Girl, Stolen

Girl, StolenGirl, Stolen by April Henry
My rating: 3 of 5 stars

Pernah nonton film Excess Baggage? Untuk yang belum tahu, ceritanya tentang seorang gadis yang merancang penculikannya sendiri (diperankan Alicia Silverstone) demi menarik perhatian ayahnya yang pengusaha kaya, tapi tanpa sengaja jadi diculik beneran oleh pencuri mobil (diperankan oleh Benicio del Toro). Di sini, si gadis sengaja masuk ke bagasi mobilnya sendiri, memasang lakban di kaki dan mulutnya, serta memasang borgol di tangannya. Lah, si pencuri mobil mana tahu ada "gadis muda korban penculikan" di bagasi mobil yang dicurinya?

Nah, novel ini premisnya mirip, walaupun ceritanya tidak sama. Penulisnya juga bukan terinspirasi dari film remaja yang dirilis tahun 1997 itu. Konon ia terinspirasi kisah yang ditontonnya di berita TV lokal, tentang gadis buta yang pergi makan malam di luar dengan orang tuanya. Ia tetap tinggal di mobil saat orang tuanya berbelanja untuk kebutuhan Natal, dengan kunci mobil tetap ditinggalkan supaya pemanas tetap menyala. Lalu seseorang mencuri mobil tersebut. Dalam kisah itu, begitu mengetahui keberadaan si gadis buta, si pencuri mobil menurunkannya di tengah jalan.

Tapi, bagaimana kalau si pencuri mobil akhirnya benar-benar menculiknya?

April Henry mengembangkan cerita lebih jauh. Cheyenne Wilder, gadis buta yang juga sedang sakit, ditinggal di mobil dengan mesin menyala ketika ibu tirinya meninggalkannya untuk membeli obat resep di apotik. Belum lama waktu berlalu, tahu-tahu mobilnya berjalan lagi. Hanya saja, pengemudinya bukan ibu tirinya!

Griffin tidak bermaksud menculik Cheyenne, tapi karena takut Cheyenne menimbulkan keributan begitu dilepaskan, ia juga tidak mau membebaskannya. Karena tidak tahu harus berbuat apa dengan gadis itu, ia membawanya pulang ke rumah, dan membuat kesal ayahnya dan komplotan pencuri mobil mereka karena mendapat beban tambahan.

Celakanya, dari radio yang menyiarkan berita penculikan Cheyenne, diketahui bahwa gadis buta itu adalah adalah putri tunggal Nick Wilder, CEO Nike. Well, well, well, ternyata beban tambahan yang merepotkan itu adalah kunci gudang emas!

Tapi... apakah mereka akan melepaskan Cheyenne setelah mendapatkan uang tebusan? Atau membunuhnya karena meskipun buta, gadis itu sudah tahu terlalu banyak? Cheyenne harus memikirkan rencana untuk kabur. Kalau saja ia bisa menelepon. Kalau saja ia bisa mendapatkan cara untuk menghubungi pihak yang berwajib. Kalau saja ia bisa membujuk Griffin untuk menolongnya. Kalau saja ia bisa melarikan diri. Kalau saja...

View all my reviews

[Review] Pandemonium by Lauren Oliver [Delirium Trilogy Book#02]

17858938Title : Pandemonium

Author : Lauren Oliver

Pages : Ebook (205pages) / paperback (496 pages)

Publisher : Penerbit Mizan

ISBN : 978-979-433-772-1

Rate : 5 of 5 stars.

Kusingkirkan kenangan mimpi burukku. 

Kusingkirkan pikiran tentang Alex, tentang Hana dan kehidupan lamaku.

Menyingkir, minggir, pergi, seperti yang diajarkan Raven.

Kehidupan yang dulu telah mati. Lena yang dulu telah mati.

Sudah kukubur. Di balik dinding asap dan api. 

***
Ah, akhirnya, setelah sekian lama aku membaca buku ini, selesai juga. Padahal, aku baca buku ini dari awal Februari lhooo.. Tapi baru selesai sekarang. Bukan cuma itu, parahnya aku baca campur-campur. Hahaha! Jadi, pertama aku baca versi Inggris di Ebook (selesai 94 dari 205 halaman) yang diberikan seorang teman. Kemudian, karena pesanan buku Pandemonium versi Indonesia sudah datang, aku lanjut baca deh, yang langsung aku longkap ke halaman 154. Hehehe, dan ajaibnya aku selesai baca hanya dalam semalam.
Nah, untuk buku ini, seperti di seri sebelumnya, Delirium, aku kasih lima bintang. Ya, karena Lauren Oliver mampu membuatku kembali terpukau dengan karyanya yang satu ini. Meskipun, well, agak menyebalkan.
Coba disimak review buku nya :
Lena Haloway bersumpah untuk mengubur masa lalunya dan Alex yang penuh kobaran api. Dia kini menjadi bagian dari Invalid dan pemberontak, berbaur dengan Alam Liar, menyusup dalam organisasi anti-deliria di New York. Misinya adalah mengacaukan organisasi tersebut dan mengembalikan perasaan cinta kepada orang-orang yang hidupnya sudah bagaikan mayat berjalan.Dalam aksinya, Lena bertemu Julian, putra pemimpin organisasi yang masih rentan terkena deliria. Kebersamaan mereka menimbulkan kembali perasaan terlarang itu: cinta. Pada akhirnya, mampukah Lena memilih, antara membiarkan dirinya jatuh di pelukan Julian, mengkhianati cintanya kepada Alex … atau terbunuh di tengah-tengah kebisingan dan ketidakpastian?

