yasudahlah. Saya masih punya Luhan, dia kan juga dari Beijing #LHO


Nah, makanya begitulah, "gimana" sebenarnya Daniel dan Alex pada akhirnya jadi terasa kurang maksimal dan kurang memuaskan buat saya, meskipun kalau dilihat secara global, konflik romannya sudah tertutur rapi dan gak membosankan ataupun lebay dengan memertimbangkan fakta sotoy bahwa sebenarnya konfliknya tidak "baru". Sekali lagi aplaus deh untuk penulisan kak Riawani^^

Tambahan rada minor, "kurang terungkapnya dinamika personal karakter" ((ealah istilah awak ini apa)) sebenarnya tidak hanya terjadi pada Daniel dan Alex, tapi juga pada tokoh "antagonis" atau "rivalry" Lisa yang terasa masih dua-dimensional atau paper people (ihik, seneng bisa nyadur istilah-hasil-baca John Green #...). Soalnya saya termasuk orang yang berharap pada "unsur abu-abu pada karakter antagonis", sih.

Pada akhirnya dalam cerita ini, saya masih ingin bisa "memahami" karakter-karakter selain Lisa dengan harapan dan dugaan dan ekspektasi kalau harusnya ceritanya masih bisa diakhiri dengan lebih banyak "pengertian" dari penulis (?) tentang tokoh-tokohnya yang berperan di sana, pada pembaca karena entah bagaimana ending konflik romensnya terasa "sampai dengan sedikit terlalu cepat". Not that I am dissatisfied with the ending, in general.

Saya menduga hal itu mungkin terjadi karena porsi "perjuangan dapur" Lisa, yang menurut saya sukses menjadi "latar" yang gak tempelan dalam kisah di buku ini. Penggambaran kak Riawani soal lika-liku perjuangan dan kesibukan di restoran terasa memadai bagi saya dan ini bahkan melebihi ekspektasi saya (#...). Begitu juga dengan perkembangan penyesuaian Lisa dengan keluarga barunya di Beijing... Saya yang notabene punya soft spot sama interaksi antar-keluarga juga merasa terpuaskan dengan interaksi antar-keluarga-Lisa yang akhirnya bisa berkembang dari asing jadi hangat (?). Hha. Pertama kali membaca buku yang ditulis kak Riawani membuat saya ingin mencoba membaca kak Riawani yang lainnya^^

Primasari, Prisca. Setiap Tempat Punya Cerita – PARIS: ALINE

Tahun terbit: 2012
Penerbit: GagasMedia
Edisi: Paperback, cetakan pertama
"Genre": Abroad-setting, Love
Terima kasih ya kak Yuska yang udah kirimin buku STPC ini sebagai salah satu dari tiga buku dalam paket STPC hadiah even STPCnya waktu itu. Norak ya saya seneng amat ngeliat stempel "Buku ini tidak dijual" dan "Persembahan penerbit"nya, padahal di foto ini gak jelas keliatannya, ck.
Nama 'Aline' memang nama yang cukup bagus dan "cantik" untuk dijadikan judul yang mewakili kisah STPC yang ditempatkan di Paris sih ya. Konsep judul STPC keluaran GagasMedia yang "mutlak" menempatkan nama latar tempatnya di depan memang kayaknya membuat "kreasi" pembuatan judulnya jadi mengikuti agar terkesan gak meng-"overshadow" latar tempatnya dengan memilih kata yang irit, tapi tetap mewakili cerita yang dimuat.