Kelebihan pada buku ini adalah, alur cerita yang dibuat oke banget! Juga, diksi yang bagus-bagus. Ah, pokoknya aku terpukau dengan kedua bukunya yang aku sudah baca. Pokoknya, aku akan segera baca Requiem! Meskipun belum ada versi terjemahannya sih :)))
Oh ya, berikut review singkatnya ya :
Lena Halloway, yang saat itu harus terpaksa tinggal sendiri, di Alam Liar. Tidak bersama Alex. Tapi ia selalu membayangkan, bagaimana Alex di sisinya, merawatnya. Di Alam Liar, ia bertemu dengan Raven, perempuan yang lebih muda darinya, namun menjadi ketua dari kelompok itu : Invalid.
Disana, Lena diajarkan untuk tetap kuat dalam kondisi apapun. Tidak boleh mengeluh, itu kunci yang pertama. Dan Lena, yang bahkan tidak pernah memakan binatang hutan, harus memakannya disana. Daripada ia mati kelaparan? Disana, Lena yang baru ditempa. Menjadi lebih dewasa, menjadi lebih kuat dari Lena yang sebelumnya.
Seperti yang sudah diajarkan Raven, dan sudah dipelajarinya lama, bahwa kehidupan lamanya sudah mati. Yang ada hanya masa depan, harapan. Tidak ada lagi masa lalu yang menyakitkan. Begitulah prinsip jika kau mau hidup di Alam Liar. Kini, Lena mengganti namanya menjadi Lena Morgan Jones. Dengan tiga guratan luka di lehernya, Lena terlihat (seperti) sudah disembuhkan.
Bahkan Julian Fineman, putra dari Thomas Fineman, pendiri anggota DFA (Deliria Free America) tidak menyadari bahwa guratan luka di leher Lena adalah palsu, kebohongan belaka. Suatu hari, mereka terpaksa dikurung oleh para burung bangkai. Sial sekali.
Tapi diantara kegelapan yang hampir membawanya ke kematian, Lena harus memilih. Membiarkan ia menghianati cinta Alex dan bersama dengan Julian yang membuatnya jatuh cinta, atau, membiarkan dirinya mati?
Apakah kau ingin tahu pilihan Lena? Ayo, dibaca bukunya ya! Belum lagi, (spoiler dikit) di akhir buku, ALEX KEMBALI!!!! *TeamAlex*.
Yang mana yang dipilih Lena? masa lalunya dengan Alex, atau masa depannya dengan Julian? Selamat penasaran, dan membaca!
Beberapa quotes (diambil dari ebook) :

QUOTES : 

Pages 10 : Love, the deadliest of all deadly things. Love, it kills you. Both when you have it.. And when you don’t.

Pages 29 : the only thing worse than having no friends is being pitied for having no friends.

Pages 31 : This is the girl I am now. My future is here, in this city, full of icicles dangling like daggers getting ready to drop.

Pages 31 : behind them, I can hear another smattering of applause, and more microphone-voice, amplified, thunderous, passionate. The words are inaudible.

Pages 31 : They talk to us of risk and harm, damages and side effects. But what risk will there be to us as a people, as a society, if we do not act? If we do not insist on protecting the whole, what good is the health of a mere portion?

Pages 40 : Alex would love it here, I think without meaning to. I’ve been trying so hard not to think his name, not to even breathe the idea of him. à it means Lena still fall in love with Alex, right? Ah, I really ship this couple. Lena, Alex, forever!

Pages 42 : If I can run all the way to the old bank—lungs exploding, thighs shaking—then Alex will be alive. First it’s forty feet, then sixty, then two minutes straight, then four. If I can make it to that tree, Alex will come back. Alex is standing just beyond that hill; if I can make it to the top without stopping, he’ll be there. à I don’t know why, but I really want to cry reading this. How much Lena loves Alex, like I do. *lol*

Pages 42 : You’re only as good as your training, and your training is only as good as your thinking.

Pages 42 : That’s the thing: We didn’t really care. A world without love is also a world without stakes.

Pages 42 : Alex is gone, and no amount of running or pushing or bleeding will bring him back.

Pages 42-43 : I know it. But here’s the thing: When I’m running, there’s always this split second when the pain is ripping through me and I can hardly breathe and all I see is color and blur—and in that split second, right as the pain crests, and becomes too much, and there’s a whiteness going through me, I see something to my left, a flicker of color (auburn hair, burning, a crown of leaves)—and I know then, too, that if I only turn my head he’ll be there, laughing, watching me, holding out his arms. I don’t ever turn my head to look, of course. But one day I will. One day I will, and he’ll be back, and everything will be okay. And until then: I run.

Pages 50 : I am growing stronger. I am a stone being excavated by the slow passage of water; I am wood charred by a fire. My muscles are ropes, my legs are wooden. My palms are calloused—the bottoms of my feet, too, are as thick and blunt as stone.

Pages 60 : I think back to what he said at the rally: I was nine when I was told I was dying. I wonder what it feels like to die slowly. I wonder what it feels like to die quickly. I squeeze my nails into my palms, to keep the memories back.

Pages 63 : The priests and the scientists are right about one thing: At our heart, at our base, we are no better than animals.

Pages 73 : But if they’d wanted us dead, we’d have been dead already. That is a fact also.

Pages 74 : I have to bite my lip to keep from correcting him: Scavengers. Not Invalids. We’re not all the same.

Pages 77 : “The disease. Amor deliria nervosa. You can’t catch it from me. I’m safe.” Alex told me that very same thing, once. I push the memories of him away, willing them deep into the darkness. “And besides, you can’t catch it from sharing water and food, anyway. That’s a myth.”

Pages 77 : I don’t say anything. In a world without love, this is what people are to each other: values, benefits, and liabilities, numbers and data. We weigh, we quantify, we measure, and the soul is ground to dust.

Pages 78 : The Lord is my shepherd; I shall not want. He makes me to lie down in green pastures: he leads me beside the still waters. He restores my soul: he leads me in the paths of righteousness for his name’s sake. Yes, though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil…

Pages 78 : We are on opposite sides, Julian and I. There can never be any sympathy between us.

Pages 78 : “They say it will get better after the procedure,” he says, almost like an apology, and I wonder if he is thinking the obvious: If I even make it through.

Pages 80 : And behind us is the inferno.

Pages 82 : If you take, we will take back. Steal from us, and we will rob you blind. When you squeeze, we will hit. This is the way the world is made now.

**Review ini diikutkan dalam Reading Challenge 2014 :
1. TBRR Pile
2. Lucky no. 14 : Favorite Author

[Book Review] Slammed by Colleen Hoover

http://lustandcoffee.files.wordpress.com/2013/06/book_info.jpg?w=604

20140221-042907.jpg
Judul: Slammed (Cinta Terlarang)
Seri: Slammed #1
Penulis: Colleen Hoover
Penerjemah: Shandy Tan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: April 2013
Tebal: 336 halaman
ISBN: 978-979-22-9518-4
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Young Adult, Romance, Teen, Family, Drama
Beli di: Mbak Maria
Harga: Rp. 44,000
Kalimat pembuka:
Aku dan Kel memuat dua kardus terakhir ke dalam truk U-Haul.

book_blurb

Layken harus kuat demi ibu dan adiknya. Kematian mendadak sang ayah, memaksa mereka untuk pindah ke kota lain. Bayangan harus menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan baru sungguh menakutkan Layken. Namun semua berubah, begitu ia bertemu dengan Will Cooper, tetangga barunya.

Will memang menarik. Dengan ketampanan dan senyum memikat, pemuda itu menularkan kecintaannya pada slams––pertunjukan puisi. Perkenalan pertama menjadi serangkaian hubungan intens yang membuat mereka semakin dekat, hingga keduanya bertemu lagi di sekolah…

Sayangnya, hubungan mereka harus berakhir. Perasaan yang mulai tumbuh antara Will dan Layken harus dihentikan. Pertemuan rutin mereka di kelas tak membantu meniadakan perasaan itu. Dan puisi-puisi menjadi sarana untuk menyampaikan suara hati. Tentang sukacita, kecemasan, harapan, dan cinta terlarang mereka.

thoughts

Sebelum Iif menentukan buku ini sebagai bacaan Reight bulan Desember, saya sudah punya buku ini dan lanjutannya, Point of Retreat. Saya tertarik membaca buku ini karena direkomendasikan oleh Mbak Maria dan ratingnya juga cukup tinggi di Goodreads.

Awalnya saya sempat tersendat-sendat membaca buku ini, entah kenapa. Belum terlihat hal yang menarik. Namun setelah 40 halaman rasanya lancar, malah jadi ketagihan.

Slammed bercerita tentang Layken (biasa dipanggil ‘Lake’) yang pindah dari Texas ke Michigan bersama ibunya, Julia, dan adik laki-lakinya yang berusia 9 tahun bernama Kel.
Belum sempat menurunkan barang, Kel sudah asyik bermain bersama anak laki-laki seusianya, Caulder, yang tinggal di seberang jalan. Kakak Caulder, Will, adalah pria yang menarik. Tidak perlu menunggu lama, Lake dan Will terlibat insta-love.

Kencan pertama mereka merupakan kejutan. Will membawa Lake ke sebuah kelab yang disulap menjadi arena pembacaan puisi, atau disebut slam. Tak disangka, Lake terkesima dan terhanyut dengan puisi yang dibacakan satu peserta.

Malam itu juga, Lake melihat satu sisi Will yang berbeda, yang tidak biasanya ia tampilkan. Keduanya bertambah dekat.

Ketika Lake masuk sekolah, suasana jadi berbeda. Ia berteman dengan gadis eksentrik bernama Eddie (nama yang dipilihnya sendiri). Lake mendapati Will sebagai guru bahasa Inggrisnya. Dunia seolah terbalik. Hubungan mereka harus dihentikan demi menyelamatkan karier Will yang ada sangkut pautnya dengan masa lalunya.

Sementara itu, Lake juga mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibunya. Sesuatu yang ketika ia ketahui membuat ia menjadi mirip dan lebih dekat dengan Will.

Points of Discussions:

1. First impression
Suka dengan covernya yang sederhana tapi mewakili judulnya. Tapi saya juga suka dengan versi bahasa Jerman ini:

20140222-045309.jpg

2. How did you experience the book?
Agak tersendat-sendat di awal, belum tahu kemana arah ceritanya. Tapi setelah 40 halaman, lancar. CNPID (Could Not Put It Down).

3. Characters
Layken: Gadis Selatan yang agak blak-blakan. Tidak bisa menerima kenyataan bahwa Will adalah gurunya. Keras kepala, tapi sangat penyayang. Cinta berat dengan The Avett Brothers dan Johnny Depp.

Will: berjuang setengah mati untuk menjaga jarak dengan Lake demi menyelamatkan adiknya. Yatim piatu yang sesekali menengok kakek-neneknya. Sangat menyayangi Caulder. Menyukai puisi dan memilih untuk mencurahkan perasaannya lewat acara slam.

Eddie: gadis eksentrik yang berpindah-pindah dari satu shelter home ke shelter home lainnya. Kekasih Gavin. Periang, jago menyimpan rahasia, suka menulari energinya pada Lake. Sangat disayang oleh ayah angkatnya.

4. Plot
Plotnya mengingatkan saya dengan bagian dari serial Pretty Little Liars, terutama hubungan Lake-Will yang mengingatkan saya dengan hubungan Aria-Ezra. Lalu, sedikit latar belakang Eddie dan acara slam yang kebetulan ada di beberapa episode serial The Fosters yang sedang saya tonton. Menggunakan plot maju dengan menceritakan latar belakang lewat deskripsi dan dialog.