Soalnya saya rasa memang bakalan agak gak lucu sih kalau judulnya misal Paris: Dari Pecahan Keramik, atau Paris: Misteri Pemuda Bagai Angin... OKE MAAF INTRONYA =)) but seriously, yah, saya pikir soal judulnya STPC itu menarik, dan khususnya yang Paris ini menariknya karena pakai nama tokoh utamanya untuk judul. Aline, dan "pemuda misterius bagai angin karena seperti kata Aline sendiri, suka tiba-tiba datang dan pergi", Aeolus Sena (dan omong-omong, Aeolus juga nama Dewa Angin bukan sih, fellow PJO fans? #halah) - keduanya bertemu karena pecahan hiasan keramik yang ditemukan Aline di Jardin du Luxembourg. Hiasan keramik yang sudah pecah itu ternyata asalnya dimiliki oleh si pemuda yang meminta tolong Aline mengembalikan padanya dengan janji-temu tengah malam di Bastille, bekas penjara yang konon angker.

Tanda-tanda kalau tokoh cowok ini nyebelin? Iya sih sebenernya, kalau menurut pandangan Aline yang gak-butuh-paparan-cowok-nyebelin lagi (tunggu, kenapa kesannya cowok jadi kayak sinar UV? Oke skip) setelah sukses dibuat patah-hati sama si Ubur-Ubur yang sama-sama kerja di bistro makanan Indonesia milik Monsieur Borodin. Terlepas dari gimana Aeolus Sena ini cukup bisa bikin Aline sebel dengan janji-ganjilnya, si Aeolus Sena ini ternyata memberikan kesan yang "gak biasa" setelah akhirnya Aline bertemu dengannya.

Tadinya, kupikir dia adalah penjaja keliling dari Montmartre. Lehernya penuh syal yang tampaknya dikumpulkan dari semua toko fashion di Paris, dengan beraneka ragam motif, dari yang polkadot hingga Lily of the Valley, menjulur hingga ke perutnya. Pakaiannya kedodoran, berupa sweter bergambar Big Ben dan celana panjang kargo. Kacamata bulatnya pun terlihat kebesaran. Tapi, senyumnya yang sangat lebar itu membuatku lupa untuk bersikap sinis.

Aline yang tidak membiarkan pemuda itu "lolos" begitu saja setelah membuatnya mengikuti janji-temu yang ganjil itu pun meminta agar tiga permintaannya dikabulkan. Jadilah, saat-saat Aline dan Sena yang dihabiskan bersama di Paris pun berlanjut dari janji-temu-ganjil itu. Aline jadi tahu bahwa gak hanya dari penampilan yang membuat Sena terasa berbeda, tapi juga dari sikap dan tindak-tanduk Sena yang berkesan seenaknya sendiri tapi juga ekspresif. Rasanya ada yang disembunyikan Sena di balik keseluruhan paket unik yang diperlihatkannya. Itu, ditambah lagi dengan bagaimana sikap Sena bisa membuat Aline kebingungan dan kepikiran (asek asek jos), apakah Sena akan menjadi masalah atau "hadiah" bagi kehidupan Aline yang sedang cukup down di Paris karena Ubur-Ubur dan juga "kejenuhan" terhadap "berada di Paris karena ambil S2 sesuai keinginan papa"? 

"... Nanti pasti kamu akan dapat yang jauh lebih baik.
Tetanggamu itu contohnya."

Musibah atau hadiah dari Sena nggak ada hubungannya sama kak Ezra, tetangga flat Aline yang selalu baik dan perhatian. Bahkan saat Sena ilang-ilangan tak jelas nan penuh misteri serta bertingkah yang senada (#...), kak Ezra akan selalu siap mendengarkan Aline. Widih, sosok karakter Ezra ini emang terasa "abang idaman" banget karena pembawaannya yang tenang bikin ayem. Mau sih ya pesen yang kayak gitu ((PESEN KATANYA)). Meskipun demikian, kenapa juga ya kak Ezra dan Sena sering terlihat membicarakan sesuatu dengan agak sembunyi-sembunyi agar Aline tidak tahu? Apakah ada hubungannya dengan sikap perhatian yang ditunjukkan kak Ezra pada Aline selama ini?