5. POV
Slammed diceritakan dari sudut pandang Layken, menggunakan POV orang pertama.

6. Main Idea/Theme
Sesuai dengan tagline-nya, yaitu cinta terlarang. Cerita di buku ini seputar kisah cinta Will dan Lake yang terlarang, karena mereka berstatus guru dan murid. Dibumbui dengan slam dan penyakit, serta drama keluarga.

7. Quotes

Keterbatasan itu ada untuk dilampaui. (hal. 253)
Satu-satunya kesamaan di antara kami semua adalah satu hal yang tidak terhindarkan. Yaitu, kami semua pada akhirnya akan mati. (hal. 251)

8. Ending
Ending-nya mengharu-biru. Sangat puas.

9. Questions
Tidak ada

10. Benefits
Kematian adalah hal mutlak, bagian dari garis hidup manusia. Seharusnya, tiap orang harus siap untuk menghadapinya, baik itu kematian orang terdekat atau kematian diri sendiri. Saya mendapat pandangan tentang cara penerimaan melalui buku ini.

11. Lain-lain
Ada sedikit keganjilan dari buku ini, cuma sedikit aja sih. Beberapa dialog memang panjang, tapi itu masih saya maklumi. Nah, ada satu yang menurut saya agak aneh, seperti ini:

“Kupandangi lekat-lekat bola itu di tanganku, menyusurkan jariku di sekeliling kulit yang membalutnya, menyentuh huruf-huruf merek bola kaki yang tercetak di bagian sampingnya. Bola berbentuk bulat itu bahkan beratnya tidak sampai setengah kilo. Aku lebih memilih bola kulit konyol di tanganku ketimbang darah dagingku sendiri.” (hal. 240)

Adegan tersebut sewaktu Will sedang bicara dengan Eddie dan Lake di kelas. Menurut saya kok seperti berpuisi ya? Padahal konteksnya sedang menceritakan kejadian masa lalu. Hanya detailnya seperti narasi.

Yang lainnya, ada dua adegan yang membuat saya terharu. Pertama, ketika Julia berbicara dari hati ke hati dengan Lake tentang kondisinya. Yang satunya, saat perayaan ulang tahun Eddie, ketika ayah angkatnya meminta Gavin membacakan puisi untuk Eddie, lalu melepas balon-balon. Manis dan mengharukan, sampai menitikkan air mata saat membaca adegan itu. Juga surat terakhir dari Julia untuk Lake.

Saya merekomendasikan Slammed untuk yang suka genre drama dan ingin bacaan yang mengharu-biru.

Nggak sabar untuk membaca Point of Retreat

20140222-044816.jpg

Happy Weekend^^

20131128-083529.jpg


[Book Review] Heartbeat by Elizabeth Scott @HarlequinTeen

book_info

20131214-014714.jpg

Title: Heartbeat
Author: Elizabeth Scott
Publisher: Harlequin Teen
Date of Published: 1 January 2014
Format: Ebook
No. of Pages: 240
ISBN: 9780373210961
Category: Fiction
Genre: Contemporary, Romance, Family, Young Adult, Realistic Fiction
Received from: Harlequin Teen via Netgalley
Link: here
Opening sentences:
I sit down with my mother. My smile is shaky as I tell her about my day.

book_blurb

Life. Death. And…Love?

Emma would give anything to talk to her mother one last time. Tell her about her slipping grades, her anger with her stepfather, and the boy with the bad reputation who might be the only one Emma can be herself with.

But Emma can’t tell her mother anything. Because her mother is brain-dead and being kept alive by machines for the baby growing inside her.

Meeting bad-boy Caleb Harrison wouldn’t have interested Old Emma. But New Emma-the one who exists in a fog of grief, who no longer cares about school, whose only social outlet is her best friend Olivia-New Emma is startled by the connection she and Caleb forge.

Feeling her own heart beat again wakes Emma from the grief that has grayed her existence. Is there hope for life after death-and maybe, for love?

thoughts

I received this ARC from the publisher via Netgalley in exchange for an honest review.

Heartbeat is a heart-wrenching story. It tells about Emma, a seventeen year-old girl who lost her mother but had to see her everyday because she’s pregnant.

Lisa met Dan and they fell in love. Soon, they started a family. Emma was happy because she felt that Dan loved her and her mother.

Until her mother’s pregnant and died, things changed unexpectedly. Every single day, Emma visited her mother in the hospital. Her body was kept alive by machines – pumping her heartbeat to incubate the baby in her womb.

Emma thought Dan just wanted to keep the baby and was devastated knowing that she wasn’t involved when Dan decided to keep Lisa alive. Emma thought everything he had done was for the sake of the baby.

A former straight A’s student, Emma’s grades were failing and she’s on a downward spiral. Until she met Caleb, a troubled teen who was also grieving for his sister, Minnie.
Their relationship developed gradually, since they had things in common.

Olivia, Emma’s best friend, was shocked learning about this ‘odd’ couple. Caleb was in a lot of troubles. He stole cars, did drugs, and hit a stranger with a car.

Dan tried to be a good father, but Emma refused the warm gesture. She was so stubborn, shutting herself out and pretending that Dan didn’t exist. Dan was hurt, Emma was too.

What I like about Heartbeat is that there’s no perfect family. I believe in that too. Every family is dysfunctional, everybody has problems, but it depends on you how to work things out.

I like this quote from the book;

A family is more than one person.

Heartbeat touches about grief, friendship, making the right decision, how to put yourself in a family, and romance. The romance is not too much, unlike any other HQ lines.

My rant is when Emma repeats her thoughts about Dan’s decision. I kept reading about this over and over again.

I love how the characters develop and the ending is very sweet.

quotes

Under the idea that we can all make our fates, that we have choices, is the reminder that sometimes we don’t. That sometimes life is bigger than our plans. Bigger than us.

I knew grief could destroy you, but I didn’t know it could turn you into a walking dead.

20131125-062111.jpg

Until next time ^^

20131128-083529.jpg


The House of Hades by Rick Riordan



Rating : 4 of 5 stars

Setelah dibuat khawatir akan nasib Percy dan Annabeth di akhir Mark Of Athena akhirnya kita bisa tahu juga kelanjutan nasib mereka.

Seperti biasa, buku ini dikisahkan dari berbagai sudut pandang. Yaitu sudut pandang para heroes yang menjalani quest untuk menyelamatkan dunia. Dan bukan hanya sebagian heroes saja, tetapi semua heroes yang terlibat.

Buku ini dimulai dari sudut pandang Hazel beberapa minggu setelah Percy dan Annabeth jatuh ke Tartarus. Tujuan para hero ini adalah Yunani untuk menyelamatkan Percy dan Annabeth dan juga menutup pintu kematian yang terhubung ke Tartarus.
Baca selengkapnya »

[Book Review + Giveaway] Good Memories by Lia Indra Andriana @penerbitharu

book_info

18589068

Judul: Good Memories
Seri: Hi! Kwangdae
Penulis: Lia Indra Andriana
Penerbit: Haru
Terbit: September 2013, Cetakan Pertama
Tebal: 336 halaman
ISBN: 9786027742222
Kategori: Novel Fiksi
Genre: Young Adult, Romance
Dapat dari: Penerbit Haru, copy untuk reviewer
Bisa dibeli di: Yes24 Indonesia Harga Rp. 41.650
Kalimat pertama:
Maya, cewek berumur 19 tahun itu mencoba menajamkan matanya untuk membaca pengumuman pembagian kelas baru yang ditempel di salah satu dinding luar auditorium kampusnya.

book_blurb

“Tiga bulan lagi, di waktu dan tempat yang sama, aku akan mengevaluasi apakah kau layak diberi tambahan kupon pertemanan.”

Saat banyak orang berharap bisa kuliah di luar negeri, Maya malah rela melakukan apa pun agar bisa meninggalkan Kwanghan University dan kembali bersama kekasihnya, Alva, di Indonesia. Sayangnya semua tidak semudah itu.

Seakan hidupnya sekarang belum cukup rumit, Maya harus menghadapi Luc, teman sekelasnya, seorang pria berkebangsaan Prancis yang terang-terangan menyatakan suka kepadanya.

Luc bahkan tidak keberatan hanya menjadi teman Maya setelah mendapatkan kupon Friendvitation buatan gadis itu.

Ketika kupon Friendvitation yang Maya berikan kepada Luc telah expired, akankah Maya memperpanjang masa berlaku kuponnya? ataukah Maya akhirnya akan kembali kepada Alva dan melupakan semua yang terjadi di Korea?

“Inikah cinta? Membuatmu rela melakukan tindakan bodoh yang tak masuk akal?

thoughts

Seri Hi! Kwangdae terbitan Penerbit Haru pertama yang gue baca. Ceritanya ringan. Tentang seorang gadis bernama Maya yang belajar bahasa Korea di Kwangdae (Kwanghan Daehakkyo) dan terpaksa harus menjalankan LDR dengan pacarnya di Indonesia, Alva.

Karena Maya sakit, ia tidak dapat mengikuti ujian akhir level 2. Terpaksa ia harus mengulang kelas yang sama, dan harus beradaptasi dengan guru dan teman-teman baru. Seperti kebanyakan cewek Indonesia (atau mungkin Asia), Maya sering menggunakan hp di kelas untuk berkomunikasi dengan Alva, sehingga menyebabkan nilai afektifnya buruk.

Ketika Maya mendapat pesan dari adiknya, Rani, ia mendapat ide untuk membuat ‘Good Memories Project’. Maya bertekad untuk mengukir kenangan bersama teman-temannya karena ia, dengan PDnya, merasa waktunya di Korea semakin sempit karena ia yakin ayahnya akan memintanya pulang ke Indonesia. Maya menjadi dekat dengan Luc, cowok bermata hazel asal Prancis yang ceria dan memiliki pribadi hangat dan menyenangkan (sangat nggak Prancis banget). Kebetulan di kelas, Ahn sonsaengnim meminta murid-murid kelas tersebut untuk membuat PR kupon menarik. Maya akhirnya membuat kupon berisi Friendvitation dengan masa berlaku tiga bulan, berhubungan dengan proyek Good Memories-nya itu. Karena tidak ada yang berminat, maka Luc yang kasihan dengan Maya, bersedia untuk menjadi temannya selama tiga bulan.

Sudah bisa ditebak kemana arah pertemanan mereka ini.

Lalu, kabar buruk menimpa Maya. Karena nilai-nilainya jauh dari memuaskan, ayah Maya tidak mengijinkan Maya pulang sebelum lulus S1. Tentu Maya bingung dengan keputusan ayahnya, dan sedih, karena Alva juga memberi ultimatum tentang status hubungan mereka berdua (what a jerk).

Maya berusaha untuk bisa pulang cepat dengan ingin naik tingkat lebih cepat. Luc yang seharusnya berada di level 3 menolak naik tingkat, dan Maya bersedia menggantikannya. Namun, Maya gagal ujian naik tingkat, membuatnya harus tinggal di level 2.

Maya yang merasa diberi ide oleh Luc, mulai gigih untuk mencari pekerjaan part-time untuk membeli tiket pulang ke Indonesia. Namun, ternyata tidak mudah mencari pekerjaan di sana, apalagi Maya masih berbicara dengan bahasa Korea yang terbata-bata.

Di tengah pencarian kerja part-time, Luc mengungkapkan isi hatinya pada Maya, yang disambut dengan ketidakantusiasan dari pihak Maya tanpa ada penyelesaian yang jelas (memang sudah sifat Maya kalau ia tidak mampu bersikap tegas terhadap laki-laki).