Yehe, yehe, saya pribadi memutuskan untuk menyukai kedua karakter cowok yang dihadirkan kak Prisca di sini setelah benar-benar membaca bukunya^^. Kedua karakter punya kekhasan masing-masing dan berperan beriringan dengan cerita untuk membuat keseluruhan buku ini enak dibaca - mungkin karena halamannya yang gak terlalu tebal juga kali ya? Kisah Aline jadi punya warna tersendiri dengan kedua hommes (maksudnya "laki-laki" dalam bahasa Prancis kalau saya gak salah tata bahasanya) yang seperti bisa mendukung sifat Aline yang merasa inferior dan mudah "ribut" sama hal-hal yang sebenernya sepele (sedikit mengutip perkataan Sena dan kak Ezra di sini).

Buku ini saya "lahap" dengan cukup mulus juga karena penceritaannya yang ringan dan karena charm Sena-Ezra yang berhasil ditampilkan kak Prisca di sini. Meskipun belum pernah baca novel yang ditulis Kak Prisca sebelumnya, tapi untuk cerita yang ini secara memuaskan bisa dikatakan bahwa Kak Prisca bisa membuat cerita yang cukup berdasar untuk menguatkan dinamika (?) yang dimiliki tokohnya, meskipun buat saya untuk tokoh kak Ezra rasanya masih bisa dikembangkan lagi^^a. Simply because I want more of him to be told, hehe, tapi rupanya kak Prisca sudah menuliskan semacam cerita-pendek spinoff tentang Sena dan Ezra lho di blognya^^

Secara keseluruhan, saya gak protes kok sama cerita yang dimuat di buku ini, tandanya cerita ini sudah bisa saya terima dengan "akal-hati" saya. Meskipun kadang sih ya, penarasian Aline terasa agak terlalu hiperbol ketika menggambarkan situasi tertentu atau suasana hatinya ' 'b Saya juga jujur aja merasa gak "dapet" sama permasalahan Aline dengan si Ubur-Ubur, apalagi ketika di bagian-bagian ketika Aline menyatakan "perasaannya" pada pembaca tentang gimana dia sedih dan sakit hati karena Ubur-Ubur. Makanya, ketika akhirnya kak Prisca "menyudahi" soal dampak-kesengat-Ubur-Uburnya, saya gak merasa bahwa "penjelasan" gimana sebenarnya mulanya Aline dan Ubur-Ubur itu "perlu" - dan ngapain juga sih ya kalau udah ada abang Ezra dan kak Sena. Iya, saya #TeamEzra kalau ada yang tim-tim an, nasi tim juga lebih enak lagi tuh, oke skip.

Untuk karakter Aline sendiri, bukannya saya menyatakan gak suka atau menyukai tokoh utama kita ini sih ya, tapi saya senang bisa mengapresiasi perkembangannya untuk bisa menjadi lebih percaya diri dan "gak terkungkung oleh diri sendiri" seiring cerita berkembang^^ Saya bisa bilang bahwa pada akhirnya saya ikut senang untuk Aline^^ Gakpapa ya, kespoiler dikit kalau akhirnya hepi ^^ 

This entry is submitted for:
BBI Review Challenge 2014

Review Buku Tokyo : Falling

Judul Buku : Tokyo | Falling (Seri Setiap Tempat Punya Cerita)
Penulis : Sefryana Khairil
Penerbit : Gagas Media
Jumlah Halaman : 338 Halaman
Harga : Rp. 53.000
ISBN : 9789797806637

Buku adalah jendela dunia. Itu benar. Saya merasakan benar Tokyo dalam novel ini.

Ini adalah seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) Kedua yang saya baca setelah London dan buku entah keberapa dari Sefryana Khairil yang saya baca. Bisa dikatakan saya penikmat karya Sefry. Walau saya belum pernah ke Tokyo, saya merasa bisa melihat banyak hal di Tokyo dalam buku ini. Sefry berhasil membawa masuk Tokyo dengan semua yang ada didalamnya pada pembaca.