Di tengah kekalutannya mencari pekerjaan, Maya juga dihadapkan pada dua pilihan: kembali ke Indonesia dan mengorbankan studinya atau meninggalkan Alva dan fokus pada pendidikannya, sesuai dengan harapan ayahnya.

Well, untuk mengetahuinya tentu kamu harus membaca buku ini :)

Yang pasti, konflik di novel ini diramu cukup baik dan asik untuk dinikmati, walau gue gemes setengah mati dengan Maya karena entah apa yang ia lihat dari Alva yang hanya memanfaatkannya untuk membeli barang-barang untuk Stella, his so-called best friend.

Gue suka dengan cover buku ini yang girlie banget dan mewakili isi cerita. Warnanya pastel, terkesan lembut namun eye-catching. Ilustrasi di dalam buku juga lucu dan khas Haru banget.

Setting tempat di novel ini fiktif, namun terasa real, apalagi ada peta dan ilustrasi tempat-tempat penting di bagian belakang novel. Liur gue menetes ketika membaca tentang adegan makan-makan samkyeopsal, tteokbokki, juga minuman soda Korea.

Novel ini manis dan romantis, namun nggak mendayu-dayu. Walau di bagian awal agak lamban dan rada dragging, gue sangat terhibur dengan perkembangan cerita, alur, juga gaya bertutur Lia yang mengalir.

Sayang, penggambaran daerah-daerah di Korea seperti Itaewon, dan lain-lain kurang dideksripsikan secara detil, sehingga gue kurang bisa merasakan suasana khas di sana. Gue belum pernah ke Korea, jadi gue mengharapkan penulisnya bisa menggambarkan suasana khas di sana. Jadinya, gue harus googling untuk mendapat gambaran dan berimajinasi tentang suasana di Itaewon.

Yang agak mengganggu juga penggunaan kalimat ‘egois sekali rasanya jika…’ Gue sering menemukan kata/ungkapan egois ini. Kalau satu, dua kali nggak masalah. Jika terlalu banyak jadi terasa mengganggu.

Yang paling menarik dari novel ini adalah idenya, yaitu mengukir kenangan. Sederhana namun cukup kuat dan nempel pada ingatan.

character

maya

Maya: anak orang berada yang tidak menghargai pemberian orangtuanya. Kerjanya bukannya belajar atau mencari pengalaman baru, namun ia sibuk download film atau menonton video streaming. Ia juga tidak bisa bersikap tegas dengan Alva yang memperlakukannya semena-mena. Dan, kelakuannya di kelas dengan sering memakai hp dan tidak menyimak pelajaran juga seolah-olah menganggap enteng pelajaran yang diberikan. Jadi, tinggal kelas dan kartu kredit yang diblokir ayahnya adalah hukuman yang setimpal untuknya. Namun, Maya sangat gigih ketika mencoba mencari lowongan kerja part-time demi membeli tiket pulang ke Indonesia, demi kekasihnya yang nggak worth-it, Alva.

Kevin-Julio-14

Alva: Ok, gue mau curhat pribadi sedikit. Gue dua kali memiliki pengalaman buruk dengan cowok bernama Alva. Kurang lebih, gambaran sosok Ava seperti di buku ini sama dengan yang gue alami kok. Entah ini hanya kebetulan atau memang berdasarkan riset penulis. Kalau ada judul film There’s Something About Mary, mungkin harus dibuat film dengan judul There’s Something Wrong with Alva. No offense, ya, untuk Alva-Alva yang lain. Seperti apa sih sosok Alva ini? Cukup diwakili dengan satu kata saja: bully.

luc

Luc: Pas membaca bagian perkenalan karakter di bab awal, penulis menjelaskan bahwa Luc adalah cowok asal Prancis. Mau nggak mau gue teringat dengan Luc Besson, sutradara film action terkenal asal negeri wine tersebut. Menurut Lia, Luc digambarkan hangat, rame, ramah, juga kelihatan live life to the fullest. Agak berbeda dengan mitos cowok Prancis pada umumnya sih yang kalem, agak snotty juga romantic freak. Namun, ada sedikit kesamaan Luc dengan tipe cowok Prancis pada umumnya, yaitu suka didekati cewek dan dicemburui. Satu lagi tipikal cowok Prancis yang melekat pada Luc, yaitu suka bersolek alias agak feminin.

quotes

Dalam berpacaran, sedikit jarak itu bagus. (hal. 20)

Dianggap tidak becus itu sangat menyakitkan. (hal. 35)

Kupikir berteman adalah hal yang gampang, tak kusangka sesusah ini.(hal. 59)

Makan selalu bisa membuat suasana hati membaik. (hal. 166)

Pada umumnya, wanita akan takluk pada pujian. (hal. 167)

20130908-081724.jpg

Need a Second Opinion?

Ini Bacaan Ira Review
Oky dan Buku Review

GA

Mau dapetin 1 buah novel Good Memories edisi tanda tangan penulisnya? Syaratnya mudaaaaah dan gampaaaang. Isi saja Rafflecopter di bawah ya. Periode giveaway ini mulai tanggal 4 Oktober – 21 Oktober 2013.

a Rafflecopter giveaway

Good luck ^^

20130923-121453.jpg


Wishful Wednesday 32: Dream Catcher Trilogy

20130403-124544

Ketemu lagi dengan hari Rabu, saatnya berandai-andai memiliki buku impian. Akhir-akhir ini gue sebenarnya agak menghindari fantasy. Namun entah kenapa pas baca sinopsis trilogi buku ini jadi tertarik untuk punya.

20131001-081254.jpg

Janie, gadis berusia tujuh belas tahun, sudah biasa tersedot ke mimpi orang lain. Terutama mimpi tentang jatuh, telanjang, dan seks.

Ia tidak bisa memberitahu siapa-siapa tentang “kelebihannya” ini—takkan ada yang percaya. Mereka bisa-bisa malah mengira ia gila.

Lalu ia terjatuh ke dalam mimpi buruk mengerikan, mimpi yang membuatnya ketakutan sampai ke tulang sumsum. Untuk pertama kalinya, Janie bukan lagi sekadar saksi. Kali ini ia terlibat….

20131001-081311.jpg

Bagi Janie dan Cabel, kehidupan nyata lebih sulit daripada mimpi.

Sementara itu, hal-hal meresahkan terjadi di Fieldridge High, namun tidak ada yang mau membicarakannya. Ketika Janie masuk ke mimpi penuh kekerasan teman sekelasnya, masalah pun mulai terungkap. Tetapi semua di luar dugaan.

Lebih buruk, Janie lantas mengetahui kenyataan tentang diri dan kemampuannya. Kenyataan yang sangat muram. Bukan hanya takdirnya sebagai penangkap mimpi tak bisa diubah, apa yang akan terjadi ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang ditakutkannya.

20131001-081326.jpg

Janie mengira ia tahu masa depannya. Dan ia merasa bisa menerimanya meskipun muram.

Namun ia tidak ingin menyeret Cabel.

Janie tahu cowok itu akan setia mendampinginya meskipun tahu apa yang akan terjadi. Cabel memang menakjubkan. Karena itu Janie justru harus pergi.

Lalu seseorang hadir dalam hidup Janie—dan segalanya jadi kacau. Masa depan yang sudah diketahuinya sekarang berubah. Sendirian, ia harus memutuskan mana pilihan terbaik di antara yang buruk.

Dan sementara itu waktu terus berjalan….

Semoga kesampean bisa beli semuanya.

Yang mau ikutan Wishful Wednesday:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) atau segala hal yang berhubungan dengan kebutuhan bookish kalian, yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku/benda itu masuk dalam <emwishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr Linky yang ada di akhir postingan. Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

Happy Wednesday.

20130622-091605.jpg


Good Memories by Lia Indra Andriana




 Judul                     : Good Memories
Pengarang           : Lia Indra Andriana
Penerbit               : Haru
Tahun                   : 2013
ISBN                     : 9786027742222
Halaman              : 336
Rating                  : 4 of 5 stars
 


Biasanya bersekolah ke luar negeri adalah impian semua orang. Tapi beda bagi Maya. Walaupun dulu ia emang niat banget mau sekolah ke luar negeri, tetapi sejak pacaran niatnya tersebut hilang. Mana enak kuliah di Seoul sementara dari si jantung hati jauh di kampung halaman sana? Apalagi si pacar juga dengan gamblang bilangin kalo dia ga suka pacaran jarak jauh. Mati-matian Maya berusaha mempertahankan hubungannya dengan Alva, si kekasih.

Ketika kemudian Maya tinggal kelas, dengan bahagia ia mengirimkan hasil ujiannya pulang. Kalau Papa melihat hasil ujiannya ini, ia pasti di panggil pulang. Tapi ternyata Papa tetap ngotot. Maya tidak boleh pulang dari Korea sebelum menyelesaikan kuliah S1-nya.

Gambar ambil disini
Di kelas barunya Maya bertemu dengan Luc, si cowok Prancis yang ganteng. Dari awal Luc sudah tertarik kepada Maya. Sikap Maya yang terang-terangan membuat ia terpikat. Walaupun tahu Maya sudah punya pacar, Luc tetap tidak bisa menghilangkan perasaan sukanya. Apalagi ketika ia merasa kalau Alva sama sekali tidak menghargai Maya.

Yang paling saya sukai dari buku ini adalah konsep membuat kenangan indahnya. Mengingatkan saya akan penyesalan karena tidak mengabadikan beberapa kenangan yang mungkin tidak terulang kembali. Sekarang hanya ada dalam ingatan, kadang samar tapi kadang terkilas tajam.
Baca selengkapnya »

[Book Review] Before I Fall by Lauren Oliver

book_info

20130923-113024.jpg

Title: Before I Fall
Author: Lauren Oliver
Publisher: HarperCollins
Date of Published: March 2nd, 2010
ISBN: 9780061987496
Format: Ebook
Category: Fiction
Genre: YA, Contemporary, Fantasy
Literary Awards:
Romantic Times Reviewers’ Choice Award (RT Award) Nominee for Best Young Adult Paranormal/Fantasy Novel (2010), YALSA Best Fiction for Young Adults (2011), Deutscher Jugendliteraturpreis Nominee for Preis der Jugendjury (2011), Publishers Weekly’s Best Children’s Books of the Year for Fiction (2010), Goodreads Choice for Young Adult Fiction, Debut Author, Nominee for Goodreads Author, Favorite Heroine (2010)
First sentence:
They say that just before you die your whole life flashes before your eyes, but that’s not how it happened for me.

book_blurb

What if you had only one day to live? What would you do? Who would you kiss? And how far would you go to save your own life?

Samantha Kingston has it all: the world’s most crush-worthy boyfriend, three amazing best friends, and first pick of everything at Thomas Jefferson High—from the best table in the cafeteria to the choicest parking spot. Friday, February 12, should be just another day in her charmed life.

Instead, it turns out to be her last.

Then she gets a second chance. Seven chances, in fact. Reliving her last day during one miraculous week, she will untangle the mystery surrounding her death—and discover the true value of everything she is in danger of losing.

thoughts

What would you do if you were given a second chance to live? Would you fix the damage that you’ve caused? Would you make it up to yourself?

That’s what happened to Sam. She’s dead but she came back to life to finish the unfinished business.