Kisah cinta biasa sebenarnya, antara Tora dan Thalia yang sama-sama awalnya mengejar cinta para mantannya tapi akhirnya terlihat cinta (cinta lokasi nih). Ceritanya emang susah move on kayaknya nih. Tora ingin menanyakan hubungannya dengan Hana dan Thalia yang masih suka sama Dean. Keduanya pernah pacaran LDR lalu putus.

Thalia yang merupakan wartawan Belle bertemu karena lensa kamera yang gak sengaja jatuh oleh Tora yang juga wartawan di majalah LiveLife. Setelah itu cerita dimulai, mereka akhirnya liputan bareng dan bersemilah benih benih cinta :D

Menariknya semua Tokyo bisa dikemas dalam liputan bareng Tora dan Thalia dari mulai festival kebudayaan, jalan jalan di Tokyo, makanan hingga sedikit sejarah. Pembaca dibuat seolah-olah mengikuti perjalanan mereka. Kisah perkenalan mereka berdua juga kerasa manis kayak drama romantis yang sering muncul di tv.

Walau endingnya udah bisa ditebak, tapi bagaimana Sefry membuat cerita cinta Tora dan Thalia mengesankan tetap bagus dan terasa realistis. Ini yang membuat saya merasa kembali menikmati buku Sefry seperti di awal. Terus terang, beberapa buku terakhir karya Sefry gak dapet gregetnya.

Seperti buku seri STPC lain, buku ini juga tidak memperlihatkan kecantikan negara yang diceritakan di sampul depannya. Dan saya harus bilang ada beberapa huruf yang kurang dan salah ketik yang tidak mengganggu memang dan saya juga mendapati buku dengan kondisi kertasnya masih nempel lembarannya.

Love is beautiful thing when you find the right person. Your love is the grand prize, so you have to wait for a man who is worthy.

Oh ya, Terima kasih buat Gadis Gerimis yang udah menghadiahi saya buku ini ya di event Secret Santa 2013 kemarin, bukunya bagus lho :)

Athena: Eureka!

Judul : ATHENA: EUREKA!
Penulis : Erlin Natawiria
Editor : Nico Rosady & Jia Effendy
Proofreader : Patresia Kirnandita
Desain sampul : Jeffri Fernando
Penerbit : Gagas Media
ISBN : 978-979-780-671-2
284 Halaman, cetakan I Desember 2013

Blurb :

Pembaca tersayang,

Langkahkan kakimu ke kota sang dewi kebijaksanaan, Athena. Dari penulis debut Gagasmedia, Erlin Natawiria, kita akan mengikuti Widha mewujudkan impian masa kecilnya serta mendiang kakaknya yang kembar.

Satu insiden kecil di losmen mempertemukan Widha dengan Nathan. Mereka menjadi rekan seperjalanan; menyusuri Agora, Plaka, lalu ikut larut dalam keriaan sepasang pengantin baru di Rafina. Rasa bertumbuh seiring kaki-kaki mereka melangkah, dan binar tepercik setiap kali keduanya berserobok pandang.

Namun, di sebuah kios buku kuno di Monastiraki, Widha melihat hantu masa lalunya. Seseorang yang tidak seharusnya hadir di kota impiannya. Sosok yang gagal dia lupakan.

Setiap tempat punya cerita,

Di antara puing-puing kuil Parthenon, ada reruntuhan hati yang siap dibangun kembali.

Salam,

Editor

Pemikiran saya tentang buku ini :

Baca selengkapnya »

Athena – Erlin Natawiria

Athena: Eureka!
Judul : Athena Eureka!
Penulis : Erlin Natawiria
Editor : Nico Rosady & Jia Effendie
Penerbit : Gagas Media
ISBN : 978-979-780-671-2
Jumlah Halaman : 284 Halaman
Ratings 3/5 stars

Pembaca tersayang,

Langkahkan kakimu ke kota sang dewi kebijaksanaan, Athena. Dari penulis debut Gagasmedia, Erlin Natawiria, kita akan mengikuti Widha mewujudkan impian masa kecilnya serta mendiang kakaknya yang kembar.

Satu insiden kecil di losmen mempertemukan Widha dengan Nathan. Mereka menjadi rekan seperjalanan; menyusuri Agora, Plaka, lalu ikut larut dalam keriaan sepasang pengantin baru di Rafina. Rasa bertumbuh seiring kaki-kaki mereka melangkah, dan binar tepercik setiap kali keduanya berserobok pandang.

Namun, di sebuah kios buku kuno di Monastiraki, Widha melihat hantu masa lalunya. Seseorang yang tidak seharusnya hadir di kota impiannya. Sosok yang gagal dia lupakan.

Setiap tempat punya cerita,
Di antara puing-puing kuil Parthenon, ada reruntuhan hati yang siap dibangun kembali.
Salam,
Editor
Adalah Widha Mafia Sumadimaja, seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi tingkat akhir yang mengumpulkan 6 bulan beasiswa bidik misinya dan hasil menulisnya untuk pergi ke Yunani. Kedatangannya ke Yunani untuk menyelesaikan masalah masa lalu yang belum terselesaikan dan berharap akan bertemu dengan "hantu" masa lalunya. Di Yunani, dia bertemu dengan Nathan, seorang guru Bahasa Indonesia di salah satu sekolah Australia. 

Widha dan Nathan kemudian menjadi rekan seperjalanan menjelajah Athena. Melalui perjalanan itu dua insan yang tak saling mengenal menjadi dekat, hingga menyadari ada perasaan diantara mereka yang bernama cinta. Namun, sebuah kebenaran terkuak. Ternyata mereka dihubungkan oleh 'hantu' masa lalu Widha dan seorang masa lalu Nathan yang menjadikan situasi semakin sulit.

source here

Baca selengkapnya »

Review Buku London : Angel

Judul Buku : London ; Angel
Penulis : Windry Ramadhina
Penerbit : Gagas Media
Jumlah Halaman : 330 Halaman
Harga : Rp. 49.000
ISBN : 9789797806538

Bilang cinta itu tidak mudah
Ku malu teramat malu
Untuk bilang cinta padamu
Ku berlatih seharian
(Bilang Cinta – Gamal Audrey Cantika)

London adalah buku kelima dari seri Setiap Tempat Punya Cerita (STPC) dari Gagas Media. Tapi ini adalah buku pertama yang saya baca. Bukan, bukan karena London, tapi karena Windry Ramadhina, penulisnya. Dan London adalah bonusnya :)

Sebenarnya buku ini bercerita tentang sahabat jadi cinta, antara Gilang – Ning dan juga John – Madge. Gilang menyimpan perasaan suka pada Ning selama enam tahun dan akhirnya bela-belain ke London demi bilang cinta ke Ning yang bekerja disana.

Siapa bilang buat laki-laki bilang cinta itu mudah? Boleh jadi bagi sebagian laki-laki ya gampang, tapi tidak bagi Gilang. Buktinya butuh waktu lama hingga akhirnya Gilang memberanikan diri mau menyatakan cinta, ke London lagi.

Sampai di London, ternyata Gilang bertemu mister V dengan ceritanya bertemu sang istri di London, bertemu dengan John dan Madge, Goldilocks dan Ayu. Dari John Lowesley, Gilang menyadari berapapun besar kecilnya kemungkinan Ning menyukainya, yang penting Gilang harus bisa berani bilang ke Ning. Walau ada seorang Finn yang ternyata membuat Ning sungguh bersinar.

Tema besarnya memang persahabatan jadi cinta, sepertinya biasa tapi Windry mampu mengemas ceritanya menjadi manis. London pun juga terasa banget gimana menariknya. Pembaca pun dibuat menyadari betapa sulitnya menjadi Gilang.

Menunggu cinta bukan sesuatu yang sia-sia, tapi menunggu seseorang yang tidak mungkin kembali, itu baru sia-sia.