There’s a popular clique at Thomas Jefferson High School. Sam is one of the mean girls. They did terrible things to Juliet, a beautiful girl actually, an outcast and Sam’s friends’ target of bullying.

Things changed after the accident which took Sam’s life. But God is good, that He sent her back to September 12 over and over again to make things right.

One big secret was revealed. Sam never looks at Juliet and Kent like she used to.

This is not your typical YA novels. I was blown away. The message is clear: to reflect things that we’ve done and said. Are we ready to die and leave in peace?
Do you have unfinished business, things that you have to do before it’s to late?
I read this book all night and I was in tears. Gosh, this book is so good I’m still thinking about Sam, Kent and Juliet.

I really want to give everyone a big hug right now.

20130923-121407.jpg

Need a Second Opinion?

Sandy Now Wrote Review
Books To Share Review
The Cow and Her Books Review

20130923-121453.jpg


[Book Review] The Vampire Diaries: The Awakening by L.J. Smith

book_info

20130914-030832.jpg
Title: The Awakening (The Vampire Diaries Series #1)
Author: L.J. Smith
Publisher: Harper Collins
Date of Published: March 1st, 2010
ISBN: 978-0-06-199075-5
No. of Pages: 302
Format: Mass Market Paperback
Category: Fiction
Genre: Horror, YA, Vampires, Supernatural, Fantasy
Bought at: Bookdepository for $6.95
Opening sentence: Dear Diary,
Something awful is going to happen today. I don’t know why I wrote that. It’s crazy.

book_blurb

Elena: beautiful and popular, the girl who can have any guy she wants.

Stefan: brooding and mysterious, desperately trying to resist his desire for Elena . . . for her own good.

Damon: sexy, dangerous, and driven by an urge for revenge against Stefan, the brother who betrayed him.

Elena finds herself drawn to both brothers . . .

who will she choose?

thoughts

I read this book because I’m a huge fan of TVD TV Series. I’m #TeamDamon by the way.
Beberapa nama dan ciri-ciri fisik tokoh di buku berbeda dengan yang ada di TV. I prefer non-blond Elena. It’s hard to portray new faces for the characters, so just be it. I’m happy with TVD Cast and they’re the characters that I pictured in my head while reading this novel.

Adegan dimulai dengan Elena yang merasa asing ketika kembali ke rumah yang ia tinggali ketika ia kecil dulu. Elena baru kembali dari Paris menghabiskan liburan musim panas, dan ia kembali ke rumahnya di Fell’s Church, Virginia (di serial TV namanya Mystic Falls). Elena merasa semuanya serba asing, bahkan warna langit pun tidak secerah dulu. Ia merasa diikuti. Elena melihat seekor gagak besar dan mengkilat yang sedang menatapnya seolah menelanjanginya.
Stefan Salvatore yang sebelumnya tinggal di Italia, bosan dengan kegelapan dan kesendirian. Ia kembali ke Fall’s Church untuk mencicipi kehidupan sebagai siswa SMA. Tak ada yang pernah melihatnya mengisap darah binatang di balik pohon sewaktu break.

Elena adalah salah satu gadis populer di Robert E. Lee High School. Sahabatnya yang termasuk dalam gank cewek populer adalah Caroline (yang ingin menyaingi Elena dalam hal apa pun termasuk jadi queen bee), Bonnie yang memiliki bakat supranatural (karena ia keturunan witch) dan Meredith, gadis bubbly yang berada di tengah-tengah.

Mata keempat cewek populer tersebut takjub melihat Stefan yang keluar dari mobil Porsche-nya di tempat parkir. Namun, Stefan memakai kacamata hitam yang menutupi matanya. Elena penasaran dengan sosok Stefan yang misterius namun memiliki pesona yang dahsyat.

Masalahnya, ia masih berstatus pacarnya Matt. Elena kesulitan untuk memutuskan Matt. Perasaannya sudah berubah. Elena merasa ia dan Matt tak ubahnya seperti kakak-adik.

Sebaliknya, Stefan juga penasaran dengan sosok Elena. Ketika Elena berbalik dan wajahnya bisa dilihat dengan jelas, Stefan terkejut bukan main. Wajah Elena seperti kembaran Katherine, pacar Stefan di masa lalu. Namun, tentu saja Elena bukan Katherine.

Kejadian-kejadian aneh mulai terjadi seiring kemunculan Stefan di Fall’s Church. Pesta prom, Elena dicium paksa Tyler, lalu muncul Stefan yang menolong Elena. Ok, sedikit banyak, novel ini mengingatkan gue dengan Twilight. Namun, sebenarnya serial The Vampire Diaries sudah ada jauh sebelum Twilight Saga beredar.

Balik lagi dengan Stefan dan Elena. Ada flashback tentang hubungan cinta segitiga antara Stefan-Katherine-Damon. Damon adalah kakak Stefan yang memiliki personality berbeda jauh dengan Stefan. Damon adalah pemberontak dan ia selalu menyuarakan kehendaknya dengan lantang, walau harus menentang orangtuanya.

Karena gue sudah menonton serinya terlebih dahulu, gue jadi ikut flashback ke TVD Season 1.

Gue sangat berterima kasih kepada Kevin Williamson yang menciptakan karakter Jeremy, karena kalau nggak ada Jeremy, TVD nggak seru. Dan Jeremy tidak ada di novel.

Karakter Elena di novel agak berbeda dengan di serial TV. Di novel Elena digambarkan sebagai mean girl berambut blond yang bossy dan selalu mendapat apa yang ia inginkan. A high school bitch that you’d like to slap.
Sedangkan Stefan dan Damon tidak jauh berbeda dengan di serial TV.

Aunt Judith di serial TV bernama Jenna. I like Jenna better, terdengar lebih modern.

Nggak sabar pengin baca buku kedua, yaitu The Struggle.

20130908-081724.jpg

Until next time

20130330-114856.jpg