Windry menulis dari sudut Gilang. Padahal biasanya penulis perempuan akan menulis dari sisi perempuan. Jadi, saya pikir semoga beneran banyak laki-laki yang bisa seperti Gilang. Kan kadang cara pikir perempuan beda sama laki-laki :)

Hampir semua buku Windry sebelumnya adalah buku-buku yang enak dibaca, paling tidak itu menurut saya. Saya adalah tipe pembaca yang kalo suka penulisnya, pasti beli dan baca aja gitu buku-buku selanjutnya.

Gak kayak buku-buku Gagas lainnya yang covernya menawan hati, seri STPC ini menurutku justru biasa aja, gak memberikan landmark dan gambar pesona tempat-tempat tersebut di covernya. Walau begitu, bagi yang menyukai pergi ke berbagai tempat di belahan dunia manapun, kita akan selalu bilang, setiap tempat memang akan selalu punya cerita sendiri.

[Book Review] Athena: Eureka by Erlin Natawiria





Judul: Athena: Eureka! (Setiap Tempat Punya Cerita 2 #1)
Pengarang: Erlin Natawiria
Penerbit: GagasMedia
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 284 halaman

“I think if I didn’t meet you here, I’d be dead by boredom.”

Pada pembuka serial STPC season 2 ini punya tokoh utama bernama Widha. Widha nekad pergi ke kota impiannya selama ini; Athena untuk kembali berurusan dengan seseorang yang telah menjadi “hantu” baginya.

Secara kebetulan, di penginapan, dia bertemu dengan Nathan, pria yang bekerja sebagai guru Bahasa Indonesia di Australia. Dari pertemuan yang kebetulan itu, mereka berdua memutuskan untuk berkeliling menjelajahi kota Athena bersama-sama. 

Tanpa diketahui oleh Widha, Nathan juga sedang berusaha menyembuhkan hatinya akan masa lalu. 

Dan ternyata eh ternyata, kebetulannya lagi, Widha dan Nathan yang merasa baru pertama kali bertemu di Athena sebenarnya punya hubungan yang dihubungkan oleh orang-orang di masa lalu mereka.

“Ares pernah bilang, masa lalu itu hanya berhak untuk dikenang. Bukan untuk kembali dirindukan.”

Ternyata dugaan sok tau saya kalau kehadiran STPC season 2 akan lama salah besar :D format cover-nya kali ini sedikit berbeda dengan yang kemarin-kemarin, tapi masih terlihat simple dan emejing xD sayang sekali kertas cover-nya sedikit lebih tipis, begitu juga dengan kertas untuk kartu posnya, kalo kartu posnya ditempel di rak jadi melengkung :| *iyaaa, saya tau nempelin kartu pos “bonus” di rak itu norak xD*

 *ini nih fotonya. Karena melengkung terpaksa dikembalikan ke tempat asalnya xD*


Untuk isi bukunya sendiri, saya buat per-poin yang saya suka dan tidak/kurang saya suka saja yaaa. Untuk hal-hal yang saya kurang suka:


  • Ide ceritanya tidak bisa dibilang baru. Tapi poinnya adalah sang penulis kurang berhasil mengemas ide cerita ini menjadi menarik.
  • Menurut saya pilihan kota Athena adalah yang paling out of the box dari yang lain, tapi… hal yang seharusnya bisa menjadi peluang besar itu kurang dieksplor oleh penulisnya. Maksud saya, memang penulisnya sudah memasukkan banyak tempat-tempat menarik di Athena, tetapi gagal memberikan deskripsi yang detail. Alih-alih memberikan deskripsi detail, pembacanya justru dicekoki oleh informasi-informasi dan penjelasan-penjelasan soal tempat-tempat tersebut, misalnya sejarah tempat itu. Saya tahu dan paham kalau deskripsi detail itu terkadang membosankan, tapi… informasi-informasi tersebut justru lebih membosankan lagi.
  • Terlalu banyak kebetulan! Silakan baca sendiri deh untuk membuktikannya :D
  • Banyak plot hole-nya. Yang paling mencolok adalah: kan Widha baru pertama kali ke Athena, tapi yang saya tangkap malah Widha ini sangat paham seluk beluk Athena. Iyaaa bisa saja dia mendapatkan informasi itu di internet atau buku, tapi tetap saja menurut saya cukup tidak masuk akal. *dan kemudian jadi curiga jejangan Widha titisan dari salah satu dewi Yunani*
  • Ilustrasinya.

  • Terakhir, playlist di bagian akhir itu mengganggu. Kalo menurut saya itu tidak perlu sik.


Dan hal-hal yang saya sukai:

  • Minim typo! Salah satu buku GagasMedia paling sedikit typo yang pernah saya baca. Dear editor, you did a great job :D

  • Saya suka peran karakter-karakter lain di sini. Sehingga tidak menimbulkan kesan kalau karakter itu sekadar tempelan.


Dan mengingat buku ini merupakan karya debut dari sang penulis, semua kekurangan dari buku ini bisa dimaafkan. Saya malah masih takjub dengan kerapian tulisan dari sang penulis, juga pemakaian kata baku dan tidak bakunya.

Btw, daripada Widha bingung harus move on ke masa depan lewat Nate atau jalan di tempat dengan hantu masa lalunya, saya malah lebih merestui Widha dengan Deno xD #teamDeno

“Hei, cinta itu kayak rinai hujan. Jatuh tanpa melihat-lihat siapa yang akan tertimpa. Jatuh tanpa memperhatikan secepat apa mereka sampai ke bawah. Tahu-tahu, kamu merasakan desiran-desiran itu lagi.”

RATING 3/5

[REVIEW] Barcelona, Te Amo

Itu pertunjukan yang menarik bagi Manuel. Dua orang perempuan dan satu orang laki-laki. Perempuan yang selalu mencemooh, perempuan lain yang menahan diri, dan seorang laki-laki yang berdiri di tengah mereka, seakan-akan dialah yang menjadi pangkal masalah. (hal. 151)

Judul: Barcelona, Te Amo
Seri: Setiap Tempat Punya Cerita #2
Penulis: Kireina Enno
Penerbit: Bukune
Tahun: 2013
Halaman: 266
ISBN: 978-602-220-090-1
Harga: Rp46.000,-
I rate it 3/5 stars

Di Barcelona, tepatnya di salah satu bangunan kuno di Carrer del Pi, kita akan berkenalan dengan Katya. Bersama Katya, kita akan jalan-jalan di sekitar Barcelona, tempat yang penuh dengan bangunan kuno namun menarik. Setelah jalan-jalan di sekitar Barcelona, mungkin kita akan duduk bersama Katya di depan Museu Nacional, menyaksikan pertunjukan Font Magica... sambil mendengarkan masa lalu Katya. Masa lalu yang menyebabkan ia meninggalkan Indonesia. Masa lalu yang menyebabkan ia lari ke Barcelona..

"Ada yang membangkitkan kenangan di negeri jauh yang ditinggalkan. Mengoyak semedi musim panasku yang muram." —Katya

Katya, Sandra, dan Evan. Mereka bertiga adalah sahabat baik. Katya, semenjak ia menjadi yatim piatu, ia sudah tinggal bersama sepupunya, Sandra. Bisa dibilang kedudukan Katya dan Sandra ini jomplang. Katya anak yang penurut, pasrah sama keadaan, dan selalu membela Sandra meskipun Sandra berkali-kali melakukan hal yang tidak baik: seringkali ia mencuri. Evan sendiri selalu menjadi orang yang membayar ganti rugi akan perbuatan Sandra.

Persahabatan mereka ini tak lama. Sandra dan Katya sama-sama mencintai Evan, sedangkan Evan sendiri berkata mencintai keduanya. Katya yang dasarnya memang pasrah, memutuskan untuk mengalah. Ia pergi ke Barcelona, mengenyam pendidikan di sana, dan merelakan Sandra dan Evan untuk bersama.
read more >>